
“Mama ada disini! Yeay mama sudah pulang!” seru Elvano girang diikuti oleh Felicia.
“Ahhh! Mama Liona! Aku merindukanmu!” teriak Felicia kegirangan.
Kedua anak itu sedang duduk diruang tamu sambil bermain lego. Keduanya kegirangan melihat sosok Liona dan berlari penuh semangat menyambut wanita itu. Melihat kedua anak kecil yang menggemaskan menyambutnya, Liona segera berjongkok memeluk mereka. Perasaannya hangat saat memeluk El dan Feli.
“Kalian berdua nakal tidak saat mama tidak dirumah?” tanya Liona pada kedua bocil.
Dengan cepat gadis kecil itu menjawab.
“Tidak mama Liona. Aku selalu menurut sama Kak El.” ucapnya mencondongkan tubuh mencium kedua pipi Liona. Namun matanya membulat saat memandang wajah wanita itu. “Kenapa pipi mama Liona bengkak?” bertanya dengan cemberut.
“AH...ti---tidak apa-apa, sayang.”
“Tapi pipi mama Liona merah dan bengkak! Mama tidak baik-baik saja!” seru Felicia marah, dia berpikir pasti ada orang yang sudah menyakiti wanita yang dia panggil mama itu. “Apa yang terjadi? Ayo ceritakan padaku mama Liona? Siapa yang mengganggumu ditempat kerja?”
“Tidak sayang. Tidak ada yang mengganggu mama,”
Liona selalu tidak berdaya menjawab pertanyaan gadis kecil itu. Padahal dia sudah merias wajahnya agar memar itu tidak terlihat, namun Felicia cukup jeli.
“Mama Liona….”
Sebelum dia selesai dengan kalimatnya Elvano sudah menarik lengan baju Felicia dan menggelengkan kepala sambil menatap tajam. Felicia mendengarkan dan menuruti isyarat Elvano. Selalu begitu, Felicia tidak pernah menolak permintaan Elvano.
Felicia malah berlari ke dapur dan mengeluarkan botol air dingin dari kulkas lalu memberikannya pada Liona. “Mama Liona minum dulu airnya biar tenang,” ucapnya menyodorkan botol air minum itu.
“Apakah kalian sudah makan malam?”
“Belum makan.” ucap keduanya serempak.
“Baiklah. Mama akan memasak makan malam untuk kita. Kalian mau makan apa?”
“Terserah mama. Apapun yang mama Liona masak pasti enak. Aku akan memakan semuanya sampai habis! Seri Felicia dengan senyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya. ‘Aduh, Feli...kamu sangat menggemaskan sekali! Sama seperti papamu,’ gumamnya dalam hati tersenyum. Elvano adalah anak yang baik dan penurut. Tetapi dia berbeda dengan Felicia. Elvano tidak pandai berekspresi. Itu sebabnya setiap kali Felicia memujinya, Liona merasa tersanjung dan senang mendengar kata-kata manis itu. Meskipun dia sadar jika gadis kecil itu kadang melebih-lebihkan. Liona pun melangkah menuju dapur dan mulai memasak.
“Kak El, kenapa tadi menghentikanku?” tanya Feli dengan nada tajam saat Elvano menariknya ke sebuah ruangan. “Kak El, mama Liona pergi ke lokasi syuting hari ini, dan lihat wajahnya bengkak. Pasti ada orang yang menyakiti mama ku,” ujarnya,
__ADS_1
“Itu mamaku!” teriak Elvano.
“Mamaku juga, wek...” ejek Felicia menjulurkan lidahnya.
“Dia yang melahirkanku, makanya dia mamaku,”
“Aku menyayanginya dan Mama Liona menyayangiku, jadi dia mamaku,” balas Feli.
Anak laki-laki itu mendesah menatap Felicia sambil menggelengkan kepala. Gadis gendut ini menyusahkan saja. Kasihan juga sih dia tidak punya mama.
“Dengar ya Feli. Sampai kapanpun kamu bertanya, mama tidak akan menjawab.”
“Lantas apa yang kita lakukan? Aku tidak akan membiarkan orang itu memukul mama kesayanganku? Tidak ada yang boleh menyakiti mama Lionaku, aku pasti membalasnya.”
“Tidak! Kita tidak akan membiarkannya begitu saja.” kata Elvano.
‘Enak saja si gendut gembul ini berpikir kalau aku pengecut. Aku akan membela mama.” pikir Elvano dengan kesal. Mata Felicia mulai berkabut karena emosi dan sedih “Kakak punya rencana apa?”
Elvano melambaikan ponsel didepan wajah Felicia “Hah? Itu ponsel mama Liona! Kenapa Kak El mengambil ponsel mama?” gadis kecil itu memiringkan kepalanya.
Hanya Elvano yang tahu kata sandi ponsel Liona. Dengan mudahnya bocah laki-laki itu membuka sandi ponsel dan mengklik aplikasi chat. Liona tidak memiliki banyak kontak diponselnya. Sangat mudah menemukan nomor kontak Sutradara Reiki Savian.
“Sutradara Reiki. Saya minta maaf karena syuting hari ini tertunda karena saya.”
Tak lama ada pesan balasan dari Reiki yang mengirimkan pesan suara. “Tidak perlu minta maaf, itu semua bukan salahmu tapi Auror yang sengaja menyakitimu. Aku sudah bertahun-tahun bekerja di showbiz, aku tahu bagaimana tingkah para artis dan tahu yang sebenarnya terjadi dilokasi syuting. Kamu artis muda yang berbakat, aku yakin kamu akan memiliki karir cemerlang di masa depan. Fokus saja pada peranmu dan karirmu. Tidak usah pedulikan yang lain.”
“Baiklah. Terimakasih Sutradara Reiki.”
Kedua anak itu saling bertatapan sambil berkata “Aurora.” Tatapan Felicia semakin bebrinar penuh semangat dan kagum. “Kak El, kakak memang pintar!” serunya bangga.
Mereka telah menemukan pelakunya dan rencana selanjutnya kedua bocah itu perlu mencari ide untuk balas dendam. Elvano dengan cepat menghapus pesan yang dikirimnya. “Apa yang kita lakukan sekarang Kak?” tanya Felicia tak sabar. Dia tak terima jika wanita yang disukainya disakiti orang lain. Dia sudah mengganggap Liona seperti mamanya sendiri.
“Ehm….tunggu sebentar.” tangan mungil Elvano dengan cepat mencari informasi tentang Aurora di internet. Setelah mengkli dia menemukan foto wanita itu.
“Dia aktris dari management lain. Sepertinya akan sedikit rumit.”
__ADS_1
“Memangnya dia di management apa?” tanya Felicia lagi.
“Dia dibawah naungan Blizz Media, sedangkan mama di Wilfred Media.”
“Iya, Wilfred Media punya papa ku,” sahut Felicia membusungkan dada bangga.
Felicia memperhatikan foto yang ada dilayar ponsel, lalu dia teringat sesuatu. “Ohhhh….sepertinya aku tahu wanita itu! Itu wanita yang sama yang waktu itu juga menyakiti mama” melirik kembali foto itu lalu berteriak “Kak El! Kak EL! Aku tahu wanita itu pernah menggoda pamanku dulu. Dia juga selalu berperan jadi tokoh jahat disemua filmnya.”
Mendengar itu Elvano mengeryitkan keningnya. “Oh iya? Paman Delvin punya selera bagus juga.”
“Iya. Tapi paman Delvin tidak suka pada wanita itu. Paman memanggilnya pelacur,”
“Husss….itu kata-kata yang tidak boleh diucapkan anak kecil.” kata Elvano.
“Tapi aku dengar paman delvin dan paman Reiki selalu pakai kata itu memanggilnya.” katanya dengan mata membulat “Paman pernah bilang kalau dia tidak akan pernah menerima wanita itu. Paman sangat membencinya karena wanita itu selalu menyodorkan diri pada pamanku.” menggangguk-angguk dengan penuh semangat menjelaskan.
Elvano menaruh kembali ponsel Liona dan berbisik pada Felicia “Kamu punya pengawal kan?”
“Iya, Kak. Kenapa?” tanyanya menatap Elvano. “Aku selalu diikuti diam-diam. Ada lima orang.”
“Kamu bisa perintah mereka lagi?” tanya Elvano.
“Bisa!” jawab Felicia menggangguk. “Papa bilang mereka harus mematuhi perintahku dan tidak boleh menolaknya.”
Mendengar itu, Elvano tersenyum licik. “Kak El kenapa wajahmu terlihat licik? Kakak ada rencana bagus ya?”
“Apakah kamu mau membalas dendam mama?”
“Iya dong! Wanita itu sudah menyakiti mama Liona lagi. Dia harus dihukum!” ucapnya kesal.
“Kalau begitu, pakai dua pengawalmu besok.”
“Okay! Tapi apa rencana kakak?” tanya Felicia tersenyum lebar. Elvano berbisik ditelinga Felicia. Mata gadis itu langsung berbinar penuh semangat dan setelahnya dia memandang Elvano dengan hormat. “Kak El memang yang terbaik!” sambil bertepuk tangan dengan tangan kecilnya.
“Iya dong!” jawab Elvano penuh bangga. Keduanya tersenyum licik. “Kali ini kita harus balaskan semua orang yang mengganggu mama.”
__ADS_1
“Iya….iya. Aku setuju! Kita harus kerjasama kak, pasang mata dan telinga supaya kita tahu siapa orang-orang yang suka menyakiti mama Liona. Harus dihajar!” seru Felicia penuh semangat.