
“Wah…..wah lihat ada siapa disini!” dia berjalan kearah Liona dan berkata. “Aku bertanya-tanya kenapa wajahmu terlihat sangat familiar, ternyata itu kau Liona.” ujarnya dengan nada sinis dan tatapan merendahkan.
Liona mengangguk pada sepupunya. Dia menganggap Rosa sebagai musuhnya karena dia dan Vena adalah sahabat yang dekat.
“Well….aku dengar dari Vena kalau kau masih hidup dan sekarang kau tampaknya sudah makmur ya. Kau berani belanja di butik mewah seperti ini?” ujar Saskia menatap Liona dengan tatapan merendahkan.
“Tapi aku dengar dari Vena kalau kau masih lajang sekarang tapi kenapa kau belanja pakaian pria? Apakah kau belanja untuk sugar daddymu? Biar aku ingatkan ya jika kau menginginkan seorang suami sebaiknya kau mencrai pria yang belum menikah. Kalau tidak maka istri sah pria itu akan menghajarmu karena kau istri simpanan.”
Liona mengerutkan kening mendengar ucapan Saskia, meskipun Saskia tidak cocok dengannya di masa lalu tapi dia tidak pernah melecehkannya secara kasar di tempat umum. Wajah Liona langsung memucat.
“Saskia! Hentikan jangan bicara sembarangan. Itu semua hanyalah rumor tidak jelas…..” Vena berlari cepat lalu meraih lengan Saskia.
“Seekor lalat tidak akan hinggap ditelur yang tidak pecah. Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu tapi aku mendengar kabar yang mengatakan bahwa kau sekarang telah berubah menjadi seekor rubah yang suka menggoda pria.” Saskia menghina Liona dengan tatapan jijik.
Liona merasa tidak enak hati mendengar perkataan Saskia tapi dia tidak mau terlibat pertengkaran jadi dia melirik kepada asisten toko dan bertanya. “Berapa harga jas merah keunguan yang ada di manekin itu?”
Asisten toko tersenyum. “Maaf nona setelan ini edisi terbatas di butik kami, hanya ada satu set diseluruh kota ini.”
Liona meringis mendengar ucapan asisten toko. “Tapi aku orang pertama yang ingin membelinya.”
“Maaf nona tapi nona Saskia adalah tamu VIP di butik kami dan aturan di butik ini harus memprioritaskan layanan pada tamu VIP kami.” kata asisten toko dengan senyum.
__ADS_1
Meskipun Liona terlihat cantik tapi dia hanya mengenakan pakaian yang sederhana. Sedangkan Saskia memakai pakaian bermerek terkenal yang sangat mahal. Lagipula Saskia bersama dengan selebriti seperti Vena. Asisten toko itu tak mau menyinggung Saskia.
Dia tersenyum ramah pada Saskia “Nona Saskia apakah anda ingin mengemas pakaian ini sekarang?” tanya asisten toko itu dengan sopan.
“Tentu saja.” ujar Saskia dengan puas atas sikap asisten toko itu.
Dua orang pramuniaga langsung melepaskan jas dari manekin, melipatnya dengan rapi dan membungkusnya kemudian menyerahkan pada Saskia.
Liona segera berbalik dan meninggalkan butik itu. Dia memasuki butik lain dan menemukan pakaian yang sesuai minatnya. “Tolong bungkus setelan ini untukku.” kata Liona.
“Baiklah. Silahkan tunggu sebentar, nona.” jawab asisten toko.
“Tunggu dulu.” ujar Saskia yang entah sejak kapan mengikuti Liona ke butik itu bersama Vena. Begitu mengetahui kalau Liona mau membeli setelan itu dia langsung memberi perintah pada asisten toko. “Bungkus setelan itu padaku.” Dia memang sengaja ingin mengerjai Liona.
“Benar sekali! Memangnya kau bisa apa, ha?” kata Saskia lalu melirik Vena. "Kau pikir kau itu siapa? Kau harusnya tahu diri! Dasar tidak tahu malu!"
“Dengar ya Saskia! Aku tidak pernah menyinggungmu, aku sarankan padamu pergi carilah orang yang bisa dengan mudah mengikuti permainanmu dan jangan mudah termakan omongan orang yang egois.” uhar Liona melirik Vena. Dia sengaja mengatakan itu untuk menyindir Vena.
Mereka sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun tapi Saskia sengaja mencari masalah dengannya. Hanya orang bodoh saja yang tidak bisa melihat siapa otak dibalik sikap Saskia yang penuh permusuhan dan dendam. Vena merasa tersinggung dengan perkataan Liona. “Liona! Aku tahu kau membenciku tapi kau tidak boleh menghinaku seperti itu.”
Vena nampak seperti malaikat yang tidak berdosa dan berusaha menampilkan sisi polosnya agar orang lain merasa iba dan melindungi dirinya. Dia sangat pandai berakting memanipulasi orang lain dan mata merahnya mulai terlihat menyedihkan seakan dia terluka. Saskia langsung menarik tubuh Vena ke belakangnya lalu berhadapan dengan Liona. “Liona! Kalau kau punya nyali hadapi aku.”
__ADS_1
Liona tertawa melihat kedua wanita itu, mereka sengaja membuntutinya agar membuat masalah dan sekarang mereka menuduhnya telah menindas mereka. Liona merasa tidak percaya dua orang bodoh itu telah merusak suasana hatinya. Liona sudah tidak ingin berbelanja lagi dan memutuskan untuk pulang. Lalu dia melangkah hendak keluar dari butik.
“Berhenti kau!” Saskia berjalan maju dan menghentikan Liona. “Apakah aku sudah mengijinkanmu pergi, ha?”
“Pergi dari hadapanku!” teriak Liona.
Saskia merasa hina karena diteriaki oleh Liona. Sejak dia menikahi seorang pria kaya, dia selalu merasa memiliki kekayaan melimpah dan kekuasaan tidak terbatas. Kemanapun dia pergi amka orang-orang akan menghormatinya. Ketika Saskia melihat sikap Liona dan berani bahkan terlihat tak peduli dia menjadi marah lalu mendorong Liona menjauh.
“Jaga bicaramu wanita bodoh! Kau pikir kau itu siapa, ha? Beraninya kau bicara tidak hormat padaku. Liona! Aku peringatkan kau, aku bukan Vena yang bisa kau gertak. Kau memalsukan kematianmu beberapa tahun lalu. Aku tahu kau khawatir akan masuk penjara setelah menikam Vena, iyakan? Kau wanita yang sangat licik dan kejam! Sebaiknya kau bersikap baik atau aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos begitu saja!”
“Dasar wanita gila.”ujar Liona hendak pergi meninggalkan tempat itu. Dia sudah tidak ingin belanja lagi, dia tidak ingin kehilangan kendali dirinya gara-gara dua wanita itu.
“Apa kau bilang?” tanya Saskia dengan nada marah. "Coba ulangi apa tadi kau bilang, ha?"
Liona bukanlah orang yang bisa diitndas dan menerima begitu saja. Dia membersihkan pakaiannya lalu berkata. “Apakah kau pikir hanya karena kau menikah dengan pria kaya maka semua orang akan tunduk padamu, hu? Apakah kau sudah gila hingga kau tidak bisa melihat kebenaran? Baiklah aku akan memperlakukanmu dengan penghinaan yang pantas kau dapatkan.”
“Dasar wanita ******! Aku akan membunuhmu sekarang!” Saskia mengangkat tangannya hendak menampar Liona. Liona langsung menangkap pergelangan tangan Saskia dengan kuat hingga dia merasa kesakitan.
“Lepaskan tangan kotormu dariku!” teriak Saskia berusaha melepaskan tangannya.
Tapi Liona tak ingin melepaskannya begitu saja. Dia malah semakin mengencangkan cengekramannya dan membentak Saskia. “Aku bukan lagi orang yang sama yang bisa kau tindas sesukamu seperti beberapa tahun lalu! Kita hanya sodara sepupu tapi kau memintaku untuk menjadi pengiring pengantinmu pada pesta pernikahan beberapa tahun lalu. Apakah kau berani bersumpah kalau kau tidak ada hubungannya dengan kejadian yang menimpaku? Ayo jawab!” teriak Liona penuh kemarahan.
__ADS_1