CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 107. JANGAN BERISIK


__ADS_3

Semakin gugup Reynard semakin mudah baginya menyentuh luka Liona. Ketika Reynard sudah selesai membersihkan luka, Liona sudah kehilangan kekuatan untuk berteriak karena kesakitan. Akhirnya Reynard pun bisa menghela napas lega.


Dengan keringat dingin membasahi keningnya, dia mengeluarkan salep dari Kevin dan membuka tutupnya. Lalu dia mengoleskan sedikit salep dikapas llau mengoleskannya ke luka Liona dengan sangat hati-hati.


Setelah salep berwarna hijau itu dioleskan ke luka, Liona merasakan ada sensasi sejuk dilengannya dan rasa sakit yang tadi dirasakannya sedikit berkurang. “Eh, salep apa itu?” Liona merasa terkejut, “Salep ini bekerja sangat baik. Luka dilenganku tidak sakit lagi setelah kau oleskan.”


“Semua anggota keluarga Ardana memilih masuk ke sekolah kedokteran. Mereka telah menjalankan bisnis rumah sakit Pratama Medika selama beberapa generasi. Dimulai dari kakek nenek, orangtua, bibi, paman dan sepupu. Semuanya masuk ke sekolah kedokteran. Mereka suka mendiskusikan teknologi medis.” jawab Reynard menjelaskan tentang latar belakang keluarga Kevin.


Saat Reynard berbicara, dia menyadari perhatian Liona telah teralihkan jadi dia merawat luka Liona sambil terus berbicara. “Anggota keluarga mereka sering melakukan penelitian untuk menemukan obat atau alat medis baru. Salep ini baru berhasil dikembangkan beberapa waktu lalu. Salep ini mengandung lebih dari seratus delapan puluh bahan yang efektif untuk penyembuhan luka dan bekas luka.”


Mata Liona berbinar “Kalau begitu aku tidak akan memiliki bekas luka setelah sembuh nanti, iyakan?”


“Ya, benar sekali.”


“Wah! Ini berita bagus!” seru Liona gembira.


Reynard mengambil kain kasa baru dan membalut luka Liona lagi, “Tidak masalah kalau kau memiliki bekas luka.”


“Hah? Aku tidak mengerti.” ujar Liona.


“Aku tidak akan membencimu hanya karena bekas luka. Itu tidak akan mengurangi cintaku.” jawab Reynard dengan suara lembut sambir tersenyum.


Hati Liona meleleh, dia tidak tahu harus mengatakan apa-apa. Jantungnya berdetak tak karuan, baru kali ini Reynard menggodanya dengan kata-kata seperyi itu. Setelah Reynard selesai membalut lukanya dia berkata, “Kau belum makan, ini menjelang makan malam. Aku akan meminta pelayan membawakan makanan untukmu.”


“Rey! Kita makan dibawah saja bersama anak-anak. Mereka akan senang jika kita makan bersama.” Liona mengerjapkan matanya menatap pria itu.


“Baiklah. Ayo kubantu turun kebawah.”


Menurut pikiran Liona, pria itu akan membantunya berdiri tapi dia malah menggendongnya. Liona terkejut “Aku bisa jalan sendiri.”

__ADS_1


“Tidak akan kubiarkan. Selagi aku sanggup!.” ujar Reynard tak mau mengalah. Dia membawa Liona keluar dari kamar dan turun kebawah. Kedua anak sudah duduk manis diruang makan saat mereka melihat Reynard menggendong Liona.


“Huuu…..papa hebat!” teriak Felicia lalu terkekeh sambil menutup mulut dengan kedua tangan.


Elvano menarik kursi untuk mamanya. “Terimakasih sayang.” ucap Liona. Tak lama Delvin muncul dan bergabung dimeja makan. Matanya terus menatap Reynard yang begitu perhatian pada Liona, mengambilkan makanan untuknya dan menyuapinya.


“Feli! Kau sekarang sudah besar, jadi papamu tidak akan pernah menyuapimu lagi.” sindir Delvin.


“Hah? Paman bicara apa? Paman cemburu ya lihat papa sama mama Liona?” ujar Felicia.


“Tidak! Paman sudah biasa kalau yang seperti itu.” balas Delvin.


“Seperti itu bagaimana? Paman kan banyak pacarnya! Tidak pernah romantis makanya tidak ada yang betah sama paman.” sindir Felicia balik. "Buktinya paman belum menikah!"


“Siapa bilang? Memangnya anak kecil tahu apa? Paman yang tidak mau serius dengan mereka.” jawab Delvin tak mau kalah.


“Eh...anak kecil sok kasih nasihat. Sejak kapan kamu tahu soal cinta?” tanya Delvin mendelik. Felicia tertawa terbahak-bahak melihat tingkah paman kesayangannya itu.


“Sssstttt…..berisik! Kalian berdua bisa makan dengan tenang tidak?” kata Reynard memelototi Delvin. Keduanya langsung terdiam.


“Papa….”


“Habiskan makananmu! Jangan biasakan banyak bicara kalau sedang makan!” kata Reynard tegas.


Felicia pun menundukkan wajahnya lalu melanjutkan makannya tanpa bicara lagi. Elvano yang merasa kasihan melihat Felicia dimarahi menepuk-nepuk lembut punggung Felicia. Senyum muncul diwajah gadis kecil itu dengan sikap sayang yang ditunjukkan Elvano padanya.


Setelah selesai makan malam, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Mereka memutuskan untuk duduk diruang keluarga sambil menonton TV. Delvin yang merasa bosan dan terbiasa pergi ke kelab malam untuk bersenang-senang pun minta ijin pada Reynard, lalu dia pergi. Suasana diruang keluarga sangat tenang, tampak empat orang itu seperti sebuah keluarga bahagia dengan dua anak kecil yang menggemaskan.


Sementara itu, diluar gerbang kediaman keluarga Wilfred.

__ADS_1


“Buka gerbangnya, kami mau bertemu Liona!” ujar Adam dari dalam mobilnya.


“Maaf, anda ini siapa?” tanya penjaga melihat pria yang berada didalam mobil dengan kaca jendela yang diturunkan sehingga dia bisa melihat ada dua orang didalam mobil.


“Kami orangtua Liona. Kami dengar dia ada disini.” kata Adam lagi dengan arogan. Dia melihat rumah mewah yang ada dibalik gerbang utama komplek LeGarden Residence.


“Ya benar. Saya ibunya, kami dapat kabar kalau dia terluka jadi kami kesini untuk menjenguknya.” Hesti pun segera turun dari mobil.


“Oh tapi saya tidak bisa mengijinkan kalian masuk begitu saja. Tunggu sebentar saya hubungi kedalam dulu.” ujar penjaga itu lagi.


“Tidak perlu! Bukakan saja gerbangnya, ini buktinya kami orangtuanya kalau kau tidak percaya.” Hesti menunjukkan foto keluarga yang ada di galeri ponselnya.


“Maaf nyonya. Silahkan masuk, mari saya antarkan kesana.” ujar rekan penjaga.


Penjaga itupun mengendarai sepeda motornya didepan mengarahkan mobil Adam kerumah nomor satu, karena dia tahu kalau Tuan Besarnya membawa Liona kerumah utama.


“Lihat Pa, gadis ****** itu tinggal dikomplek mewah seperti ini. Bukankah ini milik keluarga Wilfred? Bagaimana bisa dia tinggal disini?” tanya Hesti heran.


“Apa mungkin Tuan Reynard memberikan villa untuknya? Setahu papa, dia tidak pernah memberikan akomodasi untuk artis-artis dibawah naungan manajemennya.”


“Pasti si ****** itu merayunya! Huh! Pandai juga dia ya bisa menggoda laki-laki untuk mendapatkan kemewahan ini.” suara Hesti sinis.


Si penjaga sudah berhenti tepat didepan villa no 1. Lalu mendekati gerbang, “Permisi, ini ada orangtuanya nyonya Liona mau menjenguk.”


“Tunggu sebentar. Saya lapor kedalam dulu.” jawab penjaga dirumah Reynard.


Hesti dan Adam melihat villa mewah didepan, mata mereka terbelalak dan tak habis pikir bagaimana bisa Liona punya villa semewah itu? Padahal dia baru saja kembali dan baru bekerja sebagai artis. Semakin memikirkannya, mereka semakin tidak senang. Hesti yang kepo memanggil si penjaga gerbang masuk.


“Ini benar rumah Liona?” tanya Hesti. “Apa kau tidak salah rumah?”

__ADS_1


__ADS_2