
Setelah selesai, Adinda kembali fokus dengan pemandangan langit malam, langit yang begitu bersih tanpa awan yang mengitarinya terlihat begitu terang dan cerah karena disana menampakkan keindahan dari ribuan cahaya bintang yang bersinar diatas. Adinda yang masih fokus dengan pemandangan disana, namun seketika fokusnya itu harus terhenti karena kedatangan dan juga ucpan Firman yang membuatnya terkejut.
Firman : "Apa saat ini kau memiliki hubungan dengan Dimas Dek?" Adinda tersentak dia berfikir siapa yang menanyakan hal itu akhrinya ia langsung melihat kesumber suara. "Dimas. . . Aditya. . ." Nama lengkap itu keluar dari bibir Firman.
Adinda : "Ba.bang Firman." Jawabnya sedikit gugup. "Maksudnya bagaimana?" Ucapnya untuk menetralkan keterkejutannya.
Firman : "Panggil saja Kak Rangga seperti Vanya dan Arse, karena kau juga adikku dan kita sejak kecil sudah bermain bersama." Adinda mengangguk. "Kau memiliki hubungan dengan Dimas?" Ulangnya lagi. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dan kau menyebutkan nama Andre juga nama. . . Dimas. Kedua manusia kutub itu, bahkan kau menyebut nama mereka dengan tenang." Adinda tak bergeming, dia masih tetap diam untuk mendengarkan. "Tidak ada yang seberani kamu untuk menyebut kedua nama manusia kutub itu, bahkan anak kampus sudah tahu semua bagaimana sifat nyalang yang ia miliki selama ini." Jelasnya. "Ehmm, apakah Arse juga tahu dengan hubungan kalian ini?" Pertanyaan itu sukses membuat Adinda menoleh menatapnya. "Aku tidak melarang kalian memiliki hubungan, karena aku juga berharap manusia kutub itu bisa seperti dulu lagi tapi sebaiknya Arse juga mengetahui hal itu." Ucap Firman seakan paham dengan reaksi yang ditunjukkan dari Adinda. "Bagaimana kamu bisa memiliki hubungan dengan seorang Dimas? Yang kami semua tahu dia tipe orang yang sangat susah untuk didekati oleh makhluk bernama wanita, bahkan setiap perempuan yang mencoba dekat sudah kabur terlebih dahulu dengan melihat mata tajamnya." Kini pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Firman.
Adinda : "Ehmmm so.soal itu..." Seakan ragu, Adinda hanya meremas ujung baju miliknya. Firman seakan paham dengan sikap Adinda.
Firman : "Baiklah, aku tidak akan bertanya terlalu jauh. Tapi aku berharap kalian bisa saling mengerti satu sama lain. Dimas lelaki yang sangat dingin datar cuek juga bisa dibilang, ehemm sedikit kejam." Adinda langsung memicingkan matanya. "Maksud gue kejam bukan berarti bunuh orang, tetapi ehmm kejam dalam arti bersikap sangat dingin dan tajam pada orang yang sudah mengusik kehidupannya, terutama untuk kedua adiknya itu."
Adinda : "Kedua adiknya? Maksud Kak Rangga?" Ucap Adinda meminta penjelasan.
Firman : "Ya kedua adiknya itu, si duplikat dan si bontot." Mendengar hal itu membuat Adinda paham siapa yang dimaksud kedua adik dari Dimas. "Dimas paling tidak suka jika ada yang mempertanyakan tentang status Andre maupun Septian. Baginya, meski kedua anak itu hanya saudara angkat tapi mereka tetap keluarganya, adiknya, saudaranya. Dia harus melindungi keduanya meski beda darah, jika sampai ia mendengar ada yang mencela atau mencaci keduanya maka Dimas sendiri yang akan turun tangan untuk menghadapi orang itu, baik itu lelaki maupun wanita. Dia tidak memandang semua itu." Jelasnya panjang lebar pada sang adik yang masih setia mendengarkannya.
Kemudian Firman dengan gamblang menceritakan awal persahabatan mereka dan yang lainnya, terutama Indra, Yayak dan ketiga trio jumpling yang tak lain Ilham, Amar dan Septian hingga berlanjut seperti sekarang. Mereka hanyut dalam cerita malam ini, ditambah dengan suasana yang tenang dan langit yang bertabur dengan ribuan cahaya. Tanpa batas tanpa tekanan semua mengalir begitu saja dan apa adanya. Waktu semakin malam, pembicaraan mereka kemudian terhenti karena rengekan Arul yang tiba-tiba datang dan menyela keduanya.
Arul : "Kak Rangga, bolehkah Kak Dinda aku pinjam dulu?" Firman mengernyit heran, pasalnya untuk apa Arul mengatakan itu jika ingin tidur silahkan kenapa harus dengan Adinda. "Ini sudah sangat malam dan aku sudah mengantuk." Lanjutnya dengan suara serak khas mengantuk.
_*Jika kebanyakan di Novel lain bilang suara serak itu khas bangun tidur, tapi disini suara serak khas mengantuk✌😄😄
Firman : "Apa maksud ini semua? Amara, apa kau bisa menjelaskan ini?" Sedangkan Arul hanya diam cuek dan berusaha menarik lengan sang Kakak untuk masuk kedalam. Tanpa menjawab pertanyaan itu, keduanya langsung masuk. "Kyaaa! Dasar dua adik yang menyebalkan, jawab dulu pertanyaanku." Ucapnya dengan suara meninggi. Randa yang mendengar dan melihat ketiganya masuk langsung menegur Putra sulungnya itu.
Randa : "Apa kau fikir ini hutan Rangga? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Ucapannya itu membuat Firman berhenti mengejar Adinda dan segera duduk didekat sang Mama.
__ADS_1
Firman : "Huuuh, disini kan memang sarang Singa Ma, berarti termasuk hutan juga donk." Ucapnya bercanda, mendengar celotehan Putra membuat Randa berdecak namun juga terkekeh ketika melihat raut wajah sang suami.
Rahmad : "Jangan kurang ajar kamu ya sama Papa, tuman kamu kebiasaan. Lihat tuh anak kamu Ma." Dengusnya.
Randa : "Hei, dia juga anak Papa. Apa Papa lupa siapa yang setiap menimang Rangga ketika bayi, bahkan juga selalu membanggakannya ketika ikut ke kantor." Ucapnya tak ingin kalah.
Rahmad : "Tapi itu kan dulu, ketika dia masih bayi. Karena sungguh dia dulu begitu menggemaskan. Tetapi sekarang, lihatlah Putramu ini selalu membuatku kesal." Rangga yang melihat orangtuanya itu hanya terkekeh karena sangat jarang sekali mereka berdebat tentang dirinya. Randa dan sang suami melihat kearah sang anak setelah mendengar kikikan.
Seakan paham dengan arti tatapan sang suami, akhirnya tanpa disadari oleh Firman. Nyonya Wijaya itu duduk didekatnya lalu. . .
Firman : "Awwwww!" Pekiknya kaget. "Mama sakit, nanti kupingku putus . Mama enggak kasihan sama Rangga, nanti kasihan calon menantu Mama jika telinganya putus." Mendengar hal itu membuat mata Randa berbinar, sedangkan Rahmad yang tahu akan anaknya langsung bersuara.
Rahmad : "Apa yang Mama lakukan, kenapa berhenti?"
Randa : "Pa, kasihan calon menantu kita jika punya suami tidak sempurna seperti Rangga. Mama tidak mau menantu Mama sedih." Ucapnya yang mulai luluh mendengar kata menantu. Dalam hati Firman bersorak ria karena merasa menang dari Papanya.
DEG. Jantung Firman langsung terpompa, bagaimana dia harus mengenalkan wanita itu? Bahkan sosok kekasih saja ia belum memilikinya.
Firman : "Kenapa aku bodoh sekali, dan mulut ini kenapa mengatakan calon menantu. Untung Vanya sudah kekamar jika tidak, maka habislah akuu.. Oh Tuhan bantulah aku kali ini." Firman masih serius dengan pemikirannya sendiri tanpa ada nia untuk menjawabnya.
Randa : "Bagaimana sayang, apa kau benar sudah memiliki calon menantu untuk Mama?" Tanya Randa dengan mata berbinar penuh harap. Mendengar ucapan sang Mama membuat Firman mengalihkan pemikirannya dan menatap wanita cantik didepannya. "Bagaimana?" Ulangnya lagi.
Firman : "Eeh, i.ituu Rangga akan usahakan ya Ma." Ucapnya dengan menggaruk tengkuk yang tidak terasa gatal. "Bahkan gue sendiri bingung harus bagaimana, semua ini karena Papa." Gerutunya dalam hati sambil melihat wajah Tuan Rahmad yang tersenyum puas.
Ya saat ini Tuan Wijaya itu tersenyum puas karena sudah bisa mengerjai anaknya. Itu karena Firman tidak akan mungkin menolak permintaa dari wanita yang telah melahirkannya. Pembicaraan mereka teralihkan karena kehadiran seorang wanita yang menuruni tangga.
__ADS_1
Randa : "Sayang, kamu belum tidur?" Adinda menoleh.
Adinda : "Belum Tan, ini Adinda baru ingin mengambil air minum untuk Arul. Dia terbiasa bangun tengah malam untuk minum." Adinda melanjutkan langkahnya kedapur. Kemudian tak berselang lama ia keluar dari dapur, namun langkahnya terhenti ketika ia akan menaiki tangga. . .
Firman : "Apa kau tadi menemani Arse tidur, Mara?" Kini Firman yang bersuara. Adinda hanya mengangguk pertanda iya. "Oh Tuhan, apa dia seorang bayi yang harus ditemani tidur?" Kata itu terlontar dari mulutnya yang membuat Tuan dan Nyonya Wijaya terkekeh.
Kali ini mereka yang menonton drama dari keluarga mereka sendiri. Meski berbeda Marga namun kedua anak itu tetaplah memiliki ikatan darah yang kuat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Salam hangat dari Author😄