
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Ketiganya mengarah ke sumber suara.
"Abaaaaaaang?!" Sekali lagi mereka berteriak dengan kompak.
Orang yang tidak lain adalah Andre itu hanya menatap datar. Lelaki itu langsung meninggalkan mereka. Tak ayal ketiga jumpling itu akhirnya mengikuti langkah Andre.
.
.
Andre : "Kalian sudah lama disini?" Mereka mengangguk mendengar suara datar Andre.
Yayak : "Loe masih banyak pekerjaan? Arya tadi bilang loe masih ada kerjaan kantor."
Andre : "Hanya sedikit." Jawab Andre setelah melirik kearah Arya.
Pastu : "Bisa kita mulai? Ngobrolnya nanti lagi." Ucapnya yang diangguki oleh yang lain.
Acara pengajian untuk mendo'akan Dimas dan orangtuanya pun dimulai dengan di Imami oleh seorang Kyai yang memang sudah akrab dengan keluarga Adhitama. Bisa dibilang Kyai tersebut adalah guru mengaji di keluarga itu.
Mereka sangat khusyuk mengikuti pengajian ini, tidak ada lagi tampang selengekan atau tampang aneh dari mereka terutama para jumpling yang biasanya bersikap semaunya sendiri.
Wajah mereka yang terbiasa selengekan kini berubah serius dengan bergulirnya waktu dalam pengajian itu. Beberapa dari mereka bahkan ada yang mengusap mata, karena air mata yang tak terasa hadir disana.
MBA, Firman juga Arul menatap Adinda yang sejak pengajian dimulai air matanya sudah mulai mengalir bahkan mulai sesenggukan. Kepalanya menunduk dalam menutupi matanya yang sudah basah, Amel yang berada disebelahnya langsung merengkuh bahu gadis itu. Ia ikut merasakan kesedihan Adinda.
Sudah berbulan-bulan namun Adinda tetap sama, perasaannya tetap sakit seakan belum menerima jika lelaki yang ia cintai sudah tidak ada. Bahu gadis itu bergetar, air matanya semakin deras mengingat semua kenangan yang mereka jalani selama ini. Beruntung ia duduk di sudut ruangan dibelakang Shinta, jadi tidak begitu terlihat.
MBA yang melihat itu ada rasa, ada keinginan untuk merengkuh gadis itu agar tangisnya mereda dan tenang. Namun apalah daya, ia bukanlah siapa-siapa dalam hidup gadis itu. Hanya seorang lelaki yang satu organisasi yang hanya dianggap rekan oleh Adinda.
Sedangkan yang lain hanya menatap nanar gadis itu. Ada tatapan sendu dan menyayat hati ketika mendengar tangis Adinda yang membuat mereka pilu karena tidak hanya Adinda yang kehilangan melainkan para sahabat juga merasakan hal yang sama.
Tak berselang lama, sang Kyai mengakhiri acara tersebut dengan melantunkan do'a khusus untuk mendiang keluarga Adhitama. Setelah acara selesai barulah mereka langsung bercengkerama, hal itu dilakukan untuk mengalihkan perhatian karena kehilangan sosok Dimas Aditya.
Amel : "Adinda, are you oke?" Adinda mengangguk masih dengan air matanya yang sudah mulai mengering.
"Gue yakin, loe pasti kuat Din. Loe sahabat gue yang paling kuat. Gue enggak tega lihat loe yang seperti ini. Gue janji akan selalu ada buat loe." Gumam Amel dalam hati.
__ADS_1
Andre sejak tadi diam menatap Adinda yang masih menangis kemudian direngkuh oleh sahabatnya. Setelah cukup lama Andre menatap Adinda, ia berbalik melangkah keruang keluarga yang sedikit sepi. Matanya menatap kearah pigura besar yang ada diruang keluarga.
Pigura besar yang disana terdapat wajah Tuan Surya Adhitama, Nyonya Ivanka Laila Adhitama serta Putra tunggal mereka, Dimas Surya Adhitama. Lalu sebelahnya terdapat pula pigura yang sedikit lebih kecil dari pigura sebelumnya. Terdapat lima wajah disana, Tuan dan Nyonya Adhitama, Dimas serta kedua adiknya yang tidak lain adalah wajah Andre dan Septian.
Dalam pigura itu mereka tampak bahagia tidak ada sedikitpun wajah sendu atau yang lainnya. Hanya kebahagiaan tidak ada yang lain. Meski wajah Dimas terlihat sangat dingin dan sedikit mendominasi namun hal itu tidak memutuskan kebahagiaan mereka.
Andre menatap nanar pigura itu. Andai, andai semua bisa kembali seperti sebelumnya. Andai Papa dan Mama tidak kecelakaan, andai Dimas tidak berangkat ke Korea seorang diri, andai ia memaksa untuk tetap ikut. Pasti ia akan menjaga lelaki itu dan semua ini tidak akan terjadi. Tapi semua itu hanya andai, dan sekarang waktu tidak akan pernah terulang kembali bagaimanapun caranya.
Pastu menepuk bahu Andre, dengan cepat Andre menunduk lalu mengusap matanya yang sudah berair.
Pastu : "Are you oke, son?" Hening, Andre hanya diam tidak ada jawaban sedikitpun. Matanya masih menatap pigura itu."Are you miss him?" Bahu Andre langsung bergetar mendengar pertanyaan itu. Ya, Andre begitu merindukan lelaki dingin itu, sangat.
Pastu langsung merengkuh sang keponakan, akhirnya ketegaran juga kekuatan yang ia bangun untuk tahan selama ini, akhirnya luruh saat itu juga.
Septian, yaa Septian yang tidak jauh dari sana tepatnya di ruang tengah ia langsung berjalan cepat menghampiri Pastu yang sudah merengkuh sang Abang.
Septian : "Om, ada apa dengan Abang?" Tanyanya pelan namun juga ada rasa panik dan penasaran. Pastu hanya menjawab lewat matanya yang melirik pigura besar didepannya.
Septian mengikuti arah mata Pastu.
Jantung Septian berpacu dengan cepat, nafasnya seakan berhenti saat itu juga. Si bontot langsung menghela nafas dengan kasar, inilah kelemahan dirinya juga Andre. Kelemahan yang tidak banyak orang ketahui, karena bagi mereka kelemahan terbesar lelaki adalah perempuan, tapi tidak untuk keduanya.
"Om, gue juga rindu sama mereka. Kenapa mereka ninggalin gue? Apa selama ini gue sudah membuat kesalahan yang besar, sampai mereka tega ninggalin gue?" Mata Septian sudah berkaca-kaca.
"Pertama Ibu dan Ayah yang pergi saat gue masih sekolah, masih butuh rasa sayang, lalu Papa dan Mama. Sekarang... Dimas juga ikut pergi. Kenapa semua orang yang gue sayang harus pergi dengan cepat? Hikss."
Pastu yang tidak tahan mendengar ungkapan hati Septian langsung merengkuh si bontot. Jadilah ia merengkuh kedua keponakannya ini, kini hanya dua pemuda ini yang ia miliki selain kedua orangtuanya yang sekarang berada di Jerman. Sesuai permintaan Dimas, ia akan menjaga Si Abang dingin dan si bontot.
Tanpa mereka sadari, banyak pasang mata yang melihat pemandangan yang mengharukan itu. Mereka seakan larut dalam kesedihan yang ditunjukan ketiga lelaki beda generasi itu.
Angel : "O.oom, Angel juga ingin dipeluk!" Ucap Angel dengan tiba-tiba.
Pastu yang mendengar ucapan Angel langsung merentangkan tangannya, menerima permintaan gadis yang sudah dianggap adik oleh Dimas itu.
Dengan segera Angel berlari, mencari kekuatan yang ingin ia dapatkan selama ini.
#Macam teletubies saja mereka berpelukan.
__ADS_1
Meski Angel adik dari sahabat Dimas ketika di Semarang, tapi gadis ini begitu dekat dengan keluarga Adhitama.
Yayak yang melihat kekasihnya itu hanya diam saja, karena sejujurnya ia sendiri juga bingung bagaimana menenangkan pujaan hatinya. Disatu sisi dia sendiri juga merasa kehilangan dan belum bisa menenangkan hatinya namun disisi lain ada sang kekasih yang juga membutuhkan kekuatan dariya.
Adinda yang berada disudut ruangan menatap pigura yang berjejer disana. Ada empat pigura yang menempel sempurna di dinding, pertama foto Tuan dan Nyonya Adhitama. Kedua foto Tuan dan Nyonya Adhitama serta Dimas, ketiga Keluarga Adhitama beserta Andre juga Septian. Keempat Foto Dimas seorang diri lalu yang kelima foto Dimas beserta kedua adiknya.
Kini mata Adinda tertuju pada pigura keempat, dimana disana hanya ada foto Dimas seorang diri. Wajah lelaki itu terlihat tampan, bola mata yang biru juga tajam, hidung yang mancung, bibir yang kemerahan, rahang yang kokoh. Dengan tinggi badan yang proposional perpaduan Asia-Eropa dengan tubuh bidangnya yang atletis. Nampak gagah juga penuh kewibawaan, semua itu begitu mirip dengan sang Ayah. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan hal sama.
Pandangan mata Adinda tak berkedip sedikitpun saat menatap foto Dimas. Perlahan tangan kanannya terangkat ia arahkan didadanya. Jantungnya masih berdetak meski hanya melihat foto lelaki itu, perlahan ia meremas dadanya. Terasa begitu sakit namun tidak berdarah, tangan kiri yang digenggam oleh Amel perlahan begitu erat.
Amel : "Adinda? Loe baik-baik saja kan ya? Ingat Din, loe harus tenang jaga kesehatan. Oke, loe harus tenang Adinda." Ucapnya seperti berbisik. Perlahan tangan Adinda mulai mengendur, Amel yakin Adinda mulai sedikit tenang meski belum sepenuhnya.
Adinda : "Aku masih belum bisa menerima kepergian lelaki itu Amel." Ucapnya lirih disertai tetesan air mata yang mulai keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Lah si enthor juga bingung belum bisa tenang, hikss. Enthor sampai nangis pas ngetik ini. Ya Allah, brebes ini mataðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Siapalah yang naruh si bombai disini, hikss.
Semoga enggak batal ini puasa Ya Allah..
__ADS_1