
Liona menggangguk. Saat ini dia tidak bernaung di perusahaan manapun, dia tidak memiliki jaringan yang kuat di industri ini. Benar kata Hiro, audisi hari ini adalah kesempatan besar baginya untuk membentuk koneksi. Jika dia mampu membuat kedua presiden perusahaan itu terkesan maka dia akan mendapatkan kontrak dengan salah satu perusahaan. Dengan begitu akan mudah baginya untuk menjalankan rencana selanjutnya ‘Balas Dendam!’
“Hiro! Apakah kamu tidak ikut denganku?”
“Tidak. Aku dan Elvano akan menunggumu disini. Pergilah! Semoga sukses!”
“Baiklah!”
Liona memasuki studi lalu berjalan menuju keruang audisi ‘Pernikahan Ketiga’. Seperti yang sudah dikatakan Hiro, dia diperbolehkan masuk setelah menunjukkan kartu kepada staff disana. “Apakah kamu kesini untuk mengikuti audisi?” tanya karyawan sambil memeriksa kartu ditangan Liona. Beberapa orang yang berada disana menatap Liona sejak dia masuk. Saat staff pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Liona, matanya membulat melihat kecantikan wanita itu. “Silahkan masuk,” ucapnya dengan lembut.
“Terimakasih.”
Liona mengikuti staff itu ke area dibagian belakang panggung. Disana sudah ramai dengan gadis-gadis yang akan mengikuti audisi, semua yang berada disana terlihat gugup menunggu nama mereka dipanggil. Saat melangkah kesana, hampir semua mata memandang Liona dengan tatapan sinis dan tak suka karena wanita itu terlihat sangat cantik alami tanpa make-up. Penampilannya juga nampak casual dan elegan.
“Semua peran wanita dalam serial TV ini sudah diputuskan oleh sutradara, hanya peran Rosalind yang masih kosong. Semua gadis-gadis ini mengikuti audisi untuk peran itu.”
Ah….okay. Jadi mereka bersaing untuk mendapatkan peran yang sama, pantas saja semua orang terlihat seperti bermusuhan. “Terimakasih atas informasinya.” ucap Liona menatap mata staf pria itu sambil tersenyum.
“Eh...Ya. Sama-sama,” ujar pria itu dengan gugup dan salah tingkah sembari menggaruk kepalanya. “Semoga anda sukses dan mendapatkan peran itu. Saya yakin anda punya kemampuan…..sa—saya permisi dulu masih ada pekerjaan lain!”
__ADS_1
Liona tertawa setelah pria itu pergi, sungguh lucu sikap pria itu yang salah tingkah hanya dengan sebuah senyuman yang diberikan Liona. Liona menatap kartu di tangannya, nomor tiga puluh lima. Berarti dia berada di antrian menjelang akhir audisi. “Ah….biarlah. Jadi aku punya banyak waktu untuk menghapal ulang dialogku.”
Proses audisi memang selalu melelahkan karena pasti ramai yang mengikuti audisi, semakin banyak yang mengikuti audisi maka semakin menarik pertunjukannya. Para peserta dituntut untuk bisa tampil maksimal, apalagi jika mendapat nomor antrian yang terakhir maka harus menunggu lama. Tapi bukan itu poinnya, biasanya peserta audisi yang mendapat urutan awal akan mudah dilupakan oleh juri karena biasanya performa peserta akan semakin meningkat setelah mereka melihat peserta lainnya.
Liona sungguh beruntung karena Hiro memberinya sebuah kesempatan untuk mengikuti audisi, dan juga memberinya banyak keuntungan dengan kembali ke tanah air.
“Audisi akan dimulai!”
Pengumuman itu membuat para gadis semakin gugup, Liona tetap tenang dan tak terpengaruh. Dia duduk dan bersandar didinding sambil memejamkan mata menunggu gilirannya. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah gadis yang mengikuti audisi perlahan berkurang dan setelah beberapa waktu nomor urutan Liona pun dipanggil.
“Nomor urutan tiga puluh lima! Silahkan maju ke depan!”
Seorang gadis kecil yang baru saja terbangun dengan rambut acak-acakan langsung melompat saat melihat monitor. Felicia duduk tegak dan meraih tangan Reynard “Papa! Papa! Dia ada disini! Tante cantik calon mamaku disini! Lihat itu papa, akhirnya mama datang.”
“Horeeee! Horeeee! Mama datang! Sudah datang, sudah datang! Mama cantik akhirnya datang kesini….yeay….yeay...” teriaknya bertepuk tangan dengan mata berbinar.
Delvin yang berada diruangan itu sedang duduk dengan malas sambil menyilangkan kaki saat mendengar teriakan keponakannya. “Felicia, sayang. Apakah kamu menyukai tante itu?”
“Iya! Iya! Tante cantik itu mamaku! Aku sangat menyukainya!”
__ADS_1
Mendengar perkataan keponakannya, Delvin duduk tegak dan menggeser duduknya kesebelah Felicia dan menatap kearah layar komputer. Delvin merasa cemburu saat melihat tatapan keponakannya yang penuh cinta pada Liona. “Kamu nakal sekali! Kamu bilang kalau kamu mencintai paman tapi kamu tidak pernah menatap paman seperti itu. Kamu lebih mencintai tante itu daripada paman.”
“Ohhh….ini beda paman!"
“Apa bedanya? Apakah kamu menyukainya saja dan kamu mencintai paman?”
Felicia tak mengalihkan tatapannya dari layar komputer dan terus menatap Liona yang sedang berakting. “Oh paman Delvin tahu tidak? Kalau kita makan ayam goreng tiap hari terus suatu hari dapat makan steak apakah paman pikir orang itu masih mau makan ayam goreng? Tidak! Pasti dia akan pilih makan steak.”
‘Oh...jadi aku dia ibaratkan seperti ayam goreng? Delvin pun terdiam tak dapat berkata-kata lagi.
“Hiks...hiks….tega sekali kamu berkata seperti itu!” gumam Delvin dengan mata yang berkabut. Lalu dia menoleh pada Reynard “Kakak.” panggilnya dengan suara lirih. Reynard seolah tak mendengar panggilan adiknya dan matanya juga fokus menatap layar komputer.
“Felicia!”
“Ssssttt! Diam...diam! Tante cantik mulai audisi. Jangan bicara lagi.” ucap gadis kecil itu dengan menekan jari telunjuknya ke mulutnya. Seketika Delvin pun terdiam dan memandang keponakannya dengan ekspresi intens saat menatap Liona. Reynard yang sedang memangku Felicia pun menatap ke layar komputer dengan mata tak ebrkedip. Terlihat Liona memasuki ruangan dan berdiri diatas panggung. Ruangan audisi itu sangat luas dipenuhi dengan kamera dan peralatan syuting lainnya.
Semua mata memandang Liona, dia menghela napas dalam-dalam lalu mengangkat kepalanya. Ada empat orang pria yang duduk berjejer didepannya. Dua dari pria itu dikenali oleh Liona. Reiki Savian sang sutradara, disebelahnya ada Reno Suwito menjabat sebagai presiden Sky Media dan sebelahnya ada Yogi Pramudya yang berperan sebagai pemeran tokoh pria utama di serial tersebut. Yogi Pramudya seorang aktor terkenal berwajah tampan dan memiliki kemampuan akting yang bagus. Pria itu sudah berkecimpung di dunia hiburan sejak lama. Kehidupannya sebagai aktor jauh dari sensasi.
Audisi pun dimulai, adegan awal saat Rosalind pertama sekali bertemu dengan sang milyuner bernama Arwan Singgih yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Di adegan itu peran Rosalind sedang duduk di sebuah pesta dan menggoda sang milyuner dengan liuk tubuhnya dan lirikan matanya. Liona yang pintar menari menambahkan gerakan seperti menari seolah menggoda. Semua yang berada diruang audisi tercegang melihat kemampuan akting Liona yang luar biasa. Terlebih para pria yang melihat cara Liona berakting menari gemulai membuat mereka meneteskan air liur.
__ADS_1
Audisi selesai, seluruh ruangan hening tanpa suara. Ternyata semua pria disana tersipu malu saat Liona memandang heran kearah para lelaki itu yang sedang menganga karena dirinya. Bahkan Reiki yang biasanya menjaga jarak dari semua orang merasa bersemangat. Dia telah menemukan aktris yang dicari. Dia sudah mengulang audisi tapi belum mendapatkan aktris yang pas untuk peran Rosalind. Sekarang dia sudah menemukannya, aktris pendatang baru yang cantik jelita yang memiliki bakat murni yang mampu membungkam semua orang. “Kamu mendapatkan peran itu!” ucap Reiki tersenyum puas.