
Tidak hanya itu, Liona akhirnya jatuh kedalam pelukan Reinhard. Liona bisa merasakan napas hangat Reinhard dilehernya dan itu membuat tulang punggungnya merinding. Liona tercengang. Sementara Liona membeku didalam pelukan Reinhard, supir meminta maaf dan menjelaskan.
“Maaf Tuan. Seeekor anjing liar tiba-tiba melintas dijalan.”
“Tidak apa-apa. Jalan!” Reinhard tetap memeluk tubuh Liona sepertinya Reinhard punya rencana untuk membiarkan wanita itu tidak pergi lagi. Sementara itu Liona masih terdiam dalam pelukan Reinhard, disatu sisi dia merasakan kenyamanan sedangkan disisi lain dia masih marah. ‘Sialan. Pria ini pasti sengaja melakukannya. Semua orang pasti berusaha membantu Reinhard dengan cara mereka sendiri.’
Liona dan Reinhard masih dalam posisi mesra ketika mereka tiba di restoran tepi pantai yang indah. Begitu mobil berhenti, Liona dengan cepat ingin melompat keluar tapi pemburu sudah lebih dulu memasang jebakan pada mangsanya. Reinhard tidak melepaskan Liona dari pelukannya. Liona sudah tidak tahan lagi dengan sikap pria itu.
“Reinhard! Kita perlu bicara!”
“Jangan merusak acara makan kita. Nanti kita bicara setelah dirumah.” ujar Reinhard tak mau kompromi dengan Liona. Tanpa melepaskan pelukannya, dia membawa Liona memasuki restoran tepi laut. Dibelakangnya diikuti Delvin dan kedua anak yang sejak tadi selalu terkekeh melihat kelakuan dua orang dewasa didepannya.
“Eh, kalian buat apa?” tanya Delvin saat dia mendengar suara cekikikan dibelakangnya.
“Oh paman Delvin. Paman tampan sekali, baju itu cocok untuk paman.” ujar Felicia dengan kata-kata manisnya sambil menyentuh baju warna mencolok yang dipakainya.
“Felicia, mulutmu manis sekali! Aku takut kalau kamu besar nanti akan banyak pria datang mengadu pada papamu.”
“Hihihi…..aku bukan paman. Aku akan menjadi gadis baik saat aku besar nanti. Tidak seperti paman yang banyak pacarnya seperti gonta ganti baju.” Felicia tertawa sambil menutupi mulutnya. Delvin memelototi keponakannya yang cantik yang selalu menggodanya itu. Anak ini semakin hari semakin pandai bicara, entah darimana dia belajar.
...*********...
Di ruang kerja Reinhard sedang bersandar di sofa sambil membaca buku dengan santai. sedangkang Liona sedang berdiri dihadapan pria itu berusaha sekuat tenaga untuk mendapaykan perhatiannya. Liona memelototi Reinhard dengan alisnya yang terangkat. Reinhard dengan sengaja mengabaikan wanita itu dan dengan hati-hati membalik buku ditangannya.
Halaman demi halaman dia buka, berpura-pura tidak menyadari kehadiran Liona disana dan membaca buku itu dengan sangat serius. Liona kaget dengan tingkah Reinhard yang menurutnya kekanak-kanakan.
__ADS_1
"Ehem....ehem....." Liona berdehem untuk mendapatkan perhatian Reinhard. Tapi tetap saja pria itu mengabaikannya sehingga membuat Liona semakin kesal.
"Ehem.....Ehem......."
Akhirnya Reinhard pun mengangkat kepalanya dari buku dan berdiri dengan sikap yang tenang. lalu dia menuangkan segelas air hangat untuk Liona. sebelum menyerahkan gelas itu padanya dia menatap Liona dengan ekspresi datar. Liona terdiam melihat gelas yang disodorkan oleh Reinhard. kedua alisnya mengerut dan wajahnya semakin suram.
Dia sengaja batik untuk menarik perhatian pria itu bukan karena dia sakit tenggorokan.
"Reinhard! kita harus bicara serius sekarang!" kata Liona mengambil gelas dari tangan Reinhard.
"Baiklah." hanya itu yang diucapkan Reinhard. Dia meletakkan gelas diatas meja tamu dan membuat dirinya nyaman di sofa yang terletak diseberang Liona.
"Apa maksud perilakumu hari ini?" tanya Liona menatap pria itu dengan tatapan ingin tahu.
Reinhard mengangkat kepalanya dan tatapan matanya dalam dan terlihat sedikit opresif. "Maksud kamu apa? aku tidak mengerti sama sekali apa yang kamu bicarakan."
Reinhard meletakkan bukunya sambil berkata.
"Apakah kamu sedang berusaha menyiratkan bahwa aku tidak memperlakukanmu dengan baik sebelumnya?"
"Tidak! Bukan itu maksudku. Jangan salah paham."
"Lalu apa maksudmu Liona? Bicara yang jelas dan jangan bertele-tele."
Liona hanya terdiam, dia tidak tahu bagaimana mengatakannya. Brengsek! bukankah dia yag seharusnya mengajukan pertanyaan itu pada Reinhard? Sejak pertama kali bertemu, Reinahrd selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
__ADS_1
Tetapi saat itu dia hanya melihat sikapnya sebagai sebuah kewajiban dan Reinhard terlihat jelas masih menjaga jarak dari Liona. Tapi sekarang semuanya sudah berubah, sikap pria itupun berbeda padanya. Perhatian Reinhard benar-benar tulus pada Liona dan dia tunjukkan secara terbuka meskipun dia tahu kadang Liona masih merasa takut dengan hubungan mereka.
"Reinhard....."
Tiba-tiba Reinhard berdiri dengan tegak dan terlihat sangat tinggi. Raut wajahnya yang serius penuh dengan ketegangan dan agresif. Pria itu meletakkan tangannya di sofa dibelakang Liona seolah-olah sedang memeluk wanita itu. Hal itu membuat Liona terpelongo.
'Oh tidak! Apakah dia berniat menciumya lagi? Apakah dia masih tidak sadar kalau aku marah?"
"Reinhard......." ucap Liona dengan suara lirih.
"Aku pikir sikapku sudah terlihat jelas. Jika kamu masih sering merasa tidak yakin......" Reinhard mendekati Liona dengan perlahan-lahan. Ketika Liona tidak bisa mundur lebih jauh lagi, Reinhard membelai kepala bagian belakang wanita itu dengan satu tangan lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
Dia mencium Liona dalam-dalam. Liona yang terkejut dengan sikap Reinhard pun langsung menegang dan matanya terbuka lebar. Lidah Reinahrd hangat dan lembut serta licin meluncur dengan anggun namun menggoda. Pria itu mencium Liona dengan penuh gairah. Suhu diruang kerja itu langsung naik bersamaan dengan suhu tubuh mereka.
Suasana didalam ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi penuh romansa. Liona menyadari jantungnya berdetak lebih keras! Ya selalu saja begitu setiap kali bersama Reinhard. Ketika akhirnya Reinhard mengangkat kepalanya, dia bertatapan dengan mata Liona yang dipenuhi rasa rindu dan terlihat lembut menatapnya. Napas pria itu tidak teratir dan tatapan matanya yang dingin kini berubah seperti gunung berapi yang siap meletus.
Ada api gairah dimata Reinhard, tetapi mata Liona terlihat terkejut dan melotot. Reinnhard menempelkan dahinya didahi Liona dan berkata dengan suara serak, "Apakah kamu masih marah dan tidak mengerti? Apa yang kamu takutkan dengan hubungan kita Liona? apa yang membuatmu merasa tidak nyaman bersamaku?"
Liona hanya menatap mata Reinhard, dia bahkan bisa melihat bayangannya dimata pria itu. Wajah Liona memerah karena malu. Dia baru saja pulih setelah waktu yang cukup lama.
"Kamu......."
"Diamlah, sayang. Liona kamu tidak bisa menyangkal kalau perasaan dan rasa sayangmu padaku sangat mendalam! aku tahu dan paham dengan ketakutanmu."
Liona terlihat berpikir tetapi jauh didalam lubuk hatinya dia memang merasa ragu dan takut. Apalagi dia tahu seperti apa keluarga Reinhard. Ya, benar kata pria itu! Dia memang sangat menyukainya atau mungkin mencintainya dan sayang padanya. Tapi terkadang dia merasa sulit mengekspresikan perasaannya pada Reinhard.
__ADS_1
Wanita itu mendorong tubuh Reinhard menjauh lalu membenamkan dirinya di sofa berusaha menghindari tatapan mata Reinhard. "Kamu jangan terlalu percaya diri. Aku menyukaimu! Aku akui memang itu benar! Aku memang merasa takut didalam hatiku! Reinhard, aku bukan dari kalangan keluarga kaya raya. Aku hanya seorang aktris baru."