
Kini dia punya anggaran tak terbatas untuk membeli pakaian dan barang keperluan Felicia membuat Liona hampir tidak bisa mengendalikan dirinya. Percakapan mereka terdengar sangat menyenangkan. “Felicia apakah kau suka yang ini?”
“Iya iya…..aku suka mama.”
“Bagaimana dengan yang ini? Ini lucu sekali?” ujar Liona dengan mata berbinar. Belanja pakaian anak perempuan itu jauh lebih menyenangkan.
“Aku juga suka!” teriak Felicia antusias. Dia sangat menyukai semua pilihan Liona, ini pertama kalinya dia berbelanja bersama seorang wanita yang punya selera sama.
“Feli! Coba lihat jumpsuit ini! Aww….ini terbuat dari bulu, telinga kelinci ditudung ini sangat menggemaskan. Pakaian ini bisa berfungsi saat cuaca dingin sebagai piyama juga bisa.”
“Wah bahannya lembut. Aku suka baju ini cantik mama Liona!” kata Felicia sambil mengambil jumpsuit dari tangan Liona. Lalu dia menemukan baju yang sama warna biru dan mengulurkan pada Liona. “Mama Liona coba lihat ini! Kita bisa beli ini satu untuk kak El. Jadi kami punya pakaian yang sama.”
“Baiklah, sayang. Kalau itu yang kau inginkan.”
Akhirnya setelah memilih pakaian yang mereka suka, mereka membawa lebih dari sepuluh tas belanja. Delvin tampak terkejut lalu menggoda Reynard dengan suara rendah. “Kak, apakah kakak atau aku yang akan memberitahu mereka? Saat ini hingga bulan depan cuaca sangat panas, Felicia tidak bisa memakai semua pakaian itu bahkan jika dia harus berganti pakaian setiap dua jam.”
Tapi Reynard tidak menganggap ucapan Delvin itu lucu, dia malah melemparkan tatapan dingin pada Delvin. “Itu bukan urusanmu!”
‘Apakah adikku ini sangat bodoh? Untuk membujuk Liona mengambil kartu itu sangat sulit, aku tidak akan merusak moodnya. Aku malah senang melihatnya menghabiskan uang tanpa beban dan aku ingin melihatnya selalu seperti itu.’ gumamnya dalam hati.
Delvin menatap kakaknya dengan kesal, meskipun dia juga senang melihat hubungan kakaknya dan Liona menjadi jauh lebih baik tapi dia merasa iri melihat kakaknya yang royal pada Liona sedangkan pelit padanya.
__ADS_1
‘Apa-apaan ini? Apakah kakakku tidak sadar kalau dia sudah menghancurkan hatiku? Dia sangat kejam dan pilih kasih. Kakak lebih memilih Liona daripada adik kandungnya sendiri. Wanita itu malah memegang kartu hitam kakak, ini sangat menyakitkan! Aku bahkan belum pernah memegang kartu itu.’
‘Dulu aku memeras otakku setiap hari mencoba mencari cara agar kakakku bisa menghabiskan waktu bersama Liona sampai mereka bersatu seperti sekarang. Dasar kakak tidak tahu berterimakasih.’ pikir Delvin dengan wajah cemberut.
Reynard memutuskan bahwa jika mereka membawa tas sebanyak itu akan membuat mereka tidak nyaman lalu dia memberikan alamat rumahnya pada pelayan toko agar mengirimkan barang belanjaan mereka kerumahnya.
Setelah itu mereka pergi ke bagian pakaian pria dilantai lain. Meskipun di lantai itu semua adalah pakaian pria tapi kebanyakan yang berbelanja disana justru wanita. Liona belum pernah membeli pakaian pria sebelumnya jadi dia tidak terlalu tertarik. Selain itu dia sudah mulai merasa lapar setelah menghabiskan berjam-jam belanja. Jadi dia memutuskan agar mereka kembali ke rumah.
“Sekarang sudah malam. Apakah lebih baik kita pulang kerumah?”
“Tunggu dulu! Tidak mudah mengajakmu berbelanja, kenapa kau tidak membeli pakaian untuk dirimu juga?” kata Delvin santai.
Sebenarnya dia juga tidak memiliki banyak pakaian saat dia kembali ke negara ini tapi hari ini Reynard sudah membelikannya banyak pakaian baru, sekarang dia tidak kekurangan baju ataupun aksesoris lagi.
“Kalau begitu kau harus membantu kakakku memilih beberapa pakaian baru.” kata Delvin sambil memutar bola matanya. “Lemari kakakku penuh dengan pakaian warna hitam dan putih. Aku sudah muak melihat pakaian-pakaian itu. Kau memiliki selera yang bagus, pilihlah sesuatu yang berbeda untuk Kak Reynard.”
Liona menoleh kearah Reynard yang berdiri dibelakangnya, satu alisnya terangkat. Mata Reynard mengamati tubuh Liona dari atas ke bawah menyadari untuk pertamakalinya bahwa pakaian modernnya benar-benar berbenturan dengan pakaian formalnya yang kaku. Reynard pun tak menyalahkan pasangan muda tadi mengira dia adalah ayah Liona.
Setelah berpikir sejenak akhirnya Reynard pun menganggukkan kepala setuju.
“Oke aku mau jujur, sebenarnya aku belum pernah belanja pakaian pria dewasa sebelumnya. Jadi mungkin kau akan kurang suka dengan pilihanku untukmu.” kata Liona menjelaskan.
__ADS_1
‘Ah! Liona tidak pernah membeli pakaian untuk pria lain!’ gumam Delvin berusaha menutupi keterkejutannya tapi dia juga senang.
Mendengar ucapan Liona membuat Reynard bersemangat, dia mengangkat bahunya seolah-olah tidak peduli. “Jangan khawatir, apapun pilihanmu kau pasti suka, sayang.” godanya. “Kau bisa memilih apapun yang kau mau.”
Liona tersenyum mendengar godaan pria itu lalu mereka mulai keluar masuk toko pakaian pria dan Liona memeriksa setiap barang yang dia temukan dengan teliti.
Tak lama kemudian, Reynard mendapat panggilan telepon lalu dia berjalan menuju sudut yang tenang untuk menjawab telepon. Felicia mulai lelah dan duduk dibangku mengistirahatkan kakinya bersama Elvano yang tak pernah mau meninggalkan Felicia. Sedangkan Delvin lebih memilih untuk menemani kedua anak selagi Liona memilih pakaian untuk Reynard.
Saat Liona sedang melihat sekeliling dia melihat sebuah manekin yang mengenakan setelan jas double-breasted yang sangat bagus. Setelan itu terlihat mewah dan elegan, jas itu berwarna merah keunguan gelap sangat kontras dengan kemeja putih didalamnya. Sebuah garis kecil kemeja hanya terlihat dibawah lengan jas membuat pakaian itu terlihat berkelas namun tidak terlalu formal.
Pakaian ini cocok untuk Reynard! Liona langsung jatuh hati saat melihat setelan itu dan dia segera masuk kedalam toko untuk memeriksa setelan itu sebelum membelinya. Tapi sebelum dia sempat berbicara dengan asisten toko, dia mendengar suara wanita yang angkuh datang dari belakangnya.
“Nona, saya ingin setelan merah keunguan yang anda pajang dijendela. Ukuran 48 dan jangan lupa kemeja putih didalamnya juga.”
Liona merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya dan tak asing. Dia mulai punya firasat buruk tentang ini! Dan firasatnya benar, saat dia membalikkan badan Liona berhadapan dengan wajah yang dikenalnya.
Pada saat bersamaan Saskia yang ditemani oleh Vena melenggang masuk kedalam toko. Dia mengenakan setelan gaun Chanel dengan rambut berwarna kastanye keriting yang digerai dibahunya. Dengan kacamata hitam branded dan sepatu hak tinggi tiga inci membuatnya terlihat seperti seorang wanita kaya.
Vena berjalan disampingnya seperti seorang malaikat mengenakan gaun berwarna putih selutut, rambut hitam lurusnya tergerai alami membuat efek kontras dengan gaun putihnya.
Mereka memasuki toko sambil bergandengan tangan. Saat mereka sudah berada didalam toko, Saskia dengan angkuh melepas kacamatnya dan menatap tajam pada Liona.
__ADS_1