CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 14. APA IMBALANMU


__ADS_3

“Di—dimana gadis kecil itu? Apakah dia baik-baik saja?” Hal pertama yang muncul di benak Liona adalah gadis kecil yang tadi diselamatkannya.


“Dia baik-baik saja,” ucap Delvin tersenyum. “Itu dia sedang tidur, dari tadi dia tak berhenti menangis.” tunjuk Delvin kearah sofa. “Dia sudah capek menangis, tenaganya sudah habis.”


Liona melihat gadis itu terlelap dengan selimut tipis menutupi tubuh mungilnya.  Masih terlihat bekas airmata di pipi tembemnya. Liona menghela napas panjang, dia lega gadis kecil itu baik-baik saja.  Liona berusaha untuk duduk namun satu tangan menahannya “Jangan bergerak dulu!” ucap Reynard dengan suara lembut. Wow….tak biasanya Reynard bicara selembut itu pada siapapun. Tangannya masih berada di bahu Liona.  Delvin yang melihatnya hanya tersenyum ‘Hmm….kakak modus. Bilang saja mau pegang. Eh….tunggu dulu. Bukankah tadi aku tak salah dengar? Kakak bicara dengan suara lembut pada wanita itu? Wahhh….ini suatu kemajuan besar.’


“Kata dokter, kamu harus beristirahat karena benturan di kepalamu cukup keras. Untungnya tak ada yang serius. Tapi dokter menyarankan agar kamu jangan banyak bergerak.” kata Reynard menjelaskan, lagi-lagi membuat Delvin menganga.


“Okay.  Terimakasih.” pantas saja kepalanya terasa pusing dan pandangannya berkunang.


“Apa maumu?” tanya Reynard. Liona mengeryitkan kenang tak paham maksud pria itu.


Delvin pun menjelaskan maksud kakaknya “Begini nona. Maksud kakakku karena kamu sudah menyelamatkan Felicia, mungkin kamu menginginkan sesuatu sebagai balas budi.  Tolong beritahukan kami, pasti akan kami penuhi.”


Liona tak menyukai apa yang baru saja didengarnya. Apa-apaan ini? Apakah ornag kaya itu selalu menilai segala sesuatu dengan uang? Aku menolong gadis kecil itu ikhlas dan aku tak mungkin membiarkannya mati tertimpa tiang besi.  Liona memegangi kepalanya yang kembali berdenyut. “Saya tidak minta apa-apa, hanya biaya pengobatanku saja.”


“Oh...kalau itu sudah kami tangani.  Tapi mungkin Nona punya keinginan lainnya?”


“Tidak ada. Aku tidak butuh apa-apa.”


“Apakah kamu yakin? Pasti kamu menginginkan sesuatu?” tanya Delvin tak percaya.


“Apakah kalian pikir aku melakukan itu karena aku ingin memeras kalian? Atau karena aku mengincar sesuatu dari kalian? Apakah orang kaya selalu bersikap angkuh seperti itu? Aku menolong gadis kecil itu dengan ikhlas, aku menyukainya dan aku tak ingin ada yang melukainya, itu saja!” ucap Liona dengan kesal.

__ADS_1


Kedua pria itu terpelongo mendengarkan ucapan Liona.  Reynard tak pernah menawarkan apapun pada orang lain, ini pertama kalinya dia menawarkan sesuatu tapi wanita itu justru menolaknya.  Kenapa dia tak mengambil kesempatan ini?  Apakah dia hanya berpura-pura saja agar terlihat seperti wanita berhati emas?


“Coba pikirkan lagi. Aku sangat yakin kamu pasti ingin sesuatu.”


Liona semakin kesal dan berkata “Kalian tak perlu membayarku. Kebetulan aku ada disana dan karena akulah maka gadis kecil itu berlari.  Kalau bukan karena mengejarku, hal ini takkan terjadi. Mungkin memang sudah takdirku bertemu dengannya” dia menghela napas “Jagalah dia baik-baik. Mungkin lain waktu aku tidak ada untuk menolongnya.” Kepalanya kembali berdenyut, bagaimana aku bisa syuting dengan kondisi seperti ini? Ah...aku lupa jika Hiro dan Elvano sedang menungguku. Pasti sekarag mereka berdua cemas menungguku, aku harus menghubungi mereka.


Dia mencari dimana tasnya “Apa yang kamu cari?” tanya Reynard dengan suara dingin.


“Ponselku.”


“Oh...ponselmu ada ditas itu, sepertinya padam karena kehabisan batere.” kata Delvin yang tadi sempat memeriksa ponsel Liona untuk mencari nomor kontak darurat.


Liona mendadak khawatir, Reynard pun berkata “Mereka sudah dalam perjalanan, sebentar lagi akan sampai.  Tadi aku sudah menghubunginya.”


“Maksudku, aku sudah memberitahu temanmu tentang keadaanmu. Tadi aku memeriksa ponselmu sebelum padam.  Sebentar lagi dia sampai.”


 


Liona merasa lega sekarang. Hanya ada satu nama di kontaknya yaitu Hiro berarti pria ini sudah menghubungi Hiro Abirama. Liona pun diam dan memejamkan matanya, suasana pun jadi hening tak ada diantara mereka yang berniat memulai pembicaraan.  Delvin menoleh ke kakaknya yang sedari tadi memandang wajah Liona tak berkedip. ‘Hem…..sepertinya Kak Reynard memang sudah jatuh cinta pada wanita ini.’


Tiba-tiba suara kecil itu berteriak “Tante cantik sudah bangun!” ternyata Felicia terbangun dan melihat Liona yang sedang duduk bersandar di ranjang. Tapi dia kembali menangis “Huaaa…...huaaaa…...Tante cantik, aku takut sekali.”


Liona ikut sedih melihat gadis kecil itu menangis.  Dia mengusap kepala gadis ekcil itu lalu berkata “Ssssttt…..sudah jangan menangis lagi sayang. Tante sudah bangun, tante baik-baik saja. Lihat, tante sudah tidak apa-apa, iyakan?"

__ADS_1


“Tante sakit, lihat itu kepala tante diperban...huaaa…..hua…..pasti sakit sekali. Aku yang salah, aku bikin tante jadi sakit. Pasti kepala tante dijahit jadi ada luka jahit, nanti tante tidak cantik lagi….huaa….huaa….”


Liona menahan senyum ‘Siapa yang mengajari gadis kecil ini bisa bicara seperti itu? Dia menepuk sisi ranjang yang kosong meminta Felicia naik karena gadis itu masih terus menangis tersedu-sedu.  “Tante, maafkan aku ya.” ucapnya lirih.


“Iya, sayang. Sudah ya jangan menangis lagi nanti jadi jelek kalau menangis terus.” bujuk Liona memeluk tubuh mungil yang kini sudah duduk disampingnya.


“Kamu sayang sama tante, iyakan?”


“Iya...aku sayang banget sama tante cantik.  Aku tidak mau tante sakit...huaa….huaaa...hatiku sedih dan sakit sekali kalau tante sakit.”


‘Ya, ampun menggemaskan sekali gadis kecil ini.  Kata-katanya membuat hatiku tersentuh, gumam Liona dalam hatinya.’


“Tante, karena Tante cantik sudah menyelamatkanku maka aku akan bertanggung jawab. Tapi karena aku masih kecil jadi aku akan minta papa yang tanggung jawab ya.  Aku akan suruh papa menikahi tante cantik, jadi aku punya mama. Aku bisa menjaga mama dan membuat mama bahagia setiap hari.”


“Hah? A—apa? Apa katanya barusan? Minta ayahnya menikahiku?” ucap Liona kaget.


“Iya, tante cantik.  Pengorbanan tante akan kubalas, sebagai rasa terimakasihku papa akan menikahi tante! Mau ya? Aku anak baik loh, aku juga tidak nakal. Tante pasti senang punya anak perempuan sepertiku,” ucapnya menyakinkan Liona yang masih bingung tak tahu harus berkata apa.  Lucu sekali gadis kecil ini, katanya dia mau tanggung jawab tapi karena dia masih kecil jadi dia menyuruh ayahnya yang tanggung jawab.  Dasar rubah kecil! Licik sekali gadis kecil ini tapi dia sungguh menggemaskan.


‘Menikahi dirinya?


‘Ayahnya akan menikahiku? Dia bilang ayahnya akan bertanggung jawab?


‘Apa-apaan ini?

__ADS_1


Semua yang berada diruangan itu terpaku memandang Felicia yang terus merengek pada Liona. Dia tak mau menyerah, dia harus mendapatkan Liona sebagai ibunya, itulah keinginannya saat ini. Ruangan itu mendadak sunyi seperti kuburan tak ada suara apapun.


__ADS_2