CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 104. BALAS DENDAM UNTUK AURORA


__ADS_3

Sebelum Reiki bisa mengatakan sesuatu tentang kejadian itu, Delvin kembali bebricara, “Kau harus memberikan penjelasan tentang kejadian ini pada kami!”


Wilfred Media adalah investor besar dalam proyek film Pernikahan Ketiga. Yogi Pramudya yang merupakan aktor utama dan Kiara sebagai pemeran tokoh utama kedua dan aktris lain seperti Liona dan Miko juga bernaung dibawah perusahaan ini. Jika salah satu dari mereka mati secara tak terduga, maka serial tv ini akan hancur dan Wilfred Media akan menerima pukulan yang sangat berat.


Reiki sebagai sutradara pun merasa ketakutan ketika dia memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. “Tuan Delvin jangan khawatir, aku akan emncari tahu apa yang sebenarnya terjadi hari ini.” wajahnya tegang dan dia menunjukkan keseriusan dengan sungguh-sungguh. Setelah mendapatkan jaminan dari Reiki, Delvin puna menyusul Reynard meninggalkan lokasi syuting. Akibat insiden itu proses pengambilan gambar terpaksa dihentikan.


Sementara Miko mengarang alasan dan mengejar Reynard yang keluar dari lokasi syuting, sayangnya mobil yang dikendarai Reynard sudah meninggalkan lokasi syuting. Karena Miko tidak dapat melakukan apa-apa maka dia berhenti ditengah jalan dan hanya bisa menatap mobil Reynard yang sudah melaju kencang. 


Sementara itu di lokasi syuting tampak Vena yang sedang duduk didalam mobil van miliknya, raut wajahnya tampak frustasi. ‘Brengsek! Liona beruntung! Pedang itu harusnya menusuk jantung wanita ****** itu! Tapi dia bisa mengelak!’ omelnya dalam hati. ‘Dasar brengsek!’


Dalam kemarahannya, Vena mengambil gelas lalu mebantingnya kelantai hingga pecah berkeping-keping.


“Nona Vena…...”


“Kau sudah berjanji padaku kalau kau sudah mengatur semuanya dengan baik dan tidak akan gagal. Tapi apa? Dasar bodoh!” ujar Vena dengan nada suara merendahkan.


Farah tidak bisa menjawab dan hanya diam menundukkan kepala. Tadinya dia sudah yakin semuanya akan berjalan lancar dan kemungkinan gagal sangat tipis.


“Aku tidak menyangka rencana kita bisa gagal. Tapi sejujurnya aku merasa aneh bagaimana bisa Liona mengelak seolah-olah dia sudah tahu rencana kita. Bagaimana dia bisa tahu kalau pedang itu asli?”

__ADS_1


Kegagalan rencana Vena memang sangat disayangkannya, tadinya dia sangat yakin bisa menyingkirkan duri dalam daging dengan bantuan orang lain tanpa melibatkan dirinya. Tapi entah mengapa dia selalu gagal, untuk kesekian kalinya dia gagal menyingkirkan Liona.


Vena menarik napas dalam-dalam lalu meminum sebotol air dingin untuk meredakan emosinya. Air dingin sangat membantu mendinginkan dan rasa marahnya sedikit berkurang. “Apa mereka curiga bahwa insiden itu ada hubungannya dengan kita?” tanya Vena hati-hati.


“Jangan khawatirkan itu nona Vena. Bukan kita yang menikam wanita itu, tak mungkin mereka akan menyalahkan kita.”


Vena menganggukkan kepalanya dan merasa lega setelah memikirkan ucapan asistennya. Namun dia masih emosi dan mengepalkan tangan. Tiba-tiba dia punya ide cemerlang dibenaknya, Liona adalah lawan mainnya dalam film ini dan dia memiliki banyak kesempatan untuk merencanakan jebakan untuk Liona di masa depan. Vena sangat yakin jika Liona tidak akan seberuntung ini dimasa dean.


Pada saat yang sama di lokasi syuting, sutradara Reiki sedang marah besar dan mengamuk akibat insiden itu. “Jelaskan padaku apa yang telah terjadi!”


Dua orang figuran yang tadi melakukan adegan dengan Liona hanya berdiri diam dengan kepala tertunduk, sama seperti anggota kru lainnya. Karena takut menerima hukuman, tidak ada seorangpun yang berani bicara. Karena semua diam dan tak mau menjawab pertanyaan Reiki, dia pun menunjuk kedua pria didepannya, “Kalian berdua, berikan aku penjelasan.”


Sontak wajah kedua pria itu pucat pasi dan ketakutan tapi mereka sudah tidak bisa mengelak.


“Tuan Reiki, lagipula kami tidak ada masalah dengan Liona dan tidak pernah bersinggungan dengannya. Percayalah, kami tidak punya alasan untuk menyakiti Liona. Lagipula jika kami ingin membunuhnya di lokasi syuting seperti ini didepan semua orang kami tidak akan bisa kabur. Ini juga akan berdampak buruk pada kami saat kami mencari nafkah disini. Hanya orang bodoh saja yang akan benar-benar begitu berani membunuh seseorang dimuka umum.” ujar figuran lainnya.


Memang apa yang dikatakan kedua orang itu cukup masuk akal. Dengan wajah muram, Reiki mengalihkan perhatiannya pada anggota tim artistik yang mempunyai anggota sebanyak lima belas orang. Reiki memandang mereka satu persatu dan mengancam, “Kalian mau mengaku atau aku akan memanggil polisi untuk menyelidiki masalah ini? Aku jamin siapapun pelakunya akan mendekam dipenjara, tapi jika mengaku dan jujur mengakuinya mungkin aku masih bermurah hati memberikan keringanan.” ujarnya memancing dalangnya keluar.


Pemimpin tim artistik tampak berpikir sejenak lalu berkata, “Sutradara, Dinda adalah orang yang memberikan pedang itu pada para aktor. Sebaiknya anda bertanya padanya.”

__ADS_1


Reiki pun langsung memandang Dinda setelah mendengar ucapan pria itu. Dinda adalah seorang gadis bertubuh gemuk berusia dua puluh tahun, berkacamata. Dia tampak seperti gadis pemalu dan penakut namun semua orang memiliki kesan yang baik tentangnya karena dia pekerja keras dan selalu bersemangat dalam melakukan tugasnya.


“Dinda! Katakan apa yang sebenarnya terjadi.” Reiki mencoba bertanya dengan nada tenang.


Tapi gadis itu hanya diam menundukkan kepala dan memandang kelantai tanpa menjawab pertanyaan Reiki. Melihat perilaku gadis itu yang sangat mencurigakan, Reiki pun menjadi marah dan berteriak. “Jawab aku!”


Dinda yang terkejut mendengar teriakan Reiki pun jadi ketakutan dan tubuhnya gemetar hebat tapi dia masih menolak untuk menjawab.


“Baiklah. Jika kau masih menolak untuk bekerjasama maka aku akan memanggil polisi. Kau bisa jelaskan langsung pada polisi dan biar mereka menyelidiki kasus ini.”


Wajah Dinda pun menjadi pucat seperti kain, kemudian dia mengangkat wajahnya menatap Reiki, “Aku yang bertanggung jawab atas insiden itu. Aku sengaja memesan pedang itu dari toko online untuk memberi pelajaran pada wanita itu.”


“Wanita mana yang kau maksud?”


“Liona.” jawab Dinda.


“Apa kau punya dendam pribadi pada Liona?”


“Ya. Aurora adalah idolaku, aku mencari pekerjaan di industri film dan melamar sebagai kru film ini karena Aurora. Aurora aktris yang hebat tapi Liona memaksanya keluar dari dunia hiburan dan menghancurkannya. Itu alasanku memberi Liona pelajaran yang tidak akan dilupakannya seumur hidup.” jawabnya.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar pun terperangah mendengar alasan tidak masuk akal Dinda. Reiki memukulkan tinjunya ke meja dan berdiri tiba-tiba, “Kau adalah seorang pembunuh!”


 


__ADS_2