
Reynard tercengang melihat tingkah Liona yang sedang mabuk. Minuman ini rasanya sangat lezat. Pada awalnya rasa minuman ini sedikit pahit tetapi setelah kau terbiasa maka rasanya akan menjadi manis. Liona segera menuangkan segelas penuh anggur emrah kedalam mulutnya, seolah-olah dia sedang minum air. Dia benar-benar tidak ingin Reynard merebut gelas itu dari tangannya. Decanter anggur itupun langsung kosong.
Kemudian wajah Liona menjadi merah dan penglihatannya menjadi kabur. Wanita itu bersendawa. Dia bersendawa didepan Reynard! Oh Tuhan!
“Eh, aku ada dimana sekarang? Tempat ini sedikit familier. Tunggu dulu, kenapa tempat ini seperti sebuah labirin? Aku tidak bisa keluar sekarang.”
Liona bersendawa dan terhuyung-huyung di sekitar ruangan dalam keadaan mabuk berat. Reynard bergerak cepat untuk menangkap tubuh wanita itu sebelum dia tersandung karpet.
“Hati-hati Liona!”
Ketika Liona menoleh dan melihat Reynard, matanya langsung berbinar. Dia berbalik secara tiba-tiba dan mengulurkan tangan untuk memegang wajah Reynard. “Oh! Oh! Kau adalah pria yang tampan. Kakak yang tampan, apakah kau sudah punya pacar?”
Reynard terdiam untuk beberapa detik. “Tidak! Aku tidak punya pacar.” akhirnya dia menjawab.
Mata Liona segera berbinar, “Benarkah? Apakah kau ingin punya seorang pacar sekarang?”
Liona tiba-tiba mendorong tubuh Reynard dan melakukan pose menggoda. “Lihatlah kulitku yang lembut dan halus serta kakiku yang panjang dan seksi!” Liona yang mabuk terus menggoda Reynard dengan tubuhnya. Saat dia bicara, dia mengedipkan matanya pada pria itu. Kali ini Reynard benar-benar terdiam, yang dialkukannya hanyalah menatatp wanita mabuk didepannya.
“Wow! Kenapa semuanya berputar ya?”
Melihat Liona hampir tumbang ke lantai, Reynard mengulurkan tangan dan memeluknya erat. Wanita itu baik memeluk Reynard lalu berkedip kebingungan. Kemudian sedikit tersadar, “Hei, apakah kau ingin tahu masa depanmu? Biarkan aku membaca masa depanmu.”
Reynard mengeryitkan dahinya tak habis pikir dengan sikap Liona saat dia mabuk. Sebelum dia bahkan bisa membuka mulutnya untuk menjawab, Liona telah melihat ke tempat yang jauh dengan suara yang dalam dan misterius.
“Kau, anak muda telah dilahirkan dalam keluarga kaya dengan kekuasaan yang besar. Selama ini kau tak pernah kekurangan apapun kecuali satu hal. Apakah kau mau tahu apa yang kurang didalam hidupmu?” tanya Liona yang mendadak jadi peramal mabuk.
__ADS_1
“Tidak tahu. Memangnya apa yang kurang?”
“Aku! Kau perlu aku dalam hidupmu.” jawab Liona.
Reynard mengeryitkan alisnya karena merasa geli. Sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, Liona sudah memeluk tubuhnya erat-erat. Mereka begitu dekat satu sama lain sehingga Reynard bisa mencium aroma parfum Liona yang bercampur dengan aroma anggur. Saat nafas wanita itu menggelitik wajahnya, Reynard merasakan gairah melonjak dalam dirinya.
“Liona, kau sedang mabuk berat.”
“Apakah kau tidak menginginkan diriku?” Liona mendorong tubuh Reynard menjauh karena merasa terhina. Tapi kemudian sebuah pikiran muncul dibenak wanita itu. Dia memandang Reynard dengan heran dan berseru, “Ah, aku mengerti sekarang. Kau adalah penyuka sesama.” Kemudian dia mengeryit dan menambahkan, “Kenapa saat ini kebanyakan pria tampan adalah penyuka sesama jenis?” keluh Liona sambil cemberut.
Hanya dengan melihat wajah Liona, Reynard merasa tidak bisa menguasai nafsunya lebih lama lagi. Yang ada dalam pikirannya adalah merobek pakaian wanita itu dan membuktikan bahwa ucapan wanita itu salah. Liona terhuyung-huyung menuju pintu. Takut kalau dia akan jatuh, Reynard bergegas untuk menjaganya tetap berjalan tegak.
Liona segera mendorongnya dan berteriak, “Tinggalkan aku sendirii! Aku bisa jalan sendiri dengan sangat baik! Aku tidak butuh bantuanmu!”
“Liona ini sudah larut malam dan kau sudah minum terlalu banyak.
Reynard tidak tahu harus berkata apa lagi. Liona meraih handel pintu beberapa kali tetapi meleset, sampai akhirnya dia berhasil membuka pintu.
“Aduh…..aduh….”
Delvin yang sejak tadi bersandar di pintu untuk menguping langsung terjatuh ke lantai begitu pintu itu terbuka lebar. Reynard menatap adiknya dengan tatapan tajam.
“Ha..ha….ha...ha….”Delvin tertawa canggung. “Aku pikir kakak minum terlalu banyak, jadi aku datang memeriksa keadaan kakak. Siapa tahu kakak sedang perlu bantuan. Ehm….sebaiknya aku pergi sekarang.”
Delvin berdiri dan berbalik pergi tetapi bahkan sebelum dia sempat mengambil langkah,Liona meraih pergelangan tangannya untuk menghentikannya.
__ADS_1
“Liona?”
“Eh, ada pria tampan lainnya?” tidak ingin Delvin melarikan diri, Liona memegang tangannnya dengan erat lalu bertanya, “Hei tampan, coba beritahu aku. Apakah kau sudah punya kekasih?”
Delvin tercengang, tetapi dia berhasil menjawab dengan gagap, “Ti….tidak, aku tidak punya.”
Dia baru saja putus dengan pacarnya dua hari yang lalu dan sekarang bebas bagaikan burung.
“Betulkah? Kau tidak berbohong? Bagaimana kalau kau berkencan denganku?” tanya Liona sambil mengedipkan pada Delvin dengan senyum tipis.
Delvin merasa seperti seekor binatang yang terpojok, dia ketakutan setengah mati terutama ketika dia berbalik dan menatap mata gelap Reynard.
“A—aku…..aku…..” dia berhenti sebentar untuk menjernihkan pikirannya dan menoleh pada kakaknya, “Kak Reynard, apa yang sedang terjadi?”
“Dia sedang mabuk berat.” ujar Reynard memberitahu adiknya.
“Ya Tuhan! Liona benar-benar menakutkan ketika dia mabuk.” ujar Delvin. Jika tatapan bisa membunuh, Delvin tidak ragu jika Reynard akan membunuhnya saat itu juga. Delvin hendak melepaskan diri dari genggaman Liona ketika dia mendengar suara samar Reynard. “Pelan-pelan! Lengannya sedang terluka….”
“Oh iya! Benar sekali! Aku hampir lupa soal lengannya. Lengannya masih dibalut perban, jika aku menarik lengannya terlalu keras pasti akan menyakitkannya dan kak Reynard pasti akan membunuhku. Tapi jika dia terus menerus memeluk lenganku seperti ini, kak Reynard akan membunuhku dengan cara yang paling menyakitkan. Delvin merasa frustasi sehingga dia hampir menangis. Rasa ingin tahu bisa membunuh kucing itu adalah kata-kata yang memang benar.
Kenapa dia begitu bodoh ingin menguping pembicaraan antara Reynard dan Liona. Sekarang bagaimana dia bisa keluar dari situasi ini. “Liona, kita berbeda selalu memiliki hubungan yang baik. Tapi sekarang kau malah menempatkanku dalam situasi yang sulit.”
Liona memiringkan kepalanya ke samping dan berkedip, “Apa kau bilang?”
Delvin tercengang lagi. Dia tidak tahu harus berkata-kata dan harus bagaimana.
__ADS_1
Dia harus mengakui bahwa saat ini Liona terlihat sangat menarik, tubuh Liona tinggi dan kurus kecantikan wanita itu juga tidak ada tandaingannya. Dia hampir tanpa cacat seperti mahakarya Tuhan. Liona datang dengan tergesa-gesa, jadi dia hanya mengenakan kemeja longgar dan celana jeans pendek yang memamerkan tubuhnya yang sempurna. Pipi wanita itu memerah dan matanya berbinar karena alkohol. Saat ini Delvin benar-benar terpikat oleh kecantikan calon kakak iparnya itu.