Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 43


__ADS_3

Firman : "Doa, mulai." Mereka menundukkan kepala. "Selesai. Selamat makan."


"Selamat makaaaaaannn." Jawab mereka kompak.


Mereka makan dengan tenang, namun juga tidak tenang karena terkadang kelompok yang diketuai oleh Geraldi itu bertingkah kocak ditambah dengan adanya duo sepupu yang sering bertengkar, siapa lagi jika bukan Amel dan Azriel.


Tingkah mereka mengundang para mata mengarah dan melihat itu semua. Terkadang juga mereka ikut tertawa, seperti saat Amel mengambil lauk makanan dari kotak Geraldi.


Geraldi : "Waaahhh siapa yang ambil lauk gue nih?!" Geraldi melihat satu persatu wajah dari kelompoknya itu.


Alvin : "Bukan kita berdua ya Bang, gue sama Nauval enggak ambil yaa meski kadang suka iseng sih. Hehee."


Nauval : "Enak aja, loe aja gue mah enggak Vin." Sergah Nauval menyangkal ucapan sahabatnya itu.


"Enggak pernah telaaaaattt! Hahaaa." Jawab Alvin, Arul juga Azriel. Mereka tertawa, sedangkan Nauval hanya mendengus kesal.


Geraldi masih melihat tingkah mereka, hingga akhirnya satu orang yang ia curigai sebagai dalangnya. Karena orang itu terlihat hanya berdiam saja dan tidak menjawab ucapannya.


Geraldi : "Amelia Putri Maheswari, loe ambil lauk gue kan?" Selidik Geraldi dengan memicingkan matanya.


Amel : "Hehee. Ikhlasin aja deh, yaa?" Ucapnya setelah Geraldi tahu.


Geraldi : "Oh Tuhan! Kenapa hidupku seperti ini sih, punya temen gini amat yak! Cantik sih, tapi masya allah deh sikapnya, usil banget. Mana suka curi makanan. Untung gue baik, kalau enggak udah gue makan habis itu orang."


Amel : "Yaelaaaah, makanan gini doang. Besok gue ganti deh. Sekarang gue laper banget nih. Ikhlasin deh yaa, daripada gue sakit perut."


Geraldi : "Salah loe sendiri, kenapa curi tuh makanan orang." Amel hanya terkekeh melihat wajah temannya yang kesal.


Alvin: "Waaaah, ada makan gratis lagi nih. Gue ikut deh Kak Mel."


Nauval : "Oke deh, kita berangkat." Ucapnya semangat.


Amel : "Eeeeh, siapa yang ngajakin kalian ikut? Enak aja, buat kalian harus bayar." Mereka langsung tertunduk lesu, hal itu membuat yang lain tertawa.


Acara makan siang selesai meski harus diiringi dengan perdebatan mereka, baik itu senior maupun juniot tapi mereka tetap kompak


. . .


Acara kembali dilanjutkan dengan arahan yang diterangkan oleh ketua maupun wakil dari kelompok itu. Ditengah kegiatan mereka yang semakin seru Yayak melihat bidang Humas lebih tepatnya Adinda Amaralia.

__ADS_1


Adinda : "Ehmm Bang Arya, saya permisi sebentar ingin ke toilet."


Arya : "Baiklah, tapi jangan lama-lama." Adinda mengangguk dan langsung keluar dari Aula.


Tak jauh dari sana MBA melihat Adinda keluar, ia berfikir bahwa ini kesempatan untuknya mendekati Adinda dan memberikan perhatian padanya.


MBA : "Angel, gue keluar sebentar deh yaa pengen ke belakang nih." Katanya sambil tersenyum.


Angel : "Yaelaaah, udah gih buruan inget jangan lama-lama ya Bar!" MBA hanya mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju. Hal itu disadari oleh Yayak yang memang tengah memperhatikan Adinda.


Yayak : "Kenapa perasaan gue enggak enak gini ya ngelihat Akbar yang selalu memperhatikan Adinda." Yayak semakin penasaran dengan sikap MBA yang tak seperti biasanya terutama tentang perempuan, karena ia juga terkenal lelaki yang jarang sekali dekat ataupun perhatian dengan makhluk bernama wanita.


Yayak melihat jam ditangannya, Adinda sudah terlalu lama begitu fikirnya namun tepat dimenit ke lima belas, ia melihat Adinda masuk dengan kepala menunduk yang kemudian diikuti MBA dibelakangnya. Namun sedetik kemudian ia semakin terkejut dengan seseorang yang baru saja memasuki Aula tak lama setelah Adinda dan MBA.


"Maaf saya telat." Mereka semua menoleh kesumber suara. Adinda sedikit terlonjak kaget dengan suara itu.


"Kak Dimas." Gumamnya pelan, Adinda melihat kearah Dimas. Kemudian terdengar teriakan.....


"Abaaaaaaaaaaang!" Teriak Amar, Ilham dan Septian dengan kompak. Bahkan karena teriakan itu membuat Yayak jengah dan langsung melemparkan tas selempang yang ia kenakan.


Yayak : "Woy! Bisa diem enggak it mulut?! Berisik tau gak.!" Mereka bertiga langsung terdiam dan berlari kebelakang Dimas untuk mencari perlindungan dari amukan Yayak. "Hebat loe bertiga yaa, bagus kalian cari aman ke Dimas. Sini kalian gue gibeng satu-satu biar tau rasa." Yayak berjalan mendekat.


Amar : "Kalian nih berdua main teriak gitu aja!" Ucap Amar menyalahkan Septian dan Ilham.


Septian : "Enak aja loe nyalahin kita berdua, loe sendiri yang paling kenceng antara kita." Sergah Septian tak ingin disalahkan.


Ilham : "Iya loe Mar, lagian kenapa kita jadi kompak gini sih pas teriak." Belum sempat Amar menjawab suara Indra sudah menguar.


Indra : "Karena kalian trio jumpling wajar jika kalian kompak."


"Betuuuuuull." Jawab mereka kompak, bahkan Indra hanya menggelengkan kepalanya melihat ketiga sahabatnya seperti itu.


Yayak : "Jangan coba-coba untuk teriak lagi depan gue, atau kalau enggak gue gibeng beneran kalian."


Septian : "Lihat tuh Bang, si Yayak mau gibeng kita bertiga. Bantuin napa Bang jangan diem terus. Loe enggak kesian apa sama adek bontot loe ini kalau sampai mukanya jelek gara-gara sahabat tercinta loe ini." Sambil menunjuk kearah Yayak.


Ilham : "Iya ih, Dim belain kita yaa, lihat tuh mata Yayak udah merah tuh." Yayak yang mendengar semakin mendelik pada mereka bertiga. Sedangkan para anggota lain hanya menahan tawa mereka karena masih ingin melihat drama ini.


Amar : "Loe sayang kita kan Bang. Jadi loe harus lawan Yayak demi kita." Ilham dan Septian ikut mengangguk.

__ADS_1


Andre : "Apa kalian bisa diam sebentar?" Andre ikut menyela karena melihat wajah Dimas yang mulai berubah dingin.


Amar : "Ngikut aja loe Ndre. Diam dulu kenapa sih!" Ucap Amar dengan kesal.


Septian : "Iya loe diem dulu ya Ndre. Si bontot mau ngadu dulu ke Abang."


Andre : "Sep....." Ucapannya terhenti.


Ilham : "Lagian loe juga kemana sih. Kenapa baru dateng? Tuuuh anak buah loe enggak ada ketuanya."


Yayak : "Kalian diem deh. Udah mending kalian keluar dari persembunyian kalian." Kini Yayak pasrah dan mengalah untuk tidak marah karena melihat wajah Dimas.


Septian : "Laaaaahh kan loe dulu yang cari gara sama kita bertiga. Akhirnya loe ngalah juga kan." Ucap Septian dengan bangga.


Amar : "Loe juga kenapa tiba-tiba jadi sensi gini sih Yak, padahal tadi biasa aja." Yayak yang mendengar hanya diam.


Tak henti-hentinya mereka mengeluarkan perkataan yang membuat Yayak semakin jengah dengan sahabatnya itu. Hingga suara dingin Dimas membuat mereka terdiam. Yaa sikap dingin Dimas yang bisa membuat mereka berhenti berdebat.


Dimas : "Apa kalian bisa diam?" Kini Dimas mengeluarkan kata-kata yang sudah menjadi jimat untuk menghentikan pertengkaran sahabatnya. Kemudian ia menghadap pada Septian. "Kamu. Berhenti bertingkah seperti anak kecil." Lanjutnya dengan aura yang begitu dingin tak seperti biasa.


Septian : "Apa yang terjadi padanya? Kenapa auranya menjadi dingin seperti ini? Apa terjadi sesuatu di Kantor?" Gumamnya dalam hati, bahkan Septian bertanya-tanya apa yang terjadi. Kemudian ia menatap Andre, namun Andre hanya menghela nafas dengan kasar hal itu membuat ia yakin jika baru saja ada sesuatu yang terjadi pada Abangnya itu.


Akhirnya semua kembali seperti semula. Setelah game berlangsung, kegiatan kembali sesuai jadwal, Dimas kembali pada kelompoknya dan memberi arahan pada setiap anggota bagaimana cara kerja dibidang humas. Cara mengatasi maupun menghadapi orang lain dengan sikap santai dalam kondisi apapun. Bahkan ia tak sedikitpun melirik pada kekasih kecilnya itu, hal itu membuat Adinda bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.


Adinda : "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada masalah di Kantornya? Atauuu....." Seketika ia ingat kejadian beberapa menit lalu. "Apa Kak Dimas melihatnya?" Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Namun ia hanya bisa diam dalam pikiran itu.


.


.


.


.


.


Jaga Kesehatan untuk kakak semua..


Salam hangat dari Author...

__ADS_1


__ADS_2