CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 117. PENOLAKAN


__ADS_3

Kemudian Davina tersenyum pada Luisa dan pergi ke dapur. Para pelayan juga meninggalkan pasangan itu untuk saling mengenal satu sama lain. Sekarang hanya ada reynard dan Luisa dirunag tamu yang luas. Satu menit berlalu…..dua menit berlalu…..lima menit berlalu…...tidak ada yang mengambil inisiatif untuk bebricara sampai sekarang.


Luisa yang merasa malu sedang memainkan ujung roknya dengan gugup dan kemudian perlahan mendekati Reynard. “Reynard….”


“Tuan!” teriak Reynard tak senang.


“Apa maksudmu?” tanya Luisa dengan bingung.


“Kau bisa memanggilku Tuan Reynard atau Tuan Wilfred.” jelasnya singkat.


Mulut Luisa melebar karena terkejut dan dia tercengang mendengar perintah Reynard. Tunggu dulu,’Apa yang sedang terjadi?’ Luisa merasa bingung, dia pikir Davina meneleponnya hari ini karena Reynard menyukainya setelah kencan buta mereka beberapa waktu lalu. Namun pria ini malah bersikap dingin padanya dan dia tidak tahu apa alasannya.


‘Apakah mungkin ini hanya karakternya?’ Luisa mulai bertanya-tanya dalam hati.Memikirkan kemungkinan ini, dia merasa lega. ‘Aku pernah mendengar berita bahwa Reynard tidak pernah jatuh cinta meskipun pada ibu Felicia dulu. Mereka menikah karena bisnis dan setelah kematian istrinya, dia tidak pernah bersama wanita lain. Mungkin karena sikapnya yang terlalu dingin membuat orang tidak berani mendekatinya. Baiklah, karena dia dingin dan mungkin tidak ramah, aku harus memulai pembicaraan.’


Setelah menemukan alasan mengapa Reynard bersikap dingin padanya, Luisa sedikit melunak. Wanita itu berdiri dan berjalan kearah Reynard untuk duduk disebelahnya. Namun saat Luisa berjalan kearahnya, tiba-tiba Reynard mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu. Tatapan mata Reynard dingin dan taja, Tatapan itu seperti pedang tajam yang membuat orang gemetar ketakutan begitu melihatnya.


Luisa langsung menahan diri untuk tidak menelan ludah. Dia sedikit ketakuran sekarang. Terintimidasi oleh tatapan tajam Reynard, dia mundur dua langkah dan duduk di sofa terdekat. Luisa berpikir untuk saat ini mungkin lebih baik menjaga jarak dengan pria itu. Setelah wanita itu duduk agak jauh, barulah Reynard menarik pandangannya.


Meskipun Davina telah menasihatinya untuk mengobrol dengan Luisa, dia malah sibuk dengan ponselnya. Reynard menggunakan aplikasi di ponselnya dan terlihat seolah-olah sedang menunggu pesan seseorang. Sudah tidak tahan dengan suasana canggung diantara mereka, Luisa memutuskan untuk memulai percakapan. “Apakah kau sedang menunggu pesan Tuan Reynard?”


Seolah tidak mendengar pertanyaan wanita itu, Reynard terus saja memainkan ponselnya. Luisa terdiam masih belum menyerah, dia melanjutkan. Karena tidak ingin diabaikan lagi dia mengangkat suaranya dan bertanya, “Apakah ini berkaitan dengan perusahaan? Hari ini adalah hari minggu tetapi kau masih fokus dengan urusan pekerjaan. Kau sangat mengesankan! Pasti sulit untuk menjalankan perusahaan sebesar Grup Wilfred sendirian.”


Reynard tetap diam. Sekarang Luisa benar-benar kehabisan topik pembicaraan. Sangat memalukan! Sikap diam Reynard membuatnya merasa sadar diri. ‘Kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Mereka yang mengundangkau untuk makan siang bersama tapi sepertinya dia tidak punya rencana untuk berbicara denganku,’ keluh Luisa dalam hatinya.

__ADS_1


Pada saat itu, Luisa merasakan dorongan besar untuk menangis karena merasa dipermalukan. Baiklag, mari kita coba sekali lagi. Mungkin dia akan berbicara denganku kali ini. “Tuan Reynard, apakah kau merasa haus?” Luisa menyerahkan seeglas air dan menambahkan, “Hari ini cuacanya sangat panas. Kau harus minum air agar tidak dehidrasi.”


Reynard masih tidak menjawab. Dia bahkan tidak repot-repot menatapnya sama sekali mengabaikan wanita yang duduk diseberangnya. Perasaan malu Luisa melanda dirinya lagi.


Wanita itu memutuskan untuk menunggu Reynard menerima gelas itu, beberapa menit telah berlalu dan lengan Luisa mulai terasa sakit namun Reynard masih mengabaikan dirinya.


Karena tidak tahan lagi dengan perlakukan yang dia teriman, akhirnya Luisa memutuskan untuk duduk disebelah Reynard, tubuhnya gemetar karena frustasi. Barulah Reynard bereaksi. Reynard langsung berdiri dari sofa dan menjauh darinya.


“Tuan Reynard….” Luisa hendak protes ketika dia tidak melanjutkan kalimatnya.


Reynard memasukkan ponsel kedalam saku dan berkata dengan dingin, “Pacarku akan marah jika aku terlalu dekat dengan wanita lain.”


Yah, itu adalah kalimat terpanjang yang Reynard ucapkan sejak pulang kerumah oarngtuanya hari ini. Kedengarannya sedikit aneh, tapi Luisa hampir menangis kegirangan. ‘Pria ini akhirnya mengatakan sesuatu padaku,’ serunya dalam hati. Luisa sangat senang ketika Reynard akhirnya bicara dengannya namun setelah menyadari apa yang baru saja dia katakan, senyum diwajah wanita itu menghilang sekejap.


“Iya, benar!”


Luisa langsung merasa bingung lagi. Jika Reynard sudah punya pacar, mengapa Davina mengundangnya untuk makan siang bersama? Tiba-tiba wajah wanita itu bersinar seolah mendapat pencerahan. “Tuan Reynard, maksudmu….” Luisa terdiam setelah melihat tatapan tajam pria itu.


“Aku...aku mengerti maksudmu. Terus terang aku sama sekali tidak keberatan. Setiap pria sukses sepertimu pasti memiliki beberapa orang wanita disekelilingnya. Jangan khawatir, Tuan Reynard. Aku tidak akan ikut campur dalam kehidupan pribadimu setelah kita menikah.”


Reynard kehilangan kata-kata, ‘Apakah wanita ini bodoh atau dia berpura-pura bodoh?’ pikirnya.


Dia baru saja mengatakan bahwa dia sudah punya pacar, Luisa malah menawarkan diri untuk menjadi pihak ketiga.Konyol sekali! Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Reynard berdiri dan pergi meninggalkan ruang tamu. Luisa tercengang lagi. ‘Apa yang dia maksud? Aku jadi bingung sekarang. Terus kenapa dia tiba-tiba pergi? Apakah performaku tadi tidak cukup baik? Apakah tadi aku mengatakan sesuatu yang salah?’

__ADS_1


Aku sudah sangat toleran saat dia bilang dia punya wanita simpanan! Apalagi yang dia inginkan dariku?


Sementara itu ditaman belakang. Delvin dan Felicia sedang bermain ayunan dengan gembiria. Gadis kecil itu duduk dikursi ayunan sementara Delvin mendorongnya dari belakang. “Lebih tinggi paman! Lebih tinggi lagi!” Felicia meminta sambil tertawa lepas.


“Tidak boleh. Nanti kau bisa jatuh.” Delvin memperingatkan keponakannya.


“Baiklah paman!” Felicia kebetulan melihat ayahnya berjalan mendekati mereka, dia langsung memanggil. “Papa!”


Delvin dengan cepat menghentikan ayunan agar Felicia bisa turun.Gadis kecil itu bergegas berlari ke ayahnya dan memeluk paha ayahnhya dengan tangannya yang gemuk.


“Papa, peluk aku sekarang!” dia meminta dengan senyum manis. Reynard tersenyum dan mengendong putrinya sesuai keingina gadis kecil itu. “Ayo kita pulang.” katanya lembut pada Felicia.


“Pulang kerumah?” tanya felicia dengan heran.


“Kenapa? Apakah kau tidak mau pulang?” tanya Reynard.


“Tentu saja aku mau!” Felicia melingkarkan lengannya dileher ayahnya. “Ayo pergi papa. Ayo cepat pergi! Kita bisa makan siang dengan mama Liona jika kita kembali sekarang. Huh! Nenek jahat sekali. Tadi nenek memarahiku karena wanita jahat itu. Aku marah sekarang! Aku tidak akan berbicara dengan nenek lagi!”


Dengan gadis kecil itu dipelukannya, Reynard berjalan menuju gerbang. Dibelakang mereka Delvin bergegas mengejar, “Apakah kakak akan benar-benar pergi?” dia bertanya dengan tidak percaya dengan sikap kakaknya.


“Kau bisa tinggal disini jika kau tidak ingin pergi,” jawab Reynard.


“Tidak, tidak, tidak! Aku ingin pergi bersama kakak!” kata Delvin. ‘Apakah kakak sedang bercanda? Jika ibu mengetahui kalian berdua pergi, aku yang akan disalahkan lagi. Aku tidak cukup bodoh untuk tinggal disini seorang diri,’ omel Delvin didalam hati.

__ADS_1


Takut Davina akan menemukan mereka, dia mengikuti Reynard dengan cepat karena takut ditinggal sendirian. Tidak lama kemudian mereka tiba ditempat parkir. Tapi, tiba-tiba saja Davina memandangi mereka dari arah belakang dengan tergesa-gesa menghentikan mereka. “Berhenti kalian! Reynard! Aku bilang berhenti!”


__ADS_2