Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 131 Kami Menunggumu...


__ADS_3

Shekar : "Apa mungkin adik kamu itu akan setuju?" Firman menatap Shekar, lalu menghela nafas kasar.


Firman : "Haah, kalau soal itu malah belum gue fikirin. Gue kesini juga tidak menghiraukan dia hanya bilang pengen makan buryam sama Mara, bahkan gue enggak dengar dia jawab apa. Langsung aja gue masuk Mobil." Jelasnya.


Hening, keduanya masih setia menatap pasangan yang sudah terpisah itu.


Shekar : "Mereka masih saling mencintai, apa kita tega memisahkan mereka hanya karena adik kamu yang masih kecewa?" Hening.


Firman : "Semoga setelah Dimas pulang nanti, dia bisa merubah keputusannya ini." Gumamnya pelan. "Karena gue sendiri juga tidak tahu bagaimana membujuk Arse mengingat sifat keras kepalanya." Jawabnya.


"Gue baru ingat nih loe itu anak buah Dimas, kaki kanan dia. Kalian sama-sama orang sukses, kenapa menumpang pesawat seperti ini? Seperti orang susah saja, untuk apa banyak duit jika tidak bisa menggunakan pesawat pribadi nan mewah itu? Enggak kuat gaji pilot?" Ucapnya menggebu.


"Adhitama kan memiliki pesawat pribadi, jet pribadi apa Andre tidak bisa menyiapkan hal itu?" Tanyanya lagi.


Shekar : "Yaa, dia memiliki semua itu. Apa yang tidak dia miliki sekarang? Hanya pengganti gadis itu yang belum dia miliki." Jawabnya tak kalah sarkas dengan ekspresi kesal. Mendengar itu Firman langsung tertawa, ia menikmati wajah kesal Shekar.


"Dimas memilih transportasi umum, meski aku sudah menawarkan berulang kali agar Andre menyiapkan pesawat pribadi tapi dia tetap memilih ini. Alasannya hanya satu, dia tidak ingin siapapun tahu identitas asli dirinya mengingat perjalanan kali ini untuk proyek pribadinya sendiri. Kita tetap harus waspada dengan pihak manapun karena masih banyak yang mencari tahu siapa pewaris tunggal Adhitama, jika mereka menemukan sedikit celah, semua pasti akan berubah. Bukan Dimas yang aku khawatirkan tapi mereka yang mencoba untuk mengganggu. Kamu pasti sangat tahu bagaimana sisi miterius Dimas tidak semua orang mengetahuinya."


Firman : "Yaa gue sangat tahu, ditambah Wijaya dan Adhitama memang menjalin kerjasama. Bukan sisi gelap, tapi sekali dia turun tangan sendiri maka dia tidak akan segan mematahkan lawannya menjadi sekecil apapun. Apa loe ingat kejadian beberapa tahun lalu sebelum Tuan Adhitama meninggal?" Shekar mengangguk.


"Meski saat itu kami belum dekat seperti sekarang tapi gue tetap mengikuti perkembangan bisnis melalui jalan tikus. Gue sempat terkejut mendengar kabar dari Perusahaan itu, memang mereka Perusahaan besar sedangkan Dimas baru merintis bisnisnya sendiri tapi perlakuan mereka yang menyabotase produk dan membeberkan perihal yang tidak benar sangat keterlaluan. Mereka musnah hingga tak tersisa, seluruh usaha mereka terpaksa ditutup karena berbagai skandal yang terkuak bahkan mereka sendiri tidak mengetahui siapa yang berhasil mematahkan usahanya hingga ke akar."

__ADS_1


Shekar : "Yaa, dia menjadi sisi yang kejam seperti Kakeknya yang berada di Perancis. Sifat dinginnya begitu mendominasi setelah kehilangan orangtuanya, keluarganya yang berada di Perancis sering membujuknya untuk tinggal disana dengan alasan melanjutkan bisnis Perusahaan yang sudah berkembang dibawah pimpinan Nyonya Ivanka tapi dia tetap enggan dan mempersilahkan Direktur untuk tinggal. Tapi tetap saja, Direktur lebih memilih mendampingi keponakannya daripada kembali pada orangtuanya itu."


"Nyonya besar hanya pasrah menerima keputusan anak dan cucunya itu. Malahan Direktur ingin Oma kembali ke Negaranya ini, tapi rasa cintanya pada sang Suami yang memang berasal dari Eropa membuatnya tetap setia berada disana. Alasannya tetap sama, karena Opa sudah begitu sangat mencintai dirinya dan melakukan apapun untuknya. Jadi sekarang giliran dia yang melakukan apapun untuk mendiang suaminya." Jelasnya sambil terkekeh.


Firman : "Sungguh kehidupan orang kaya, konglomerat itu sangat membosankan dan membingungkan. Tapi gue bersyukur meski Dimas berasal dari keluarga yang memang sangat kaya dia tetap bersikap rendah diri dan sederhana asal dia tidak tersenggol saja."


Shekar : "Sudah waktunya kami pergi." Ucap Shekar saat melihat jam tangan yang melingkar. Ia melangkah menuju kearah Dimas dan gadisnya itu.


Dimas : "Sudah waktunya." Shekar mengangguk. Beralih pada gadis cantik yang masih setia mendekap Dimas erat, seakan tidak ingin melepasnya. "Saya harus segera masuk." Adinda mendongak, menatap wajah Dimas dengan mata bekaca-kaca. "Jangan menangis lagi, hem? Percayalah kamu akan bahagia setelah ini." Kemudian, cup. Dimas mengecup kening gadis itu. "Jaga dirimu baik-baik, berikan salamku untuk Akbar dan Arul." Kemudian melepas dekapan Adinda, sedangkan Adinda dengan terpaksa melepasnya, ia merasa gagal untuk menahan Dimas pergi.


Firman : "Jaga diri kalian selama disana, berhati-hatilah dengan Yoosung Dim." Dimas mengangguk. "Gue disini akan jaga Amara dan mengontrol proyek kita."


Shekar : "Saya harap kita bisa bertemu kembali suatu saat nanti, karena setelah ini saya tidak tahu kapan akan kembali kesini. Masih banyak pekerjaan saya selama disana, disini hanya cuti saja." Ucapnya datar. "Semoga kita bisa bertemu lagi, senang bisa bertemu dan mengenal Anda Tuan Muda Wijaya." Menyalami Firman. "Aah ya, semoga kita juga bisa bertemu lagi Nona Muda Setiawan. Semoga Anda bisa bahagia setelah ini, karena saya tidak bisa memastikan apakah Kakak saya itu akan segera kembali kesini atau tidak." Ucapnya diakhir kalimat. Firman terperangah begitupula Dinda. "Saya pamit." Shekar langsung pergi tanpa menjelaskan apapun.


"Kami menunggumu." Gumam Adinda yang masih didengar oleh Firman.


Setelah mereka tak terlihat, Adinda langsung mendekap Firman dengan erat. Air matanya kembali tumpah setelah melepas kepergian Dimas, ditambah ucapan Shekar membuat hatinya semakin terasa sesak.


Firman : "Berdo'alah agar semua kembali seperti yang kamu inginkan Mara, karena aku sendiri juga tidak tahu apakah dia cepat kembali atau tidak. Ooh iya, jika kau ingin bersama Akbar lakukanlah setidaknya bahagiakan Arse dengan menuruti keinginannya." Ucapnya diakhir kalimat.


Dasar tak punya perasaan, apa gunanya memiliki Kakak jika akhirnya malah menjerumuskan adiknya daripada mendukung. Memang enggak ada akhlak dia ini.

__ADS_1


Adinda : "Apakah Kakak fikir aku ini barang yang bisa seenaknya berpindah tempat seperti yang Kakak inginkan?" Ucapnya datar. Firman melihat wajah Adinda yang kesal, sedih, datar semua menjadi satu.


Firman : "Gue hanya bercanda, karena sejujurnya gue lebih ingin loe sama Dimas. Bukan karena pilih kasih atau apa, tapi ini murni dari hati gue sendiri." Jawabnya. "Sekarang, Dimas sudah pergi. Kau ingin aku antar pulang, atau kemana?" Adinda menoleh masih dengan rangkulan dilengan Firman. "Kenapa, hem? Kamu ingin kemana? Ke sesuatu tempat yang biasa kalian kunjungi mungkin. Bagaimana?"


Adinda : "Ehmm aku ingin kesana, ketempat biasa kami menghabiskan waktu bersama." Firman mengangguk setuju, hari ini dia ingin mengikuti keinginan adik sepupunya ini.


*


Mereka berdua saat ini sudah berada didalam Mobil, membelah jalanan yang lumayan padat karena banyaknya aktivitas yang orang lakukan.


Tidak ada suara disana, Adinda melihat keluar jendela melihat hiruk pikuk Kota Jakarta. Jalanan yang biasa ia lewati ketika akan berjumpa dengan kekasihnya, dulu. Sedangkan Firman masih fokus dengan kemudinya, sesekali ia menoleh kearah Dinda melihat wajah sendu gadis itu.


Tak berselang lama mereka memasuki pelataran sebuah Toko Buku di Pusat Kota, mereka keluar dari Mobil setelah Mobil itu terparkir dengan sempurna. Keduanya langsung melangkah kearah taman, sudut taman yang menjadi tempat favorit dua sejoli ketika bersama.


Firman : "Apa kamu yakin, ini tempat kalian menghabiskan waktu bersama?" Adinda mengangguk. "Toko Buku?" Sekali lagi Adinda mengangguk. "Enggak ada tempat lain apa?" Gumamnya pelan.


Adinda langsung duduk dibangku yang biasa diduduki oleh Dimas. Terasa nyaman, itu yang ia rasakan saat ini.


Adinda : "Kami selalu menghabiskan waktu kami disini, meski taman ini ramai tapi untuk sudut ini Teh Nana tidak memperbolehkan orang lain menempatinya tapi para pekerja tetap menjaga tempat ini. Kak Dimas yang meminta langsung pada Pemilik untuk memberikan hak itu, katanya agar tempat ini steril dari orang lain." Ucapnya sambil terkekeh mengingat hal itu. "Sejak saat itu, beberapa bulan lalu tempat ini tidak pernah digunakan oleh pengunjung lain. Buku-buku yang ada disudut ini juga semua buku yang aku suka, dia yang menyiapkan alasannya agar aku tidak terlalu jauh untuk mencari buku atau mengambilnya." Kekehnya lagi. Kemudian ia terdiam, mengingat hal apapun yang biasa ia lakukan bersama.


Firman yang mendengar cerita sang adik hanya termangu, ia diam tidak ingin menyela karena ia yakin adiknya ini butuh pelepasan setelah melepas kepergian Dimas.

__ADS_1


__ADS_2