
“Tadi malam, aku melihatmu sedang minum bersama dengan kak Reynard. Karena aku mengkhawatirkan kalian jadi kau naik keatas untuk mengecek. Tetapi ketika kamu melihatku, kamu malah memujiku dan bilang kalau aku sangat tampan. Lalu…..uh…..lalu….setelah itu…..” Delvin tidak melanjutkan kalimatnya.
Dia hanya diam, tak berani untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Pasti Liona akan malu sekali. Delvin pun memilih untuk diam saja.
“Lalu apa Delvin?” Liona mendesak karena merasa penasaran. Dia takut kalau dia melakukan hal yang bodoh saat dia mabuk tadi malam.
“Lalu kamu….tadi malam kamu mencoba merayuku. Kamu bilang kalau kamu bersedia menjadi pacarku.” ujar Delvin menjelaskan.
“……..” wajah Liona memerah malu mendengarkan penjelasan pria itu. ‘Jadi apa yang dikatakan Reynard memang benar? Ketika aku sedang mabuk aku benar-benar berubah menjadi wanita nakal dan hampir menelanjanginya. Aihhh…..memalukan sekali.’ pikir Liona didalam hati.
‘Apa-apaan ini? Liona berteriak sekuat tenaga dan bergegas keluar dari villa itu. Wanita itu merasa sangat malu sehingga dia berlari ke villa seberang. Saat dia berdiri didepan villa, dia jadi bingung, ‘Apa yang kulakukan disini? Aku dan Elvano kan tinggal dirumah Reynard! Liona….Liona….kenapa kamu jadi bodoh begini sih?’
Sedangkan Delvin yang melihat wanita itu berdiri didepan villanya hanya bisa menatap bingung. ‘Apa yang dilakukan Liona didepan villa ku? Dia kan tinggal disini bukan di villa depan.’ bisik hatinya.
Sementara itu Reynard baru saja selesai mandi dan kini mengenakan setelan jas hitam. Dia terlihat sangat tampan dengan penampilan barunya hari ini.
Delvin mengedipkan mata pada kakaknya dan bertanya dengan senyum lebar, “Kak Reynard, apakah kakak tidur nyenyak semalam?”
Tadi malam Liona sangat mabuk sampai-sampai dia menggoda setiap pria yang dilihatnya. Memikirkan hal itu, senyum di wajah Delvin semakin lebar.
Reynard hanya meluruskan dasinya dan menatap Delvin dengan tatapan dingin. Tanpa repot-repot menjawab dia berjalan ke bawah dan meninggalkan Delvin di koridor.
__ADS_1
“Kak Reynard! Kenapa kakak selalu menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau kakak tidak melakukan apapun dengan Liona sepanjang malam.” kata Delvin dengan wajah cemberut.
Melihat kakaknya yang tetap diam saja, dia lang berkata lagi, “Apa? Yang benar saja kak! Kakak tidak melakukan apa-apa? Kenapa kakak menyia-yiakan kesempatan emas yang sangat langka ini? Bukankah Liona merayumu tadi malam?”
Aku tahu tadi malam tidak terjadi apa-apa! Jika terjadi sesuatu di antara kalian tadi malam, dengan kekuatanmu aku ragu Liona bisa bangun dari tempat tidur pagi ini. Aduh! Aku tidak percaya kakak tidak melakukan apa-apa!” Delvin mengerang sambil mengikuti Reynard dari belakang.
“Diam kamu!”
Delvin langsung berhenti berbicara. Namun keheningan itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja sebelum dia kembali membuka mulutnya dan bertanya lagi. “Kak Reynard, mau pergi kemana sekarang? Apakah kamu tidak mau memanggil Liona? Dia ada di villa depan sekarang.”
“Aku mau ke kantor!” Reynard menjawa dengan putus asa. “Apa yang dilakukannya diluar?”
Tanpa repot-repot melihat kearah Delvin, Reynard membuka pintu dan keluar. Dia melihat Liona berdiri didepan villa diseberang, dia mengeryitkan keningnya dan berpikir mungkin Liona merasa malu atas kejadian semalam.
Lalu dia membuka pintu mobilnya dan masuk. Delvin menyusul masuk dan duduk di jok belakang berdampingan dengan Reynard.
Supir pun melajukan kendaraannya meninggalkan rumah itu. Delvin masih saja tidak berhenti mengoceh. “Kak Reynard! Bukannya aku mau menyalahkanmu atau apa. Aku hanya ingin tahu kenapa kakak membiarkan kesempatan bagus seperti ini hilang begitu saja. Menurut pengalamanku sebelumnya, perasaan seorang wanita akan berubah setelah dia berhubungan intim dengan pria yang dia cintai.”
“Kakak harus gerak cepat, kalau bisa lakukan tiap malam sampai ada hasilnya. Dengan begitu Liona akan tetap berada disisimu selamanya. Apa kakak tidak tahu berapa banyak pria diluar sana yang mengincar Liona? Kakak juga harus ingat bahwa dengan begitu banyak saingan, bisa saja Liona tergoda dengan salah satunya.”
“Begitu banyak pria tampan di dunia hiburan. Jika suatu hari nanti Liona mabuk dan menggoda pria tampan lain, apa yang akan kakak lakukan? Kakak harus segera mengikatnya disismu! Meskipun sekarang kalian tinggal bersama tapi belum ada ikatan kuat.”
__ADS_1
Bukannya menjawab semua perkataan Delvin, Reynard malah memejamkan matanya dan mengusap pelipisnya dengan kesal. Setelah beberapa saat dia membuka matanya dan berteriak, “Delvin!”
“Apa kak?”
“Perusahaan kita sedang mencari orang yang akan bertanggung jawab untuk membeli berlian di Afrika. Aku pikir kamu adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu karena kamu pandai bicara.”
Seolah gagasan untuk berada jauh dari rumah membuatnya takut, tubuh Delvin gemetar dan memohon, “Tidak mau! Maafkan aku, Kak! Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi sekarang. Aku akan menutup mulutku sekarang. Aku janji tidak akan bicara lagi.”
Akhirnya Delvin menutup mulutnya suasana didalam mobil menjadi tenang dan damai. Reynard mengetuk jendela dengan ringan lalu memejamkan mata. Pria itu tampak tenggelam dalam pikirannya. Pada saat itu bayangan Liona yang sedang gemetar ketakutan melintas dibenaknya.
‘Apa yang sebenarnya terjadi pada Liona di masa lalu? Apa yang membuatnya ketakutan dan bereaksi begitu keras meskipun dia sedang mabuk berat dan tidak sadar?’ Reynard bertanya didalam hatinya. Pada saat yang sama Liona membalikkan badan dan kembali kerumah Reynard.
Ketika dia sudah berada didalam rumah kebetulan dia bertemu dengan pelayan yang sedang sibuk membersihkan ruang tamu. Pelayan itu melihat Liona yang datang dari luar sambil terengah-engah. Pelayan itu menjatuhkan kain lap yang sedang dia pegang karena terkejut.
“Nyonya, kapan keluar dari rumah? Aku tidak melihatmu tadi. Oh iya, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian. Semua sudah terhidang di meja makan. Silahkan Nyonya makan dulu. Biar saya panggilkan pelayan untuk membangunkan Tuan muda dan Nona muda.”
“Ah, aku….aku bangun pagi-pagi sekali. Aku tidak bisa tidur lagi jadi aku memutuskan untuk lari pagi.” jawabnya terengah-engah. Pelayan itu sedikit tidak percaya dan menatap kearah kaki Liona. ‘Lari pagi dengan sandal jepit? Apakah Nyonya baik-baik saja?’ tapi pelayan itu mengabaikan pemikirannya.
“Ayo Nyonya makan dulu. Sebelum makanannya jadi dingin.”
Liona bergegas menuju ke ruang makan dan menghela napas lega. Untung saja tidak ada yang curiga! Pikirnya. Liona segera menuju kelantai atas untuk membersihkan diri karena tadi dia tidak sempat mencuci muka dan sikat gigi.
__ADS_1