
Liona memukul kepala pria itu dengan kuat, “Diam kamu!”
Pria itu meringis dan tampak ketakutan dan segera mematuhi perintah Liona. Dia tidak berani lagi bicara lalu Liona membungkuk dan merogoh saku pria itu untuk mengeluarkan dompetnya. Ketika Liona membuka dompet itu, dia menemukan sebuah cincin kawin platinum terselip didalamnya.
Liona mengatupkan rahangnnya dan menatap pria itu dengan jijik. “Sudah kuduga kamu sudah menikah! Pakah kamu tidak merasa malu pada istrimu saat kamu sleingkuh dengan wanita asing? Para wanita yang sudah kamu bohongi berkali-kali untuk melayanimu ditempat tidur….” pada saat yang bersamaan Liona menatap sebuah foto yang dijejalkan didalam dompet itu.
Foto itu adalah foto seorang bayi kecil yang lucu dan imut. Liona memegang foto itu didepan wajah pria itu, “Apa kamu lihat foto bayi ini? Foto siapa ini?”
“Itu adalah putraku.” pria itu melihat perubahan diwajah Liona sehingga dia memasang wajah memelas dan memohon padanya. “Dengar, aku meminta maaf padamu nona.”
“Tolong biarkan aku pulang menemui anakku. Usianya masih belum genap dua bulan. Aduhhhhh!” jeritan pria itu sangat keras sehingga orang yang mendengarnya pasti akan tahu seberapa kesakitannya pria itu. Liona sangat marah sehingga dia mematahkan lengan pria itu.
“Kamu laki-laki brengsek! Jadi sekarang kamu mengingat anakmu? Kamu memikirkan anakmu?”
“Anakmu baru berusia kurang dari dua bulan dan istrimu baru menyelesaikan masa nifasnya. Apa yang kamu lakukan sebagai balasan atas pengorbanannya melahirkan anakmu? Kamu malah pergi ke bar dan mencari wanita lalu merayu mereka. Kamu benar-benar menyedihkan! Aku akan sangat menyesal jika tidak memberimu pelajaran malam ini!” geram Liona dengan wajah marah.
“Mari kita lihat apakah aku bisa memasukkan sedikit akal sehat kedalam otak bodohmu itu!” Liona segera menyeret pria itu ke gang sempit dan mulai memukulinya. Suara erangan kesakitan terdengar dari kegelapan gang itu membuat suasana sangat mengerikan. Emosi Delvin sedikit bercampur aduk saat ini antara terkejut, takut dan kagum.
“Hei, kak Reihnard…..Lihat itu Liona.” Delvin ingin berkomentar saat dia melihat Liona sedang berjalan keluar dari gang.
“Baiklah! Kita akan mengikuti dia. Pastikan dia tidak melihat kita.” kata Reinhard singkat.
__ADS_1
“Tidak masalah kak. Aku sangat ahli dalam hal seperti ini.’ Delvin memutar kunci kontak dan memastikan untuk menjaga jarak yang cukup jauh dari Liona, mereka mengikutinya dalam diam.
Delvin sangat mengagumi Liona sekarang. Wanita itu baru saja memukuli seseorang hingga babak belur namun rambut dan pakaiannya masih terlihat rapi. Sangat sulit dipercaya bahwa dia telah terlibat perkelahian beberapa menit yang lalu. Liona terus berjalan menyusuri trotoar. Dia terliha terhuyung-huyung dan terus berjalan tanpa menoleh kebelakangnya.
Semua toko yang berjajar dikedua sisi jalan suda tutup kecuali beberapa minimarket dan tempat makan yang buka dua puluh empat jam. Liona menguap lebar dan terus berjalan tanpa arah.
“Aduh, aku capek sekali…..” keluhnya setelah berjalan cukup jauh. Liona memegang tasnya dan bertanya-tanya kemana dia akan pergi selanjutnya.
“Pulang kerumah dan tidur sepertinya sangat menyenangkan.” Liona menggosok matanya tetapi bulu mata palsunya sedikit menghalangi. Ia melepaskan bulu mata palsunya dalam satu gerakan cepat. Plok……Liona menampar lengannya dengan cepat membunuh nyamuk yang menggigitnya. Dia baru berdiri selama sepuluh menit disini tapi di sudah digigiti nyamuk.
Lengannya mulai dipenuhi benjolan merah kecil. ‘Sialan!’ padahal beberapa hari ini sering turun hujan, dan memang sedang musim hujan tapi kenapa banyak sekali nyamuk?’ Liona sibuk menggaruk lengannya yang gatal akibat gigitan nyamuk. Tampaknya otak Liona sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
Ketika dia melihat gigitan nyamuk dilengannya, dia merasa gigitan nyamuk itu terlihat seperti bekas ciuman. Sebuah ide konyol pun muncuk dibenaknya, ia tertawa geli dan berlari menuju kesebuah taman kecil didekatnya yang dipenuhi pohon dan semak belukar. Pasti ada banyak nyamuk disana, pikirnya. Dalam keheningan malam Liona menemukan sebuah bangku panjang dan duduk disana.
Sedangkan Delvin dan Reinhard masih mengawasi dari jauh, kemudian keduanya pun sudah tak tahan lagi lalu turun dari mobil dengan ekspresi wajah tidak percaya. Delvin hanya berdiri ditempatnya sambil menatap Liona dengan wajah bodoh.
“Kak, kelihatannya Liona sedang mabuk. Dia hanya duduk ditaman dan memberi makan nyamuk.”
“Bukan itu yang sedang dilakukannya.” jawab Reinhard dengan nada datar.
“Terus apa?” tanya Delvin lagi memperhatikan ekspresi wajah Reinhard yang dingin.
__ADS_1
Namun Reinhard memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Liona dengan matanya yang dalam dan gelap. Reinhard sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya.
“Hei kak Reinhard! Aku ada ide gila. Bagaimana kalau kakak mendatangi Liona? Maksudku, coba selamatkan ia dari segerombolan nyamuk yang kelaparan itu.”
Reinhard yang menganggap ide adiknya itu konyol, melemparkan pandangan dingin padanya mebuat Delvin mundur selangkah dengan otomatis.
“Oke, baiklah……baiklah. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa.”
Setengah jam kemudian, Liona sudah tidak tahan lagi. Tangannya sangat gatal, kakinya juga sangat gatal.
Bahkan leher dan punggungnya terasa seperti terbakar. Liona tidak bisa berhenti menggaruk seluruh badannya. Angin malam terasa dingin dan Liona menyesali keputusannya.
Seharusnya dia tidak mengenakan gaun itu malam ini, kini dia merasa kedinginan. “Achhooo.” Liona menatap gigitan nyamuk yang memenuhi tubuhnya dengan dahi berkerut. ‘Ya, aku rasa ini sudah cukuplah.’ gumamnya. Kemudian dia kembali bersin.
“Sudahlah lupakan saja. Biarkan saja seperti ini. Jika aku benar-benar jatuh sakit, aku harus pergi ke dokter.”
“Tapi tidak masalah juga sih kalau harus ke dokter. Aku tidak akan bekerja selama beberapa hari kedepan. Jadi aku bisa tinggal dirumah saja tapi aku tidak mau Elvano ketularan sakit.” Liona segera berdiri sambil merapikan gaunnya tanpa sadar. Dia memeriksa kembali ponselnya dan melihat bahwa sudah pukul dua dini hari.
Setiap hari Reinhard bangun jam lima pagi untuk berolahraga. Jadi Liona harus tinggal diluar selama dua jam lebih sebelum dia bisa pulang dan bertemu pura-pura dengan Reihard secara tidak sengaja. ‘Ya Tuhan! Aku tidak akan sanggup begadang selama itu.’ Liona kembali menguap lebar.
‘Aku hanya ingin tidur sekarang. Ayo Liona! Kamu pasti bisa melakukan ini.’
__ADS_1
“Sebaiknya aku jalan-jalan saja sebentar ditaman untuk mengusir rasa kantuk.” pikir Liona mencoba menghibur dirinya sendiri. Tetapi ketika dia sedang berjalan-jalan disekitar taman, Liona mendengar suara teriakan dari arah semak-semak.
“Tolong! Tolong aku!”