
Tap... Tap... Tap...
Andre menuju kesalah satu kamar yang saat ini menjadi satu tempat terakhir Dimas berada. Dia berharap lelaki itu berada disana, karena jika dia tidak berada disana maka Andre tidak tahu lagi dimana ia akan menemukan lelaki itu.
CKLEEK!
Andre membuka pintu itu dengan pelan agar tidak mengganggu seseorang yang ada didalam. Itupun jika memang ada seseorang disana. Seseorang menyembulkan kepalanya kedalam kamar itu, bukan Andre yang melakukan hal itu melainkan Septian karena ia sudah tidak sabar untuk melihat Dimas dan memastikan kondisinya.
Septian : "Aa.bbaaang." Panggilnya pelan, tak lupa matanya yang mencari sosok Dimas didalam sana. Ia menemukan sosok yang ia cari sedang terbaring diranjang kamar itu. Septian menoleh kebelakang. "Dia ada didalam, sepertinya malam ini dia ingin disini." Ucapnya yang kemudian kembali memasukkan kepalanya.
Andre yang tidak menghiraukan ucapan Septian langsung melangkah masuk, saat ini bukan masalah ingin tidur dimana tapi bagaimana keadaan Dimas begitu fikirnya.
Indra, Yayak maupun Septian tidak bisa mencegah langkah cepat dari Andre. Mereka hanya menunggu didepan kamar, keinginan untuk masuk memang ada tapi mereka memilik berdiam disana menunggu Andre.
Andre menghela nafas pelan ketika melihat Dimas yang terbaring disana. Wajah tampan dan dinginnya terlihat pucat, rambutnya sedikit acak-acakan. Kini mata Andre fokus pada benda yang dipeluk oleh Dimas. Sebuah pigura sedikit besar yang Dimas peluk dengan erat.
Andre : "Apa diam-diam kau juga sering datang kesini? Ternyata bukan hanya gue maupun Septian tapi loe juga sama, saat ini loe rindu mereka kan Dim. Disaat kami tidak ada, apa loe selalu seperti ini? Kenapa loe sembunyiin rasa sakit itu sendiri, loe anggap kita ini adik loe tapi loe sendiri selalu saja tertutup pada kami." Andre menghela nafas. "Sampai kapan akan seperti ini Dim? Gue enggak bisa lihat loe yang lemah seperti ini, kesedihan loe selalu loe sembunyikan dengan sikap dingin itu. Ma, Pa sampai kapan dia seperti ini? Katakan pada Tuhan jangan buat Abang merasakan sakit lagi, kami tidak ingin terjadi sesuatu padanya." Gerutunya namun juga tetap berharap yang terbaik untuk sang Abang.
Tanpa ia sadari Dimas sejak tadi sudah memperhatikan dirinya. Ia merasakan kehadiran orang lain disekitarnya meski dengan mata terpejam.
Dimas : "Berapa lama lagi kamu akan berdiri disana?" Tanyanya dengan suara dingin.
Andre yang sedikit melamun tersentak begitu mendengar suara yang begitu ia kenal. Andre langsung melihat kesumber suara, mengalihkan pandangannya dari pigura besar yang terpasang didinding kamar itu. Ia melihat netra milik Dimas yang sedang menatap kearahnya, dan jangan lupakan siluet matanya yang bak elang itu.
Dimas : "Apa yang sedang kau lakukan?" Ucapnya lagi yang menyadarkan Andre.
Andre : "Tidak ada. Saya hanya ingin melihat keadaan Anda saja dan memastikan bahwa Anda memang berada disini." Dimas menghela nafas mendengar itu.
Dimas : "Keluarlah, malam ini saya ingin istirahat disini."
Andre : "Tapi demam An.." Ucapannya terhenti karena Dimas sudah menunjukkan tatapan yang tidak ingin dibantah. "Apa Anda membutuhkan sesuatu, jika iya saya siapkan dulu." Ucapnya masih dengan formal.
Dimas : "Saya tidak suka mengulangi kata-kata saya Andre. Keluarlah." Ucapnya semakin dingin dan kembali merengkuh selimut tebalnya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Andre keluar dari kamar itu. Sebelum dia benar-benar pergi, ia kembali menoleh kebelakang melihat kembali keadaan Kakak sekaligus atasannya itu hanya kondisi Dimas yang saat ini ia khawatirkan. Andre langsung keluar dan menutup pintunya.
Sedangkan ketiga lelaki tampan yang menunggu diluar hanya menunggu apa yang akan keluar dari duplikat didepannya tanpa ekspresi.
"Bagaimana?" Tanya ketiganya yang tak kunjung mendapat jawaban dari Andre.
Indra : "Apa dia baik-baik saja didalam Ndre? Tanya Indra.
Septian : "Jawab donk Ndre! Loe kenapa diem aja sih daritadi." Ucap Septian yang sudah kesal.
Yayak : "Ndre, dia baik-baik saja kan?" Jika kedua sahabatnya tadi bernada tak sabar kini Yayak hanya bernada sahabat.
Andre : "Dia sedang tidak ingin diganggu, dia ingin istirahat disini malam ini."
Septian : "Lalu bagaimana demamnya? Apa sudah turun?" Andre mengangguk lemah.
Andre : "Masih sama dengan tadi, wajahnya masih terlihat pucat." Jawabnya.
Septian : "Apa Yayak tidak ingin kembali kebawah." Ucap Septian yang sudah berada diakhir tangga.
Indra : "Biarkan saja, mungkin dia ingin menemui sahabatnya itu. Apa kau lupa bagaimana Yayak, bahkan dengan kita saja dia juga posesif apalagi dengan seorang Dimas." Septian mengangguk paham.
Keduanya langsung duduk ketika sudah berada diruang keluarga. Sedangkan Andre langsung menuju dapur untuk mengambil minum. Andre membuka lemari pendingin didepannya mengambil salah satu botol air minum dan segera menuangkannya kedalam gelas yang sudah dia siapkan terlebih dulu.
"Gue yakin loe berfikir seperti yang gue fikirin Yak, gue harap loe bisa membujuk dia dan membuatnya kembali seperti semula. Paling tidak gadis itu bisa membuat Dimas sedikit tenang meski sebenarnya gue juga merasa akan ada hal yang besar kedepannya nanti. Semoga itu tidak benar, dan bisa kembali seperti semula." Gumam Andre pelan.
*
Sedangkan dilantai dua, Yayak melangkah masuk kekamar yang sebelumnya dimasuki oleh Andre. Yaa dia memutuskan untuk masuk.
Dimas yang merasa ada seseorang yang melangkah kedalam kamar itu sedikit mendengus kesal, sesuatu hal yang jarang ia lakukan mengingat dirinya yang dingin.
Dimas : "Apa yang kau lakukan disini Cahya Saputra Dinata." Ucapnya dingin.
__ADS_1
Yayak : DEG. "Bagaimana dia bisa tahu kalau ini gue?" Gumamnya pelan yang masih bisa didengar oleh Dimas.
Dimas langsung terduduk karena mengingat sifat sahabatnya yang cerewet juga keras kepala.
Dimas : "Ada apa?" Tanyanya lagi.
Yayak : "Lagi demam aja masih bisa dingin, apalagi kalau benar-benar sudah sembuh pasti tambah dingin loe Dim." Dimas hanya diam tidak menanggapinya. "Apa perlu gue minta dek Din datang kesini biar loe cepat sembuh?" Godanya.
Dimas : "Jangan coba-coba melakukan hal itu Yayak." Yayak langsung terkekeh melihat ekspresi Dimas yang kesal.
Yayak : "Semua keputusan ada padamu Dim." Ucapnya yang mulai serius. "Jika mengenai Yosuung kami bertujuh siap membantu ditambah dengan Arya yang memang menjadi sekretaris loe juga Shekar. Tapi jika tentang Arul dan hubungan kalian, semua ada pada kalian berdua Dim."
Dimas : "Jika untuk Yosuung, saya tidak begitu memikirkannya karena sejatinya mereka hanya pihak pengganggu yang belum kenal siapa lawan mereka." Ucap Dimas. "Mengenai hubungan ini, saya memang sudah memiliki pilihan saya sendiri, hanya saja saya masih ragu. Jika memang ada satu hal yang bisa membuat saya yakin maka saya akan langsung mengambil pilihan itu Yak." Jawabnya tak kalah serius.
Yayak yang merasa ada yang janggal dengan jawaban terakhir Dimas langsung menatapnya dengan intens.
Yayak : "Gue harap apa yang gue fikirin salah Dim. Loe enggak mungkin ambil keputusan yang akan menyakiti kalian berdua, kan?" Tanyanya penuh selidik.
Mendengar itu, Dimas langsung beranjak dari ranjang. Ia langsung melangkah menuju balkon kamar itu. Langit masih terliht kilauan bintangnya, hembusan angin masih begitu terasa. Ia memejamkan matanya sebelum menjawab ucapan dari sahabatnya itu.
Entah jawabannya ini sama atau tidak dengan yang difikirkan oleh Yayak ia tidak tahu, tetapi sepanjang mereka bersahabat apa yang sahabatnya fikirkan memang tidak jauh berbeda dengan yang ia fikirkan.
Dimas : "Saya pasti akan memilih suatu hal yang membuat mereka bahagia Yak, saya tidak mungkin menghancurkan hubungan yang memang sudah lama terjalin hanya karena hubungan yang baru saja mulai terbentuk."
Yayak : "Loe akan menyakiti dia Dim jika sampai itu yang loe pilih." Ucap Yayak mendekati Dimas.
Dimas : "Saya tidak akan mengambil keputusan itu sekarang. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya masih ragu tapi jika ada satu kejadian yang membuat saya mantap maka saya akan ambil pilihan itu. Kamu pasti tahu saya Yayak." Yayak menghela nafas pelan.
Yayak : "Baiklah kita fikirkan itu nanti, sekarang loe istirahat dulu karena lusa kegiatan akan segera dimulai dan kondisi loe yang seperti ini harus benar-benar loe jaga."
Setelah mengatakan itu, Yayak langsung melangkah keluar dari kamar itu meninggalkan Dimas yang masih setia menatap langit malam.
"Kau tidak tahu apa yang saat ini aku rasakan Yak, namun hanya ini cara yang bisa aku lakukan. Aku hanya perlu memastikannya kembali sebelum benar-benar memilih." Gumam Dimas setelah Yayak benar-benar menghilang dari balik pintu.
__ADS_1