
Setiap anak hanya membutuhkan perhatian, cinta juga kasih sayang dari orangtuanya. Bukan perpisahan yang akan membuat anak-anaknya mengalami trauma karena perpisahan dan keegoisan kedua orangtuanya. Apa yang sebenarnya mereka cari jika harta sudah banyak, keluarga yang rukun? Kebebasan yang mereka cari, kebebasan untuk pergi keluar tanpa ada batasan. Semua itu karena mereka terlalu egois tidak memikirkan perasaan anak-anaknya yang telah menjadi korban.
Suara tangis Adinda mulai mereda bersamaan adanya sebuah getaran pada benda pipih yang berada didekatnya saat itu. Sebuah nama baru tertera dilayar itu, Raja Es❤ yang tak lain adalah Dimas, nama asing yang baru Bi Narti ketahui. Adinda segera mengambil dan mengangkat panggilan itu.
Adinda : "Ha.halo Assalamu'alaikum." Jawabnya sambil menyeka air matanya, namun Dimas masih diam mendengarkan suara Adinda yang berubah. "Apa Kakak masih disana?"
Dimas : "Hecmmm." Jawabnya datar yang membuat Adinda sedikit kesal.
Adinda : "Jangan bersikap datar Kak. Kenapa disaat seperti ini kau malah dingin padaku? Apa. . ." Kata-katanya terhenti karena ucapan Dimas.
Dimas : "Apa kau baru saja menangis?" Selidik Dimas setelah yakin bahwa gadis kecilnya baru saja menangis.
Adinda : "Ti.tidak, kenapa Dinda nangis." Elaknya dengan berusaha menormalkan suaranya seperti biasa.
Dimas : "Jangan berbohong pada saya dengan berkata seperti itu Adinda atau saya harus melakukan video call?." Ucapnya dengan suara yang lebih dingin dari sebelumnya. Adinda yang mendengar kata "saya" langsung terdiam, ia meneguk ludahnya dengan susah payah karena bisa dipastikan saat ini Dimas tidak bisa dibohongi dan raut wajahnya sudah kembali sangat dingin tidak seperti biasanya apalagi Dimas meminta untuk panggilan video.
Adinda : "Heufft!" Ia menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya. "Ehmm Adinda hanya sedikit tidak enak badan saja jadi tadi sampai nangis." Dimas tetap diam mendengarkan penjelasan gadis cerobohnya itu. "Apa dia percaya?" Gumamnya dalam hati.
Dimas : "Kau tidak ingin cerita pada saya? Apa kau tidak percaya padaku?" Hening sesaat. "Baiklah jika itu maumu. Segeralah istirahat." Dimas segera membalik ponselnya untuk mengakhiri panggilan, Namun sebelum menekan tanda merah Adinda langsung berkata maaf yang membuat Dimas diam.
Adinda : "Maaf Kak." Ucapnya dengan kepala menunduk, hal itu kembali membuat Bi Narti tertegun karena baru kali ini ia melihat Adinda begitu dekat dengan lelaki yang bahkan status pacaran belum ia ketahui dari Adinda.
Dimas : "Tidak perlu minta maaf, sebaiknya kamu istirahat karena hari sudah berganti malam. Saya masih banyak pekerjaan."
Adinda : "Apa Kak Dimas marah?" Tanyanya sedikit ragu.
DEG! "Dimas? Jadi lelaki itu bernama Dimas." Gumam Bi Narti yang memang belum menjauh dari anak majikannya itu.
Dimas : "Untuk apa saya marah pada suatu hal yang tidak saya ketahui? Saya tidak ingin berdebat lebih jauh. Jadi tidurlah." Pintanya kembali pada Adinda, ia hanya ingin memberi waktu pada kekasihnya meski ada rasa sedikit kecewa karena Adinda tidak percaya padanya tapi dia bisa apa, ia tidak mungkin memaksa.
__ADS_1
TUT! Dimas memutuskan panggilan itu secara sepihak dan membuat Adinda luruh seketika dengan berbagai pikiran yang muncul. Adinda menatap Bi Narti dengan wajah sendunya.
Adinda : "Bibi apa Adinda salah jika Adinda tetap diam seperti ini? Apa Adinda harus menceritakan padanya?"
Bi Narti : "Apakah dia kekasih Non Dinda?" Adinda mengangguk dengan sedikit ragu juga takut, takut jika sang adik mendengar dan ragu jika nantinya Arul mendengar maka semua akan berubah. Bi Narti hanya tersenyum lembut pada Adinda. "Apakah lelaki itu mengetahui kehidupan Non Adinda?" Adinda kembali mengangguk. "Apakah Non Adinda percaya dan yakin padanya jika dia lelaki yang tepat untuk hidup Non Adinda?" Adinda sedikit ragu tapi akhirnya ia juga mengangguk. "Apakah Non takut jika Aden tahu semua ini? Atau memang Aden belum tahu?" Adinda langsung mendongakan kepalanya. "Jika memang Non percaya dengan dia jangan pernah Non meragukan dia sedikitpun. Saya lihat dia sangat khawatir saat mendengar Non yang baru saja menangis, itu juga salah satu tanda keseriusan dia Non. Bibi tidak akan menceritakan hal ini pada Aden jadi Non tenang saja. Non harus yakin pada hati Non sendiri." Ucapnya berusaha menenangkan Adinda.
Adinda : "Adinda hanya takut jika Arul mengetahuinya maka ia akan merasa bahwa ia tidak diperhatikan lagi Bi." Adinda kembali menangis. "Adinda belum bisa jujur pada Arul jika Adinda sudah memiliki kekasih karena permintaannya. Arul saat ini butuh Adinda tapi disisi lain ada sebuah hati yang juga Adinda korbankan." Ia kembali mengingat Dimas. "Apakah Adinda salah jika memutuskan untuk tidak cerita pada Kak Dimas tentang apa yang terjadi? Memang ia menerima untuk hubungan yang dijalani sembunyi seperti ini karena takut Arul mengetahuinya, tapi tentang Mama dan Papa. . ."
Bi Narti : "Jika Mas Dimas bisa menerima Non Adinda dengan permintaan Non, maka dia juga bisa menerima apa yang ada didalam kehidupan Non Dinda. Percayalah Non, semua akan indah pada waktunya termasuk kehidupan keluarga Non, juga hubungan Non dengan Mas Dimas dan Aden."
Mendengar hal itu Adinda langsung bangkit meninggalkan Bi Narti dan menuju ke kamar Arul, karena Arul sedang istirahat didalam kamarnya. Adinda berniat untuk menghubungi Dimas untuk menjelaskan apa yang terjadi dan supaya tidak terjadi kesalah pahaman lebih jauh lagi.
TUT. . . TUT. . . TUT. . . Bunyi deringan diseberang sana mulai terdengar, tetapi tidak juga mendapat jawaban. Adinda mencoba menghubungi Dimas kembali, namun tetap sama dan kali ini nomor itu sudah tidak aktif seperti sebelumnya.
"Bagaimana ini, nomornya sudah tidak aktif. Apa aku harus menemuinya untuk menjelaskan semua yang terjadi pada Arul? Tapi. . ." Adinda kembali menghubungi, namun hasilnya nihil. Ketika ia hendak kekamar mandi terdengar suara pintu terbuka. Cklek! Adinda terkejut mengetahui siapa yang masuk. "Adek?! Kenapa bangun?" Tanya Adinda dan menghampiri sang Adik.
Arul : "Kenapa Kakak ada disini? Kenapa enggak nemenin Arul dikamar Kakak?" Mode manja yang disembunyikan Arul langsung keluar.
Arul yang merasakan sentuhan itu dan melihat area mata sang Kakak sedikit bengkak ia langsung mendekat dan memeluk Adinda dengan erat.
Arul : "Kakak jangan sedih, jangan nangis lagi karena mereka. Arul enggak pengen Kakak sedih dan nangis karena mereka berdua." Ucapnya semakin mengeratkan pelukannya pada sang Kakak seakan takut sesuatu terjadi pada Adinda.
Adinda terkejut mendengar ucapan Arul, pasalnya ia sudah mencoba untuk menghilangkan bekas air mata dengan membasuk seluruh wajahnya. Namun tetap saja terlihat oleh sang Adik.
Adinda : "Eh, siapa yang abis nangis sih Dek? Kakak enggak abis nangis hanya mengantuk saja." Jawabnya berusaha menghilangkan pikiran iti dari Adiknya.
Arul : "Hecmm sampai kapan Kakak akan menutupi semua air mata itu dari Arul? Kakak sudah terla sering menangis untuk mereka padahal belum tentu mereka memikirkan kita." Kata-kata Arul bagaikan ultimatum bahwa ia mulai berusaha untuk tidak peduli lagi dengan kedua orangtua yang pernah hidup bersama mereka.
Adinda yang mendengar tertegun sekaligus terkejut dengan ucapan Arul. Ia sangat tahu apa maksud dari Adiknya itu, hal ini yang ia takutkan jika kedua orangtuanya berpisah maka akan mengubah sifat asli Arul secara perlahan. Wajahnya memang terlihat baik-baik saja, ia memperlihatkan wajah biasa seperti sebelumnya seakan sudah melupakan apa yang baru saja terjadi, tapi jauh dalam hatinya ia merasakan sakit yang tak tertahankan. Sebuah rasa sakit yang sudah sejak lama ia biarkan terbuka hingga akhirnya menumpuk sampai sekarang.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah bisa update lagi😄
Maaf jika baru *updat*e karena masih sibuk kumpulan😌
Jaga kesehatan untuk kakak semua ya.
Jangan lupa like, vote dan comment ya Kakak semua,
__ADS_1
Salam hangat dari Author😄😄