
‘Pria ini pasti bercanda kan? Apakah dia ingin mengatakan kalau dia akan mengubah dirinya untukku? Ah, seorang Reinhard Wilfred! Mana mungkin dia bisa melakukan itu untukku.’ Liona mengangkat kepalanya dan melihat ekspresi wajah Reinhard yang tampak serius. Ya Tuhan! Sepertinya dia memang serius kali ini! Kenapa dia terlihat lucu dengan wajah serius begitu?
Liona menundukkan kepalanya dan memutar otak untuk memikirkan kekurangan yang dimiliki oleh Reinhard. Anehnya dia tidak bisa menemukan kekurangan apapun dari pria itu.
Mungkin Reinhard biasanya tidak banyak bicara dan sedikit tegas. Hanya itu saja! Pria itu sama sekali tidak memiliki cacat, betapa tidak adilnya dunia ini bukan?
Beberapa menit berlalu dan Liona masih belum bisa menemukan cara yang dapat dia gunakan untuk melawan Reinhard. “Ayo, jangan segan-segan Liona! Katakan saja padaku.” desak Reinhard.
Liona masih bingung bagaimana harus menjawabnya. Tiba-tiba wajahnya memutih seputih kain kafan seolah-olah dia menyadari sesuatu yang sangat penting.
Ada pepatah yang mengatakan, “Cinta membutakan manusia dari ketidaksempurnaan yang ada.”
Apakah mungkin dia memang jatuh cinta pada pria itu? Apakah itu alasannya mengapa dia tidak pernah bisa menemukan kekurangan pria itu? Memikirkan kemungkinan ini membuat Liona berbalik dan berlari menuju kerumah.
“Oh iya, aku baru ingat ada hal penting yang harus kulakukan. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa nanti!”
Liona berlari menuju kerumah dan menutup pintu ruang kerja dengan keras. Reinhard tidak mengatakan sepatah katapun saat melihat wanita itu pergi. Namun bibirnya melengkung membentuk senyuman ketika Liona memilih untuk kabur.
“Liona….Liona….aku khawatir kamu tidak akan pernah bisa menyingkirkanku.” gumamnya pada dirinya sendiri.
Pukul sepuluh malam setelah menidurkan Elvano, dia pergi ke kamarnya untuk berdandan ketika dia keluar kebetulan Delvin melihatnya. Pria itu baru saja hendak masuk dari kamarnya, kadang dia menginap dirumah Reihard. Tadinya dia mau kembali ke villanya tapi mengingat disana hanya ada dia dan pelayan maka dia memutuskan tidur dirumah Reinhard.
Dia hampir tidak mengenali Liona. Liona mengenakan gaun perak berkilauan yang membalut erat tubuhnya dan sepatu hak tinggi berwarna perak yang berkilau. Riasan wajahnya juga sangat sempurna, Liona memoles wajahnya dengan smoky eye dan rambut hitamnya dikeriting lepas. Untuk melengkapi penampilannya, Liona membawa sebuah pouch warna hitam. Dia tampak seperti seorang ratu malam.
“Liona? Apakah itu kamu? Kamu mau kemana malam-malam begini?” Delvin bertanya tidak yakin melihat penampilan Liona seperti itu.
__ADS_1
“Eh, Delvin. Apa kamu tidak bisa mengenali diriku?” tanya Liona seraya tersenyum manis.
“Jika kamu bukan calon kakak iparku maka aku tidak akan pernah mengenalimu!” ujar Delvin menatap Liona yang tampak sangat cantik dan glamor. Riasan wajahnya spektakuler dan benar-benar mengubah keseluruhan penampilannya.
“Baguslah! Memang itu tujuanku.” sahut Liona mengangguk. Liona mengibaskan rambutnya dengan main-main dan dia terlihat sangat anggun. Dia berjalan dengan perlahan sambil menggoyangkan pinggulnya.
Tatapan matanya juga tampak memikat, sepertinya tidak akan ada pria yang bisa menolak pesonanya malam ini. Saat Delvin melihat penampilan Liona seperti itu, dia pun merasa bingung karena itu tidak terlihat seperti Liona.
Saat Liona sudah sampai di pintu, Delvin akhirnya tersentak dan segera berlari menyusulnya untuk mencegahnya pergi. “Liona, kamu mau kemana pergi malam-malam begini? Tidak aman bagi seorang wanita untuk keluar malam dengan pakaian seperti itu. Jika kamu masih ingin keluar, sebaiknya kamu ganti pakaianmu! Atau aku akan menemanimu supaya tidak ada yang mengganggumu.”
Sejujurnya itulah yang diinginkan Liona. “Delvin, ada hal yang harus kutangani! Hal yang sangat penting! Kamu tidak perlu khawatir dan jangan mengatakan apapun pada Reinhard. Aku bisa melindungi diriku sendiri.” Liona berusaha menyakinkan Delvin.
“Tapi Liona……”
“Apakah kamu tidak akan pulang malam ini?” Delvin bertanya dengan penuh kekhawatiran.
“Ehmmm…..mungkin aku tidak akan pulang.” jawab Liona dengan santainya yang membuat Delvin semakin bingung dan terkejut.
“Liona, kumohon jangan lakukan hal bodoh. Aku tahu dunia hiburan dan dunia malam itu seperti apa. Tetapi karirmu sedang berkembang sekarang dan aku yakin kamu bisa sukses dimasa depan dengan dukungan kakakku.
Kamu masih muda dan masih punya masa depan yang sangat cerah. Tolong, Liona jangan bertindak gegabah! Jangan sampai penilaian orang diluar sana tentang dirimu menjadi buruk!”
Liona terdiam saat mendengar perkataan Delvin. Dia memberikan isyarat dengan tangannya untuk meminta Delvin berhenti bicara. “Jangan salah sangka dulu!”
“Lalu kenapa kamu berpenampilan seperti ini?” Delvin bertanya menatap Liona serius.
__ADS_1
Liona sangat yakin jika Delvin tidak tahu alasannya dibalik sikapnya malam ini. Dia tidak akan membiarkannya keluar malam sendirian dan pasti akan mengikutinya meskipun Delvin tidak akan mengatakan apapun pada Reinhard.
Lalu Liona menyuruh Delvin untuk tidak mengatakan apapun setelah dia mengusirnya. Delvin dengan langkah lesu masuk kedalam kamarnya. Sementara itu, untuk beberapa alasan Liona tidak segera pergi setelah keluar diam-diam melalui pintu samping rumah itu. Tidak ada penjaga yang melihatnya menyelinap keluar melalui pintu gerbang kecil disamping rumah.
Sebaliknya Liona malah berjalan menuju ke pintu gerbang utama dan berjalan mondar mandir disana. Petugas keamanan di pos jaga melihat Liona dan langsung ketakutan.
Dia tidak mengenali wajah Liona yang bermake-up. Dia menyelinap masuk kedalam villa dan melaporkan pada pelayan dirumah itu. Delvin yang kebetulan saat itu sedang duduk diruang tengah sambil menonton TV.
“Tuan Delvin, diluar ada seorang wanita aneh. Apakah wanita itu mencari anda?”
“Apa katamu? Kenapa seorang wanita aneh datang mencariku dan bukan mencari kak Reinhard?”
Pelayan itu secara tidak sadar menyentuh hidungnya dan tersenyum canggung. Meskipun mengomel tapi Delvin langsung mematikan TV dan keluar menuju ke gerbang villa dengan penuh rasa ingin tahu. Dia mengenali wajah wanita aneh itu saat melihatnya sekilas.
Delvin tidak bisa menahan tawa didalam hatinya, wanita itu adalah Liona yang berpakaian seperti wanita penggoda. ‘Apa yang dilakukannya disini? Bukankah tadi katanya dia ada hal penting yang harus diurusnya? Kenapa dia malah berjalan mondar mandir didepan gerbang?’ celetuk hati Delvin. Dia menatap Liona yang mengayunkan pinggulnya secara sengaja ketika berjalan.
“Apa-apaan ini? Bukankah wanita itu Liona?” Delvin menggosok matanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Benar saja matanya memang tidak salah. Wanita itu memang Liona yang tadi sempat bicara padanya sebelum keluar rumah. Setelah menghela napas dalam-dalam, Delvin pun bergegas masuk kedalam villa dan berteriak.
“Kak Reinhard! Kak Reinhard! Kakak cepatlah keluar! Kalau kakak sampai terlambat maka Liona akan berselingkuh dengan pria lain!” teriak Delvin memprovokasi Reinhard. “Kak Reinhard! Cepatlah keluar! Jika kakak terlambat maka Liona akan berselingkuh dengan pria lain!”
Sementara itu di bar Skyclub, hiruk pikuk dunia malam baru saja dimulai.
Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh malam tetapi lampu disko yang menyilaukan mata, musik yang keras dan kegembiraan membuat semua orang bersemangat. Liona memilih untuk duduk diarea meja bar. Dia memegang segelas bloody mary sambil meminumnya tanpa sadar.
‘Sangat membosankan’ pikirnya sambil memutar bola matanya kearah sekelompok gadis.
__ADS_1