
Setelah mengucapkan itu Septian segera berlari masuk kemobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih diam mematung. Setelah kepergian Septian, Yayak langsung merogoh ponsel dan menghubungi Dimas. Namun berulang kali dihubungi tidak ada jawaban sama sekali, bahkan pesan yang dikirim tak terlihat sudah dibaca.
Indra : "Bagaimana, apa sudah ada kabar atau sudah diangkat sama Dimas?" Yayak menggeleng lemah. "Baiklah gue intruksiin dulu ke yang lain untuk menyelesaikan ini semua." Ucap Indra dan berlalu dari hadapan Yayak.
Yayak : "Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumamnya pelan namun masih terdengar oleh telinga Indra.
Yayak memutuskan untuk menyimpan ponselnya dan segera menyelesaikan pekerjaan disini agar bisa langsung ke Mansion Adhitama. Begitu pula dengan Indra yang langsung memberi pengarahan karena waktu yang sudah menunjukan pukul 9 malam.
* * *
Septian : "Abaaaaaaaaaaang!" Teriak Septian ketika sudah sampai didalam rumah. Bahkan sebelumnya ia sudah berteriak saat masih diluar, dan di Mobilpun ia sempat mengumpat karena sang Satpam yang terasa begitu lama membukakan gerbang untuknya.
Andre : "Apa kau tidak bisa sedikit kalem, huh? Apa kamu kira ini hutan?" Tanya Andre dengan nada dingin seperti Dimas.
Septian : "Dimana Abang gue Ndre? Apa dia baik-baik saja? Apa jangan-jangan dia sedang sakit atau kritis atau..." PLAK!! Suara pukulan yang diberikan Andre pada mulut adiknya.
Andre : "Apa kau tidak bisa menjaga ucapanmu? Ucapan adalah do'a, apa memang kau ingin sesuatu terjadi pada Kakakmu itu?" Ucapnya dengan ketus dan mata yang tajam. Sedangkan Septian hanya mencebik, namun kemudian...
Septian : "Maaf." Ucapnya lemah dengan kepala menunduk. "Apa Abang baik-baik saja?" Tanyanya lagi, namun kini terdengar pelan tidak seperti sebelumnya, karena ia tidak ingin membuat Andre semakin marah.
Andre : "Dia ada di kamarnya, baru saja dia memakan bubur dan sekarang sedang istirahat." Jawabnya. "Kamu bersihkan dulu tubuhmu itu karena kau baru saja dari luar dan ini sudah malam. Akan tidak baik jika kau mandi saat tengah malam nanti." Ucapnya dan langsung melangkah menuju dapur untuk meletakan nampan berisi gelas dan mangkuk yang masih ada buburnya, dan Septian melihat itu.
Septian : "Apa dia tidak menghabiskan buburnya, kenapa masih begitu banyak?" Andre berhenti dan langsung melihat Septian.
Andre : "Dia hanya memakannya beberapa suap saja, dia bilang sudah kenyang. Aku menambahkan bubur ini dengan vitamin, karena dia begitu susah untuk minum obat. Semoga besok dia sudah kembali sehat." Septian hanya mengangguk saja.
Septian tampak berfikir sejenak, kemudian...
Septian : "Biar aku saja yang menghabiskan bubur itu. Pasti loe yang buatkan, kebetulan gue laper banget dan sangat jarang bisa makan masakan loe." Septian segera meraih mangkuk itu, namun sejurus kemudian...
Andre : "Kamu bersihkan dulu tubuhmu Septian, aku akan menaruhnya di meja makan." Mendengar nada dingin dari Andre membuat Septian langsung lari masuk ke kamarnya. Sedangkan Andre hanya bisa tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya bungsunya itu.
Septian : "Mana buburnya?" Tanya Septian yang kini sudah terlihat segar. Andre hanya mengarahkan dengan dagunya.
Septian langsung duduk dan menikmati bubur itu. Bahkan ia tidak punya rasa jijik meski bubur itu sisa dari Dimas, baginya jarang-jarang bisa memakan makanan yang tidak habis dari Dimas karena setiap ia ingin melakukannya Abangnya itu selalu melarang dirinya.
__ADS_1
Andre : "Apa kau masih lapar?" Tanya Andre yang sudah melihat Septian bersandar dikepala bangku, itu menandakan Septian sudah selesai makan karena sangat terlihat dari mangkuk yang sudah kosong.
Septian : "Yaa gue kenyang banget, seneng banget gue dapat makanan sisaan dari Dimas." Ucapnya terkekeh.
Andre : "Gue aduin loe ke Dimas baru tahu rasa." Ancamnya. Mendengar hal itu, Septian langsung mendelik menatap Andre.
Septian : "Enggak asik loe Ndre, mainnya ngadu terus." Dengusnya kesal. Andre hanya terkekeh sambil mengacak puncak kepala Septian.
Andre : "Gue ingin lihat kondisi Dimas dulu, loe lebih baik istirahat sekarang." Perintahnya lalu melangkah kearah tangga menuju lantai dua.
Sejenak ia berhenti karena merasa ada yang mengikuti, ia melihat kearah belakang. Yaa siapa lagi jika bukan si bontot yang mengikutinya. Septian terlihat hanya menautkan kedua jarinya seperti bocah yang ketahuan mencuri mangga. Kemudian Andre melanjutkan langkahnya masih tetap diikuti oleh Septian.
CEKLEEEK!
Andre membuka pintu kamar yang berada dihadapannya. Septian yang tidak sabar langsung memasukkan kepalanya seperti pencuri yang sedang mengintip.
Kemudian, PLETAK!! sebuah tangan mendarat dikepala Septian. Septian langsung mendongak keatas melihat sang pelaku yang sudah berwajah datar. Sedangkan Septian hanya cengengesan menunjukkan deretan giginya. Keduanya sudah siap masuk namun langkah mereka terhenti karena suara deru mobil dihalaman Mansion.
Keduanya langsung mengurungkan niatnya dan turun menuju lantai satu untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini.
Terdapat dua lelaki yang sangat mereka kenal dan juga sahabat mereka yang tak lain adalah Indra dan Yayak, duo jumpling tidak ada karena mereka yang langsung pergi setelah persiapan telah usai.
Indra : "Apa Dimas baik-baik saja?" Kini giliran Indra yang bertanya.
Andre : "Dia baik, sepertinya hanya demam biasa karena memang akhir-akhir ini dia jarang bisa tidur dengan tenang." Jelasnya.
"Apa karena Yosuung?" Tanya Yayak dan Indra secara bersamaan. Andre mengangguk pelan.
Andre : "Sebenarnya pihak mereka belum bergerak dan baru akan bergerak dua hari lagi, tetapi tetap saja semua harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Aah dan ya, lusa Direktur akan kembali bersama Shekar. Mereka yang akan melawan Yosuung, meski Dimas sudah melarang tapi Shekar tetap bersikeras untuk menyelesaikan mereka semua."
Septian, Yayak juga Indra terkejut mendengar hal itu. Ditambah dengan kedatangan Shekar yang merupakan duplikat 1 dari Dimas, lelaki itu begitu dingin tak kalah dingin dengan Dimas bahkan matanya sama dengan Dimas. Orang ketiga yang ditakuti oleh Septian adalah Shekar setelah Dimas dan Pastu.
Glek!
Septian menelan salivanya dengan susah.
__ADS_1
Septian : "Serius loe Shekar lusa balik sama Om Pastu? Bukannya jadwal mereka minggu depan?" Tanyanya mencari kejelasan.
Andre : "Yaa, tetapi karena Yosuung sudah berani datang tanpa pemberitahuan dan alasan tertentu Shekar memutuskan segera kembali." Indra dan Yayak mengangguk paham. "Kenapa?" Tanya Andre yang melihat tingkah Septian yang sedikit absurd.
Septian : "Mati deh gue kalau itu orang balik." Ketiga lelaki didepannya mengernyit. "Gue enggak bakal bisa kabur lagi." Ucapnya tanpa dengan wajah polos. Seketika ketiga lelaki itu langsung tertawa.
Yayak : "Yang sabar aja deh loe, kalau gue mah sudah biasa diduakan oleh Dimas." Ejeknya. Indra mengangguk setuju. "Oke gue ingin lihat kondisi Dimas sekarang." Ucapnya yang kini sudah berwajah serius.
Andre mengangguk dan melangkah menuju kamar Dimas diikuti ketiga sahabatnya.
Ketiganya langsung masuk setelah pintu terbuka. Namun sosok yang mereka cari tidak ada diatas ranjang besarnya.
Septian : "Ndre, Abang gue kemana? Loe enggak salah bawa dia kekamar kan Ndre?"
Yayak : "Apa dia ada di ruang kerjanya Ndre?" Pertanyaan itu membuat Andre langsung menuju keruang sebelah kamar Dimas yang tak lain ruanh kerjanya.
Andre : "Tidak ada." Ucapnya setelah kembali mengecek ruang kerja Dimas.
Indra : "Loe udah cari dia disetiap ruangan yang ada disanakan Ndre?" Andre mengangguk.
Septian : "Jika Dimas tidak ada disini dan di ruang kerjanya, lalu dia ada dimana malam-malam begini? Gue enggak pengen kehilangan Abang gue, hiks."
PLETAK!!
Septian langsung mendapatkan pukulan dari ketiga lelaki didekatnya.
Andre : "Jaga ucapan kamu Septian." Ucapnya yang kini berwajah datar.
Indra : "Disaat seperti ini jaga ucapan kamu Sep, apa kamu ingin kehilangan dia?" Mendengar itu, Septian langsung menggeleng dengan cepat.
Yayak : "Makanya jaga itu mulut." Sungut Yayak yang tak kalah kesal.
Indra : "Apa Dimas memiliki ruang rahasia di Mansion ini?" Andre menggeleng tanda tidak.
Andre : "Dia tidak memiliki ruang rahasia satupun disini. Semua hanya ruang biasa saja." Jelasnya. Indra dan Yayak mengangguk paham karena mereka juga tahu itu.
__ADS_1
Yayak : "Lalu berada dimana lelaki dingin itu?" Tanyanya dengan wajah frustasi.
Indra, Andre dan Septian hanya diam. Mereka berfikir kemana perginya lelaki itu, sedangkan di kamar dan ruang kerja ia tidak ada.