
“Apakah ada yang bisa kubantu?” tanya Reynard menawarkan diri.
“Tidak ada. Aku bisa melakukannya sendiri.” jawab Liona yang sudah selesai memotong sayur dan membuat sambal. Dia memasak sup daging, ayam goreng, sambal, tempe dan tahu goreng kesukaan Elvano. Gerakannya lincah menggoreng ayam yang sudah dibumbui dan memasak sop daging. Liona hanya diam, tak mungkin dia meminta Reynard membantunya memasak, toh pria itu pasti tak pernah masuk dapur.
Samar-samar terdengar tawa Felicia dari ruang tamu, penasaran Liona mengintip dari pintu dapur, dia melihat kedua bocah itu duduk di sofa dan berbisik sambil tertawa terbahak-bahak. Belum pernah Liona melihat putranya tertawa dan ceria seperti itu, ternyata kehadiran Felicia mampu merubah kepribadiannya.
Reynard sudah berdiri dibelakang Liona ikut memperhatikan kedua anak kecil itu. Saat Liona membalikkan badan, tubuhnya dan tubuh Reynard bersentuhan, kaget. Liona membeku ditempat, Reynard yang bertubuh tinggi menundukkan kepalanya menatap Liona yang juga tengah mendonggakan kepala. Saking gugupnya, Liona mendorong tubuh Reynard dan masuk ke dapur, membalikkan ayam goreng dan tertegun disana. Reynard hanya tersenyum.
‘Takkan semudah itu aku menyerah, Liona. Kamu sudah mencuri hati putriku, aku harus menikahimu secepatnya.’ gumamnya dalam hati lalu kembali duduk di kursi. Setelah semua makanan selesai dimasak, Liona hendak menghidangkan dimeja makan. Tangan Reynard lebih cepat mengambil piring dari tangan Liona dan meletakkan semua makanan diatas meja makan. Setelah semua terhidang, Liona dan Reynard memanggil kedua bocah bersamaan “Feli!
“Elvano!
Kedua bocah menoleh lalu berlari menuju meja makan.
Mereka duduk bersebelahan layaknya kakak dan adik. Masih saja berbisik-bisik entah apa yang mereka bisikkan dari tadi. Liona tersenyum melihat interaksi kedua bocah yang saling mengambil makanan, Felicia menyodorkan sendoknya kemuka Elvano yang menerima suapan dari Felicia. Ya, ampun mereka lucu sekali. “Enak kak?” tanya Felicia.
“Pastilah! Masakan mamaku memang paling enak loh.” jawab Elvano bangga.
__ADS_1
“Iya, Feli suka masakan mama enak.”
Elvano seperti tak merasa terganggu lagi mendengar Felicia memanggil Liona dengan panggilan ‘mama’.
Reynard pun mengakui dalam hatinya, masakan Liona enak sekali. Dia tersenyum menikmati makanannya ‘memang aku tak salah memilihmu, kamu pandai memasak.’ gumamnya dalam hati. Setelah selesai makan, kedua bocah kembali menghilang masuk ke kamar, terdengar suara tawa mereka. Saat Liona membalikkan badan, dia melihat Reynard menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, memperlihatkan lengan kekarnya. Liona menelan salivanya, dari belakang dia bisa sepuasnya memandang Reynard, pahatan tubuh yang indah. Bahu pria itu lebar dan dadanya bidang, bagian belakang jangan ditanya, montok berlekuk, bisa terlihat pinggang dan bagian perut pria itu rata berotot, pasti dia sering ngegym.
Liona hanyut dalam lamunannya hingga dia tak sadar, Reynard sudah berdiri tepat didepannya, tersenyum….ya pria itu tersenyum. Dia tahu jika Liona memandanginya sedari tadi saat dia mencuci piring. Pekerjaan yang tak pernah dia lakukan sebelumnya tapi hari ini Reynard mencuci piring. Jika Delvin melihatnya mencuci piring, pasti Delvin tak habis-habisnya bakal mengejek dan menggodanya.
“Apakah kamu sudah puas memandangku?” kata Reynard. Liona gugup, satu tangannya memegang dadanya yang berdebar kencang. “Apakah dadamu sesak? Tanya Reynard lagi, tapi kali ini tangannya sudah memegang tangan Liona yang memegang dadanya.
Wanita itu semakin salah tingkah, dia mendorong tubuh Reynard menjauh, bukannya menjauh tapi pria itu malah memeluk dan menekan tubuh Liona ke meja dapur. Mengunci tubuh wanita itu hingga tak bisa bergerak.
“A—aku mau ke kamar mandi. Iya….perutku sakit. Aku harus ke kamar mandi sekarang.” alasan yang sangat tepat karena Reynard langsung melepaskan pelukannya. Liona berlari masuk ke kamar mandi.
Sementara hujan diluar semakin deras, petir menyambar-yambar dan banyak pohon tumbang. Malam semakin larut, Reynard duduk di sofa menonton televisa, berita mengatakan bahwa hujan badai dan angin kencang melanda ibukota. Disarankan semua orang jangan keluar rumah karena beberapa wilayah diterjang banjir dan banyak pohon tumbang. Liona melirik jam didinding, sudah hampir jam sepuluh malam, dia mengunci pintu dan menutup tirai jendela. Meskipun dia enggan jika Reynard berada dirumahnya tapi tak mungkin dia meminta mereka untuk pulang sementara hujan sangat lebat.
“Sepertinya hujan makin deras dan angin kencang sekali. Sebaiknya kalian menginap---”
__ADS_1
“Ya. Kami akan menginap disini. Terimakasih atas tawaranmu, memang kami tak bisa pulang dengan cuaca seperti ini,” ujar Reynard memotong kalimat Liona. Siapa yang tak senang jika wanita yang disukainya menawarkan untuk menginap dirumahnya?
“Kalian bisa tidur dikamar Elvano. Biar aku kemas dulu ya.” kata Liona meninggalkan Reynard dan berjalan kelantai atas. Dia tak sadar jika Reynard mengekor dibelakangnya.
“Mama! Bolehkah kita tidur bersama malam ini?” tanya Felicia sambil mengerjapkan matanya saat melihat Liona masuk ke kamar Elvano.
“Hmmm…..Feli sayang mau tidur sama mama ya?”
“Iya. Kita semua tidur bersama, iyakan Kak El?” bertanya pada Elvano meminta persetujuan sambil memberi isyarat. Elvano menggangguk setuju, Liona mengeryitkan keningnya. Sejak kapan putraku menuruti anak kecil lain, pikirnya.
“Ya sudah, kalian ke kamar mama ya, kita tidur disana. Mama mau kemas tempat tidur Elvano biar papa Felicia bisa tidur disini.”
“No….no….no mama. Kita semua tidur dikamar mama. Tadi mama sudah setuju. Ayo, kita ke kamar mama.” Felicia dan Elvano menarik tangan Liona. Sementara Reynard tersenyum merasa jika kedua bocah itu mendukungnya, pasti mereka yang rencanakan ini, pikir Reynard. Didalam kamar Liona, tempat tidur berukuran besar memang mampu memuat keempat orang itu “Mama tidur sebelah sana, papa sebelah sini dan aku sama kak El tidur ditengah-tengah. Kita keluarga bahagia.” seru Felicia dengan mata berbinar.
“Feli, sayang. Dengar baik-baik ya, mama tidak bisa tidur satu ranjang sama papamu karena kami bukan suami istri. Kita bertiga saja tidur disini ya, biar papamu tidur dikamar Kak El.”
“Kalau begitu mama sama papa menikah saja! Okay? Jadi kita bisa tidur bersama setiap hari.”
__ADS_1
‘Arrggg…..kenapa sih bocah ini keras kepala sekali. Bagaimana mungkin aku dan Reynard tidur seranjang meskipun kedua bocah itu tidur ditengah. Apa kata dunia? Kacau sekali ini! Gadis kecil ini ternyata pintar sekali mengelabui dan berakting. Liona menatap Felicia, dia tak sanggup untuk memarahinya malah tanpa sadar Liona menggangguk setuju. Felicia bertepuk tanga dan tos dengan Elvano, mereka tertawa.