
Laki-laki aneh dan ini pertama kalinya Liona dilamar oleh seorang pria. Apalagi pria itu sangat tampan dan kaya raya. Tangannya menyentuh kepalanya yang kembali berdenyut sakit. Felicia masih kecil dan dia tak tahu apa yang diucapkannya dan apa yang dimintanya. Bukankah permintaan gadis kecil itu sangat konyol? Tapi bagaimana bisa ayahnya malah menyetujui permintaan putrinya. Konyol sekali mereka ini.
Mereka tidak kenal sama sekali tapi dengan mudahnya pria itu meminta untuk menikahinya. Apakah karena wajah Liona yang cantik? Ayah dan anak sama saja konyolnya, sama-sama keras kepala dan suka memaksa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Pria itu memang tipe yang disukai Liona, wajah tampan, tubuh kekar berotot, kulitnya putih bersih dan terawat tapi aura pria itu sangat kuat membuat Liona takut.
“Tuan..”
“Reynard Wilfred. Panggil saja Reynard.”
“Uh...apa?”
“Namaku Reynard Wilfred. Jangan panggil tuan, cukup panggil Reynard saja. Atau kamu boleh panggil ‘sayang’ kalau mau.” ucapanya membuat Delvin dan Liona membelalakkan mata mendengar ucapan konyol pria itu.
“Tunggu! Kakak bilang apa barusan ‘sayang?” ulang Delvin untuk menyakinkan.
Liona menjadi kikuk dan malu sampai wajahnya merona merah. Melihat itu Reynard tersenyum puas, itu berarti wanita itu juga menyukaiku pikirnya.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Liona. Mau bilang apa coba? Masa baru kenal sudah disuruh panggil ‘Sayang?’ Pasti kaget, iyakan? Delvin yang menyadari situasi kikuk itu langsung menimpali “Panggil Reynard saja pada kakakku, jangan sungkan, ya.”
“Ba—baiklah.” jawab Liona menundukkan wajahnya.
__ADS_1
“Panggil saja ‘Sayang”. Kurasa kamu harus mulai membiasakan diri, jika kita menikah sudah tidak canggung lagi,” ujar Reynard lagi. ‘Apa-apaan ini? Sejak kapan kakakku jadi pria penggoda seperti ini? Ya ampun Kak Reynard, kumohon jangan permalukan dirimu. Sikapmu itu malah membuat nona Liona akan lari ketakutan mengira kamu itu pria mesum.’ monolog Delvin dalam hatinya. Tanpa sadar dia malah menepuk jidatnya sendiri. Delvin memperhatikan bagaimana kakaknya berinteraksi dengan Liona, meskipun terlihat canggung tapi dia bisa melihat jika keduanya ada ketertarikan.
Liona menekan pelipisnya “Tolong jangan bercanda Tuan Reynard. Aku ini bukan siapa-siapa hanya seorang aktris yang baru meniti karir di kota ini. Kita juga baru saling kenal, rasanya aneh jika aku harus memanggilmu seperti itu. Bukankah itu terdengar seperti panggilan seorang kekasih?” ucap Liona “Rasanya aku tak pantas bersamamu. Kamu adalah pria kaya dan berkuasa pasti banyak wanita mengejarmu. Jujur, aku tak berani menjalin hubungan romantis denganmu.”
Reynard terlihat cemberut tapi dia masih tak mau kalah “Pantas atau tak pantas bukan kamu yang memutuskannya. Aku yang tahu siapa yang pantas menjadi kekasihku. Aku rasa kamu cukup pantas bahkan sangat pantas untuk itu. Putriku juga menyukaimu, iyakan sayang?” ucapnya melirik Felicia seolah meminta dukungan putrinya.
“Betul Papa! Tante cantik pantas jadi mamaku! Aku cuma mau tante cantik, aku tidak mau wanita lain jadi mamaku….pleaseeee tante. Terima papa ya?” ucapnya lagi-lagi dengan akting wajah memelas. Ya, ampun bagaimana bisa menolak gadis kecil itu dengan wajah menggemaskannya. Saat Liona hendak mengucapkan sesuatu tiba-tiba pintu kamar terbuka dan sesosok kecil bergegas lari kedalam ruangan “Mama!”
“Elvano, sayang.”
Liona merentangkan tangan tapi bocah laki-laki itu menghentikan langkahnya saat melihat kepala ibunya dibalut perban “Apa yang terjadi pada mama? Apakah mama merasa sakit sekali?”
“Mama sudah sedikit membaik, sudah tidak sakit lagi karena kamu ada disini.”
Elvano menghela napas dalam-dalam dan menyadari jika ada orang lain diruangan itu. Dia menatap Reynard tajam “Oh….ternyata kamu orangnya.” kata Elvano ketus.
Reynard terkejut mendengar ucapan bocah laki-laki itu yang terdengar dingin. Reynard merasa seperti mendengar dirinya yang berucap. Ekspresi wajahnya sontak berubah, tapi dia hanya menatap lembut Elvano tanpa merasa marah atas sikap bocah itu. Bocah laki-laki itu tampan sekali...tunggu dulu….kenapa bocah ini seperti tak asing? Dimana aku pernah melihatnya? Wajah tampannya tapi tatapannya dingin, sikapnya menggemaskan. Reynard menyukai Elvano.
“Apakah kamu mengenalku? Kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Aku sering melihat Tuan di majalah dan diberita.” jawab Elvano.
__ADS_1
Reynard mengangkat alisnya saat mendengar cara bocah itu bicara, tegas dan dingin. Hiro yang juga berada disana mengamati situasi diruangan itu. “Hai Reynard! Delvin! Bagaimana kabar kalian?”sapanya. “Bukankah ini suatu kebetulan? Ternyata gadis kecil yang diselamatkan Liona adalah Felicia. Ini sebuah pertanda!” ucapnya tak sadar.
Liona menganga “Ja----jadi kalian ini saling kenal?”
“Iya. Kami berteman baik sejak dulu. Kami berteman dari kecil, lebih tepatnya kami tumbuh bersama.” Hiro berjalan kesmaping tempat tidur lalu menuangkan teh hangat untuk Liona. “Bagaimana keadaanmu, apakah kamu sudah merasa baikan?”
“Aku sudah lebih baik sekarang. Kepalakku tidak sesakit tadi.”
“Baguslah. Beristirahatlah dan jangan pikirkan soal syuting karena sutradara tadi memberitahuku jika dia memberimu cuti seminggu. Kamu boleh kembali syuting saat kondisimu sudah benar-benar pulih. Jadi gunakan waktumu untuk beristirahat.” kata Hiro panjang lebar menjelaskan lalu menyodorkan teh hangat pada Liona.
Delvin hanya terdiam, matanya bolak balik memandang Liona dan bocah laki-laki yang baru menerobos masuk itu. Berbagai pikiran muncul di benaknya setelah melihat bocah itu, apakah dia putra Liona? Itu berarti Liona sudah pernah menikah, lalu apa yang terjadi? Dimana suaminya? Berarti Liona seorang janda anak satu dan kakakku duda anak satu. Pas sekali nasib mereka berdua, pikirnya. Delvin mendekatkan dirinya ke Hiro dan berbisik pelan “Hiro! Apakah bocah laki-laki itu adalah putra dari Nona Liona?”
Sebenarnya Delvin ragu jika Liona sudah menikah karena kalau dilihat dia seperti masih berusia dua puluh tahun. Jika bocah laki-laki ini adalah putra Liona, lantas umur berapa Liona saat menikah dan melahirkan bocah laki-laki itu? Masa iya sih dia menikah di usia belia dan melahirkan anak? Terlebih sekarang kakaknya menyukai wanita itu dan ingin menikahinya. Delvin ingin memastikan status Liona yang sesungguhnya, apakah dia bercerai atau gimana? Jika Liona sudah punya anak maka mungkin saja kehidupan cinta Reynard akan mati begitu saja. Bukankah single mother biasanya lebih cenderung enggan menikah lagi dan memilih hanya mengurus anak mereka? Wah….situasi ini semakin rumit dan sulit. Pasti Liona pun berpikiran yang sama.
“Hiro! Apakah anak ini adalah putramu dan Liona?” tanya Delvin tiba-tiba.
“Kamu gila ya? Mana mungkin dia putraku! Gimana ceritanya aku bisa punya anak seumuran Elvano, ha?”
“Benar juga sih. Kalau dilihat-lihat bocah laki-laki itu berusia empat tahunan dan kamu kembali ke tanah air empat tahun lalu.”
“Sudah! Sudah! Jangan berpikiran bodoh dan dangkal. Akan kuceritakan nanti semuanya.” sementara kedua bocah itupun mulai berinteraksi dan mengobrol.
__ADS_1