
Liona meneguk sedikit air es dan berkata, “Dia tidak mendengarkan perkataanmu. Apa yang membuatmu berpikir dia akan mendengarkan saranku?”
“Tentu saja dia akan mendengarkan perkataanmu! Selama kau membujuknya, Kak Reynard pasti berubah menjadi penurut ditanganmu. Bukankah selalu begitu, Liona?”
Liona masih ragu-ragu apalagi dia mengingat kembali ucapan Felicia tadi tentang kencan buta.
‘Apakah perkataan Delvin itu benar? Apa Reynard benar-benar mendengarkanku?’ pikirnya.
“Liona….”
“Baiklah, aku tahu. Tapi jangan terlalu berharap ya.”
Delvin menggangguk dengan gembira. ‘Yes! Kelihatannya malam ini aku tidak perlu menderita.’
Liona menghela napas panjang, lalu melemparkan botol air yang masih berisi setengah kearah Delvin. Kemudian dia berjalan perlahan keruang kerja Reynard.
Di lantai dua, ruang kerja Reynard terletak bersebelahan dengan kamar utama, ada pintu penghubung langsung. ‘Dasar bodoh! Kenapa aku tidak mengecek ruangan ini saat aku tidak melihat Reynard berada dikamar tadi. Pintu ruang kerja terbuka sedikit dan ruangan itu terlihat gelap. Liona membuka pintu dengan perlahan, menjulurkan kepalanya kedalam dan memanggil dengan penuh harap. “Reynard, apakah kau ada didalam?”
Detik berikutnya, lampu ruangan menyala. Mata Liona hampir keluar ketika melihat pemandangan yang menyambutnya. Pria itu setengah telanjang, dia baru saja keluar dari kamar mandi dan masih ada uap yang menyelubungi tubuhnya. Tubuh bagian atas Reynard telanjang dan bagian bawahnya terbungkus handuk mandi berwarna putih. Air mengalir dari rambut Reynard yang berantakan dan tetesan kristal meluncur di pipi ke dagunya yang seksi.
__ADS_1
Tetesan air membasahi dadanya yang kuat, bisep berorot, perut yang seperti roti sobek dan pinggang seksinya. Tubuh bagian bawahnya ditutupi oleh handuk mandi yang terikat longgar. Liona benar-benar terpesona. Dia selalu berpikir tubuh Reynard terlalu seksi setelah pertama kali melihatnya tapi dia selalu kagum melihat sosok pria itu yang selalu membuatnya meneteskan air ludah. ‘Ya Tuhan, tubuh pria ini adalah hadiah untuk para wanita!’ pikirnya.
Jantung Liona berdebar-debar, tubuh Reynard seperti sebuah patung yang dipahat dengan sempurna. Liona yakin sebagian besar model pria akan melakukan apapun untuk mendapatkan tubuh seperti Reynard. Dia terlihat seperti dewa Yunani yang membuat orang lain tidak bisa mengalihkan pandangan mereka. Liona menatap pria itu dengan terpana seperti biasanya, meskipun mereka sudah tinggal bersama dan sudah sering melihat tubuh Reynard seperti itu tapi Liona masih saja terkagum-kagum.
Kemudian dia menelan salivanya dengan susah payah saat berusaha menyembunyikan nafsunya dari Reynard. Melihat senyum tipis di wajah Reynard, Liona tiba-tiba tersadar dan berteriak, “Ah maafkan aku.”
Wanita itu berbalik tergesa-gesa dan menggosok hidungnya. Untungnya hidunya tidak berdarah atau dia akan mati karena merasa malu karena terpaku disana mengagumi tubuh seksi pria itu.
“Ini salahku karena aku tidak menutup pintu.” suara Reynard berubah serak saat dia mulai bicara. Menempatkan kepalan tangannya di bibirnya, pria itu berdeham pelan. Melihat telinga dan pipi Liona memerah, dia tersenyum manis dan tatapan matanya berubah menjadi lembut. Mengingat cara Liona memandang tubuhnya dengan tatapan mengundang, membuat nafsu Reynard bangkit dengan tiba-tiba.
Dia merasa beruntung ketika Liona membalikkan badan atau dia akan malu jika wanita itu melihat Reynard kecil yang sedang berdiri tegak. “Tunggu sebentar ya, aku berpakaian terlebih dahulu.”
Liona dapat mendengar suara Reynard yang sedang mengenakan pakaian. Suara itu terdengar seperti rayuan ditelinga Liona. Meskipun mereka sudah pernah bercinta sebelumnya, Liona tetap masih merasa malu melihat tubuh polos Reynard. Dia menutup matanya dan seketika itu juga dia membayangkan tubuh Reynard yang telanjang tanpa sehelai kain. ‘Ya Tuhan!’
Reynard memiliki tubuh yang sangat seksi dan kakinya yang panjang itu…….’Sialan! Aku benar-benar ingin menerkam dan melahap pria ini!’ pikirnya.
“Sudah selesai!” tiba-tiba Liona mendengar suara berat Reynard dari arah belakang. Liona berbalik dengan sedikit penyesalan tetapi matanya segera berbinar lagi.
Reynard telah mengenakan setelan biru safir yang mereka beli bersama di mall beberapa hari yang lalu. Ini adalah pertama kalinya Liona melihat pria itu mengenakan setelan jas dengan warna selain hitam. Ketika Liona membeli jas itu, dia sedikit ragu apakah Reynard akan menyukainya, sekarang bisa dilihat ketakutannya sama sekali tidak berdasar.
__ADS_1
Reynard melengkapi jas itu dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu biru. Meskipun setelannya tampak formal tetapi Reynard tidak nampak membosankan. Rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat santai namun masih rapi. Warna biru safir menonjolkan kulitnya dan membuat pria itu tampak beberapa tahun lebih muda.
Liona masih kewalahan saat melihat penampilan Reynard yang sempurna. Dia berlari mengelilingi pria itu dan mengamatinya dengan teliti. “Kau terlihat sangat luar biasa dalam setelan ini.” ujarnya.
Dengan senyum lembut yang muncul disudut bibirnya Reynard menjawab, “Ini semua karena seleramu yang bagus!”
“Tidak, ini semua karena kau memiliki struktur tubuh yang bagus.” Liona mengusap dagunya dan terus mengangguk, “Seorang pria tampan akan terlihat tampan bahkan jika dia hanya mengenakan karung goni. Tetapi setelan ini seperti dibuat secara khusus untukmu. Dan kau memang benar! Aku memiliki selera yang sangat baik. Ha ha ha….!”
“Kalau begitu, kau bisa membantuku untuk memilihkan pakaian dimasa depan.”
‘Tidak masalah! Kartu kredit hitam milikmu masih ada ditanganku,’ pikir Liona dalam hati.
Mengingat lemari Reynard yang berisi pakaian bernuansa gelap, Liona merasa dia perlu melakukan sedikit perubahan dalam warna pakaian pria itu. Dia menepuk dadanya dengan penuh semangat dan berkata, “Baiklah! Aku akan mengurus semuanya. Aku berjanji kau akan memenangkan penghargaan pria paling modis setiap tahun! Pria lain akan merasa iri melihat penampilanmu, sedangkan para wanita akan bernafsu ketika melihatmu!”
Mata Liona yang bersinar membuat Reynard senang. Pria itu tersenyym lembut melihat tingkah Liona yang kekanakan. Untuk pertama kalinya dia merasa bersyukur bahwa dia memiliki wajah tampan dan fisik yang kuat.
“Tapi kenapa kau berpenampilan seperti ini? Sekarang sudah malam. Maksudku kenapa kau berpakaian formal seperti itu? Apakah kau akan pergi ke kantor?”
Matanya melirik ke jam di dinding, Liona berkata, “Sekarang sudah jam sembilan malam. Tadi Delvin memberitahuku bahwa kau masih sibuk bekerja hingga sekarang. Kau pasti tahu tidak baik menjadi seorang workaholic. Tubuh kita adalah modal yang paling berharga, kau juga harus beristirahat, kau akan mudah jatuh sakit. Kau terus bekerja dan tidak meluangkan waktu istirahat sama sekali. Hidupmu pasti sangat membosankan, menghasilkan uang bukanlah tujuan utama dalam hidup kita. Terlebih lagi…..”
__ADS_1
“Baiklah. Aku setuju!” jawab Reynard memotong ucapan Liona. Wanita itu syok. Dia telah menyiapkan beberapa kalimat persuasif untuk membujuk Reynard tapi siapa yang bisa menyangka kalau pria itu akan setuju dengan begitu cepat. Dia menelan semua kalimat yang terlah dia latih sebelumnya.