
“Kamu tidak salah dengar sayang. Tadi malam mobil ini dikirim kesini dengan menggunakan kargo udara. Aku membeli Bugatti Veyron ini khusus untukmu! Kamu suka kan kejutan dariku?” ucap Reinhard memegang kedua pundak Liona dengan menatapnya lembut. Liona merasa wajahnya ditampar dengan sangat keras.
Dia merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. “Kamu akan memberikan mobil ini kepadaku? Kenapa Rei? Mobil mahal sekali!” ucap Liona yang sadar betapa mahalnya hadiah yang didapatnya.
"Bukankah kamu menyukai mobil sport?" Reinhard bertanya karena dia menganggap adalah hal yang wajar untuk memberikan mobil semahal itu.
Liona tidak percaya dengan pendengarannya. Hanya karena dia suka balap mobil, Reinhard lagsung membelikan mobil semahal ini untuknya? Liona segera melepaskan tangannya dari mobil karena tidak ingin memperburuk keadaan.
"Rei, kamu pasti sedang bercanda bukan? Bagaimana jika aku bilang aku suka rumah mewah." Liona bertanya dengan nada tidak percaya. Sebelum dia bahkan bisa menyelesaikan kalimatnya Reinhard sudah memotongnya.
"Rumah yang mana yang kamu suka?"
Liona hanya berdiri disana menatap Reinhard dengan mata terbelalak. 'Apakah pria ini berniat memberitahu bahwa dia akan membelikan apapun yang aku mmau? Tidak peduli seberapa mahal harganya?' Liona merasa kewalahan sendiri, tidak mampu memikirkan sikap Reinhard padanya.
Mungkin ini hanya sebuah kegilaan sesaat, Liona sangat ingin memberitahu Reinhard bahwa sikapnya itu tidak segan mengeluarkan uang untuk membahagiakan dirinya adalah hal yang sangat manis. Tapi Liona kemudian tersadara.
Dia menelan ludahnya dengan keras dan mengalihkan pandangan dari mobil Buggati Veyron didepannya. Liona berbalik dan menatap mata Reinhard lalu berkata, "Hentikan usahamu! Aku bukan wanita materialistis! Kamu tidak bisa membeliku dengan....."
"Aku sedang tidak berusaha. Aku hanya ingin memberimu hadiah yang kamu suka. Itu saja!" jawab Reinhard.
'Apa dia bilang? Sikapnya manis sekali? Tapi sikap Reinhard yang tidak masuk akal ini harus diakhiri sekarang! Dia memberiku semua pakaian mewah, perhiasan dan lainnya. Sekarang dia memberiku mobil mewah lalu ingin memberi rumah mewah juga? Tidak.....aku tidak mau keluarganya kelak mengatakan sesuatu yang buruk tentang aku yang hanya menginginkan uangnya saja.' pikir Liona.
Dia menarik napas dalam-dalam lalu memalingkan wajahnya dan berkata dengan nada kaku, "Aku tidak menyukai mobil ini."
__ADS_1
Tampak Reinhard merenungkan kata-kata Liona sejenak. Kemudian dia mengangguk lalu menekan sebuah tombol dan pintu garasi tertutup. Liona mengucapkan selamat tinggal pada mobil impiannya didalam hati. Dia berusaha menahan rasa penyesalan yang dia mulai rasakan.
"Ikut aku." kata Reinhard saat mulai berjalan pergi.
"Kemana lagi? Aku tidak bisa ikut denganmu. Aku sudah punya rencana lain." sahut Liona.
"Tidak akan lama, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Aku janji tidak akan memakan banyak waktumu." Reinhard berbalik dan meraih tangan Liona.
Wanita itu hanya memandang wajah Reinhard dengan hati-hati, 'Bagaimana bisa aku menolak permintaan pria manis ini? Aku kan hanya puera-pura jual mahal saja?' bisik hatinya.
Tetapi sejujurnya Liona sangat gugup dengan apa yang ditunjukkan Reinhard sebelumnya. Jika mobil mewah itu hanyalah permulaan, apalagi yang bisa Reinhard lakukan untuknya?' Reinhard membawa Liona kembali kedalam vila. Begitu mereka melewati ambang pintu, Delvin segera menghampiri Liona.
"Liona! Kamu tahu tidak? Tadi malam kak Reinhard menyuruhku membeli mobil itu untukmu! Aku beritahu padamu ya, tidak semua orang memiliki kehormatan untuk mengatakan bahwa mereka adalah pemilik dari mobil berharga itu. Apakah kamu tahu berapa kali aku menelepon kak Reinhard untuk memberiku salah satu mobil yang ada di garasinya?" ujar Delvin ebrsemangat.
"Tapi begitu kakak mendengar kalau kamu menyukai mobil sport, dia segera memintaku untuk mencarikan sebuah mobil Bugatti Veyron terbaru untukmu!" kata Delvin menambahkan.
"Liona, aku mohon padamu. Tolong.....Tolong....aku. Setelah kamu bosan dengan mobil itu bolehkah aku meminjam selama beberapa hari saja? Aku janji tidak akan pernah meminta apapun darimu lagi. Hanya dua hari saja, oke?" Delvin melihat ekspresi wajah Liona.
Dia pun langsung menunduk terlihat seperti anak kecil yang baru saja dimarahi. "Oke....oke......satu hari juga tidak apa-apa. Hanya satu hari saja, oke?" dia kembali meminta pada Liona.
"Mobil itu milik Reinhard. Sebaiknya kamu meminta izinnya bukannya minta izinku." sahut Liona.
Delvin langsung menatap Liona dengan mata melebar karena tidak percaya.
__ADS_1
"Apa telingaku tidak salah dengar?" tanya Delvin. 'Apa dia benar-benar menolak hadiah dari kak Reinhard?' Delvin tidak pernah berpikir bahwa hal seperti ini akan terjadi. Dia memukul dadanya dengan sedikit kesal lalu berteriak.
"Liona! Apa kamu serius? Kamu benar-benar tidak menginginkan mobil Bugatti Veyron itu? Baiklah. Kamu ucapkan terima kasih saja pada kakakku! Terima mobil itu lalu jual padaku dengan harga bersahabat. Kita ini kan teman dekat, Liona."
"Delvin, diam!" suara Reinhard menggelegar membuat Delvin tersentak dan langsung diam. Dia pergi dengan tergesa-gesa sambil melihat kearah Reinhard dengan ekspresi kalah di wajahnya.
Reinhard meremas tangan Liona sebelum membawany keatas. Mereka memasuki ruangan yang belum pernah dimasuki Liona sebelumnya. Dia melihat keatas meja, memeriksa dokumen yang di dorong Reinhard kedepannya.
"Dokumen apa ini?" tanya Liona dengan tatapan kosong karena bingung.
"Ini adalah akta kepemilikian properti. Akta kepemilikan Bar milikku. Mulai sekarang, kamu adalah pemiliknya." ucap Reinhard menyodorkan semua dokumen itu kepada Liona yang terkejut dengan mata terbelalak.
'Ya Tuhan! Aku pasti sedang bermimpi ini!' tubuhnya bergetar dan dia segera mendorong dokumen itu kembali pada Reinhard dan berkata, "Tidak.....aku.....aku tidak bisa menerima semua ini."
"Tapi kamu suka sekali pergi ke bar bukan? Akan lebih bagus kalau kamu memiliki bar sendiri! Kamu bisa pergi kesana kapanpun kamu mau. Dan kamu tidak perlu takut jika seseorang mengganggumu. Setidaknya kamu akan lebih aman berada di bar milikmu." sahut Reinhard yang menolak menerima kembali dokumen itu.
Liona mulai bertanya-tanya apakah reinhard benar-benar sudah gila? Semua properti itu berada di lokasi strategi dan Liona tahu berapa nilai properti itu. "Dan kotak ini....." kata Lionamelihat sebuah kotak tepat dihadapannya. "Apa isi kotak ini Rei?"
"Kenapa kamu bertanya padaku? Buka saja sendiri supaya kamu tahu apa isinya."
Liona menatap Reinhard dengan curiga, tetapi dia menarik kota itu lebih dekat lalu membukanya. Didalam kotak ada sebuah pistol kecil. Kepala Liona langsung terangkat, "Apakah ini sebuah pistol? Pistol asli?"
"Ya, ini hanyalah sebuah psitol biasa. Senjata yang kamu gunakan sebelumnya terlalu mencolok. Pistol ini jauh lebih sulit untuk dilacak kembali padamu." jawab Reinhard dengan tenang menjelaskan.
__ADS_1
Melihat pistol dihadapannya, perasaan Liona jadi campur aduk, "Kamu semudah ini memberikan pistol padaku. Apakah kamu tidak khawatir jika aku melakukan sesuatu yang sangat buruk dengan pistol ini?"
Reinhard menatap Liona dengan tanpa ekspresi dan berkata, "Aku sangat mengenalmu dengan cukup baik. Aku percaya kalau kamu tidak akan menggunakan pistol itu kecuali saat dalam keadaan terdesak."