CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 153. KELUAR MALAM LAGI


__ADS_3

Elvano berlari dan memeriksa lengan dan kaki ibunya seperti seorang dokter, “Mami, ada banyak sekali benjolannya. Semua lengan dan kaki mami penuh benjolan. Ada berapa banyak nyamuk yang masuk ke kamar mami?” tanyanya.


Liona terkejut mendengar pertanyaan anaknya.


‘Eh? Ada terlalu banyak benjolan? Apakah ini yang menyebabkan Reinhard bisa melihat trik yang kulakukan? Sepertinya aku harus mencari cara lain untuk membuatnya cemburu.’ gumam hatinya.


Saat Liona sedang sibuk melamun, suara Felicia membuyarkan lamunannya. “Mama Liona!”


“Selamat pagi sayangku. Ada apa berlarian?” tanya Liona. Wajahnya tersenyum melihat Felicia.


“Ayo cepat sarapan. Ayo kak El!” pekiknya dengan ceria. Felicia tampak mengemaskan pagi ini dengan pakaian dan dandanannya yang fashionable.


“Baiklah.” Liona menggandeng tangan kedua anak itu menuju ke ruang makan. Reinhard sudah tidak terlihat, itu berarti dia sudah berangkat ke kantor. Liona menghabiskan hampir seharian untuk beristirahat. Setelah Elvano dan Felicia tertidur dia berdandan dan menggunakan pakaian yang tidak biasa dlalu dia hendak keluar rumah.


“Nyonya, apakah anda akan keluar malam ini?” tanya kepala pelayan. Dia merasa agak bingung dengan perilaku wanita itu. Melihat penampilan Liona, dia sedikit merengut.


“Nyonya, anda mau pergi kemana dengan pakaian seperti itu? Apakah anda akan keluar bersama Tuan?” tanya kepala pelayan. Liona dengan susah payah merias dirinya dengan dandanan sporty.


Dia mengenakan jaket kulit mewah dengan kancing dan sepasang celana kulit yang membalut tubuhnya dengan ketat dan sepatu bot kulit bertabur manik-manik. Liona tampak sangat seksi dan menawan dengan penampilan seperti itu.


“Ehem….tolong jangan banyak bertanya. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku ada janji dengan teman-temanku malam ini.” ucap Liona menjelaskan pada kepala pelayan rumah Reinhard.


“Oh begitu. Nyonya harus berhati-hati diluar sana.” ucapnya tidak punya pilihan selain diam.


Liona mengangguk lalu berjalan keluar vila. Kali ini dia berhenti untuk menunggu taksi dan langsung pergi. Sedangkan Delvin yang melihat dari vilanya diseberang langsung berlari dan menghubungi kakaknya.


“Kak Reinhard!” dia melihat Liona meninggalkan vila. Dia memang suka memata-matai wanita itu belakangan ini. Ketika Liona meninggalkan vila, dia bergegas berlari menuju ke vila kakaknya.


Di ruang kerja Reinhard sedang sibuk dengan pekerjaannya. Delvin langsung masuk tanpa mengetuk pintu. “Kak reinhard! Liona keluar lagi malam ini. Cepat kejar dia.”

__ADS_1


“Baiklah. Aku mengerti.” jawab Reinhard dengan santai.


“Apakah kita akan mengikutinya lagi malam ini?” tanya Delvin yang sudah tidak sabaran.


“Tidak perlu! Biarkan saja dia mau pergi kemana dan berbuat apa.” sahut Reinhard tanpa mengalihkan perhatiaannya dari dokumen didepannya.


“Apa? Aku tidak salah dengar kan? Kakak tidak peduli lagi dengannya?” Delvin merasa kecewa dengan sikap tenang kakaknya itu. Seolah dia tidak peduli apa yang dilakukan Liona diluar sana.


“Delvin, tolong bantu aku.” ucap Reinhard menatap adiknya.


“Oke, bantu apa kak?” tanya delvin kembali bersemangat.


“Suruh pengawal mengawasi Liona saat dia berada diluar sana. Kita tidak bisa mengikutinya terus-terusan setiap hari. Aku sedang banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan! Kamu juga fokus pada pekerjaan.”


"Oh iya satu hal lagi." lalu Reinhard mengatakan apa yang harus dilakukan adiknya itu. Dia ingin memberi kejutan pada Liona saat dia kembali ke rumah.


Keesokan harinya, Liona pulang pada pukul lima pagi. Bertepatan saat dia sampai didepan villa dia melihat Reinhard berdiri disana. “Halo Rei! Apakah kamu akan lari pagi? Cuacanya sangat bagus.”


“Tidak! Aku menunggumu pulang.” jawab Reinhard dengan suara lembut dan penuh kasih sayang.


‘Aduh! Suaranya seksi sekali! Aku tidak tahan,’ Liona tersipu malu.


Dia menutupi wajahnya dan berpikir, “Mengapa Reinhard menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang?’ detak jantungnya semakin kencang.


Reinhard melirik pakaian yang dikenakan Liona dan berkata, “Ayo ikut aku.”


“Baiklah.” Liona menurut dan mengikuti Reinhard menuju ke garasi pribadinya. Garasi itu berukuran seluas lapangan sepak bola.


Setiap mobil memiliki ruangan khusus masing-masing dengan pintu terkunci kokoh. Liona merasa bingung dan bertanya, “Kenapa kamu membawaku kesini Rei?”

__ADS_1


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Reinhard mengeluarkan sebuah remote control kecil dari sakunya. Pria itu menekan sebuah tombol dan setiap pintu terbuka otomatis.


Terlihat sebuah mobil mewah didalamnya, mata Liona langsung melebar karena terkejut. ‘Ya Tuhan! Reinhard benar-benar memiliki banyak mobil keren!’ bisik hatinya.


Liona terpesona saat melihat berbagai macam mobil mewah didepan matanya. Dia melihat ada mobil SUV mewah yang digunakan Reinhard saat menjemputnya dirumah sakit waktu itu.


Ada juga mobil Maybach spot yang sering dipakainya, mobil ferrari sport yang pernah dibawa Delvin dan juga sebuah limosin mewah. Dan masih banyak lagi mobil mewah lainnya disana.


Liona sangat terpesona saat melihat banyak mobil impiannya. Setiap jenis mobil mewah ada disini. Total ada sebanyak lima belas mobil mewah. Tanpa sadar Liona menelan salivanya.


“Reinhard, apakah kamu mau pamer karena kamu memiliki banyak mobil mewah ya?” tanya Liona.


“Apa kamu mencoba memuaskan egomu?”


Reinhard terdiam sejenak kemudian menunjuk kesebuah mobil yang berada disudut, “Mobil itu untukmu! Aku tidak mau kamu naik taksi lagi.”


Liona melihat kearah yang ditunjukkan pria itu dan tercengang.


Dia tertegun beberapa saat dan tiba-tiba bergegas berlari menuju ke mobil itu. Liona berlari mengelilingi mobil itu lalu memeluk mobil dengan erat.


“Ini benar-benar gila! Aku tidak pernah menyangka punya kesempatan untuk melihat mobil ini dalam hidupku. Sungguh luar biasa.” hadiah tak terduga ini mengejutkan sekaligus menggetarkan hati Liona.


Liona menyentuh mobil itu dengan kasih sayang dan memandangnya seolah-olah sedang mengagumi seorang kakasih. “Ya Tuhanku! Bugatti Veyron memang pantas disebut sebagai salah satu mobil sport kelas dunia. Lihatlah betapa rampingnya body mobil ini. Dan interiornya sangat indah, tak tertandingi. Ada laporan yang mengabarkan hanya perlu delapan detik untuk melaju hingga seratus kilometer perjam.”


“Dan kecepatan maksimum mencapai 467km/jam. Yang paling penting, mobil ini dijual dengan harga sembilan puluh milyar rupiah! Wow! Aku tidak bisa membayangkan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah mobil.” setelah mengamati dari berbagai sisi, Liona tiba-tiba menyadari bahwa mobil itu masih baru dan plastik yang membungkus interior didalam juga masih utuh.


Liona membelai mobil itu dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mobil Bugatti kesayangannya. Dia bahkan tidak sadar Reinhard berjalan mendekatinya dan berkata, “Sekarang mobil ini adalah milikmu. Kamu bisa memakainya setiap hari.”


“Apa? Kamu bilang apa barusan? Kamu serius?” Liona curiga telinganya salah dengar.

__ADS_1


__ADS_2