
Liona menyadari bahwa putranya pasti merasa sangat ketakutan saat melihat ibunya bertingkah seperti orang gila dan kehilangan kendali dirinya. Dengan pelan, Liona menepuk-nepuk punggung Elvano mencoba untuk menenangkan putranya itu. Tetapi Liona terlihat sama sekali tidak menyesali tindakannya itu.
Dia malah berharap dia bisa menghabisi semua bajingan itu. Adam sudah sangat keterlaluan atas tindakannya. Dia bukan saja ingin mencelakai Elvano tapi bahkan berpikir untuk menjual Liona demi keuntungannya sendiri.
“Ayo kita pergi.” ajak Reynard. Dia merangkul bahu Liona dan berjalan meninggalkan tempat itu. Kemudian mereka pun pulang tapi begitu tiba di villa milik Reynard, Elvano yang ketakutan dan kelelahan sudah tertidur lelap.
Tampaknya pelukan Liona dapat menenangkan bocah itu. Anak kecil itu pasti mengalami trauma atas apa yang menimpanya hari ini.
Sedangkan di kamar lain tampak Reynard sedang mengucapkan selamat malam pada Felicia yang tertidur setelah dia melihat Elvano yang sudah kembali dalam keadaan baik.
Setelah Felicia tertidur, Reynard pergi kekamarnya untuk menemui Liona. Begitu mereka hanya berdua saja didalam kamar, Reynard berbalik menatap Liona.
“Duduklah disini.” dia menepuk disebelahnya.
Seperti anak kecil yang tahu akan menerima hukuman, Liona duduk di sofa dengan tenang. Dia tidak berani menatap mata Reynard. Tapi keadaan ini tidak bertahan lama. Beberapa saat kemudian, ada bayangan jatuh ke lantai tepat didepan Liona duduk.
Reynard berjongkok di kaki wanita itu sambil memegang kotak P3K.
“Aku tidak….” Liona hendak bicara tapi sudah dipotong oleh Reynard.
“Diamlah dulu.”
“Baiklah.” jawab Liona dengan kesal.
Wajah Reynard menjadi gelap saat dia menggulung lengan baju Liona yang berdarah. Luka lama di lengan Liona terbuka kembali dan darah membasahi perban dan baju wanita itu.
Dengan satu gerakan cepat Reynard melepaskan perban yang membalut luka Liona. Lalu dia mulai mbersihjan lukanya.
“Aduh…...sakit sekali Rey!” Liona terkesiap menahan sakit. Dia menatap Reynard dengan ekspresi kesakitan. Liona menggigit bibir bawahnya sambil meringis. "Tolong pelan-pelan. Ini sakit sekali."
__ADS_1
“Kamu sendiri yang mencari masalah.” suara dingin Reynard berlawanan dengan sikap lembutnya saat merawat luka Liona. Sambil mengerutkan kening, Reynard membersihkan luka di lengan wanita itu. Dia menyeka darahnya dengan alkohol kemudian mengoleskan salep antibiotik.
Setelah selesai, Reynard membalut kembali luka itu kembali dengan perban. Liona memperhatikan dengan seksama bagaimana cara pria itu merawat lukanya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Reynard berjalan ke lemari pakaian dan mengambil sebuah gaun. Dia melemparkan gaun itu kepada Liona dan berkata, “Ini untukmu. Pakai baju ini saja.”
Liona pun pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Ketika dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Reynard sedang bermain dengan pisau bedah miliknya. Pisau itu telah dibersihkan membuat bilah pisaunya bersinar terang dibawah cahaya lampu.
Saat melihat Liona menghampiri, Reynard langsung menyingkirkan pisau ditangannya. Dia menatap lurus kearah Liona sambil mengeryitkan dahinya. Sedangkan wanita itu hanya tersenyum pahit saat melihat sikap dingin Reynard. Dia tahu kalau cepat atau lambat mereka berdua harus segera bicara.
Mungkin ada baiknya jika mereka bicara secara terbuka. Bukankah Reynard juga berhak tahu tentangnya? Tapi dia tidak tahu bagaimana harus memulainya.
“Aku…...” Liona mulai bicara tetapi Reynard langsung memotongnya lagi.
“Dari mana kamu mendapatkan pisau bedah itu?” tanya Reynard.
“Teman yang mana Liona?” Reynard mulai mendesak wanita yang duduk disampingnya itu. "Aku tidak tahu kamu punya teman."
Liona tak langsung menjawab, dia hanya menatap wajah pria itu dalam diam. Sedangkan Reynard memeriksa pisau bedah yang dia letakkan diatas meja. Pisau itu lebih kecil dari pisau bedah pada umumnya dan saat berada di tangan Reynard yang besar, membuat pisau itu tampak semakin kecil.
Ukuran pisau itu pasti telah disesuaikan, sehingga mudah digunakan oleh wanita seperti Liona. Reynard mengatupkan bibirnya dan membuang pisau itu ketempat sampah.
“Kamu…..” Liona ingin memprotes melihat pisaunya dibuang. Itu pisau kesayangannya, tapi kini malah berakhir di tempat sampah.
“Apakah kamu tahu kesalahan apa yang telah kamu lakukan?” tanya Reynard dengan suara dingin seolah dia sedang mengadili Liona.
Reynard memotong pembicaraan sebelum Liona bisa menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
‘Kesalahan?’
“Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Orang-orang itu adalah sampah. Mereka semua pantas mati! Sudah terlalu lama aku membiarkan mereka berbuat seenaknya.” ucap Liona dengan kesal.
“Jika tadi aku tidak menghentikanmu….” ucap Reynard tak melanjutkan kalimatnya.
“Aku pasti akan membunuh mereka semua! Mereka pantas untuk itu!” jawab Liona. "Sudah terlalu lama aku diam atas apa yang dilakukan Adam dulu."
Wajah Reynard langsung berubag gelap mendengar jawaban Liona. “Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah membunuh mereka semua?”
Liona tak menjawab dan memalingkan wajahnya dengan sikap keras kepala. Dia menyadari dirinya telah bersikap impulsif dan bertindak tanpa berpikir panjang. Tapi dia tidak tahan melihat Adam memperlakukan Elvano seperti tadi.
Bahkan ayah angkatnya itu sudah menyusun rencana untuk menjualnya kepada pria hidung belang. Bukankah orang seperti itu panras mati? Adam akan melakukan apapun untuk keuntungan dirinya sendiri.
Itu membuat Liona kembali pada kenangan masa-masa kelamnya dulu saat masih tinggal bersama keluarga angkatnya. Dia tidak bisa menahan dorongan hatinya untuk membunuh pria-pria bajingan itu. Suasana di ruangan itu menjadi tegang. Liona segera berdiri dan berjalan kearah pintu.
“Kamu tidak perlu khawatir! Aku akan pindah bersama Elvano besok pagi. Aku tidak akan membuatmu mendapatkan masalah karena kesalahanku.” ujar Liona.
‘Apakah wanita ini takut dia akan melibatkanku kedalam masalahnya?’ Reynard berpikir dengan tatapan tak percaya atas apa yang didengarnya barusan. Dia meraih pergelangan tangan Liona agar tidak meninggalkan kamar itu.
“Tunggu dulu!” Reynard berusaha mencegah Liona pergi dari kamarnya.
“Apalagi yang kamu mau sekarang?” tanya Liona dengan intonasi tinggi.
“Brengsek!” teriak Reynard, pembuluh darah menonjol didahinya. “Apakah kamu sudah memikirkan konsekuensi yang harus kamu hadapi dengan tindakanmu tadi? Jika aku tidak menghentikanku dan membereskan kekacauan yang kamu buat, menurutmu apa yang akan terjadi setelahnya?”
Sebenarnya bukan itu yang mengganggu pikiran Reynard. Dia menarik napas dalam-dalam dan bertanya apa yang ingin dia ketahui, “Kenapa kamu tidak segera meneleponku untuk meminta bantuan saat mereka menculik Elvano?”
__ADS_1
Liona tercengang saat mendengar pertanyaan Reynard. Wanita itu bertanya-tanya didalam hatinya apakah hal ini yang menyebabkan Reynard begitu marah padanya? Dia menatap pria itu dan melihat tatapan mata Reynard yang sedingin es. Liona menundukkan wajahnya lagi karena merasa bersalah dan memutar jari-jarinya.