
Kegiatan mereka terhenti karena kedatangan orang yang mereka kenal, ditambah suara celotehan dari salah satunya.
"Kalian makan tanpa menunggu kami?" Ucap orang tersebut dengan suara yang dibuat kesal.
Mereka semua menoleh kesumber suara. Ada yang terkejut, adapula yang bersikap biasa. Namun tidak dengan Adinda, karena ia sangat tahu siapa orang yang baru saja datang itu.
Yayak : "Sudah datang? Ayo sini kalian duduk dulu. Ndra. . ." Indra yang dipanggil langsung mengerti, ia lalu memesankan makanan untuk ketiga orang yang baru saja datang.
Pesanan untuk Andre dan Septian, Indra jelas sudah biasa tahu terlebih kesukaan Septian di Restoran ini. Tetapi khusus untuk si sulung maka dia akan berfikir dulu sebelum memesan. Indra langsung menatap orang tersebut.
Indra : "Loe pesan apa Dim?" Yaa orang itu adaah Dimas.
Dimas : "Tidak perlu, saya sudah memesan sebelumnya." Jawabnya datar. Indra kembali duduk setelah mendengar itu.
"Siapa Bang Dimas sebenarnya, kenapa dia seperti pemilik saja disini." Gumam para siswa yang masih berseragam sekolah disana, kecuali Adinda, Arul, Amel dan Azriel yang memang sudah tahu sebelumnya.
Septian : "Bang, apa loe pesan makanan kesukaanku juga?"
Ilham : "Loe pesan makanan apa? Bukankah Indra sudah memesankan makanan?"
Yayak : "Jangan bilang loe pengen makan... Oh Tuhan, kasihan saudara hamba ini. Ampuni dosanya, semoga dia segera bertaubat." Semua yang mendengar langsung mengernyit heran, kecuali Dimas dan si duplikat.
Septian : "Woy, makanan apa yang loe maksud? Gue ini enggak pernah makan yang kalian pikirkan." Yang lain langsung terkekeh. "Dasar enggak jelas loe Yak."
Yayak : "Loh gue kan enggak bilang apa-apa Sep, hanya berharap loe segera bertaubat." Septian langsung mencebik. Kemudian.
Septian : "Abaaaaaang?!" Rengeknya pada Dimas.
"Mulai lagi deh!" Ucap Ilham dan Amar berbarengan.
Septian : "Apa kalian berdua, jauh-jauh sono dari gue." Kemudian kembali menatap Dimas. "Baaang, loe kok diam aja sih. Sahabat loe tuh." Adunya.
Yayak : "Hei bontoooooott, apa loe bilang. Enak saja loe, gue daritadi cuma diam saja. Lagipula untuk apa loe merengek seperti itu, lihat saja Dimas bahkan tidak bereaksi sedikitpun. Dia lebih baik fokus denan ipad miliknya ketimbang rengekan loe." Ucapnya dengan puas.
Firman : "Sudahlah Sep, nikmati saja hal seperti ini." Ejek Firman pada Septian.
Septian : "Loe juga gitu. Aah, hei Firman Rangga Wijaya, sejak kapan loe ikut gabung sama kita? Bukankah kau sedang sibuk dengan PJ, sekarang kenapa loe ikut?"
Amar : "Waaah iya benar sekali, hampir saja gue lupa. Biasanya seorang Firga akan selalu sibuk dan susah untuk diajak jalan seperti ini. Ini kenapa jadi hadir yaa🤔 sungguh langka."
Ilham : "Mungkin saja mereka sedang dalam masa hibernasi, jadi Firman ikut kita." Ketiga kembar jumpling itu kompak mengejek Firman yang memang sangat jarang bisa berkumpul.
Yayak : "Biasalah, saat ini mereka berdua sedang dalam tahap.. Ehmm instropeksi diri, jadi harus segera dicairkan sejenak pikirannya. Iya kan Ndra."
__ADS_1
Indra : "Yaa anggap saja, sedang mendapat ujian." Jawaban Indra membuat yang lain terkekeh.
Firman : "Hei, kenapa kalian jadi mojokin gue gini sih? Loe juga Ndra, sejak kapan loe suka dengan hal seperti ini?" Indra hanya mengedikan bahunya. "Wah gawat ini ada Amara dan Arse, jika sampai dia mengadu ke Mama. Habislah uang jajan gue sebulan, awas saja kalian yaah." Gumamnya merutuki kelima sahabatnya yang kompak itu.
Yayak : "Lanjutkan saja acara makan kita ini." Ucap Yayak menyudahi perdebatan.
Mereka langsung bersenda gurau, tak lupa menajak para juniornya berbicara. Makanan yang di pesan Indra akhirnya datang, dan segera dihidangkan ke hadapan Andre dan Septian. Begitupula dengan Dimas. Andre dan Dimas merehatkan sebentar aktivitasnya yang sejak tadi masih fokus dengan beberapa email yang masuk.
Septian : "Bang, loe yakin hanya pesan makanan itu saja? Apa lambungmu sudah lebih baik?" Ucapan Septian itu langsung menghentikan kegiatan mereka dan langsung menatap Dimas seakan menunggu jawaban. Sedangkan Dimas langsung menatap nyalang kearah Septian, yang ditatap hanya tersenyum kikuk.
Azriel : "Maksudnya apa Bang? Apa Bang Dimas sebelumnya sedang sakit?" Tanya Azriel yang ingin tahu. Sedangkan Yayak langsung melirik Adinda yang sudah merubah ekspresinya.
Adinda : "Apa Kak Dimas sakit? Tapi kenapa dia tidak mengatakannya? Dasar lelaki dingin." Gumam Adinda dalam hati.
Ting... sebuah pesan masuk. Adinda langsung mengambil ponselnya yang berada diatas meja.
Raja Es : "Jangan berfikir macam-macam dan jangan merutuki sifat saya." Bunyi pesan itu.
Adinda : "Apa dia ini memang benar seorang cenayang, kenapa disaat seperti ini ia bisa mengirim kata-kata begini." Adinda melirik Dimas yang memang masih makan.
Yayak : "Sudah, kalian tidak perlu terkecoh dengan ucapan Septian. Dia hanya bercanda. Sekarang lanjutkan makan kalian. Ah iya, setelah ini kemana acara kalian?" Ucap Yayak yang berusaha mengalihkan perhatian mereka.
Adit : "Kami hanya akan kumpul seperti ini saja Bang, menghabiskan waktu bersama sebelum berperang minggu depan."
Firman : "Oh iya, sebenarnya apa hubungan kalian semua? Gue lihat saat acara waktu itu, kalian terlihat begitu dekat."
Amar : "Gue tahu, kalian pasti sedang tahap pendekatan yaa. Tapi saran gue, kalian harus hati-hati dengan ituuu." Melirik Amel.
Geraldi : "Memang kenapa kita harus hati-hati Bang?"
Amar : "Memangnya kalian betah sama cewek bar-bar itu." Amel langsung menatap tajam kearah Amar.
Amel : "Heh loe ya, mau gue bar-bar atau enggak itu bukan urusan loe ya Bang." Dengusnya dengan kesal. "Jangan salah, meski gue begini tapi gue itu ngangenin." Amar langsung berlagak seolah ingin muntah.
Ilham : "Yaa sepertinya kata-kata kamu itu tepat sekali, karena pasti ada yang kangen sama kamu." Jawab Ilham namun matanya melirik pada Amar, dan Amar langsung sok cuek.
Vania : Bener banget tuh, tapi dia juga gampang kangen orangnya Bang." Vania ikut menimpali.
Ilham : "Oh ya? Contohnya seperti apa?" Tanya Ilham denan antusias.
Geraldi : "Yaa contohnya dia akan kangen ketika masa liburan telah tiba dan karena terlalu lama dia akan merengek untuk mengajak berkumpul." Jawab Geraldi, sedangkan Amel mendengus kesal.
Amel : "Kenapa jadi bahas soal gue sih. Kalian juga ikut-ikutan." Vania dan Geraldi terkekeh.
__ADS_1
Firman : "Jawab dulu pertanyaan gue kenapa." Ulangnya.
Adit : "Kami berlima ini memang bersahabat sejak SMP Bang. Kebetulan gue ketemu mereka saat pindah kesini karen sebelumnya gue di Bandung."
Geraldi : "Kalau gue memang tetanggaan sejak kecil sama Amel, jadi seperti saudara. Sedangkan Vania kita bertemu di SMP yang kebetulan dia duduk dibangku belakang Amel, nah kalau Adinda. Siapa yang tidak kenal dengan dia, dia ini primadona sejak SMP dan kebetulan dia duduk dengan Amel. Lambat laun kami akrab dan jadi sahabat hingga sekarang." Jelas Geraldi.
Amar : "Lalu dengan keempat bocah ini?" Menunjuk Azriel, Arul, Alvin dan Nauval.
Azriel : "Oh kalau kami berempat. Ya kebetulan aku saudara sepupu Memel jadi bisa kenal dengan mereka yang di SMU, dan Arul kebetulan adik Kak Dinda. Sedangkan Alvin dan Nauval itu sahabat Arul. Jadi kita diadikan satu sekolah dan bersahabat.
Nauval : "Jadi kemanapun senior pergi kami selalu ikut, karena kami berempat ini pengawal pribadi ketiga wanita ini." Menunjuk Adinda, Amel dan Vania.
Alvin : "Benar Bang, kami selalu ada ketika memang berkumpul seperti ini."
Yayak : "Kalian tadi bilang Dek Din sejak SMP primadona?" Mereka menangguk.
Adit : "Karena memang begitulah Bang, sejak SMP dia memang primadona. Bukan hanya baik dan cantik tapi juga hangat. Pokoknya cantik luar dalam, maka dari itu gue sama Gerald yang bertugas menjaga dia ditambah Amel dan Vania."
Mereka semakin menelisik lebih jauh, namun ada dua mahkluk Tuhan diujung sana yang diam-diam juga mendengar hal itu meski dia fokus dengan pekerjaannya. Orang itu tidak lain adalah Dimas, dia sudah mulai sedikit geram namun ia masih bisa menahannya karena tidak mungkin dia mengeluarkan uneg-unegnya itu. Maka dari itu ia mencoba untuk bersikap biasa saja. Lain hal dengan Dimas, Andre bahkan sudah menatap Dimas untuk melihat wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam hangat dari Author...