CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 65. AKAL BULUS FELICIA


__ADS_3

Ruangan itu hening seketika “Dokter bagaimana keadaan Felicia?” tanya Liona dengan wajah khawatir, sang dokter hanya membalas dengan senyuman. Dia baik-baik saja lalu berkata pelan “Felicia…..buka matamu. Nenekmu sudah tidak ada disini.”


Mata bocah itupun langsung terbuka dan mengedarkan pandangan kesekeliling. Seakan tahu, Liona pun berkata “Papa dan nenekmu ada diluar. Apa kau merasa sakit?” tanya Liona mengusap wajah Felicia.


“Mama…..aku baik-baik saja. Aku tadi pura-pura pingsan, supaya nenek berhenti marah.” ujarnya terkikik.


“Dasar gendut! Kau selalu saja membohongi semua orang.” ujar Elvano "Jangan pernah pakai akal bulusmu lagi."


“Kakak berhenti mengataiku gendut! Aku adikmu yang pintar. Kalau aku tidak pingsan pasti nenek masih memarahi mama.”


“Felicia, lain kali tidak boleh berbuat begitu ya. Mama khawatir dan takut.”


“Maafkan Feli ya mama. Om dokter pasti tahu kalau Feli cuma pura-pura.”


“Pasti! Felicia adalah pasien om dokter yang paling banyak akal bulusnya.” balas si dokter.


“Om dokter, nanti bilang sama nenek kalau Feli harus istirahat dan tidak boleh stress ya.”


“Hahahaha…..kau ini sudah seperti orang dewasa saja.” kata dokter itu tersenyum.


“Nenek jahat! Dia marah sama mamaku, plisss om dokter bilang sama nenek ya. Aku sayang sama mama, tapi nenek selalu bilang mama jahat."


“Baiklah…..baiklah…...sekarang Feli istirahat ya.”


“Oke! Terimakasih om dokter.”


Dokter itu memandang Liona tak berkedip, sebagai teman Reynard dia sangat mengenal baik pria itu yang sulit dekat dengan wanita sejak kematian istrinya. Dokter bernama Haikal itupun memperhatikan interaksi antara Liona dan Felicia yang layaknya seorang ibu dan putrinya. ‘Hmmm menarik juga wanita pilihan Reynard. Wanita ini terlihat baik dan sangat cantik, kenapa ibunya Reynard tidak menyukainya?” pikirnya.


Reynard masuk kembali kedalam ruangan sendirinya, entah kemana perginya ibunya sekarang setelah bertengkar hebat. “Bagaimana kondisi putriku?”


“Dia baik-baik saja. Tak kusangka putrimu ternyata seekor rubah yang licik, dia hanya pura-pura pingsan supaya mamamu berhenti memarahi Liona.”

__ADS_1


“Hem…..apakah itu benar Feli? Papa tidak pernah mengajarkanmu berbohong.”


“Maaf papa. Nenek jahat, dia memarahi mama dan membentakku.” Bocah itu mengerucutkan bibirnya. “Tadi nenek mau memukul mama Liona. Feli akan selalu membela mama, tidak boleh ada yang menyakiti mamaku.”


“Tapi tidak boleh memukul orang tua. Dia itu nenekmu, dia sangat menyayangimu selama ini, bukan?” ujar Reynard duduk disebelah Liona. Felicia yang duduk dipangkuan Liona hanya mendengus kesal.


“Biar saja! Tadi nenek mengusir mama dan Kak El. Nenek bicara jahat sama mama.”


“Sepertinya kau harus bicara dengan mamamu, Rey. Bagaimanapun Liona adalah tunanganmu, jika hari ini mamamu menyakitinya di kantormu, kau masih bisa menolongnya. Tapi bagaimana jika mereka bertemu diluar?”


“Ya, kau ada benarnya juga. Aku akan segera bicara dengan mama dan papa. Kalau perlu pernikahan kami akan ku percepat.”


“Hahaha…..wah wah….sepertinya kau sudah tidak sabar lagi sobat. Baiklah, aku pamit dulu.”


Kini hanya mereka bertiga diruangan itu, Reynard membelai punggung Liona “Maafkan mama ya. Tolong jangan dimasukkan ke hati ucapannya tadi.”


“Tidak apa-apa Rey. Aku hanya tidak suka saat dia membentak Felicia.”


“Horee…...horeeee…...” teriak kedua bocah bersemangat. Ketiganya pun berangkat ke mall, seesampainya disana Felicia dan Elvano menunjuk ke restoran Italia.


“Papa, aku mau pizza!”


“Elvano mau pizza juga atau mau makan yang lain?”


“Aku ikut Felicia saja. Adikku mau makan pizza katanya.” Elvano selalu mengalah pada Felicia, dia merasa Felicia itu adalah adikknya dan dia akan selalu menyenangkan hatinya.


“Baiklah, ayo kita makan pizza, setelah itu kita ke area ice skating.”


Sisa hari itu mereka habiskan bersenang-senang di mall, layaknya keluarga kecil yang bahagia. Bermain ice skating, Reynard yang berpasangan dengan Liona mengundang tatapan iri banyak orang.Keduanya tampak lincah bermain diatas es.


Pandangan orang-orang yang menatap iri, terutama wajah Liona yang sudah tak asing lagi membuat banyak orang yang minta foto bersama. Felicia yang tak mau ketinggalan selalu ikut berfoto juga. Dalam waktu singkat semua fans Liona menyukai Felicia yang cantik dan menggemaskan.  Berbeda dengan Elvano yang duduk bersama Reynard menunggu. Ekspresi kedua pria beda usia itupun sama, layaknya ayah dan anak. Para pengawal berjaga-jaga disekitaran mereka.

__ADS_1


...*****...


Keesokan harinya Liona kembali syuting, Reynard berangkat sendirian lebih awal karena dia ada janji bertemu klien dari Jepang. Setelah mengantar Elvano dan Felicia ke kantor, supir pun mengantarkan Liona ke lokasi syuting.  Hari ini schedulenya padat sampai sore hari, dia takkan bisa menjemput anak-anak ke sekolah.  Saat masuk ke dalam gedung, dia langsung berjalan kearah ruang ganti. Namun ditengah jalan Seth menghadangnya dengan tatapan tajam.


Sambil bertepuk tangan Seth berkata “Hebat! Kau masih berani iktu syuting ya!”


Liona meengacuhkan dan berjalan menghindari Seth, merasa diacuhkan pria itu semakin marah. “Apakah kau sudah bisu sekarang? Katakan berapa hargamu, aku akan bayar dan tinggalkan negara ini. Pergi sejauh mungkin seperti yang kau lakukan dulu. Jangan ganggu aku dan Vena.”


“Huh….” Liona mendengus. Seth mengikuti wanita itu , saat sampai diruang ganti khusus untuk Liona lengannya dicengkeram kuat. Seth menariknya kuat hingga Liona hampir jatuh, dengan cepat Seth menarik tubuh Liona dan menekannya ke dinding.


“Minggir! Apa maumu bajingan?”


“Jauhi Vena dan pergi jauh dari sini! Atau kau akan menyesal.” tubuh Seth semakin menekan Liona ke dinding membuatnya sulit melepaskan diri.


“Hahaha…..dasar pengecut! Dari dulu kau hanya tahu mengancamku, apa sebegitu takutnya kalian dengan kehadiranku? Takut kalau perbuatan busuk kalian terbongkar?”


“Liona!” Seth mencoba mencium Liona, wangi tubuh wanita itu membuat pikirannya tak tenang, jauh didalam hatinya dia masih ada rasa tapi kebencian lebih besar.


Bukkkk!


Sebuah tangan kekar menarik Seth dan melayangkan pukulan ke wajahnya. Seth yang marah ingin memukul balik namun tangannya tergantung diudara saat melihat pria yang memukulnya adalah salah seorang pengawal kepercayaan pamannya.


“Kau….! Apa-apaan kau? Berani sekali kau memukulku, kau tahu siapa aku, ha?”


“Tuan Seth….sebaiknya anda berhenti mengganggu Nona Liona. Saya ditugaskan oleh Tuan Besar untuk menjaga Nona Liona.”


Dengan wajah kesal Seth pergi sambil mengepalkan tangan. “Nona, apa anda terluka?”


“Terimakasih sudah membantuku. Aku baik-baik saja, kenapa kau bisa ada disini?”


“Saya ingin menyampaikan pesan dari Tuan Besar. Nanti siang akan ada pelayan yang akan mengantarkan makanan untuk Nona, Nona Muda dan Tuan Muda juga ada yang menjaga disekolah jadi anda tidak perlu khawatir. Tuan Besar bilang dia mungkin pulang agak telat.”

__ADS_1


“Oh begitu. Baiklah, terimakasih ya.” ucap Liona. Pengawal itupun pergi setelah Liona masuk kedalam ruang ganti. Tak lama penata riasnya datang bersama beberapa orang yang membawakan kostum untuk syuting hari ini.


__ADS_2