
Muhammad Bayu Akbar atau yang biasa disapa MBA kini sedang berada di kediamannya keluarga Akbar, tepatnya iya kini berada di sebuah taman yang sengaja dibuat oleh sang Mama karena Mamanya itu begitu menyukai tanaman, khususnya bunga hias.
MBA memegang ponselnya, digenggam olehnya namun hanya dimainkan dengan cara diputar searah dengan jarum jam. Hanya itu yang ia lakukan sejak memasuki taman, bahkan ia seakan sedang berfikir dan menimbang sesuatu hal yang harus ia lakukan saat ini.
Akhirnya ia berhenti memainkan benda pipih itu, dan mulai mengusap layarnya mencari sebuah nomor yang baru saja ia simpan beberapa waktu lalu sebelum ia pulang ke Rumahnya. Dengan sedikit ragu ia men-dial nomor tersebut.
MBA : "Halo, Assalamu'alaikum apa benar ini nomor Arul?" Tanya MBA pada seseorang diseberang sana.
Ya nomor yang baru ia simpan adalah nomor Arul, ia melakukan panggilan salah satunya agar dekat dengan adik dari Adinda itu.
Arul : "Wa'alaikumussalam. Iya ini saya Arul, maaf ini dengan siapa yah?" Tanya orang itu yang mengaku bernama Arul.
MBA : "Ini Kak Akbar, ini Arul adiknya Adinda kan ya?" Orang itu hanya berdehem saja. "Berarti Kakak enggak salah donk. Bagaimana kabar kamu Dek? Sibuk apa sekarang?" Tanyanya basa-basi, yang kini sudah mulai bisa menormalkan kegugupanya.
Arul : "Ooh iya Kak MBA yah. Alhamdulillah Arul baik Kak. Sekarang masih sibuk persiapan untuk Ujian minggu depan." Jelasnya.
MBA : "Wah iya, sebentar lagi kalian yang kelas tiga minggu depan sudah mulai Ujian yah. Saya sampai lupa." Ucapnya terkekeh.
Arul : "Iyaa, ehmm kalau boleh tahu ada apa ya Kak? Apa ada keperluan yang lain?" Tanyanya yang kini tanpa basa-basi lagi.
MBA : "Ternyata anak ini tidak suka berbasa-basi seperti yang lain." Gumamnya dalam hati namun juga tersenyum. "Aah tidak ada, ini Kakak hanya memastikan bahwa ini benar nomor kamu. Karena Kakak tadi dapat dari buku absen kalian." Hening. "Apa kau sedang sibuk?" Lanjutnya.
Arul : "Eh. Ini Arul baru saja bersih-bersih rumah, karena memang hari ini jadwalnya sebelum minggu depan sibuk dengan Ujian." Jelasnya.
Sebenarnya Arul bukanlah seseorang yang suka banyak bicara, tetapi karena ia menghormati MBA yang jelas lebih tua darinya. Jadi dia tetap merespon dengan baik meski sedikit terusik.
Ada sebuah perasaan lain ketika mendapati ada seorang Kakak Senoir dari PPA yang menghubunginya seperti ini, apakah yang lain juga seperti itu, atau hanya dirinya saja? Begitu fikirnya.
MBA : "Baiklah, lanjutkan kegiatanmu. Sukses selalu untukmu ya. Assalamu'alaikum." Ucapnya sebelum mengakhiri panggilan itu.
Arul : "Wa'alaikumussalam Kak. Sukses juga untuk Kak MBA." Jawabnya.
__ADS_1
Panggilan itupun berakhir dengan ucapan salam dari kedua lelaki itu.
MBA yang masih di taman, ia sedikit merasa senang karena sudah memastika nomor Arul. Dengan ini, ia bisa melanjutkan cara untuk mendekati Adinda meski harus mendahulukan Arul terlebih dahulu. Tidak masalah baginya, karena Arul merupakan adik dari gadis yang ia sukai saat ini.
Bu Fatma : "Anak Mama kenapa senyum-senyum seperti itu? Apa kau sedang jatuh cinta sayang?" Suara wanita paruh baya yang tak lain Mamany itu membuyarkan lamunan MBA yang sedang membayangkan gadis Mahakarya.
MBA : "Mamaaaa?!" Ucapnya dengan ekspresi terkejut. "Mama ini ngagetin Akbar saja sih." Lanjutnya tanpa melepas senyum itu.
Bu Fatma : "Kamu ini sedang ngelamunin siapa sih, sampai Mama bicara saja kamu terkejut seperti itu, hem? Benar kamu sedang jatuh cinta sayang?"
MBA : "Aah Mama ini, enggak kok Ma. Akbar enggak ngelamun, cuma memang ngerasa seneng aja." Jelasnya.
Bu Fatma : "Kamu ini, ini Mama kamu loh. Mama yang melahirkan kamu, membesarkan kamu. Mama tahu mana yang sedang jatuh cinta dan mana yang hanya sekedar senang saja. Sekarang katakan sama Mama, siapa perempuan yang berhasil membuat anak Mama ini jatuh hati? Katakan."
MBA : "Mama ini ada-ada saja sih." Ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Hecmm Akbar baru akan mendekati adiknya dulu Ma." Sang Mama hanya mengernyit bingung. "Maksud Akbar, ya Akbar suka dengan seorang gadis SMU dia masuk di PPA dan dia memiliki seorang adik laki-laki tapi susah untuk di dekati. Adiknya itu belum mengizinkan Adinda punya kekasih, itu yang Akbar dengar. Jadi, Akbar ingin mendekati adiknya dulu, baru kakaknya."
Bu Fatma : "Oooh jadi gadis itu namanya Adinda? Apakah dia sangat cantik hingga membuat putra Mama ini berjuang mendekati adiknya terlebih dulu?"
Bu Fatma : "Kamu ini, biarkan dia lulus dulu. Dia juga harus kuliah, Mama ingin menantu Mama itu tidak tertekan ketika berada di Rumah. Jadi biarkan dia membebaskan diri dulu jangan terlalu mengekang." Jelasnya menasehati sang anak. MBA langsung mengangguk.
MBA : "Akbar juga tidak ingin mengekang pasangan Akbar Ma. Jika suatu saat nanti Akbar memiliki pasangan, Akbar akan membebaskan apapun asal masih mengurus rumah juga keluarga dan itu tidak diluar batas. Karena Akbar juga tidak ingin pasangan Akbar cenderung lebih asik diluar rumah bersama orang lain daripada bersama keluarganya.
Bu Fatma : "Benar sayang, kamu harus menjadi Imam yang pengertian dan lembut terhadap keluargamu juga harus tegas jika pasanganmu melakukan kesalahan, tapi ingat jangan pernah mengangkat tanganmu untuk menyakitinya karena bukan hanya fisiknya saja yang akan tersakiti tapi juga batinnya. Kamu harus berusaha membahagiakan keluarga kecilmu nantinya." Jelasnya memberi arahan.
Disaat mereka sedang asik berbincang, berbeda dengan Arul yang baru menyelesaikan kegiatan paginya. Nampak ia sedang berfikir sejak panggilan dari MBA berakhir.
"Ada apa dengan orang itu sih, kenapa sikapnya seperti itu seolah sudah mengenalku sejak lama. Bahkan ketika aku berbicara banyak dengan Kak Dimas, dia tidak begitu menunjukkan seolah telah lama mengenalku bahkan dia hanya bersikap biasa saja. Meski tidak dalam mode datar dan dingin." Gumamnya pelan.
Saat ini ia tengah membandingkan antara Dimas juga MBA, suatu hal yang sangat jarang ia lakukan termasuk membandingkan satu orang dengan orang lain. Karena menurutnya itu bukanlah hal yang harus dilakukan, namun sekarang ia malah melakukan hal tersebut.
Adinda yang melihat adiknya seperti itu, langsung menghampirinya dan meninggalkan tanaman yang hendak ia siram sebelumnya.
__ADS_1
Adinda : "Sayang? Kamu sedang apa, kenapa menggerutu seperti itu, hem?" Arul langsung menoleh kesumber suara, ia melihat seorang wanita yang selalu menemaninya tengah berjalan mengarah padanya. "Kenapa?" Ulangnya lagi.
Arul : "Eeh, enggak kok Kak. Tadi Arul hanya bingung saja dengan sikap Kak Akbar."
Adinda : "Kak Akbar? Akbar siapa sih dek? Sepertinya kita tidak punya saudara bernama itu." Ucapnya sambil mengingat.
Arul : "Maksud Arul itu Kak MBA, entah darimana dia dapat nomor Arul."
Adinda : "Kak MBA? Maksud kamu MBA senior PPA?" Arul mengangguk. "Ada apa dia menghubungi Arul?" Ucapnya dalam hati.
Arul : "Sepertinya dia menyukai Kakak, tapi kenapa mendekati Arul?" Gumamnya pelan. "Apa Kakak sering berkomunikasi dengan dia?" Tanyanya dengan mata menyelidik.
Adinda : "Eeh, tidak sayang. Memang dia sempat menghubungi Kakak tapi itu sudah lama, sebelum acara PPA kemarin." Jelasnya pada sang Adik. "Itupun juga enggak Kakak balas, lebih tepatnya jarang Kakak balas." Ucapnya lagi.
Arul : "Katakan pada Arul, jika ada lelaki yang menyukai Kakak dan bilang padanya kalau Kakak belum ingin pacaran." Ucapnya dengan tegas dan posesif.
Setelah mengatakan itu, Arul langsung masuk ke kamarnya yang berada dilantai dua untuk bersih-bersih. Sedangkan Adinda hanya melihat punghung adiknya yang sudah hilang dibalik dinding pemisah.
"Apa yang akan kamu lakukan jika tahu Kakak dan Kak Dimas memiliki hubungan? Bisakah kamu menerima lelaki itu dek? Lelaki dingin dan datar, Raja Es dari Nusa Bangsa." Gumamnya pelan terasa putus asa.
TING!!!
Ponsel yang digenggam olehnya berbunyi.
_Raja Es❤
Tenanglah, tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Tuhan memiliki rencana yang baik untuk kita.
Pesan itu membuat Adinda termenung, bagaimana bisa Dimas tahu jika saat ini dirinya tengah dilanda kekhawatiran mengenai hubungan ini.
Kata-kata itu seperti memiliki arti lain yang menggambarkan suasana hatinya saat ini. Tapi entah apa Adinda tidak mengerti, dia takut tidak bisa memahami arti itu dan memutuskan untuk diam dengan seribu macam fikiran yang ada dikepalanya.
__ADS_1