Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 36


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit akhirnya Adinda sampai ditempat tujuan. Ia segera turun dari mobil itu dan melangkah masuk setelah membayar taksi itu sebelumnya.


Teh Ana : "Selamat datang Adinda, sudah lama ya sejak beberapa minggu lalu."


Adinda : "Eh iya ini Teh, masih banyak tugas di sekolah sebentar lagi juga ujian jadi harus giat belajar."


Teh Ana : "Waah bagus itu, kamu harus rajin belajar biar bikin orangtua bangga." Ucap pegawai toko itu, dan Adinda hanya tersenyum miris mendengar kata orangtua.


Setelah berbincang, Adinda segera mencari buku untuk pelatihan ujian dan masuk Universitas yang ia inginkan. Tak lupa juga ia mencari novel untuk menemaninya ketika sedang senggang atau usai belajar.


Adinda menyusuri setiap rak dan mencari buku yang ingin ia beli. Setelah mengitari 5 rak buku akhirnya ia mendapatkannya juga, 2 buku yang ia dapat, untuk latihan ujian dan masuk Universitas. Kemudian ia mencari novel untuk teman senggangnya, manik matanya tertuju pada novel yang menurutnya unik karena berjudul Cinta 20 Kodi karya Asma Nadia. Adinda mengambilnya dan segera ke kasir untuk membayar buku itu.


Setelah selesai membayar, Adinda tidak langsung pulang namun ia segera melangkah menuju taman yang berada dihalaman belakang toko tersebut, tempat favorit Adinda saat berada di toko buku itu. Adinda duduk dibangku kosong yang berada tepat disudut taman dengan atap jerami dan juga sebuah pohon yang rindang disertai bunga yang membuatnya cantik. Tempat itu menjadi tempat favorit karena ia selalu bertemu Dimas dan menghabiskan waktu bersama disana.


Untuk sesaat Adinda menutup buku yang sudah ia buka segelnya, membuka tutup buku seakan banyak sekali yang ia fikirkan terutama hubungannya dengan Dimas karena mereka masih berdiam diri dan pesan yang ia kirim belum juga dibalas oleh Dimas. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan gerak geriknya itu, orang itu tidak lain adalah Dimas yang memang sudah berada di toko itu terlebih dahulu. Untuk menenangkan fikirannya, Dimas memutuskan untuk datang ke taman itu, namun siapa sangka ia melihat gadis kecilnya yang ceroboh.


Perlahan Dimas melangkah mendekati tempat itu, hingga sudah dekat ia tetap melangkahkan kakinya duduk bersandar dibangku kosong depan Adinda. Bahkan Adinda tidak sadar jika Dimas sudah berada didepannya, dibangku yang memang masih kosong itu. Adinda masih belum sadar pandangan matanya pun entah kemana, hingga suara jentikan jari membuatnya tersadar. TIK!!


"DEG! Kak Dimas, sejak kapan dia berada disini?" Gumamnya dalam hati dan sedikit terkejut karena melihat Dimas berada didepan matanya.


Dimas : "Kau terkejut?" Tanya Dimas ketika melihat wajah Adinda. "Saya sudah dari tadi disini, apa yang kau pikirkan sampai tidak sadar jika saya disini?" Jawabnya seakan tahu apa yang ada difikiran Adinda.

__ADS_1


Adinda : "Apa Kakak peramal? Kenapa selalu tahu apa yang aku pikirkan?" Ucapnya sedikit kesal, dan Dimas hanya diam namun tetap menatap Adinda. "Hemm, Adinda minta maaf soal waktu itu." Ucapnya langsung menundukkan kepala, sedangkan Dimas mengangkat sebelah alisnya tanpa menjawab. "Maaf jika jawaban Adinda waktu itu telah menyinggung perasaan Kakak, bukan maksud aku tidak memilih Kakak tapi Adinda butuh waktu untuk meyakinkan Arul meskipun sebenarnya saat ini belum bisa berterus terang padanya. Tapi Adinda janji akan usahain kasih pengertian buat Arul, paling tidak tunggu sampai dia sudah lulus terlebih dahulu dan aku kuliah." Ucapnya tanpa memberi jeda dan kesempatan pada Dimas untuk menjawab.


Dimas : "Kau butuh waktu berapa tahun untuk semua itu?" Adinda langsung mendongakkan kepalanya menatap mata Dimas, kemudian ia kembali menunduk diam. "Saya hanya butuh jawaban kamu saat ini, jika kamu ingin usaha maka aku juga akan berusaha untuk mendekati adik kamu itu, meskipun aku tahu itu susah dilakuin apalagi untuk meluluhkan hati bocah SMP yang masih masa puber." Mendengar hal itu Adinda langsung menatap Dimas, seakan tahu apa yang akan keluar dari mulut gadis itu Dimas langsung berkata. . . "Saya serius dengan ucapan itu, dan jika kamu sudah merasa lelah katakan padaku, mengeluhlah padaku tentang apapun itu. Kita perjuangin semua ini bersama karena suatu hubungan harus sama-sama saling memperjuangkan bukan hanya salah satunya tapi bersama. Jadi sekarang tersenyumlah, aku rindu senyum itu sudah beberapa hari aku tidak melihatnya." Ucap Dimas dengan mengacak puncak kepalanya hingga rambut Adinda sedikit berantakan.


Adinda : "Iih rambut Dinda berantakan nih, sudah donk Kak. Nanti Dinda enggak cantik lagi gimana?" Ucapnya dengan sedikit kesal. Hal itu membuat Dimas tertawa puas karena hal itu yang ia rindukan melihat wajah kesal dari gadis cerobohnya dan sifat manja yang ditunjukkan padanya. "Ehmm, tapi terima kasih karena Kak Dimas sudah mau menerima Adinda, dan mengerti Adinda. Adinda minta maaf jika selama ini belum bisa bahagiain Kakak dengan hubungan ini." Adinda kembali menunduk.


Dimas : "Hei, sudah jangan dibahas lagi. Harusnya saya yang minta maaf karena keadaan kantor yang banyak pekerjaan jadi sikap saya beberapa waktu lalu terbawa sampai diacara itu." Jelasnya. "Tentang semua pesan yang kamu kirim aku harus mengabaikannya untuk beberapa waktu hingga keadaan mulai stabil kembali.


Adinda : "Apakah ada masalah di Perusahaan? Kenapa Kak Dimas terlihat kurus, apa kau tidak makan dengan teratur?!" Tanyanya dengan tatapan tajam namun Dimas hanya menikmati tatapan itu tanpa ada rasa takut sedikitpun karena baru sekarang ia melihat gadisnya bersikap demikian dengan mata intens yang sebenarnya bisa membuat orang lain bergidik.


Dimas : "Hei hentikan tatapan mata kamu. Apa kau sudah berani menatapku dengan mata tajammu itu? Ingat, aku tidak akan takut dengan mata seperti itu." Adinda yang mendengar hanya kesal.


Adinda : "Kenapa sekarang Kakak mulai menyebalkan, sama seperti awal ketemu waktu itu." Dimas hanya mengangkat sebelah alisnya. "Iya waktu Dinda enggak sengaja nabrak." Dimas hanya tersenyum tipis karena Adinda masih ingat hal itu.


Adinda : "Maksudnya mata tajamku ini?" Dimas mengangguk. "Kenapa? what's wrong?"


Dimas : "Iris mata yang cantik, bulu mata yang panjang juga lentik, tapi dibalik itu jika kau menggunakan hal itu untuk menatap tajam seseorang maka hal itu akan membuat orang itu takut bahkan bergidik ngeri. Ketajaman mata kamu tidak seperti teman kamu itu, kau memiliki warna mata biru yang bahkan setiap orang belum tentu punya. Apa kau masih keturunan Eropa?" Adinda mengangguk.


Adinda : "Yaa, Adinda masih masih ada darah Belanda karena Kakek dari Papa adalah orang Belanda dan Nenek orang Indonesia. Tapi yang memiliki mata seperti ini hanya aku dan Arul ya meskipun hanya sedikit."


Dimas : "Apa kau bingung dengan hal itu?"

__ADS_1


Adinda : "Hanya sedikit, karena dulu sempat diejek karena memiliki mata yang tidak sama dengan anak-anak lainnya, tapi setelah tahu bahwa Kakek masih keturunan Eropa jadi aku tidak permasalahin lagi. Cukup kita nikmati dan syukuri jika kita beda bukan berarti kita harus menyendiri tapi berusaha membaur tanpa membedakan semua akan lebih indah." Mendengar itu Dimas hanya tersenyum. "Ohiyaa Adinda lupa, ayo kita makan karena badan Kakak kurus dan aku juga sudah lapar."


Dimas dan Adinda segera keluar dari taman setelah menyetujui untuk makan bersama, meski harus melalui perdebatan terlebih dahulu karena Dimas ingin Adinda yang memasak makanan itu sendiri. Dengan wajah kesal Adinda masih tetap diam karena keinginan Dimas.


Dimas : "Hecmm baiklah, tidak perlu masak ataupun makan di rumahku. Kita langsung pulang saja, saya akan mengantarkan kamu pulang karena ini sudah hampir sore." Mendengar hal itu Adinda langsung menoleh.


Adinda : "Dia mengucapkan kata saya, dia mulai serius." Gumamnya dalam hati. "Apa kita tidak jadi makan bersama? Baiklah jika Kak Dimas ingin Adinda masak di rumah, Adinda masakin agar Kakak juga bisa makan yang banyak."


Dimas : "Tidak perlu, saya antar kamu pulang dulu sebelum itu kita mampir dulu ke toko kue untuk membelikan kue kesukaan Arul."


Adinda : "Maaf bukan maksud Dinda tidak ingin masak di rumah Kak Dimas dan makan disana. Tapi. . ." Kata-katanya terhenti.


Dimas : "Sudah tidak apa, kau tenanglah tidak perlu khawatir seperti itu." Dimas kembali fokus menatap lurus kedepan. Drrtt... Drrtt... ponsel Dimas bergetar, dan Dimas segera mengangkatnya setelah melihat nama dilayar benda pipih itu tertera nama Yayak.


Dimas : "Hallo, ada apa menghubungiku?" Ucapnya dingin.


Yayak : "Kau ada dimana? Gue di rumah loe nih Septian ngamuk waktu pulang loe enggak di rumah."


Dimas : "Apa yang dia lakukan? Apa Andre tidak bersamanya?"


Yayak : "Kyaaaaa! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dan malah balik tanya?!" Teriaknya yang membuat Dimas menjauhkan alat pintar iti dari telinganya. "Andre sedang menyiapkan makan malam bersama Bi Arum, loe cepetan pulang!" Yayak langsung mematikan secara sepihak setelah kesal dengan Dimas.

__ADS_1


Dimas kembali fokus menatap lurus jalan didepannya. Sesekali ia melirik gadis itu yang tanpa ia sadari Adinda sudah terlelap disana.


"Kenapa kau ceroboh sekali? Tidur dimobil laki-laki dengan wajah seperti ini. Bagaimana jika aku ini orang jahat, kau pasti sudah habis saat itu juga." Gumam Dimas dalam hati melihat Adinda yang terlelap begitu tenang sambil mengusap kepalanya dengan lembut agar tidak mengganggu tidur gadis itu.


__ADS_2