Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 45


__ADS_3

Andre : "Laluuu.... tentang MBA siang tadi?" Tanya Andre dengan hati-hati. Pertanyaan itu langsung membuat aura Dimas kembali dingin. Andre menyadari perubahan wajah Dimas, dan ia merutuki kebodohannya itu. Dimas tetap diam mengingat kejadian siang tadi.


Flashback On....


Saat ini Dimas telah sampai di Universitas Nusa Bangsa, tempat dimana kegiatan PPA dilaksanakan. Dimas jalan beriringan dengan Asisten pribadi sekaligus adiknya siapa lagi jika bukan Andre, orang kepercayaan Dimas. Ketika mereka hampir mendekati Aula, Dimas tiba-tiba berhenti ia menatap dua makhluk ciptaan Tuhan tengah mengobrol.


Diluar Aula, Adinda sudah keluar dari kamar mandi dan ingin kembali masuk ke Aula. Tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggilnya...


MBA : "Adinda?!" Adinda menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


Adinda : "Iya.. A.ada apa ya Kak?"


MBA : "Apa kau tidak melihat pesanku?" Tanya MBA langsung pada intinya.


Adinda : "Maaf, maksudnya pesan yang mana ya? Beberapa hari ini saya tidak fokus dengan ponsel saya." Jawabnya sambil berjalan. Hingga membuat mereka berjalan beriringan, bahkan banyak pasang mata yang melihat mereka berdua.


MBA : "Pantas saja semua pesan yang ku kirim belum kau balas." Ucapnya sambil tersenyum. "Apa kau lelah mengikuti kegiatan ini Dek?" Lanjutnya.


Adinda : "Eh.. Ehmmm tidak, karena saya menyukai alam jadi saya merasa cocok dengan UKM ini." Jawabnya dengan mata berbinar. Hal itu sukses membuat MBA semakin menaruh hati pada gadis didepannya ini.


MBA : "Yaa kebanyakan orang sangat menyukai alam, terutama tentang keindahannya. Ohiyaa apa kau ada waktu weekend depan?" Adinda nampak diam. "Saya enggak ada maksud apa-apa kok, saya cuma ingin ngajak jalan saja siapa tahu bisa buat fikiran tenang."


Adinda : "Ehmm soal ituu, maaf saya belum tahu Kak, karena biasanya saya selalu memiliki jadwal dengan Arul."


MBA : "Nah kebetulan sekali, sekalian saja sama Arul jadi kalian tetap ada waktu berdua. Bagaimana?" Tiba-tiba Adinda berteriak.


Adinda : "Awww!" Adinda tak sengaja menginjak batu yang berada didepannya. Hingga membuat tubuhnya tak seimbang dan... HAP! "Ka.kak Akbar..." Ya MBA yang menangkap Adinda sebelum Adinda jatuh.


DEG!


MBA : "Kenapa jantungku berdetak seperti ini, oh Tuhan semoga Adinda tidak dengar." Gumamnya dalam hati. "Kamu ini kalau jalan hati-hati donk Dek, untung ada Kakak kalau enggak bisa jatuh kamu. Apa ada yang sakit atau kakimu terkilir?" Tanyanya sedikit khawatir dan menunduk untuk melihat kaki Adinda.


Adinda : "Ti.tidak Kak, tidak ada yang sakit. Te.terima kasih sebelumnya." MBA mengangguk. "Kalau gitu saya masuk dulu, dan terimakasih." Adinda masuk terlebih dahulu. Sedangkan MBA mengulas senyum indahnya. MBA akhirnya ikut masuk ke Aula.


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang melihat kedekatan mereka, dari awal mereka berbicara, Adinda yang tersenyum manis pada MBA sampai kejadian dimana Adinda hampir terjatuh. Tak ada yang tahu saat kejadian itu, dia ingin berlari dan menghampiri Adinda namun hal itu ia urungkan karena MBA sudah terlebih dahulu menangkap gadis kecilnya.


Hal tak terduga terjadi tepat didepan matanya sendiri. Ada rasa sakit yang menjalar hingga ke ulu hatinya tapi ia mencoba untuk tetap tenang, namun wajahnya yang memang sudah dingin tidak bisa ia ubah ditambah kejadian barusan membuatnya semakin dingin.


Andre yang juga bersamanya hanya diam, ia bingung dan nampak berfikir dengan tatapan Dimas. Akhirnya ia mengikuti kemana arah mata tajam itu, ia menemukan dua orang yang terlihat begitu dekat yang baru saja memasuki Aula.


Andre : "Bukankah itu Akbar dan Gadis yang bernama Adinda itu. Apa mereka memiliki hubungan dekat?" Tanyanya dalam hati. Hingga suara Dimas membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


Dimas : "Kita harus segera masuk." Ucapnya begitu dingin, Andre yang menyadari itu hanya diam dan menurut saja.


Flashback End....


* * *


Akhirnya malam ini semua kegiatan berjalan dengan lancar. Khusus malam ini hanya diadakan games dan melodi untuk menumbuhkan suasana yang menyenangkan juga hangat hingga anggota lain bisa saling dekat dan akrab.


Disudut Aula, Adinda sedang bersama Amel, Geraldi, Restu dan Vania tak lupa juga Arul, Alvin, Nauval dan Azriel yang selalu mencairkan suasana, ditambah malam ini adalah malam puncak kegiatan PPA.


Tiba-tiba Amel berdiri berniat menaiki panggung.


Geraldi : "Mel, mau kemana loe?"


Amel : "Gue mau keatas panggung, mumpung malam puncak."


Restu : "Jangan bilang loe mau....." Restu menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Waaah, parah loe Mel." Sedangkan Amel masih tetap melangkah kearah panggung.


Vania : "Mau ngapain tuh anak Res?"


Azriel : "Mau apa lagi, pasti dia pengen unjuk kebolehan buat nyanyi." Semua yang ada disitu langsung menghadap Azriel lalu menatap Amel yang sudah berdiri diatas panggung. Terdengar suara Amar menggelegar....


Andreas : "Waaaah, selamat malam teman-teman semua, berhubung waktu sudah hampir jam 21.00 malam, akan ada acara unjuk skill nih yang punya bakat suara merdu, bisa naik kesini dan bernyanyi. Kebetulan disini sudah ada Amelia Putri dari XII IPA.1 Mahakarya." Amar menyerahkan microphone pada Amel.


Rara : "Waaah, si Amel langsung naik nih." Celetuk Rara, yang memang sudak mengenal Amel walau tidak dekat.


PJ : "Kita lihat gimana kemampuan dia malam ini. Siapa tahu dia jadi idola selanjutnya." Rara langsung menganggukan kepalanya.


Angel : "Ituuu bukankah cewek bar bar yang sering sama Aziel yaa."


Yayak : "Iya donk Yank, dia kan masuk dibidang kesehatan." Ucapnya yang baru duduk disebelah Angel. Sedangkan Angel langsung tersenyum setelah ingat hal itu.


Amel : "Untuk malam ini, kenalin gue Amelia Putri Maheswari. Berdirinya gue disini ingin mengasah skill gue dalam bidang suara, yaa siapa tahu kan ada cowok yang nyangkut. Hihii"


"Huuuuuuuuu." Sorak anggota yang lain.


Amar : "Waaaah ngimpi loe ya Mel." Kini giliran Amar yang bersuara.


Amel : "Wah ngajak ribut loe Bang, awas aja abis loe denger suara gue. Gue jamin loe langsung kepincut sama gue." Sedangkan Amar hanya menaikan kedua bahunya.


Ilham : "Wah bagus nih, gue sama Septian jadi saksi deh. Oke Bro!" Septian mengangguk. Sedangkan Amar mendengus kesal.

__ADS_1


Kembali keatas panggung. Amel menyanyikan lagu milik Jhon Legend yang berjudul All Of Me. Semua mata tertuju pada gadis itu bahkan Amar terperanjat kaget karena suara gadis itu memang merdu dengan alunan musik jazz dipadukan dengan piano yang dimainkan oleh Arya wakil dari bidang Humas.


Semua anggota bersorak senang ketika Amel telah selesai mendendangkan lagu favoritnya itu. Sementara Amar masih terlihat kagum dengan suara merdu Amel, yang bahkan membuat Ilham tersenyum mengetahui sahabatnya itu sudah menaruh hati pada gadis yang ada didepan sana.


Ilham : "Udaah, sikat aja daripada nanti digaet sama yang lain, apalagi banyak yang jomblo disini." Seketika Amar langsung menatap Ilham dan kembali menatap Amel.


Amar : "Siapa juga yang suka sama tu cewek bar bar sih Ham, gue cuma kaget aja ternyata suaranya lumayan." Sangkalnya pada Ilham, Ilham hanya tertawa.


Ilham : "Loe itu enggak jago bohong ke gue Mar, loe bisa bohongin gue ataupun anak lain tapi hati loe gimana? Lalu satu hal yang loe lupa." Amar mengernyitkan dahinya. "Loe lupa jika diantara kita Dimas yang paling pintar dalam hal ini, karena dia termasuk anak psikolog." Ucapan Ilham membuat Amar terdiam, dari diamnya Ilham tahu bahwa Amar sedang memikirkan ucapannya itu. "Lebih baik segera daripada nantinya loe nyesel." Lanjutnya sambil menepuk kedua bahu Amar.


Dimas Surya Adhitama atau lebih dikenal Dimas Aditya selain ia dari Fakultas Informatika di Jurusan IT dia juga lulusan terbaik di bidang Bisnis. Sebelum ia masuk di Universitas Mahakarya, ia pernah kuliah di London, tepatnya di Oxford University. Dimas mengambil jurusan Bisnis dan ia juga mengikuti bimbingan psikolog hal itu ia lakukan untuk masa depan Perusahaan orangtuanya serta agar dia mengetahui sifat setiap orang lebih jauh lagi karena ia memiliki bekal dalam bidang psikolog.


*Kembali ke Panggung yaaaa. . . .*


Sementara di panggung....


Amel : "Sekarang giliran sahabat gue nih yang mesti nyanyi, Adinda Amaralia Setiawan." Adinda yang mendengar langsung terkejut, pasalnya Amel tidak mengatakan apapun tentang ini. "Ayo donk Din, please demi gue, bentar lagi gue kan ultah." Ucapnya dengan nada memohon.


Adinda menatap sang adik, kemudian Arul mengangguk. Ia langsung berdiri melangkah kearah panggung yang sudah ada Amel sebelumnya.


Andreas : "Lagu apa yang ingin kamu nyanyikan?" Tanya Andreas saat Adinda sudah ada disana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira lagunya apa yaa??

__ADS_1


Kuy pantengin terus ya kak.


Salam hangat dari Author untuk kakak semua, semoga sehat selalu.


__ADS_2