
Tidak seperti Hesti, Adam jauh lebih tenang dan tidak pernah melakukan hal buruk pada Liona. Dia seorang suami yang berada dibawah kendali istrinya dan sejak kelahiran Vena, keduanya mengacuhkan Liona yang hanya seorang anak angkat. Adam sama kejamnya seperti Hesti.
“Liona, apakah ini benar-benar kamu?” Adam bertanya dengan ragu-ragu. Tidak seperti Hesti yang bersikap biasa saja, namun Adam sedikit terkejut.
Dia telah melihat Liona sedang berdiri didepannya ketika mereka tiba disana namun dia tidak mengenali wajah putrinya. Mereka tidak bertemu selama empat tahun dan Liona sudah banyak berubah. Matanya langsung berbinar saat menatap putrinya yang cantik dan anggun. Dia tidak dapat menahan rasa gembira lalu berjalan mendekat, “Apakah---apakah kau benar-benar Liona?”
“Ya, ini aku.” jawab Liona dingin.
Adam sangat bersemangat sehingga rona wajahnya pun berubah menjadi merah. “Liona, bukankah kau sudah mati empat tahun lalu?”
“Kenapa? Apakah ayah ingin aku mati?” balas Liona dengan sarkas.
“Oh tidak….tidak sama sekali! Jangan salah paham pada ayahmu ini, aku hanya senang melihatmu disini. Bagaimana kejadian sesungguhnya? Kenapa kau tidak pulang kerumah kalau kau masih hidup? Aku benar-benar berpikir kalau kau sudah mati setelah kejadian itu.”
Liona hanya diam mendengarkan suara ayah angkatnya yang penuh semangat. Tetapi entah mengapa ekspresi ayah angkatnya seperti tidak senang dia masih hidup. Kalau boleh jujur, dia pun sudah menyerah dan tak ingin menganggap mereka orangtua angkatnya lagi, Liona enggan berurusan dan memiliki hubungan dengan keluarga itu. Liona sangat mengenal sifat ayah angkatnya dan dia berani mengatakan kalau ayah angkatnya itu sama kejamnya dengan Hesti.
__ADS_1
Adam tidak pernah bekerja atau mencari uang seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang kepala keluarga. Sebaliknya dia selalu meminta uang pada Liona bahkan mengharapkan agar kelak anak-anaknya yang membiayai kehidupannya. Melihat sikap antusias yang ditunjukkan oleh dua manusia kejam ini membuat Liona yakin jika mereka memiliki niat tersembunyi. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka bisa tahu dimana Liona tinggal. “Sekarang kalian sudah tahu aku masih hidup, katakan apa yang sebenarnya kalian inginkan? Bagaimana kalian bisa tahu aku tinggal disini sementara tak ada orang lain yang tahu.” ujar Liona dingin.
Mendengar perkataan Liona yang dingin, kedua orang itu saling bertukar pandang. Tiba-tiba Adam tersenyum lalu berkata, “Liona, kau adalah putriku yang paling berharga. Aku harap kau mau pulang kerumah bersama kami. Kami sangat merindukanmu, mungkin kau bisa meluangkan waktumu untuk makan siang bersama dirumah. Kami tahu kau sekarang hidup mewah dan mampu memiliki rumah semewah ini tapi bukankah akan lebih menyenangkan jika kita keluarga bisa berkumpul bersama?”
Ketika Adam berbicara, matanya memerah dan dia menggosok matanya berlebihan seolah-olah dia memaksakan diri untuk menangis. “Aku tidak pernah mengira keluarga kita akan berkumpul kembali seperti dulu.” ujar Adam dengan suara tercekat. Liona tersentak kaget dan ketakutan ditempat saat dia melihat tingkah ayah angkatnya itu. Pria itu bukanlah tipikal ayah teladan yang baik, pria itu penuh akal licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri.
‘Berkumpul bersama katanya? Huh! Apa maksudnya mereka mau ikut tinggal dirumah ini? Mimpi! Lagipula rumah ini bukan milikku tapi milik Reynard, sekalipun rumah ini adalah rumahku takkan kubiarkan orang-orang licik ini tinggal bersamaku. Dasar benalu!’ ujarnya didalam hati.
“Maaf, aku mau istirahat. Lagipula ini sudah malam. Aku juga tidak bisa berkumpul dengan kalian lagi apalagi makan bersama kalin, yang ada mungkin aku diracun sampai mati seperti dulu. Bukankah begitu? Kalian selalu menginginkan kematianku.”
“Huh! Orangtuaku sudah lama mati! Kalian sudah merawatmu sangat baik, jangan khawatir aku akan membayar semua biaya yang kalian keluarkan. Aku rasa tidak banyak karena sejak usia sembilan tahun aku bekerja mencari uang sendiri untuk membeli makanan dan keperluanku.”
“Liona….”
“Apa kalian berniat menjualku seperti yang pernah kalian coba lakukan dimasa lalu? Apa kalian berpikir ingin merampas hartaku setelah kalian tahu aku bukan gadis miskin seperti dulu?”
__ADS_1
“Liona! Apa yang kau katakan itu tidak benar! Untuk apa aku melakukan semua itu? Yang aku inginkan adalah putriku hidup bahagia dan menikah dengan pria baik-baik.” ujar Adam.
“Oh ya? Apakah benar itu niatmu? Siapa pria baik-baik yang ada dalam pikiran kalian? Seorang pria tua yang kaya? Lalu bagaimana kalian bisa tahu aku tinggal disini? Apa kalian menguntitku atau menyewa seseorang untuk menguntitku?”
“Hentikan Liona! Aku ini ayahmu! Beraninya kau bicara tidak sopan padaku? Aku melakukan yang terbaik untuk kebaikanmu seorang. Kau seorang wanita dengan satu anak, kau harus menikahi pria baik-baik yang bisa menerimamu. Apa kau tidak berpikir tentang nama baikmu?”
“Sebaiknya kalian pulang. Aku capek dan tak ingin mendengar apapun lagi dari kalian! Kedepannya lebih baik kalian tidak mengurusi kehidupanku lagi, urus saja anak kalian Vena!”
Wajah Adam yang sebelumnya terlihat penuh kasih sayang tiba-tiba menjadi gelap dan dingin. “Liona, beraninya kau mengusir kami!” serunya menatap Liona tajam.
“Kalian bisa pergi sekarang ayah. Kalian tahu kehidupan seperti apa yang telah aku jalani selama beberapa tahun ini. Aku bebas sekarang dan aku tidak akan melompat ke neraka lain karena kalian. Terimakasih atas semua yang kalian lakukan padaku selama ini. Sejak hari ini aku sudah tidak ada hubungannya dengan keluarga kalian lagi! Harap jangan bersinggungan dan mengganggu hidupku lagi kedepannya.”
Setelah mendengar ucapan Liona, Adam menyipitkan matanya dan cemberut. Dia tidak percaya jika Liona akan bersikap seperti itu pada mereka. “Oh satu hal lagi! Kalian tidak perlu mempedulikan aku dan anakku, aku sudah menemukan pria yang sangat baik untukku yang akan menjagaku dan menyayangiku. Dia dan keluarganya adalah keluargaku sekarang jadi kalian tidak kuijinkan datang kerumah ini lagi dan menggangguku!”
Wajah Adam semakin memerah menahan amarah, “Baiklah kalau memang itu keputusanmu! Tapi mari kita luruskan semuanya terlebih dahulu, kau telah berhutang banyak padaku. Aku memberimu tempat tinggal, makanan dan pakaian. Aku menyekolahkanmu selama delapan belas tahun. Sekarang aku semakin tua dan aku perlu uang bulanan dari anak-anakku. Jadi kau paham maksudku bukan?”
__ADS_1
“Aku tidak berhutang apapun padamu! Beraninya kau bilang membesarkanku? Kau mengambilku dari panti asuhan saat aku maish kecil dan sejak usiaku sembilan tahun aku sudah bekerja untuk membiayai sekolahku sendiri dan keperluanku. Kau bahkan tidak pernah memberikan uang sepeserpun untukku. Apakah kau tahu kapan tanggal ulang tahunku? Apakah kau ingat kapan aku lulus sekolah? Apa kau ingat kapan kau membelikanku pakaian?”