Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 114 DEG!!


__ADS_3

Dimas : "Apa kau sedang bingung ingin berbicara apa?" Arul langsung menatap Dimas. "Katakan apa yang ingin kau katakan, ingat saya tidak memberi waktu lama padamu meskipun kau ingin waktu yang lama."


Arul terdiam sesaat, ia melihat bintang malam sebelum mengeluarkan suaranya.


Arul : "Apa Kak Dimas saat ini memiliki seorang kekasih?" Dimas terkejut namun ia berusaha untuk tetap tenang.


Dimas : "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanyanya kembali pada Arul.


Arul : "Arul hanya bertanya saja, apa tidak boleh?"


Dimas : "Bukan tidak boleh, tetapi yang saya dengar kamu itu dingin dan cuek dengan wanita. Jadi untuk apa pertanyaan itu kamu ajukan? Ditambah saya dan kamu tidak begitu dekat." Ucapnya panjang lebar.


Arul : "Yaa Kakak benar, aku dingin pada perempuan jadi aku tidak mungkin akan pacaran. Aku memang tidak dekat dengan Kakak, tapi entah kenapa ada perasaan lain yang membuatku nyaman untuk berbicara dengan Kak Dimas."


Dimas mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari bocah yang akan menginjak bangku SMU itu.


Arul : "Aku hanya ingin bertanya saja, apa Kakak memiliki kekasih?" Dimas diam, matanya masih menatap bocah itu. "Apa wanita itu juga ada disini saat ini?"


Dimas : "Apa saya harus menjawab pertanyaan itu? Apa alasannya?" Jawab Dimas datar.


Arul : "Arul hanya ingin tahu siapa lelaki yang saat ini mendekati Kak Dinda tanpa sepengetahuanku." Arul menghela nafas. "Bukan maksudku untuk melarang dia memiliki kekasih, hanya saja aku belum siap jika perhatiannya terbagi dengan orang lain apalagi orang itu pendatang baru dikehidupan kami."


Dimas : "Apa yang akan kau lakukan, jika ternyata Kakakmu sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuanmu? Apa kau akan marah padanya, kecewa atau yang lainnya?" Kini Dimas yang bertanya pada bocah itu.


Hening.


Pertanyaan itu masih berputar di kepala Arul, dia masih diam dan berfikir jawaban apa yang tepat untuk dikeluarkan. Sedangkan Dimas masih setia diam disana.


Arul : "Kecewa dan marah itu pasti Kak, apalagi kami berdua selalu bersama untuk apa Kak Dinda menyembunyikan hal ini dariku. Arul tidak bisa membayangkan jika sampai hal itu benar-benar terjadi nantinya." Jawabnya.


Dimas : "Mungkin saja dia memiliki suatu alasan yang harus ia pertahankan hingga melakukan hal ini." Hening, Arul kembali terdiam.


Arul : "Apa mungkin Kakak adalah kekasih Kak Dinda?" Kini Dimas yang diam. "Atau malah Kak Akbar yang saat ini sudah berhasil mendapatkan hati Kak Dinda?" Dimas menatap Arul, kini mata kedua lelaki beda usia itu bertemu dan saling mengunci.


Dimas : "Apa MBA mendekati Kakakmu?" Arul mengangguk. Dimas tersenyum tipis. "Apa kau setuju jika MBA bersama Dinda?" Arul tampak berfikir.


Arul : "Selama ini sejak pertemuan di Mahakarya aku melihat sikap lain dari Kak Akbar untuk Kakak. Awalnya aku tidak suka karena aku tidak ingin Kakak memiliki kekasih terlebih dahulu, juga karena Kak Akbar menghubungi Kak Dinda melalui pesan meski jarang ia tanggapi, tapi setelah kejadian sore tadi aku mulai merasa jika dia lelaki yang baik untuk Kak Dinda." Jelasnya.


Dimas : "Kejadian sore tadi?" Arul hanya mengangguk.


Flashback On. . .


Amel : "Adinda loe tolongin bawa tas ini ya, gue berat nih bawa yang ini."


Vania : "Loe itu kebiasaan deh Mel, barang itu kan berat apalgi itu peralatan kesehatan. Huuch tahu gitu ogah gue bantuin loe bawa ginian. Lagian memang para cowok kemana sih?!" Gerutunya kesal.


Adinda : "Sebagian masih meninjau lingkungan sekitar Van, termasuk para perempuan. Kamu tahu sendiri nanti malam rapat untuk jadwal kegiatan besok, jadi kita harus mengetahui terlebih dahulu keadaan sekitar sebelum rapat dimulai." Jelasnya panjang lebar.


Amel : "Uuuuh makasih ya sayang akuuuh, iiih makin cinta deh gue sama loe Din." Vania yang mendengar itu langsung bergidik. Sedangkan Adinda hanya menggelengkan kepala.


Vania : "Ya Allah kenapa gue punya sahabat bar-bar seperti dia, enggak sanggup gue." Ucapnya sambil menengadah.

__ADS_1


Amel yang akan membalas ucapan Vania langsung dihentikan oleh Adinda.


Adinda : "Sudah stop, kalian ini selalu bertengkar. Ayo kita segera masuk sekarang."


Amel dan Vania melangkah terlebih dahulu, sedangkan Adinda masih berada dibelakang. Karena tas yang ia bawa berat, tubuhnya terhuyung kesamping dan bruk!!


"Adinda, kamu tidak apa?" Ucap orang itu dengan nada khawatir. Adinda hanya meringis tanpa menjawab.


Arul : "Kakaaaak?! Apa Kakak baik-baik saja, apa ada yang terluka?" Teriak Arul yang saat itu baru tiba di Villa dan melihat Adinda terjatuh.


Adinda : "I'm fine dear." Ucapnya dengan tersenyum lembut. Arul langsung memeluk sang Kakak dengan erat.


Arul : "Kak Akbar sejak tadi disini?" Ya orang yang tadi disana adalah MBA.


MBA : "Aah tidak juga dek, baru saja ingin masuk tapi lihat Kakakmu jatuh." Arul mengangguk paham. "Sebaiknya diobati dulu luka kamu dek, nanti takutnya infeksi."


Arul langsung membantu Adinda untuk melangkah masuk kedalam. Setelah masuk ke Villa perempuan MBA langsung menyiapkan peralatan medisnya dan mengobati luka pada lengan Adinda.


Arul yang melihat MBA mengobati Adinda dengan telaten merasa bahwa lelaki itu memiliki perasaan untuk Adinda, terlihat jelas matanya menunjukkan kekhawatiran disana.


MBA : "Jangan terkena air dulu ya Din, paling tidak biarkan mengering terlebih dahulu." Adinda hanya mengangguk.


Arul : "Terima kasih ya Kak." MBA tersenyum mengangguk, dan matanya melihat kearah Adinda.


Flashback End. . .


Dimas yang mendengar itu tersentak, karena ia belum mengetahui tentang gadis cerobohnya. Entah apa yang gadis itu fikirkan hingga tidak memberitahu dirinya tentang hal ini.


Dimas : "Suatu hubungan tidak hanya dijalani oleh satu pihak saja Rul, tapi juga keduanya. Berjuang juga tidak hanya sendiri tapi juga keduanya, dan untuk memastikan hal itu kamu bisa bertanya lebih langsung pada Kakakmu dek." Ucapnya.


Arul : "Terima kasih untuk nasehatnya Kak, maaf jika Arul mengganggu waktu Kak Dimas." Dimas mengangguk dan langsung melangkah menuju Villa.


Perih itu yang saat ini Dimas rasakan. Tidak terbayangkan memang jika ia harus dipaksa mundur sebelum memulai peperangan dalam risalah hati. Keputusan apa yang harus ia berikan untuk hubungan mereka kini?


* * *


Kini pagi telah tiba matahari telah menampakkan wajahnya yang terang. Setelah mereka melaksanakan ibadah berjama'ah, kini bidang konsumsi mulai menyiapkan berbagai masakan untuk dihidangkan saat sarapan. Firman dan para anggotanya sudah berkutat sejak pukul empat subuh dan setelah berada didapur selama 3 jam akhirnya semua sudah siap untuk segera dinikmati.


Sarapan kali ini mereka lakukan secara bersama dan saling berbaur dimana ruang Aula tengah yang kini menjadi ruang makan mereka semua. Dimulai dari para lelaki terlebih dahulu yang mengambil makanan baru para perempuan. Dengan canda tawa mereka saling berbaur menikmati kegiatan pagi ini tak terkecuali Dimas juga para sahabatnya.


Amar : "Bang, loe kalau niat makan ya makan adja kenapa, masa sarapan juga masih sibuk sama ponsel loe itu?! Mending itu ponsel buang ke kamar dulu deh." Andre menajamkan matanya pada Amar.


Yayak : "Dim mending loe sarapan dulu, baru sibuk ke ponsel loe lagi." Dimas masih diam, seakan ucapan mereka hanya angin lalu saja.


Pastu : "Dimas, kamu makan dulu sarapannya sebentar lagi kegiatan dimulai." Dimas hanya diam mengangguk.


Ilham : "Giliran Bang Pastu yang bilang langsung deh ngangguk."


Setelah sarapan usai, mereka semua langsung berada dibidangnya masing-masing sesuai dengan jadwal yang telah disetujui tadi malam. Bidang kesehatan telah berada distand depan untuk mengecek setiap warga yang datang begitupula denan humas yang menyambut kedatangan warga dalam kegiatan ini.


Banyak yang datang dan periksa kesehatan, adapula yang masuk dalam bazar buku meski hanya untuk melihat atau membaca ditempat. Sebagaian dari mereka ada yang mengajar para anak kecil baik itu membaca menulis maupun pelajaran sekolah lainnya.

__ADS_1


Dimas dan Arya yang sejak tadi menyambut para warga nampak asik dengan kegiatannya itu, sesekali mata Dimas memperhatikan gadis cerobohnya yang ikut andil dalam pembelajaran bagi anak-anak yang tidak sekolah dengan cara menajari mereka untuk membaca buku maupun hal lainnya yang bermanfaat.


Dimas : "Luka itu, apakah dia tidak merasakan sakit sedikitpun? Kenapa hingga saat ini dia belum mengatakannya padaku." Gumamnya dalam hati.


Arya : "Dim, sory gue ke kamar mandi sebentar ya. Bisa tolong jaga sebentar?" Dimas mengangguk. Meski diluar Kantor tapi Arya tetap berusaha seformal mungkin.


Arya langsung pergi, namun sebelum masuk Villa ia memanggil Adinda terlebih dahulu. Terlihat mereka sedang berbicara, mata mereka mengarah pada Dimas. Setelah itu Arya masuk dan Adinda berjalan kearah Dimas.


Dimas diam, ia mengalihkan kedua matanya pada hal lain. Meski ia sadar Adinda menuju kearahnya tapi wajahnya tetap datar tak berubah sedikitpun.


Adinda : "Kak, Adinda temenin yah?" Dimas yang diajak bicara hanya mengangguk saja. "Ada apalagi ini, kenapa wajahnya berbeda?" Beberapa saat kemudian. . .


Dimas : "Kamu bisa duduk disana, jika lelah dan lenganmu terasa sakit kau bisa kembali kestand dan istirahat disana." Ucapnya panjang lebar.


DEG. . .


Adinda yang terkejut langsung meraba lengannya yang kemarin sempat terluka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy new year untuk kakak semuanya, semoga esok kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

__ADS_1


Salam hangat dari Filest untuk kakak semua😄😄


__ADS_2