
“Saat itu aku tidak berpikir jernih.” ucapnya lirih.
“Kamu sedang tidak berpikir jernih atau kamu memang tidak berniat untuk memberitahuku?” Liona tak menjawab, dia memilih diam karena sebenarnya dia tidak pernah membiarkan orang lain untuk mengatasi masalah yang dia hadapi selama ini.
Ketika dia tinggal diluar negeri, dia sudah terbiasa hidup mandiri. Liona menghadapi semua masalah yang datang dan mencari solusi sendiri. Dia terbiasa mengandalkan dirinya sendiri dan kebiasaan seperti itu sulit untuk dihilangkan.
Apalagi tinggal di luar negeri tanpa ada seorang keluargapun. Liona terpaksa untu kuat dan harus busa melindungi dirinya.
Kesunyianpun memenuhi ruangan itu. Reynard orang pertama yang memecahkan keheningan.
Dia tidak tega untuk memarahi Liona saat melihat raut wajah wanita itu. Sambil menghela napas berat, Reynard berjalan ke sofa dimana Liona sedang duduk dengan menundukkan kepala. Reynard duduk disebelah Liona, memeluk tubuh wanita itu dan menatap wajahnya dengan tatapan matanya yang dalam.
“Lain kali, jika kamu ada masalah segera beritahu padaku. Aku ada untukmu kapanpun kamu membutuhkan aku. Jangan pernah menyelesaikan sendirian. Kamu paham?”
Liona mendongakkan wajahnya menatap Reynard dengan kaget. Dia telah mengungkapkan sisi tergelapnya hari ini dihadapan pria yang dia cintai ini.
Dia menunjukkan kepada semua orang bahwa dia pun bisa berbuat kejam untuk melindungi orang-orang yang dia cintai. Dia hampir membunuh beberapa orang pria. Liona sangat yakin Reynard akan merasa ketakutan atau bahkan jijik padanya. Tapi nyatanya, pria itu tidak ingin menjauh darinya. Reynard bahkan ingin membantunya dan berada disisinya.
“Apakah kamu tidak merasa takut padaku?” tanya Liona menatap Reynard. “Aku terlihat dan bertingkah seperti seekor binatang buas hari ini…..”
“Jadi kamu sadar kalau sikapmu menyeramkan?”
Liona tak menjawab, dia hanya menatap wajah pria itu dalam diam. Reynard menghela napas dan meletakkan rambut Liona ke belakang telinganya.
“Nanti aku akan membuang pisau itu. Kamu tidak boleh bermain dengan benda berbahaya seperti itu dimasa depan. Sekarang kamu sebaiknya bersiap-siap untuk istirahat. Pasti kamu lelah seharian ini iyakan?”
Liona tercengang lagi. Hanya itu reaksinya? Tidak ada rasa takut dan jijik? Reynard bahkan tidak mengusirnya pergi dari villa itu?
Sikap yang ditunjukkan Reynard sangat jauh berbeda dengan apa yang ada didalam pikiran Liona. Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah, “Reynard, apakah kamu tidak memiliki pertanyaan mengenai pisau itu?”
Reynard melirik Liona dengan sikap tenang dia pun bertanya, “Memangnya masih ada lagi rahasia lain yang harus kuketahui? Bukankah tadi kamu bilang ada seorang teman yang membelikan pisau itu untukmu?”
__ADS_1
“Oh….” Liona sedikit tergagap sebelum melanjutkan ucapannya, “Lalu kenapa kamu tidak bertanya tentang identitas temanku dan apa pekerjaan mereka atau semacamnya itu?”
“Kamu akan memberitahuku jika kamu memang ingin aku tahu dan saat kamu sudah siap menceritakannya padaku.” jawab Reynard dengan ringan.
Liona pun terdiam dan suasana kembali heing. Wanita itu menundukkan kepalanya dan menatap ke lantai. Dia merasa sangat ingin memberitahu Reynard tapi disaat yang sama dia merasa bingung bagaimana mengatakannya.
Reynard menepu bahunya dan berkata, “Sudahlah. Lupakan saja. Sekarang sebaiknya kita makan malam saja dulu. Pasti kamu lapar belum makan sejak tadi.”
Tapi Liona tidak bergerak dari tempatnya. Dengan kepala masih menunduk, Liona mulai bercerita dengan suara yang rendah.
“Aku bertemu dengan temanku saat tinggal di Hongkong.”
Reynard langsung menghentikan langkahnya karena terkejut saat Liona mulai memberikan penjelasan padanya. Ekspresi dingin di wajah pria itu sedikit mencari. “Liona, kamu tidak perlu memaksakan dirimu jika kamu belum siap untuk memberitahuku.”
“Aku ingin kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia membelikan pisau bedah itu karena dia ingin aku bisa melindungi diriku sendiri saat aku dalam bahaya.”
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Reynard.
Liona mengangkat kepalanya dan menatap Reynard, “Aku tahu sangat berbahaya jika aku menyimpannya dirumah. Tapi aku tidak akan menggunakan benda itu jika tidak diperlukan. Mungkin kamu berpikir ini adalah hal yang buruk, tapi temanku punya niat yang baik.”
Liona kembali menatap Reynar dengan ekspresi tidak berdaya diwajahnya. ‘Apa gunanya dia bertanya? Dia benar-benar ingin tahu temanku itu pria atau wanita?’
Melihat tatapan mata Reynard yang intens, sudut mulut Liona pun berkedut, “Ya, dia adalah teman laki-laki.” jawabnya dengan lirih.
Wajah Reynardpun langsung berubah suram dan urat-urat dikeningnya mulai bermunculan lagi. Pria itu mengatupkan rahangnya dan tampak agak kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Liona.
Dengan suara rendah dia pun bertanya, “Hubungan apa yang kamu miliki dengannya?”
“Ayo katakan padaku. Hubungan apa yang kamu miliki dengan pria itu?”
Sudut mulut Liona kembali berkedut, “Bukan itu inti permasalahannya.”
“Tapi itu hal penting untukku!” ucap Reynard agak marah karena cemburu.
Liona tidak menyangka sama sekali jika Reynard akan tetap bersikap keras kepala seperti itu.
__ADS_1
“Ceritanya panjang.” ucap Liona mengusap dahinya.
“Baiklah. Kamu bisa mulai bercerita karena aku punya banyak waktu.” kata Reynard yang penasaran. Dia menatap Liona dengan tajam menunggu wanita itu memulai penjelasannya.
‘Aihhh...sepertinya dia tidak akan mundur sampai aku memberinya penjelasan.’ pikir Liona.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya dengan suara lembut dia berkata, “Oke….pria itu adalah….bisa dibilang…..dia adalah mantan pacarku.”
Reynard langsung menggertakan giginya lalu bertanya, “Berapa banyak mantan pacar yang kamu miliki? Apakah kamu punya banyak mantan pacar?”
Seth adalah mantan pacarnya!
Miko adalah mantan pacarnya!
Sekarang ada satu lagi mantan pacar yang muncul entah darimana! Memangnya ada berapa banyak mantan pacar wanita ini?
Liona menatap tatapan tak percaya dari Reynard. Kenapa pria ini berbicara seolah-olah dia adalah seorang wanita yang membuat banyak pria patah hati?
“Di Hongkong hanya ada dua orang. Pria ini dan Miko. Sebenarnya kami bukanlah pasangan sungguhan. Semua itu hanya salah paham saja. Saat aku di Amerika, aku tidak memiliki pacar.”
Melihat wajah Reynard yang semakin dingin dan datar, Liona langsung menjelaskan lebih lanjut. Karena memang benar adanya kalau dia tidak memiliki pacar saat tinggal di Amerika. Setelah mengatakan semua itu, Liona merasakan penyesalan.
‘Kenapa aku memberikan penjelasan padanya? Kedengarannya seolah-olah aku sedang memberinya penjelasan. Padahal aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padanya.
Setelah mendengar penjelasan Liona, ekspresi wajah Reynard kembali lembut. Dia mengulurkan tangan dan memegang tangan Liona. Telapak tangan Reynard terasa kering dan hangat. Liona dipenuhi perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
“Ayo kita pergi.”
“Kemana?”
“Makan malam. Aku sudah meminta pelayan menyiapkan makanan untukmu.”
“Baiklah.”
__ADS_1