
Indra : "Kalian istirahatlah, nanti selepas dzuhur kita akan berkumpul di Aula tengah." Septian, Yayak, Ilham dan Amar hanya mengangguk.
Karena Villa itu memiliki kamar yang luas, jadi setiap kamar dihuni oleh empat orang namun juga ada yang terisi lima sampai enam orang tergantung ranjang yang ada di kamar tersebut. Karena setiap kamar terdapat lima ranjang yang khusus hanya untuk satu orang.
back to Pastu...
Pastu : "Apakah semuanya baik Angga? Apa Shekar sudah memberikan informasi?"
Angga merupaka sekretaris Pangestu Ramadhan, semula lelaki itu adalah sekretaris dua yang dimiliki Dimas lalu Arya. Namun karena suatu hal, Angga saat ini diharuskan menjadi sekretaris Pastu dan ia baru beberapa bulan menjadi sekretaris dari Paman Bosnya terdahulu. Meski sudah sering bertemu, tapi tetap saja baik Dimas maupun Pangestu adalah orang yang berbeda.
Angga : "Ya Tuan, Tuan Shekar mengabarkan bahwa Tuan Muda saat ini masih belum ingin diganggu karena Pihak Yoosung yang masih tetap keukeuh ingin bertemu dengan Pimpinan. Terutama kedua putri Tuan Lee, mereka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan yang mereka inginkan." Pastu yang mendengar itu langsung geram.
Pastu : "Lalu bagaimana dengan keadaan dia sendiri?" Tanyanya lagi.
Angga : "Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa Tuan Muda belum ingin diganggu, Beliau saat ini hanya memeriksa beberapa file yang masuk melalui e-mail dan tidak memfokuskan pada pihak Yoosung. Beliau mengatakan untuk bersikap tenang menghadapi Yoosung dengan cara bergerak dalam diam. Bergerak dengan hati-hati tanpa harus memperlihatkan semuanya. Bahkan wajah Tuan Muda terlihat tenang dan tanpa beban seakan semuanya hanya daun yang akan segera berlalu karena terbawa oleh angin." Jelasnya.
Pastu : "Baiklah terus kamu awasi semuanya dan ingat, kamu harus segera mengabariku apapun yang terjadi." Angga mengangguk meski Pastu tidak melihat.
Pastu langsung mengakhiri panggilan itu, menghela nafas dan diam sambil melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
Pastu : "Kau bahkan sangat mewarisi bakat dan sifat dari Ayahmu Dim. Sifatmu yang terlampau dingin melebihinya, dan emosi yang selalu bisa kau kendalikan membuatmu begitu sempurna dengan kecerdasan yang kau miliki. Sikap tenang itulah yang selalu Mama mu ajarkan sejak dulu, bahkan aku saja sejak kecil tidak bisa mengikutinya." Gumamnya pelan. "Aku percaya dan yakin bahwa saat ini mereka bahagia disana, tapi bagaimana dengan gadis kecilnya itu?" Lanjutnya.
__ADS_1
* * *
Disaat Pastu sedang memikirkan Dimas. Kini disisi lain Dimas tengah memeriksa beberapa file yang sudah masuk melalui e-mail. Semua ua selesaikan karena harua segera pergi ke Puncak, bahkan tidak hanya dirinya Firman dan Andre serta Shekar juga harus segera berada di Puncak.
Bukan hanya karena beberala file saja tetapi juga karena Yoosung Grub yang masih tetap bertahan di Perusahaan.
Kim Nisha : "Aku harus segera bertemu dengan Tuan Muda Adhitama. Kenapa kalian menghalangiku dan juga adikku? Apa kalian tidak tahu siapa kami? Aku adalah calon tunangan dari Tuan Muda kalian, jadi kalian harus menuruti perintahku. Jadi biarkan kami menemui Tuan Muda sekarang." Ucapnya dengan menggunakan Bahasa Inggris.
Semua karyawan yang memang sudah tahu bagaimana keadaan dan Peraturan ketat dari Perusahaan termasuk tidak membiarkan siapapun mengusik sang Tuan. Karena dalam kontrak mereka tertera tidak diperbolehkannya karyawan menyebarluaskan identitas dari CEO mereka, jika sampai itu terjadi maka denda yang akan ditanggung tidak akan sedikit.
Kim Shera : "Apa kalian tidak dengar yang Kakak ku bilang?!" Teriaknya.
Resepsionis 1 : "Maaf Nona, tetapi Tuan Muda kami saat ini tidak ingin diganggu sedikitpun. Kebetulan Beliau sedang ada rapat penting, dan kami tidak bisa membiarkan siapapun mengangganggu ketengannya termasuk memberikan kalian izin untuk masuk ke ruangannya sekalipun, itu adalah pesan langsung dari Tuan Muda." Jawabnya dengan nada yang masih lembut.
Kim Nisha : "Kalian akan menanggung akibatnya karena sudah memperlakukan kami seperti sekarang ini. Camkan itu!" Ancamnya.
Namun bukannya takut, kedua Resepsionis itu malah bersikap tenang dan menunjukkan senyum hangatnya meski sebenarnya tidak bisa dipungkiri mereka sudah sangat muak. Tiba-tiba datanglah seorang wanita menghampiri mereka, seorang janda anak satu yang memang terkenal centil disana siapa lagi jika bukan Yulia yang memang sudah menaruh hati pada Dimas.
Dengan gaya centilnya, Yulia menghampiri Kakak beradik yang masih berada di Resepsionis.
Yulia : "Kalian harus mematuhi peraturan disini jika tidak ingin diperlakukan dengan semena-mena. Disini bukan hutan yang seluruh penghuninya bisa teriak seenaknya sendiri, tapi ini Perusahaan yang semua penghuninya memiliki attitude yang baik." Ucapnya ketus dengan bahasa Inggris, tak lupa ia juga menunjukkan wajah judesnya pada dua gadis Korea itu.
__ADS_1
Yulia meski terkenal judes dan galak tetapi jika urusan pekerjaan maka dia akan serius apalagi jika ada yang mengganggu ketenangan Perusahaan tempat dimana ia bekerja, maka wajahnya akan berubah menjadi garang seperti sekarang. Yulia sebenarnya wanita yang baik dan setia kawan, ia bersikap centil untuk menyembunyikan rasa sedihnya karena kekecewaan atas perpisahan dengan sang suami. Ia menganggap itu hiburan tersendiri, termasuk menggoda sang CEO.
Kim Nisha : "Siapa kamu yang berani berkata seperti itu?! Saya adalah calon istri dari CEO kalian, jadi jangan macam-macam dengan saya. Karena saya bisa melaporkan kalian semua!" Ucapnya tak ada rasa gentar sedikitpun.
Yulia : "Hanya anak kecil tapi sudah berani berkata kasar seperti itu, apalagi jika sudah besar nanti. Bisa runtuh semua ini manusia yang ada di Bumi." Jawabnya.
Disaat mereka sedang berdebat, beberapa orang yang ada diruang cctv sedang mengamati tingkah para pegawainya menghadapi kedua putri Tuan Lee. Bahkan mereka sempat tidak menyangka jika seorang Yulia bisa bersikap garang seperti emak-emak komplek.
Firman : "Enggak salah itu cewek bersikap seperti itu? Loe bilang wanita itu centil dan suka mengganggu Dimas?" Tanyanya sambil melirik Andre.
Andre : "Yaa disitu kelebihannya, dia memang mempunyai sikap yang berbeda jauh dari biasanya. Centil dan suka menggoda terutama menggoda Dimas, bahkan Septian dan dia itu musuh bebuyutan." Jelasnya.
Shekar : "Kenapa pembahasan kalian malah si janda anak satu itu? Kita ini disisni sedang tahap mengawasi dua wanita ular itu, jadi jangan membahas yang lain." Dengusnya kesal.
Sedangkan Andre dan Firman hanya mengernyitkan dahinya saja.
Firman : "Kami hanya sedikit membahas dia, tidak membahas sepenuhnya. Kenapa Anda bersikap seperti itu, apa Anda menyukai wanita itu?" Ucapnya tak kalah kesal namun juga meledeknya. Sedangkan Shekar langsung mendelik.
Shekar : "Apa yang kau katakan?! Apa kau ingin m*ti, hah?!" Firman hanya terkekeh melihat wajah kesal Shekar, itu yang menjadi hobinya saat ini.
Andre : "Sudah, hentikan tingkah kalian. Lebih baik kita kembali fokus dengan mereka, aku tidak ingin kondisi Perusahaan semakin ditekan karena kehadiran dua wanita ular itu."
__ADS_1
Seketika Firman dan Shekar menghentikan tingkah mereka dan kembali fokus dengan layar yang ada didepannya.