Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 67


__ADS_3

Adinda : "Stop Ma, Adinda dan Arul tidak ingin ikut ke Jerman karena disinilah kami bisa hidup. Mungkin diawal kami merasa terbuang tapi setelah 5 tahun kami mulai terbiasa." Jawabnya yang kini sudah sedikit meredam emosi.


Melinda : "Tidak bisa seperti itu sayang, kalian harus ikut ke Jerman." Kini Melinda sedikit emosi karena penolakan dari Adinda.


Reyhan : "Apa yang kau lakukan Melinda?!" Ucapnya dengan tegas, tatapan tajamnya menyalang melihat Melinda. "Kita sudah membicarakan hal ini, jangan memaksa anak-anak untuk mengikutimu karena mereka punya keputusan sendiri dan kau sudah setuju tentang itu." Kini suaranya sedikit rendah namun penuh penekanan.


Arya : "Hecmm mulai lagi drama keluarga ini, kenapa mereka sangat hobi bertengkar didepan anaknya sendiri." Gumam Arya yang mendengar perdebatan sang Kakak dengan mantan istrinya. Niat awal hanya ingin kedapur mengambil minum namun lihat saja, kedua orang dewasa itu memulai dramanya kembali.


Melinda : "Bagaimanapun mereka adalah anak-anakku, jadi aku berhak." Ucapnya tak mau kalah.


Reyhan : "Tapi kau sudah setuju tidak akan mengekang mereka."


Mereka semakin bertengkar hanya karena keputusan Melinda yang ingin membawa kedua anaknya ke Jerman. Apa dia tidak berfikir karena egonya itu membuat kedua anaknya semakin kecewa. Entahlah apa mau mereka sebenarnya. Disatu sisi Reyhan ingin yang terbaik untuk anaknya dengan selalu memenuhi kebutihannya, tapi disisi lain ia ingin anaknya tetap dalam pandangan matanya. Apa mereka tidak sadar bahwa setelah perpisahan itu, kedua anaknya tidak hanya butuh materi tapi juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang.


Semakin lama semakin memanas saja, Adinda yang sudah mencoba menekan emosinya kini sudah tidak bisa menahan lagi.


Adinda : "Apa kalian masih akan tetap bertengkar?" Ucapnya tegas, bahkan mata yang biasa memancarkan kelembutan kini berubah tajam seperti Reyhan. Bahkan Reyhan terkejut dengan anak sulungnya itu, sejak kapan anak gadisnya memiliki mata tajam seperti miliknya. "Apa kalian masih ingin melanjutkan pertengkaran ini? Jika iya silahkan dan biarkan Adinda pergi dari sini, karena Adinda tidak ingin berdiri diantara kedua orang yang memiliki sifat seperti kalian." Adinda langsung melangkah ke kamarnya.


Sedangkan Melinda langsung merubuhkan tubuhnya diatas sofa yang berada disana. Apa ini yang mereka pelajari selama disisni, begitu fikirnya. Namun berbeda dengan Reyhan yang masih terpaku dengan Adinda. Yang ia tahu Adinda yang ia kenal memiliki sikap lembut dan tidak pernah memiliki emosi yang tinggi, tapi sekarang apa gadis lembut yang terbentak sedikit bisa menangis sekarang ia bisa berucap tegas dan tinggi.


Arya : "Apa Mas memikirkan tentang sikap Adinda barusan?" Lamunan Reyhan dan Melinda langsung membuyar dengan perkataan Arya. "Jangan terkejut dengan semua itu, sifat maupun sikap seseorang bisa saja terbentuk dengan apa yang pernah mereka lalui sebelumnya meski tidak menghilangkan sifat aslinya tapi tetap saja akan terbentuk dengan sendirinya, begitu juga dengan Amara maupun Arse. Karena sebenarnya kalian sendiri yang secara perlahan membentuk karakter mereka seperti sekarang, jadi jangan salahkan keduanya maupun lingkungan yang ada disekitar mereka. Lingkungan disini maupun disekitar mereka sudah sangat baik bahkan mereka termasuk anak yang pandai bergaul dan memilih pertemanan, jika memang lingkungan disini tidak baik, sebagai anak yang mengalami brokenhome pasti mereka sudah terlibat dalam pertemanan yang negatif bahkan bisa jadi pemakai atau yang lainnya." Hening sesaat. "Lebih baik kalian saling intropeksi diri saja, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya. Mbak, lebih baik Mbak juga bertanya pada diri Mbak sendiri apakah ini yang terbaik untuk mereka. Hanya perhatian yang mereka inginkan bukan materi dan bukan pula sebuah janji." Ucapan terakhir Arya membuat kedua orang berbeda usia itu tersentak.


Sesampainya di kamar, Adinda langsung menutup pintu. Tubuhnya yang sudah letih kini merosot dengan semua rasa kecewa dan sakit yang sudah menumpuk didalamnya.


Adinda : "Ya Allah, apa salah kami selama ini? Kenapa Engkau menguji hamba dan juga adik hamba sekeras ini?" Keluhnya sambil menangis. "Kenapa mereka masih bersikap seperti itu, kenapa mereka tidak mengerti kami. Aku mohom tolong buat hati mereka kembali seperti dulu, aku hanya ingin hidup kami kembali seperti dulu tidak ada rasa sakit seperti ini." Mohonnya pada Sang Pencipta.


Adinda langsung berdiri dan melangkah ke kamar mandi, ia ingin menyegarkan tubuhnya yang sudah lelah.

__ADS_1


Flashback Off...


Mengingat kejadian tadi membuat Adinda sedikit sesak, namun ia langsung memandang foto Dimas kembali tanpa ingin menghubungi Dimas karena bisa dipastikan jika ia menghubungi pasti Dimas akan tahu walau hanya dengan mendengar suaranya saja.


Disaat ia sedang asik dengan berbagai macam dalam fikirannya sebuah suara menghentikam aktivitasnnya itu. Cklek! Pintu yang biasa dikunci kini tak terkunci terbuka, memperlihatkan sebuah kepala yang menyembul dari balik pintu itu yang tak lain adalah Arya.


Arya : "Adinda, kau sedang apa? Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu? Apa kau melihat foto kekasihmu?" Ucapnya sambil berjalan kearah ranjang berukuran queen size dikamar itu. Adinda langsung tersentak ketika Arya memasuki kamar.


Adinda : "Eh, enggak kok Om. Ini hanya chat dari Amel untuk persiapan Ujian nanti." Jawabnya sedikit gugup. "Ya Allah Dinda kenapa kamu bisa ceroboh sih, pintu enggak dikunci jadi keciduk kan sama Om Arya." Gumam Adinda merutuki kecerobohannya.


Arya : "Apa kau yakin sayang? Tidak apa jika kamu sudah memiliki kekasih, Om tidak akan melarang kok. Tapi ingat lelaki itu harus bisa menjaga kamu juga Arul nantinya." Adinda mengernyitkan dahinya. "Satu hal lagi, tetaplah menjaga hubungan kamu dengan kedua orangtuamu itu." Adinda langsung memandang Arya dengan intens. "Jangan menatap Om se-intens itu Amara, jangan membuat Om semakin bersalah karena rasa sakit juga kecewa yang telah mereka torehkan dalam hatimu." Kini Arya langsung berwajah serius.


Adinda : "Kenapa Om Arya berkata seperti itu?" Jawabnya sambil meletakan benda pipih itu diatas meja. "Adinda memang sangat kecewa pada mereka karena selama ini janji mereka hanya bualan, tapi bagaimanapun mereka tetap orangtua Dinda. Namun akan berbeda jika ini menyangkut Arul, dan Om Arya pasti tahu akan hal itu." Ucapnya dengan serius.


Arya : "Om lega karena kamu bisa bijak dalam hal ini, meski sebenarnya Om tahu kamu tidak sekuat itu dan semua ini demi Arul." Lanjutnya, memang benar sikap Adinda kini hanya demi Arul adiknya. "Om harap kejadian sore tadi tidak terulang kembali. Oh iya kamu sudah hubungi Arul, karena Om juga orangtuamu sudah menelepon sejak sore tapi tidak tersambung sejak tadi, sebentar lagi makan malam seharusnya ia sudah pulang." Adinda tersentak, meski ia tahu adiknya tengah ingin sendiri tapi ini sudah lewat sore.


* * *


Sementara di rumah keluarga Wijaya, mereka kini tengah menikmati makan malam dengan ceria memang setiap harinya mereka akan selalu hangat namun kali ini berbeda karena kedatang Arul membuat Randa menjadi semakin hangat karena ia ingin Arul selalu mendapatkan kehangatan seperti ini yang sudah lama tidak ia dapatkan.


Randa : "Sayang ayo dimakan yah, ini ada makanan kesukaan kamu loh. Tante masih ingat kamu suka soup daging, omelet juga makanan daerah saja. Pokoknya malam ini spesial makanan kesukaan kamu semuanya." Ucapnya dengan begitu semangat, Arul yang diperlakukan seperti ini sangat terharu, dan Rahmad ikut tersenyum melihat sang istri. Namun berbeda dengan Firman juga Vanya yang mendengus kesal.


"Sebenarnya yang anak Mama siapa sih?" Ucap keduanya dengan kompak, membuat ketiga orang dihadapannya tertawa.


Randa : "Kalian berdua memang anak kandung Mama, tapi untuk malam ini Arse yang akan jadi Pangeran Mama." Ucapannya kini membuat Vanya mendelik tidak percaya.


Rahmad : "Sayang jangan menggoda Putrimu, kamu tahu sendiri bagaimana Vava jika sudah marah." Ucapnya ikut menggoda sang anak.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam hangat dari Author untuk kakak semuanya😄😄


__ADS_2