
Adinda : "Apa terjadi sesuatu dengan Kak Dimas, kenapa punggung itu tampak kosong bahkan tampak sepi." Gumam Adinda dalam hati dengan wajah sendunya, hal itu tak lepas dari penglihatan Yayak.
Berbagai macam pikiran terlintas dalam benak Adinda, ada apa dengan Dimas. Bahkan sejak kejadian itu ia nampak berbeda seakan menjauh dan tak ingin digapai oleh siapapun. Seketika lamunannya buyar karena pertanyaan dari Amar.
Amar : "Apa ada masalah di Perusahaan Ndre?" Andre hanya menggeleng tak berniat memberi tahu.
Yayak : "Apa kau yakin? Sikap mu sungguh tak sama dengan sorot mata mu." Andre sedikit terkejut namun ia tetap berusaha tenang.
Septian : "Apa benar yang dibilang Yayak dan Amar? Loe enggak lagi bohong kan sama kita?" Selidik Septian memicingkan matanya. Andre tetap diam dan menormalkan sikapnya.
Ilham : "Jangn mentang-mentang loe Asisten dia, terus loe enggak cerita ke kita Ndre!"
"Asisten?!!" Ucap Adinda dan Arul. Sedangkan Amel dan Azriel tidak terkejut karena ia sudah tau sejak pengukuhan anggota baru minggu lalu.
Amar : "Apa kalian tidak tau? Kalian berdua terlihat kaget, tapi loe cewek bar bar sama sepupu loe itu kenapa kalian biasa aja?"
Azriel : "Kita berdua udah tahu siapa Bang Dimas sama Bang Andre." Ucapnya dengan menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sedangkan yang lain sedikit terkejut pasalnya tidak ada yang pernah memperkenalkan siapa Dimas sebenarnya, bahkan semua itu sudah diwanti sejak awal.
"Siapa yang kasih tahu kalian berdua?" Tanya Septian dan Indra bersamaan.
Andre : "MBA yang kasih tahu mereka. Saat pengukuhan minggu lalu. Yayak juga tahu itu." Celetuk Andre tiba-tiba bahkan nadanya begitu datar.
Yayak : "Gue hanya sekedar denger aja, karena pas gue lewat di kelompok mereka berdua." Ucapnya menyela.
__ADS_1
Septian : "Lebih baik kalian jangan mencari tahu lebih jauh, atau punya pikiran untuk mengorek informasi tentang dia. Biarkan hal itu berjalan sesuai dengan arusnya saja." Ucapnya menjelaskan. Perubahan itu jelas terasa dengan nada suaranya yang datar.
Andre : "Gue balik dulu, kalian nikmati saja waktu kalian siang hari ini." Andre melangkah pergi namun terhenti dan berkata. . . "Sebelum loe pergi, tolong periksa dulu keadaan Restoran dan jangan lupa balik kerumah kecuali jika loe udah bosen." Septian mengangguk, kemudian Andre melanjutkan langkahnya.
Septian : "Gue ke dalam dulu buat periksa keuangan." Yang lain hanya mengangguk, sedangkan keempat anggota baru itu hanya diam, namun meninggalkan rasa keheranan bagi Amel, Azriel dan Arul terutama dengan sikap dua orang yang hampir sama karakternya itu.
Perkataan Indra membuat mereka memalingkan pandangannya dari kedua orang yang sudah beranjak pergi.
Indra : "Kita bukannya melarang atau apa, tapi biarkan itu mengalir bagaimana mestinya. Sory aja dan maklumi jika Septian dan Andre bersikap datar ataupun dingin terutama jika Septian yang tiba-tiba berubah, perlu kalian tahu orang yang paling tidak suka jika Dimas diusik adalah mereka berdua." Mereka masih mendengarkan dengan seksama.
Ilham : "Sebenarnya bukan hanya mereka tapi kami berempat juga begitu, kami sama dengan mereka. Tapi hanya diwaktu tertentu saja kami berubah dingin dan itu hanya menyangkut tentang Dimas jika dilingkup pertemanan kami."
Azriel : "Tapi kenapa mereka berdua bisa bersikap seperti itu?"
Yayak : "Kalian sedikit lebihnya pasti sudah dengar dari cerita MBA, kenapa dan ada apa dengan Dimas. Andre adalah orang kepercayaan keluarga Dimas, dimana orangtuanya merasa berhutang budi karena Dimas pernah menyelamatkan keluarga Andre setelah kecelakaan beberapa tahun lalu hingga nyawa nya tertolong, sejak saat itulah Andre sudah terikat dengan Dimas meskipun Dimas tidak pernah meminta itu padanya tapi karena rasa syukurnya ia bersikukuh akan selalu bersama Dimas dan hingga sekarang. Maka dari itu ia tidak ingin siapapun mengusik tuannya meski hanya sejengkal kuku. Andre sudah dianggap saudara oleh Dimas, dia seperti adik untuk Dimas adik pertama dan Septian itu si bontot."
Indra : "Tidak apa Din, mereka hanya sekedar ingin tahu. Tapi ingat jangan usik singa yang sedang tidur." Mereka mengangguk.
Yayak : "Hecmmm Septian itu adik Dimas, ya meski statusnya adik angkat tapi Dimas tidak ingin mendengr siapapun mengatakan Septian itu anak angkat. Septian adalah adik bungsu Dimas apapun yang terjadi, ia menganggap Septian sebagai adiknya sendiri tanpa membedakan anak angkat ataupun kandung. Septian anak yatim piatu ia diangkat sebagai anak dari seorang Surya Aditama sejak ia kehilangan kedua orangtuanya. Dimas tidak ingin orang lain mengatakan hal yang tidak penting seperti itu, yaa meskipun mereka jarang akur dan Septian sering kabur-kaburan." Yayak terkekeh ketika mengingat tingkah Septian jika diberikan hukuman oleh Dimas.
Amar : "Datang kedalam keluarga Aditama dalam keadaan yatim piatu untuk mendapatkan kebahagiaan yang utuh, tapi sekarang ia juga harus menjadi yatim piatu begitupun juga dengan Dimas. Saat ini Dimas harus menjadi sosok orang tua, baik itu jadi Ayah Ibu dan juga harus menjadi Kakak untuk Septian."
Amel : "Kalian sudah lama bersahabat? Tapi kenapa Kak Dimas juga dingin dengan kalian?" Mereka yang mendengar itu hanya menghela nafas saja.
__ADS_1
Indra : "Gue dan Yayak sudah lama bersahabat dengan Dimas sejak ia pindah dari Semarang saat itu kami masih SMP. Sedangkan Ilham dan Amar mereka itu sahabat Septian sejak SMU kami memang satu angkatan dan kami selalu satu sekolah karena sama-sama di Mahakarya. Untuk usia kami hanya beda beberpa bulan saja lahirnya." Ucap Indra menjelaskan.
Ilham : "Yaa gue dan Amar sejak awal sudah bersahabat dengan Septian, meskipun terkadang kita jika sudah kumpul kelakuannya absurd, dan Septian sering kabur-kaburan tapi kami masih tetap sahabat hingga sekarang."
Amar : "Itulah kenapa kami selalu bersama ya meskipun terkadang kami selalu berselisih pendapat seperti yang kalian tadi. Tapi itu enggak buat kita jauh. Kalian abaikan saja jika kami sering terlibat percekcokan, karena sebenarnya itu yang membuat kita saling kuat."
Ilham : "Dimas dari dulu memang sudah dingin juga datar bahkan sejak kami kenal dia memang seperti itu, gue rasa ia memang keturunannya Om Surya karena mereka memiliki sifat yang sama persis, sama-sama dingin, datar, kritis mereka berwibawa mereka akan hangat hanya pada keluarga dan orang yang sudah dekat dengan mereka. Tapi jika ada yang berniat tidak baik mereka sama-sama akan mengeluarkan sifat asli mereka, mata elang itu bahkan aura dingin yang lebih dari biasanya jika dalam peperangan hal itu bagaikan ditusuk ribuan panah karena saking tajamnya panah itu diasah."
Indra : "Itu sepenggal cerita dari kami, kalian tidak perlu mencari tahu tentang apapun dan dengan alasan apapun. Karena hal sekecil apapun akan berpengaruh pada kami. Kami hanya tidak ingin siapapun mengusik Dimas, karena mereka yang diluar sana tidak tahu siapa Dimas sebenarnya."
Yayak : "Apa kau tidak ingin bertanya seperti mereka bertiga Din?" Adinda terkejut dengan pertanyaan dari Yayak.
Adinda : "Ti.tidak Kak, aku hanya tidak ingin mengusik sesuatu yang tidak seharusnya diusik. Seperti yang kalian bilang, jangan mencari tahu dan biarkan sesuai arusnya saja." Mereka mengangguk.
Tak berselang lama setelah percakapan itu Septian kembali keluar karena tugasnya sudah selesai sesuai perintah. Ia kemudian kembali duduk disebelah Ilham.
Yayak : "Apa semuanya sudah beres?" Septiang mengangguk.
Septian : "Yah, semuanya baik dan lancar gue udah periksa semua terutama keuangan dan bagian marketing. Ternyata sempat ada sedikit masalah. . ." Mereka semua terkejut.
"Maksud loe apa?! Pertanyaan itu muncul dari Yayak dan Indra. Septian menghela nafasnya.
Septian : "Beberapa waktu lalu ada masalah dibagian keuangan, ada yang memanipulasi data masuk hingga pemasukan sedikit berkurang. Tapi semua sudah teratasi karena Dimas langsung menanganinya ternyata ada karyawan yang memanipulasi itu dengan alasan untuk pengobatan Ibunya dan kalian tahu apa yang dilakukan oleh Dimas?" Mereka menggeleng. "Dia memaafkan orang itu bahkan memberi uang tambahan karena sebelumnya Andre sudah mencari tahu kebenarannya."
__ADS_1
"Haaah. Dia terlalu baik!" Jawab Ilham dan Amar kompak. Yang lain ikut mengangguk karena dibalik sifat dinginnya Dimas memang memiliki hati yang tulus.
Kemudian mereka berbincang-bincang dan bersenda gurau meski Adinda hanya diam dan tak jarang ia hanya tersenyum melihat tingkah orang yang ada dihadapannya itu. Hingga tepat pukul 03.00 sore mereka memutuskan untuk mengakhiri semuanya, dan mereka segera pulang karena waktu sudah menunjukan beberapa jam lagi sang senja akan segera tiba di pelupuk mata.