CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 106. JANGAN BALAS DENDAM PADAKU


__ADS_3

Elvano hanya menganggukkan kepala sambil menatap mamanya dengan cemas. “Kemarilah” ujar Liona pada putranya yang terlihat khawatir.


Elvano duduk disebelah kiri dan Felicia disebelah kanan. Reynard hanya bisa mengeryitkan kening melihat kedua anak itu yang tak membiarkannya dekat dengan Liona. Akhirnya dia hanya bisa mengalah dan duduk disofa memperhatikan kedua anak itu yang mencemaskan Liona.


“Papa! Kak El sama mama Liona tinggal disini?” tanya Felicia.


“Hem...”


“Hore! Hore! Aku bisa tidur sama kak El.”


“Ssssttt….jangan teriak-teriak. Kalian punya kamar masing-masing jadi tidur dikamar kalian sendiri.” ujar Reynard.


“Tapi, tidak apa-apa Ka El dan aku tidur bersama. Kak, maukan tidur denganku?” Felicia menanyakan pada Elvano sambil mengerjapkan matanya, membuatnya tampak sangat imut dan menggemaskan.


Elvano yang menyayangi Felicia pun tidak bisa menolak lalu menganggukkan kepalanya.


“Papa bilang tidak bisa! Tidur dikamar masing-masing.” ujar Reynard lagi.


“Sudahlah Rey! Biarkan saja mereka sesekali tidur bersama lagian mereka masih kecil.” kata Liona yang pusing mendengar perdebatan mereka.


“Oh mama Liona! Aku menyayangimu. Cup!” ujar Felicia mengecup pipi Liona.


Liona yang melihat ekspresi wajah Reynard yang berubah langsung tertawa saat Liona mengatakan, “Kalian juga bisa tidur disini sama mama.”


“Hore! Yeayyy yeayyyy….aku mau.”


“Aku mau.”


Kedua anak itu serempak menjawab. Reynard hanya bisa memijit pelipisnya. “Kalian hanya bisa tidur disini sekali saja.”


“Ha? Sekali?” ujar kedua anak serempak lalu saling berpandangan.


“Iya. Mama kalian sedang sakit, tidak boleh terganggu istirahatnya. Apa kalian tidak lihat luka dilengannya? Bagaimana kalau saat kalian sednag tidur tanpa sengaja menyentuh lukanya?”

__ADS_1


“Hemm….” Felicia langsung memasang wajah sedih. “Kami tidur disini kalau luka mama Liona sudah sembuh.”


“Sekarang kalian pergilah bermain! Biarkan mama kalian istirahat,ok?”


Kedua anak itu mencium pipi Liona lalu bergegas pergi, Reynard menutup pintu kamar dan menguncinya. "Biar aku bantu mengganti pakaianmu. Apa kau mau aku mengelapmu?" tanya Reynard.


"Aku merasa gerah, bisakah aku mandi? Tapi kau harus membantuku agar lukaku tidak basah."


"Baiklah. Kau bisa mandi di bathtub. Biar aku siapkan air hangat untukmu setelah aku mandi.


Lalu dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. “Aku mandi dulu.”


Saat Reynard keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk melilit dipinggangnya, dia melihat Liona sudah terlelap. “Hmmm sepertinya obat tidurnya sudah bereaksi. Biarlah dia istirahat dulu.” Perlahan Reynard membetulkan letak bantal Liona agar nyaman dan menyelimutinya. Reynard masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Dia mengenakan pakaian kasual, lalu duduk di sofa dan menyalakan laptop.


Karena Liona tertidur tanpa sadar dia bergerak yang membuat lukanya terbuka kembali dan mengeluarkan darah. Reynard yang melihatnya langsung beranjak menuju ranjang. “Sayang, bangun. Lukamu berdarah lagi.”


“Heemmm….” perlahan Liona membuka mata dan merasakan sakit dilengannya.


“Masih sakit ya?” Reynard menyadari Liona terlihat tidak nyaman.


Reynard menekan bahu Liona kemudian dia duduk disampingnya, memegang lengannya yang terluka dan menggulung lengan baju Liona yang panjang. Darah merembes dari kain kasa, Reynard mengerutkan alisnya. Dia mengatupkan bibirnya yang tipis dan seksi rapat-rapat. “Tunggu sebentar ya.”


“Oh oke.”


Saat Liona melihat ekspresi serius diwajah pria itu, dia tidak mengatakan apapun. Dia duduk dengan tenang dan melihat Reynard membawa kotak P3K.


“Aduh….aduh….” Liona menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit di lengannya. Tadi tanpa sengaja dia menggerakkan lengannya sehingga luka itu terasa sakit. Rasanya sangat menyakitkan.


“Kenapa? Apa kau kesakitan lagi?” Reynard menatapnya dengan ekspresi khawatir.


“Ya sakitlah! Coba tusuk saja dirimu sendiri pakai pedang sungguhan, lalu beritahu aku bagaimana rasanya.” Liona memutar bola matanya menjawab Reynard. Pria itupun langsung diam. Tapi dia mengerti kenapa reaksi Liona seperti itu.


Sekarang dia merasa lega, karena Liona menunjukkan sisi buruknya didepannya, itu artinya hubungan mereka semakin baik dan normal layaknya pasangan lain yang tak perlu berpura-pura. Liona pun merasa dirinya tidak perlu menjaga sikap saat mereka sedang bersama.

__ADS_1


‘Kenapa Reynard nampak bahagia setelah kumarahi?’ pikir Liona sambil menghela napas. ‘Pikiran seorang pria benar-benar rumit ya.’


Reynard duduk disebelah Liona mengobati lukanya, darah dilengannya merembes lagi. Reynard mengeryitkan dahi dan membuka kain kasa. “Mungkin akan sedikit menyakitkan. Tahan sebentar ya?”


“Ya, tidak apa-apa.”


Reynard pun membuka kain kasa dengan canggung, lapis demi lapis sampai luka dilengan Liona terlihat jelas. Karena pendarahan, lapisan terakhir kasa menempel di luka itu. Ketika Reynard mencoba melepaskannya, Liona gemetar kesakitan. Keringat bercucuran didahinya.


“Aduh! Pelan-pelan dong Rey! Rasanya sakit sekali!” teriak Liona yang kesakitan.


Tangan Reynard yang gugup pun langsung membeku. Ini pertama kalinya dia merawat seseorang yang terluka jadi dia sangat berhati-hati. Tapi Reynard tidak menyangka tindakannya tetap saja membuat Liona kesakitan. Penanpilannya sama persis seperti Liona yang terluka, keringat keluar didahinya.


“Jangan bergerak dulu, sayang.”


“Aku sudah mencoba pelan-pelan.”


Reynard mengambil kapas dan menyeka darah disekitar luka Liona sedikit demi sedikit dengan pelan-pelan. Tapi tanpa sengaja dia masih menyentuh luka wnaita itu.


“Aduh! Rey, aku tidak pernah berbuat salah padamu, jangan ambil kesempatan ini untuk membalas dendam!” teriak Liona. “Aduh! Aduh! Aku lihat kau tidak berpengalaman, sudahlah Rey biar aku saja yang melakukannya sendiri.” luka dilengannya terasa sangat sakit.


“Diam dulu!” ujar Reynard dengan suara datar. Liona ingin diam, tapi dia benar-benar merasa kesakitan. Sebenarnya Liona sengaja mengajak Reynard bicara untuk mengalihkan perhatian dirinya, tetapi semakin Liona berteriak kesakitan, Reynard malah semakin gugup.


Semakin gugup Reynard semakin mudah baginya menyentuh luka Liona. Ketika Reynard sudah selesai membersihkan luka, Liona sudah kehilangan kekuatan untuk berteriak karena kesakitan. Akhirnya Reynard pun bisa menghela napas lega.


Dengan keringat dingin membasahi keningnya, dia mengeluarkan salep dari Kevin dan membuka tutupnya. Lalu dia mengoleskan sedikit salep dikapas llau mengoleskannya ke luka Liona dengan sangat hati-hati.


Setelah salep berwarna hijau itu dioleskan ke luka, Liona merasakan ada sensasi sejuk dilengannya dan rasa sakit yang tadi dirasakannya sedikit berkurang. “Eh, salep apa itu?” Liona merasa terkejut, “Salep ini bekerja sangat baik. Luka dilenganku tidak sakit lagi setelah kau oleskan.”


“Semua anggota keluarga Ardana memilih masuk ke sekolah kedokteran. Mereka telah menjalankan bisnis rumah sakit Pratama Medika selama beberapa generasi. Dimulai dari kakek nenek, orangtua, bibi, paman dan sepupu. Semuanya masuk ke sekolah kedokteran. Mereka suka mendiskusikan teknologi medis.”


Saat Reynard berbicara, dia menyadari perhatian Liona telah teralihkan jadi dia merawat luka Liona sambil terus berbicara. “Anggota keluarga mereka sering melakukan penelitian untuk menemukan obat atau alat medis baru. Salep ini baru berhasil dikembangkan beberapa waktu lalu. Salep ini mengandung lebih dari seratus delapan puluh bahan yang efektif untuk penyembuhan luka dan bekas luka.”


Mata Liona bebrinar “Kalau begitu aku tidak akan memiliki bekas luka setelah sembuh nanti, iyakan?”

__ADS_1


“Ya, benar sekali.”


“Wah! Ini berita bagus!” seru Liona gembira.


__ADS_2