CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 53. AWAL YANG BAIK


__ADS_3

“Mengapa? Apa kau tidak berpikir untuk mencari ibu untuk Felicia?” tanya Liona masih dengan mata terpejam. Alih-alih membantu Reynard dengan insomnia, malah dia yang mulai terpejam. Perlahan rasa kantuk membuatnya hampir terlelap.


“Aku sudah menemukan seseorang yang bisa berbagi dan menghabiskan seluruh hidupku bersamanya.” Begitu Reynard selesai dengan kalimatnya, Liona membuka matanya menatap Reynard.  Dia tidak bisa bicara, dia merasa kacau dengan perasaannya. ‘Apakah Reynard bicara tentang diriku? Apa mungkin? Aku tidak mau kegeeran.’


Sejak beberapa hari lalu, dengan jelas Reynard mengutarakan isi hatinya pada Liona. Apakah aku bermimpi jika aku jadi wanita pilihannya? Dia berasal dari keluarga kaya raya. Jantungnya berdebar dengan kencang. ‘Sebenarnya kencan buta itu menyenangkan loh.  Mungkin kamu bisa coba lagi. Dengan cara kencan maka wanita dan pria bisa tahu jika mereka cocok satu sama lain.  Kamu tidak bisa muda lagi, jangan sia-siakan waktumu.”


“Apakah kau keberatan karena aku lebih tua?”


“Tidak! Tidak tidak. Maksudku umurmu tigapuluh tahun, umur terbaik bagi seorang pria untuk menikah.  Usia mapan bagi pria, tidak ada salahnya jika kau mulai mencari pendamping lagi dan mencoba kencan.”


“Aku akan mencoba. Kencan denganmu, hanya denganmu.” kata Reynard lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Liona.  Sentuhan lembut Reynard membuat tubuh Liona bergetar hebat, dia tak tahu harus berbuat apa.  Reynard kembali menciumnya, awalnya lembut, berubah menjadi ******* saling membalas, tangan mereka saling memeluk.  Udara dingin dari ac dikamar itupun berubah menjadi panas. Ciuman liar dan saling membalas hingga keduanya kehabisan napas.  Wajah wanita itu pun merona merah, Reynard tersenyum bahagia bisa menghabiskan waktu bersama wanita yang dicintainya.


“Maaf, aku sudah lancang.”


“No, it’s okay.” kata Liona malu. ‘Ya, ampun. Dia benar-benar membuatku hilang akal.


“Kau tampan sekali, jika kau artis seperti Miko, kau pasti jadi idola para wanita.  Miko masih kalah jauh darimu, kau benar-benar tampan.”


“Apakah kau sedang menggodaku, Liona Gantari?” tanya Reynard tersenyum.


Reynard mencium bibir Liona kembali, kali ini lebih instens. Liona membalas memasukkan lidah dan bertukar saliva, keduanya tenggelam dalam hangatnya pelukan. Tanpa sadar Reynard menggigit bibir bawah Liona. Tangan wanita itu melingkar dileher Reynard seakan tak ingin melepaskannya. Liona sudah jatuh cinta tapi dia enggan mengakuinya.


Tangan Reynard berpindah menyentuh dua benda kenyal dan meremasnya.  Liona mendesah dan mengurai bibirnya, wajahnya menengadah memperlihatkan leher jenjangnya.  Reynard mengecup leher itu sambil berbisik “Apakah aku cocok jadi suamimu?”

__ADS_1


“Ahh….Reynard! Tentu saja. Kau adalah tipe suami idola semua wanita.”


“Bagaimana denganmu?” tanya Liona sambil mendesah akibat kecupan dan sentuhan Reynard yang menghanyutkannya.


“Aku? Kenapa denganku?” tanya Liona.


“Apakah kau mau menjadi istriku? Maukah kau menikah denganku?”


“Hmm…..ahhh…i—iya.”


“Iya, apa maksudnya?”


“Reynard…..” desahnya sambil menggeliatkan tubuh. “A—ku mau.”


“Aku akan menikahimu secepatnya, Liona.” Reynard membuka kancing piyama Liona dan memperlihatan gundukan montok yang menggoda, membuat Reynard langsung menarik bra penyangga dan mengulum puncak berwarna merah muda itu.  Lengking ******* Liona terdengar, tangannya menekan kepala Reynard semakin terbenam didadanya.  Sensasi dari bibir tebal dan lidahnya yang bermain-main melambungkan Liona. Tubuh Reynard menindih Liona yang pasrah. Reynard meninggalkan bekas merah tanda kepemilikan di leher. “Rey! Aku belum pernah melakukannya.”


Mendengar ucapan Liona, wajah Reynard tersentak kaget. “Apa maksudmu?”


“A---aku masih perawan Rey.”


“Bagaimana bisa? Lalu kenapa kamu bisa hamil dan punya anak?”tanya Reynard heran.


“Jangankan hamil, berhubungan badan saja belum pernah. Sebenarnya Elvano bukan anakku, aku mengadopsinya. Kamu lelaki pertama yang mencium dan menyentuhku.” kata Liona jujur membuat Reynard tersenyum penuh arti.

__ADS_1


“Elvano sama sekali tidak tahu jika aku bukan ibu kandungnya. Aku tidak mau dia sedih, aku sangat menyayanginya.  Dia adalah penyemangat hidupku.”


“Tidak masalah. Terimakasih sudah jujur padaku. Aku sangat senang.” kata Reynard.


Pendingin udara di kamar itu seakan tidak berfungsi, karena seketika berubah panas.  Reynard dan Liona masih dalam posisi yang sama. Masih saling memandang dengan tatapan lembut penuh gairah.  Liona memejamkan mata, dia tak ingin Reynard melihat bahwa dia sudah jatuh cinta berat padanya.


“Liona, jika kamu tidak menginginkannya, katakan padaku.” Reynard khawatir jika Liona akan marah keesokan harinya.


“Ehmm….” lenguhannya terdengar seiring dengan gerakan pinggulnya.  Tahu jika Liona tak menolak, Reynard merespon dan mulai menggerakkan tubuhnya, gerakan perlahan di awal berubah menjadi liar dan cepat. Lenguhan-lenguhan terdengar dari bibir keduanya yang sudah kehilangan kewarasan.  Kecupan-kecupan Reynard melambungkannya tapi Reynard tak mau melewati batasan, dia ingin melakukannya saat dia sudah menikahi Liona. Saat ini hanya sebatas ciuman saja.


Keduanya melenguh bersamaan, dengan napas terengah-engah keduanya mengatur napas. Reynard mengecup kening Liona “Terimakasih, sayang.” lalu berbaring disamping Liona dengan memiringkan tubuhnya.  Tangannya menarik tubuh wanita itu untuk merapat.  Tangannya memeluk Liona, sedangkan kepala Liona terbenam kedada bidang yang berotot itu.  Keduanya pun tertidur pulas hingga pagi.


Suara ketukan di pintu tak ada sahutan dari dalam.  Ardana dan Delvin yang sejak semalam menunggu kabar jika Reynard sudah bisa tidur, pagi ini sudah berdiri didepan pintu kamar Reynard. Setelah mengetuk beberapa kali dan tak ada jawaban. Delvin membuka pintu, ternyata tidak terkunci.  Masuk perlahan kedalam kamar dan melihat dua orang itu tidur saling berpelukan.  Yang lebih mengejutkan mereka saat melihat tangan Liona memeluk Reynard.  Rasa penasaran membuat kedua pria itu mendekati ranjang dan melihat keduanya saling berpelukan. Wajah Liona berada didada Reynard.


Delvin menganga lalu menatap Ardana dan memberi isyarat agar segera keluar dari kamar itu secepatnya sebelum mereka terbangun.  Setelah menutup pintu kamar perlahan, Felicia sudah berdiri dengan berkacak pinggang. “Dimama papa? Apakah papa tidur?”


“Sssstttt…..jangan berisik. Papa sedang tidur.”


“Hah? Benarkah paman? Tidur bersama mama Liona?” bertanya dengan tangannya menangkup wajah, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Mata bulatnya berbinar bahagia. “Apakah papa akan menikahi mama Liona? Aku akan punya mama lagi?”


Delvin dan Ardana hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu yang menggemaskan. “Aku akan beritahu Kak El!  Horey….” teriaknya berlari menuju kamarnya.


Liona merasa ada sesuatu yang basah didadanya.  Matanya masih mengantuk dan enggan membukanya, sesuatu yang nikmat membuatnya terbayang kejadian semalam saat mereka berciuman. ‘Oh, Tidak. Aku sudah tidur dengan bosku, ujarnya dalam hati.’ Matanya langsung terbuka dan melihat Reynard yang sedang mengulum puncaknya sedangkan satu tangan satunya bermain-main dibagian dada satunya.  Liona memejamkan mata kembali dan mendesah.   Bibir Liona mulai melenguh saat Reynard melepaskan hisapannya dan beralih merampas lidahnya yang kelu. “Oh…..Rey. Aku mencintaimu.”

__ADS_1


__ADS_2