
Reynard masih terlihat sibuk dengan Elvano, Felicia hanya memperhatikan dengan tersenyum, dia senang jika sang ayah mulai dekat dengan Elvano dengan begitu akan lebih mudah bagi mereka untuk semakin rapat.
“Terimakasih paman sudah memberiku Ipad ini, jadi aku bisa belajar banyak.” kata Elvano.
“Sama-sama. Jadi saat mamamu pergi syuting, kamu bisa belajar dari Ipad supaya ngak bosan dirumah. Sekarang kita tetangga, kamu dan Felicia bisa bermain bersama setiap hari.” kata Reynard tersenyum puas. Bukan hanya Elvano yang akan bermain dengan Felicia setiap hari, dia pun akan bertemu Liona setiap hari juga.
Reynard mengakui jika dia sangat menyukai Elvano, untuk anak usia empat tahun bocah itu sangat pintar dan mandiri. Namun pria itu tersentak saat Elvano mengatakan sesuatu “Paman memberikan ini semua karena ingin mendekati mama, iyakan?”
“Iya, benar sekali. Paman memang ingin mendekati mamamu.” kata Reynard tulus.
“Apakah paman yakin? Paman tahu kalau mama punya anak yaitu aku. Paman kaya raya, apakah paman tidak takut jika semua orang membully paman karena menikahi mama ku yang bukan ornag kaya?” tanya Elvano. Dia tidak ingin siapapun menyakiti ibunya dan dia baru mengenal Reynard jadi dia ingin memastikan jika Reynard memang tulus pada ibunya bukan sekedar persinggahan sementara.
“Tentu saja Elvano. Paman ingin menikahi mamamu dan jadi papa buatmu. Apakah kamu keberatan?” tanya Reynard, bagaimanapun dia harus bisa mengambil hati Elvano jika dia ingin memenangkan Liona.
“Apakah paman akan perlakukan mama dengan baik dan mencintai mama dengan tulus? Atau paman ingin jadikan mama sebagai wanita simpanan saja?”
“Bukan begitu. Kamu salah paham. Jika mama mu setuju, paman akan menikahi mamamu dan dia jadi istri sah paman satu-satunya.”
Elvano tersenyum, dia merasa lega mendengar jawaban Reynard. “Apakah kamu sudah yakin sekarang? Masih ada yang mau kamu tanyakan lagi?” kata Reynard pada Elvano.
“Mama baru saja memulai karirnya sebagai aktris dan paman seorang CEO. Bedanya jauh sekali, paman yakin kalau mama pantas untuk paman?”
“Apakah menurutmu mamamu tidak pantas untukku? Paman rasa mamamu cukup baik.”
__ADS_1
“Mama adalah wanita baik dan pantas dapat semua hal bagus didunia ini, paman. Kalau paman bisa bahagiakan mama, aku setuju.”
Reynard tertawa lalu memeluk Elvano. “Terimakasih Elvano sayang. Paman senang sekali mendengarnya. Paman janji akan memberikan yang terbaik untuk mamamu dan kamu juga. Felicia pasti senang sekali.” Tangan Reynard membelai rambut Elvano selama beberapa saat. Elvano menghela napas lega “Paman tidak perlu membuatku terkesan, paman harus bisa memenangkan hati mama.”
“Baiklah. Akan paman lakukan untuk mamamu dan untukmu juga.”
Di dapur semua makanan sudah siap dimasak dan sudah terhidang dimeja makan. Felicia yang sudah duduk menatap semua makanan sambil menelan ludahnya. Felicia mengambil sepotong daging semur dan memakannya “Aduh! Ini enak sekali mama Liona!” teriaknya dengan mata membeliak dan mulutnya yang penuh sedang mengunyah.
“Makannya pelan-pelan sayang.” kata Liona saat melihat gadis kecil itu senang dan bersemangat. Liona menaruk nasi di piring Felicia “Ayo makan, jangan terburu-buru makanan masih banyak.”
“Wow! Masakan mama liona sangat enak! Lebih enak dari makanan restoran!” pujinya.
“Itu karena kamu sedang kelaparan, sayang.”
Gadis kecil itu makan dengan lahap, dia bahkan tak bicara dan hanya fokus pada makanan didepannya saja. Reynard dan Delvin kini sudah duduk dikursi meja makan. Liona hanya menggelengkan kepalanya, kedua orang itu bertingkah seakan sedang berada dirumah sendiri.
“Iya, ayo makan lagipula aku masak banyak, tidak mungkin kami bertiga menghabiskannya.” kata Liona sambil melirik kearah Reynard yang tersenyum padanya.
Liona menyendokkan nasi ke piring Reynard dan menaruh daging semur dan sayur capcai juga. Delvin memperhatikan bagaimana perlakukan Liona pada kakaknya itu. Sikap Liona membuat Reynard bahagia dan melambung tinggi, setidaknya wanita itu bersikap manis padanya. “Silahkan cicipi masakan buatanku.”
Reynard dan Delvin mencoba semua makanan yang dibuat Liona. Benar kata Felicia makanan itu sangat lezat, kedua pria itu makan dengan lahap. Liona tak habis pikir melihat kedua pria itu makan seperti orang kelaparan.
Reynard dan Liona yang duduk berhadapan sesekali saling melirik. “Aku kenyang sekali. Kamu memang pandai memasak Liona! Semua makanan malam ini rasanya enak banget!” puji Delvin mengelus perutnya yang kekenyangan.
__ADS_1
Liona bangkit dari tempat duduknya dan hendak membersihkan meja.
“Tidak perlu Liona! Biar aku saja yang bersihkan. Kamu sudah capek memasak untuk kami. Aku saja yang membersihkan ini semua. Kamu duduk saja ya.” kata Delvin setelah mendapat tatapan tajam dari kakaknya yang mengisyaratkan agar dia mencuci piring. Delvin cemberut melihat sikap kakaknya yang seolah pemilik rumah.
Kedua pria itu lahir dengan sendok emas dimulutnya dan dimanja sejak kecil tapi lihatlah Delvin malah mencuci piring sementara dirumahnya semua dikerjakan pelayan. Tapi demi kakaknya, dia rela berkorban melakukan itu semua. Delvin sudah didapur sedang mencuci semua piring dan gelas. Felicia menarik tangan Elvano dan menariknya keruang tamu. Entah apalagi yang ada dalam pikiran gadis kecil itu. Hanya Liona dan Reynard diruang makan.
“Bos...”
“Liona! Please jangan panggil aku seperti itu. Panggil saja namaku, ok?”
“Oh, baiklah kalau begitu.” terlihat Liona gelisah dikursinya karena Reynard terus menatapnya.
“Apakah kamu takut padaku karena aku atasanmu?”
“Maksudnya apa?”
“Aku lihat kamu selalu merasa tidak nyaman berada didekatku, beritahu aku bagaimana caranya agar kamu bisa merasa nyaman didekatku.”
“A—apa?”
“Nah, kamu malah jadi gugup. Santai saja Liona, meskipun aku adalah atasanmu tapi kamu jangan merasa takut. Kamu tahu kalau aku menyukaimu, bukan?”
Deg! Deg! Deg! Jantung Liona langsung berdetak kencang setelah mendengar pengakuan Reynard. Wajahnya kini merona merah, malu dan tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
“Liona! Cintailah aku! Aku menyukaimu dan aku mencintaimu! Tolong buka hatimu untukku, cintailah aku Liona.” ujar Reynard yang entah sejak kapan sudah duduk disebelah Liona dan saat wanita itu menoleh, wajah mereka sangat dekat dan bisa merasakan napas Reynard yang menyapu kulitnya.
Tubuhnya bergetar seolah desiran hasrat itu muncul, matanya memejam perlahan saat dia merasakan bibir Reynard menyentuh bibirnya. Kecupan lembut mendarat, perlahan Reynard merasakan manis bibir Liona. Melihat wanita itu tak menolak, satu tangannya memegang tengkuk Liona dan bibirnya mengecup bibir tipis Liona yang terbuka sedikit dan mendesah. Keduanya saling membalas ciuman. Delvin yang sudah selesai mencuci piring dan baru saja akan masuk keruang makan, berdiri terpaku disana menatap pemandangan di depannya. Delvin menelan ludahnya melihat sang kakak sedang bersama Liona.