
Krek…..Krek…...Kayu bakar yang berada dibawah tubuh Miko tiba-tiba patah dan penyangga punggungnya pun langsung ambruk ketanah. Miko melambaikan tangan berusaha meraih sesuatu untuk menahannya agar tidak jatuh tapi dia malah jatuh dengan keras ke tanah.
“Cut!” teriak Sutradara Reiki menggelegar dilokasi syuting.
Miko merasa sangat tidak enak hati. ‘Sialan! Tadi kami hampir berciuman, sudah sangat dekat dan sedikit lagi kami ciuman. Sial! Sial! Kenapa jadi begini.’ keluhnya dalam hati.
Reiki pun merasa agak kecewa, adegan itu sudah mencapai ******* tapi malah hancur karena kayu bakar yang pecah pada waktu yang tidak tepat! “Kita ulang lagi adegannya.” ucapnya.
Namun setelah mengulang adegan yang sama selama delapan kali berturut-turut tampaknya kesialan demi kesialan terus menimpa, mereka tetap gagal. Ada saja hal tak terduga yang terjadi.
Begitu banyak kecelakaan yang terjadi secara tak terduga saat adegan ciuman akan berlangsung dan kecelakaan itu tak dapat dijelaskan apa penyebabnya. Kelihatannya pengambilan gambar hari ini diliputi kesialan beruntun.
Pertama kayu bakar tiba-tiba pecah, kemudian kamera yang merekam tiba-tiba rusak dan meledak. Selanjutnya alat peraga di gudang kayu secara tiba-tiba tidak berfungsi. Adalagi arus listrik yang tiba-tiba padam tidak ada angin tidak ada hujan.
Saat semua orang berpikir bahwa mereka akhirnya akan berhasil melakukan adegan itu, pintu gudang yang terbuat dari kayu tiba-tiba runtuh dengan suara keras tepat saat Liona hendak mencium Miko. Semua orang tidak mampu berkata-kata. “Ada apa dengan alat peraga yang kita gunakan hari ini? Siapa yang bertanggung jawab?” tanya Reiki. Seorang anggota kru film mengangkat bahunya.
“Sutradara, apakah kita masih melanjutkan pengambilan gambar?”
“Tidak! Tidak mungkin! Bagaimana caranya kita mengambil gambar dengan pintu rusak, kamera rusak dan barang lainnya hancur. Kita tunda dulu adegan ini dan kita merekam adegan lain dulu.” jawab Reiki.
Sementara itu diwaktu bersamaan, disebuah ruangan kantor yang berada dilokasi syuting tampak Reynard tersenyum puas melihat video kamera pengintai. Dia bahkan tertawa keras saat melihat Miko yang jatuh saat kayu bakar hancur.
“Delvin!” panggilnya.
“Ya kak. Aku ada disini.”
__ADS_1
“Berikan hadiah pada semua anggota kru yang bertanggung jawab menyiapkan alat peraga untuk syuting hari ini.” ujar Reynard senang, rencananya berhasil menyabotase syuting sehingga Liona dan Miko gagal mengambil gambar saat berciuman.
Delvin menggelengkan kepala tak berdaya dan tak mampu berkata-kata melihat ulah kakaknya. Pagi itu, dia heran karena Reynard tidak mau pergi ke perusahaan. Kakaknya malah memilih pergi kelokasi syuting dan secara khusus menemui orang yang bertanggung jawab atas tim persiapan alat-alat peraga.
Delvin menatap Miko dengan penuh rasa kasihan dan simpati didalam video rekaman itu. ‘Dasar bocah malang! Sudah kubilang kau tidak akan mampu bersaing dengan Reynard untuk mendapatkan Liona tapi kau keras kepala. Sekarang kau rasakan akibatnya. Besok entah apa lagi yang akan dilakukan Reynard padamu.’ Ternyata memang benar, semakin tua dirimu maka kau akan semakin bijaksana. Memang jahe yang tua rasanya terasa lebih pedas!
Akhirnya syuting adegan ciuman pun dihentikan sementara. Dan mereka mulai merekam adegan lainnya. Adegan tersebut adalah dua adegan terakhir yang melibatkan Liona dan Miko. Adegan pertama penuh nuansa romansa. Di adegan itu setelah berinteraksi beberapa waktu akhirnya Rosalind dan Arwan saling jatuh cinta. Rosalind secara khusus belajar menyulam agar dapat membuat kantong kecil untuk Arwan.
Kantong itu dihiasi sulaman dua bebek, jika diamati tehnik jahitannya dengan seksama bisa dikatakan bahwa Rosalind belum mahir. Saat itu hujan turun deras, dengan memegang payung di satu tangan dan kantong ditangan lain, Rosalind menunggu Arwan disbeuah bukit yang terletak didekat rumah pria itu. Ada sedikit rona memerah karena malu dipipinya.
Arwan tampak muncul didepan kamera masih mengenakan ksotum seperti biasa. Saat memegang payung, dia tampak seperti cendikiawan. Ketika Rosalind melihat pria pujaan hatinya matanya langsung bebrinar lalu bergegas menuju ke arah Arwan dan memberikan kantong ditangannya.
“Apa ini Rosalind?”
Rosalind mengangkat dagunya berpura-pura santai, “Aku baru saja melihat seseorang menjual kantong ini dipinggir jalan jadi aku membelinya untukmu.”
“Oh itu gambar sepasang angsa.”
Kamera fokus memperbesar kantong ditangan Arwan. Di kantong itu terlihat dua binatang gelap sedang meringkuk satu sama lain. Dibawahnya ada garis horizontal tampak seperti cabang pohon.
“Jika kau tidak memberitahuku aku pikir ini gambar dua ayam panggang. Dimana kau membeli kantong ini? Bagaimana mungkin penjual itu punya keberanian menjual barang seperti ini padamu.”
Rosalind langsung merebut kanton itu dari tangan Arwan dengan marah, “ Jika kau tidak menyukainya kembalikan saja padaku. Jangan jadikan ini masalah besar.”
Arwan tercengang melihat reaksi kekasihnya. “Tunggu dulu. Kau yang membuat kantong itu, iyakan?”
__ADS_1
“Tidak. Siapa yang punya waktu membuat benda bodoh ini.” bentak Rosalind. Tiba-tiba tangan Arwan meraih tangan wanita itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Rosalind.
Arwan memeriksa telapak tangan kekasihnya dan melihat ujung jari yang putih memiliki bekas luka tertusuk jarum.
“Dasar wanita bodoh!” ujar Arwan merasa kasihan pada kekasihnya itu. Dalam adegan itu keduanya saling bertatap mata dengan lembut. Hujan deras turun tapi keduanya tak peduli masih tetap saling memandang.
Momen itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi Rosalind saat menjadi istri ketiga seorang milyarder. Sejak itu, kantong sulaman Rosalind selalu dibawa oleh Arwan dan tidak pernah dilepasnya. “Cut!” Reiki merasa sangat puas dengan penampilan Liona dan Miko.
“Adegan ini sudah selesai, sekarang waktunya makan siang jadi untuk syuting adegan berikutnya setelah makan siang.”
Liona menghela napas lega. “Bagaimana penampilanku tadi?” tanya Miko. Setelah selesai pengambilan gambar tadi, dia segera menghampiri Liona. Dia mengangkat alisnya dan bersikap seperti seorang playboy. “Apakah hatimu tersentuh?”
“Pergi kau jauh-jauh dari sini!” usir Liona kesal.
Hujan yang tadi turun deras akhirnya berhenti saat makan siang. Liona memanaskan kotak makan siang dan mengirimkannya ke Yogi dan Kiara. Dia berterimakasih pada mereka atas dukungan di media sosial. “Hei aku membelamu di media sosial tapi kenapa kau tidak berterimakasih padaku? Kau tidak adil.” Miko menggerutu.
“Ini bagianmu. Ambillah.” Liona menyerahkan kotak makan siang pada pria itu. Mata Miko langsung bebrinar. “Apakah makanan ini untukku?”
“Iya, Kau bisa menolak kalau tidak mau.” ucap Liona ketus.
“Enak saja!” seru Miko membuka kotak makan siang lalu duduk dan langsung makan.
“Hemmm….makanan ini enak sekali. Kau benar-benar pandai memasak Liona.”
__ADS_1
“Sudah pastilah!” ujar Liona percaya diri. Dia memang jago memasak.