Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 56


__ADS_3

"STOP!!!!" Teriak seseorang yang baru melangkah kearah ruang tamu. Mereka langsung terperanjat dan menoleh pada orang itu.


"Arse?! Adinda?! Kalian?!" Jawab ketiganya hampir bersamaan. Ya dua pasang mata itu tidak lain adalah Adinda dan Arul yang baru saja sampai.


Flashback On. . .


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, Adinda dan Arul kini sampai didepan rumah mereka, taksi yang mereka tumpangi tidak masuk kehalaman karena sudah mendapat orderan kembali.


BRAK!! Arul menutup pintu mobil. Arul langsung mendekap sang Kakak.


Adinda : "Terimakasih ya Pak." Ucapnya sambil tersenyum. Sedangkan sang Sopir langsung mengangguk dan segera mengendarai mobilnya.


Arul : "Akhirnya kita sampai juga di rumah, hari ini Arul ingin istirahat sepuasnya." Adinda yang melihat tingkah Arul hanya tersenyum. "Kak nanti masakin omlet ya sama soup daging. Sepertinya enak apalagi kondisi lelah."


Adinda : "Oke, beres deh untuk adik Kakak ini. Tapi harus dihabiskan ya." Arul langsung mengangguk dengan mantap tak lupa senyum yang merekah ia pancarkan.


Semakin dekat mereka mendengar sayup-sayup suara orang dari dalam rumah. Namun mereka berfikir itu hanya seseorang yang kontrol yang datang ke rumah setiap bulannya.


Arul : "Apa hari ini sudah jadwal ****** keadaan rumah? Kenapa didalam terdengar ramai?" Gumamnya pelan. "Kak, apa Pak Kontrol jadwalnya hari ini?" Adinda mengingat-ingat setiap jadwal yang ia simpan.


**Pak Kontrol alias Pak Sobri seorang petugas yang setiap bulan datang kerumah untuk mengecek keadaan baik itu listrik maupun hal lainnya. Arul memanggilnya Pak Kontrol karena sejak dulu beliau yang selalu mengontrol rumahnya karena terkadang Arul ditemani bermain ketika ia di rumah sendiri, dulu juga Arul belum mengetahui siapa nama dari beliau jadi sejak itu Arul memanggilnya dengan sebutan Pak Kontrol.


Adinda : "Tidak, karena seingat Kakak jadwal Pak Sobri masih dua minggu lagi. Kalau itu bukan Pak Sobri, lalu siapa?" Arul hanya mengangkat kedua bahunya.


Arul : "Mungkin saudara Bi Narti yang ingin ikut bekerja disini, kan waktu itu sempat minta izin." Adinda hanya manggut-manggut saja.


Adinda : "Hecmmm benar juga sih Dek, tapi coba kita lihat dulu ya, siapa tahu itu juga sesuai dengan kriteria kamu untuk mengurus rumah ini." Jawab Arul dengan menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka segera melangkah kearah rumah.

__ADS_1


Semakin dekat mereka melangkah, namun bukan pembicaraan tentang pekerjaan yang mereka dengar melainkan sebuah keributan dari beberapa orang yang ada didalam rumah. Dijam segini siapa yang bertengkar fikir mereka berdua.


Langkah kaki mereka semakin dekat, dan setelah langkah ke empat mereka segera melangkah kedalam rumah. Setibanya mereka didalam...


DEG! "Mereka!" Ucap keduanya dalam hati.


Mereka berdua sungguh terkejut dengan ketiga orang yang ada didalam lebih tepatnya terkejut pada dua orang yang memang sudah lama tak memberikan kabar sedikitpun pada mereka.


Hati mereka seakan sakit melihat kedua orangtuanya itu, ditambah memang keduanya sangat kurang perhatian dari orangtuanya. Saat ini mereka dikejutkan oleh Mama dan Papa mereka, ada rasa rindu dalam hati mereka namun disisi lain ada rasa kecewa yang teramat sangat besar dan membekas dihati bahkan meski mereka ada didepan mata, tetap saja luka dan rasa kecewa itu tetap sama bahkan tidak berkurang sedikitpun.


Mereka tidak bisa mengendalikan emosi mereka dan semakin bertengkar. Suara teriakn yang mendominasi seluruh ruangan itu, bahkan mereka tidak sedikitpun berfikir apakah suara itu akan sampai pada telinga orang lain ataupun tidak, semua nampak sama bagi mereka. Seakan bosan dengan pertengkaran ketiga orang dewasa itu, yang bahkan membuat kedua anak remaja ini semakin merasakan sakit dan kecewa yang sungguh hebat. Tiba-tiba Arul berteriak . . .


"STOP!!!" Teriak Arul. Hal itu berhasil membuat mereka terkejut dan langsung berhenti, kemudian menatap seseorang yang berani berbicara kasar pada mereka. Jangan lupakan tatapam tajam dari ketiga orang dewasa itu.


Namun seketika mereka langsung tersentak kaget, setelah mereka tahu siapa orang yang seberani itu berteriak pada mereka.


Flashback Off. . .


Melinda akan melangkah menghampiri kedua anaknya, namun terhenti karena ucapan Arya.


Arya : "Kalian sudah pulang? Apa acaranya sudah selesai, kenapa kalian pulang begitu cepat dan tidak menghubungi Om? Jika kalian bilang, Om pasti akan menjemput kalian."


Arul : "Untuk apa kami menghubungi Om? Apa Om berharap agar kami tidak melihat drama kalian, seperti sekarang ini?" Ucap Arul dengan begitu dingin dan datar. Kedua orangtuanya yang mendengar itu terkejut dengan perubahan dari anak bungsunya.


Melinda : "Sayang, kalian akhirnya pulang. Mama dan Papa sudah menunggu kalian pulang, kenapa baru pulang sih? Harusnya kalian itu di rumah saja, jadi ketika Mama atau Papa pulang bisa langsung ketemu kalian." Ucapnya mencoba menetralkan wajahnya agar sang anak lupa dengan perdebatan barusan. Memang mereka fikir Arul masih TK apa. Namun Arul tak menjawab.


Reyhan : "Kalian darimana saja jam segini baru pulang? Apa kalian mengikuti kegiatan lain?" Adinda hanya mengangguk sedangkan Arul tetap diam tak bergeming.

__ADS_1


Melinda : "Mama dan Papa sedang bertanya lho, dijawab donk sayang." Melinda melangkah mendekati sang Putra. "Arse. . ." Panggil Melinda pada sang Putra, namun ketika akan mengusap kepala dan memeluk sang anak, Arul menghindarinya dan menatap sang Kakak.


Arul : "Kak? Ayo masuk dan buatkan Arul makanan, Kakak kan sudah janji tadi." Adinda yang sejak awal terdiam, kina menatap sang Adik dengan lembut.


Adinda : "Baiklah, segeralah mandi, shalat dan ganti baju. Kakak juga akan ke kamar lalu menyiapkan makan." Arul tersenyum dan segera melangkah ke kamar. "Ehmm maaf Ma, Pa, Om Adinda sama Arul masuk dulu." Ucapnya pada ketiga orang didepannya.


Hening, mereka diam sesaat melihat kedua anaknya yang naik menuju kamarnya.


Melihat sikap kedua anaknya, membuat hati mereka mencolos. Apa yang terjadi pada anak-anaknya begitu fikir mereka. Ditambah Arul yang tidak menjawab, tidak menatap bahkan sedikitpun tidak menampakan wajah senangnya, sikap acuh pada keduanya membuat seorang Melinda bertanya-tanya siapa yang mempengaruhi Putranya sehingga bisa bersikap begitu, apalagi dengan sikap yang datar dan dingin, sikap yang tidak ia ketahui selama ini.


Melinda : "Apakah mereka berdua benar-benar anakku?" Ucapnya seketika menatap kedua orang yang berada didepannya. "Apa kau mempengaruhi kedua anakku Arya?" Tanya Melinda menatap tajam pada mantan adik iparnya.


Reyhan : "Apa maksudmu Melinda? Mana mungkin Arya bervuat seperti itu pada mereka, apalagi mereka itu keponakannya sendiri."


Melinda : "Bisa saja kan Rey." Ucapnya mulai kembali serius. "Karena dia tidak senang kita mengabaikan Arse dan Mara, jadi dia mempengaruhi mereka hingga seperti sekarang ini, itu bisa saja terjadi." Ucapnya meninggikan suaranya, bahkan suara itu sampai ditelinga kedua anaknya.


Reyhan : "Pelankan suaramu Melinda! Apa kau ingin mereka mendengar suaramu itu." Seketika Reyhan langsung menatapnya tajam.


Sedangkan Arul hanya berdecih tersenyum miris mendengar perdebatan mereka yang sepertinya akan kembali terulang. Bahkan Adinda hanya bisa diam mendengar itu, ia tidak memikirkan perasaannya melainkan perasaan sang Adik yang bisa dipastikan akan semakin memendam kekecewaan yang semakin besar.


Kembali keruang tamu. . .


Arya yang sejak tadi diam kini mulai bersuara.


Arya : "Apa kalian sudah berhenti berdebat?" Tanya Arya tanpa menanggapi ucapan mantan kakak iparnya itu. Seketika Reyhan dan Melinda menatapnya, Melinda kini menunjukan wajah tak bersahabat. "Jangan menunjukkan wajah itu didepanku, karena itu tidak akan berpengaruh." Lanjutnya sambil menatap Melinda. "Satu lagi Mbak, jangan mencoba untuk mencari kesalahan orang lain apalagi orang yang ada disekitar mereka, karena bisa saja hal itu terjadi karena masalah pribadi mereka sendiri terhadap seseorang maupun terhadap suatu hubungan, baik itu percintaan, pertemanan, pertengkaran maupun perceraian orangtuanya." DEG! ucapan terakhir Arya itu seketika membuat kedua orang yang berada didepannya terdiam.


Melinda : "Apa maksud perkataanmu itu Arya?!" Ucapnya yang kembali dengan suara tinggi. "Apa maksudmu mengatakan itu?! Kamu kira ini karena perceraian kami? Bukan Arya, tapi ini semua pasti karena teman mereka dan lingkungan mereka ini, semua membawa pengaruh buruk untuk kedua anakku."

__ADS_1


__ADS_2