CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 40. CEMBURU


__ADS_3

Pikiran Delvin ada pada hadiah-hadiah yang diterima Liona. Saat kedua bocah sibuk dengan permainan, Delvin malah sibuk dengan pikirannya ‘Liona masih baru di dunia hiburan, tidak mungkin dia sudah punya penggemar gila yang mengirimnya hadiah semahal itu. Ini pasti bukan ulah penggemar tapi pria yang menyukainya atau mantan pacarnya, mungkin juga mantan suaminya. Ah…..suaminya tidak ada. Berarti itu pasti dari mantan pacarnya. Aku harus beritahu kakak soal ini.’


Deelvin bergegas memutar nomor telepon Reynard “Kak Reynard!” serunya jengkel. “Ada kabar buruk kak! Aku rasa istrimu akan dibawa kabur oleh mantan kekasihnya!”


“Apa maksudmu? Jangan bicara aneh.” balas Reynard.


“Aku tidak bicara aneh, kak. Istrimu menerima banyak hadiah mewah dan mahal dari seseorang yang menuliskan di secarik kertas kalau semua hadiah itu adalah mas kawin! Ini benar-benar gawat kak. Kamu harus bertindak secepatnya sebelum istrimu dibawa lari pria lain.” seru Delvin memprovokasi kakaknya.


Dua jam sejak Delvin menelepon Reynard, pria itu pun menunda semua rapat pentingnya hari itu dan langsung kembali ke Villa LeGardenia. Cuaca hari itu mendung tetapi Reynard memasuki ruang tamu rumah Liona dengan pancaran api panas. Saat mata pria itu melirik kearah tumpukan kotak yang tergeletak di lantai, raut wajahnya berubah semakin memerah penuh amarah. Apalagi saat dia membaca kertas berisi tulisan tangan pengirimnya, tiba-tiba dia cemberut lalu pergi meninggalkan villa.


“Kak Rey! Kakak mau pergi kemana?” teriak Delvin mengejar kakaknya.


“Ke lokasi syuting! Kamu tunggu dirumah dan jaga anak-anak.”


Delvin menggelengkan kepala melihat tingkah kakaknya yang sedang dimabuk cinta dan cemburu. Dia masuk kembali kedalam rumah Liona dan menonton tv bersama Elvano dan Felicia.

__ADS_1


Sementara dilokasi syuting, Liona masuk keruang rias dan mengganti pakaian dan merias wajahnya. Didalam ruangan itu hanya ada lima kursi dan empat diantaranya sudah terisi, sedangkan hanya ada dua penata rias yang sedang sibuk merias aktris lain. Liona hendak duduk dikursi rias yang kosong saat seseorang meneriakinya “Berhenti kamu, sialan!”


Pintu ruangan itu dibuka kasar, Aurora dan asistennya memasuki ruangan dengan langkah angkuh.  Pakaiannya seksi yang menunjukkan lekuk tubuhn diapun langsung merebut kursi yang hendak diduduki oleh Liona.  Wanita itu duduk menyilangkan kaki dan menatap Liona siis “Hei perempuan murahan aku akan memberimu pelajaran berharga yang takkan kau lupakan seumur hidupmu. Aku seniormu! Aku sudah berkarir didunia hiburan selama enam tahun jadi aku yang harus dirias dahulu!” teriak Aurora.


Aurora adalah aktris paling terkenal diruangan itu dan tak ada seorangpun yang berani menentangnya. Bahkan para penata rias hanya memandang Aurora sambil mengeryitkan dahi. “Kenapa kamu masih berdiri disitu seperti patung selamat datang? Kamu menghalangi pandanganku, pergi sana!” teriaknya lagi pada seorang aktris muda pendatang baru. Liona hanya menggelengkan kepala, dia sudah melihat banyak drama diantara para artis dan seingatnya dia tak pernah mencari masalah dengan Aurora tapi wanita itu selalu saja menindasnya tanpa alasan.


‘Mungkin sudah saatnya semua orang menjauhiku, aku akan tunjukkan pada mereka semua siapa aku. Kekasih Reynard Wilfred! Takkan ada lagi yang berani mengusikku setelah semua tahu.’ gumamnya dalam hati.


“Maaf Aurora! Kau minta aku keluar, tapi aku tidak mau! Sebagai senior sebaiknya kamu mengajariku cara keluar.” balas Liona ketus.


“Oh ya? Wow! Aku tidak yakin itu, karena aku takkan tergantikan. Terima kasih ya kamu sudah memuji kecantikanku. Supaya kau tahu ya Aurora, seorang artis sejati takkan menindas artis lain. Dan ingat ini baik-baik dan camkan di otak kecilmu itu! Aku Liona Sarabella Gantari adalah kekasih dari Reynard!” ucapnya sinis.


Semua orang yang berada diruangan itu menganga tak percaya. Mereka tahu siapa Reynard Wilfred dan jika pria kaya raya itu menyukai Liona maka itu berita sangat bagus.


“Hahahaha…..jangan mimpi kau Liona! Perempuan sepertimu takkan dilirik oleh seorang duda tampan dan paling kaya raya seperti Tuan Reynard Wilfred!” ucap Aurora penuh kemarahan. Satu sisi dia merasa tak percaya tapi mengingat hadiah-hadiah yang diterima Liona kemarin membuatnya berpikir apakah mungkin Tuan Wilfred yang mengirimnya? Tapi Aurora tak mau kalah dan kehilangan muka “Perempuan sepertimu pasti menyerahkan tubuhmu untuknya.”

__ADS_1


...*...


Sudah satu jam berlalu sejak Delvin menghubungi Reynard.  Pria itu menunda meeting dan kembali ke Villa LeGardenia, cuaca hari itu sedikit panas dari kemarin namun Reynard memasuki ruangan dengan tatapan sedingin es dan penuh permusuhan.  Dia menatap sepuluh kardus dilantai dengan raut wajahnya yang sedingin es.  Dia membaca informasi pengirimnya, wajahnya langsung cemberut.


“Apakah Liona punya penggemar pria, kak atau mungkin mantan pacar?” tanya Delvin sambil mengikuti langkah kakaknya. “Maaf, Kak. Ucapanku hanya omong kosong, tak usah kakak pedulikan, ya. Tapi Liona adalah kekasihmu bagaimana mungkin dia masih bisa menerima hadiah dari pria lain.”


Reynard tak mengindahkan ucapan Delvin, wajahnya makin muram dan ia ingat percakapannya dengan Liona beberapa hari yang lalu. Liona mengatakan jika ia mencintai Reynard dan resmi jadi kekasihnya tapi meminta untuk tidak buru-buru menikah. Hal itu membuat raut wajah Reynard berubah.  Apakah Liona sengaja tidak mau menikah terburu-buru karena dia sudah punya kekasih ditempat lain? Tidak mungkin dia puna pengangum rahasia hanya dalam waktu beberapa hari saja yang sudah membelanjakan begitu banyak yang untuk membelikannya hadiah-hadiah itu? Dia cemberut dan berjalan meninggalkan tempat itu.  Delvin berusaha berlari mengejar kakaknya. “Kakak mau pergi kemana?”


“Ketempat syuting!” sahut Reynard ketus.


Sementara dilokasi syuting, Liona sedang berada diruang ganti untuk mengganti kostum dan merias wajahnya.  Ada beberapa kursi diruang itu dan semua sudah terisi kecuali kursi paling ujung.  Semua pemeran utama sedang berada didalam untuk dirias, sedangkan pemeran pendukung mengantri menunggu giliran.  Melihat ada kursi yang masih kosong Liona berjalan dan hendak duduk, hingga satu suara menghentikannya. “Berhenti!”


Pintu ruang ganti dibuka dengan kasar.  Aurora dan asistennya berjalan masuk.  Dia menggenakan dress putih pendek diatas lutut, menampilkan lekuk tubuhnya, sepatu berhak tinggi 7cm membuatnya terlihat menjulang.  Aurora mengangkat alisnya lalu duduk dikursi yang tersisa itu.  Kedua tangannya dilipat didepan dada dengan tatapan tajam pada Liona “Kau pendatang baru disini, harusnya kau hormat pada senior sepertiku. Senior harus selalu diutamakan, jadi kamu harus berdiri disudut sana menunggu giliranmu.” ujarnya sembari jari telunjuknya mengarah kesudut ruangan.


Aurora adalah artis cantik dan ternama.  Tidak ada orang yang berani melawannya karena berimbas buruk pada mereka. Baru Kiara yang pertama kali berani menantangnya. Semua orang terdiam tak ada yang berani bicara.  “Kenapa kau masih berdiri disana? Pergi jauh-jauh! Aku muak melihat mukamu disini!”

__ADS_1


__ADS_2