
Liona selalu harus berpura-pura menghormati Miko didepan orang lain dan itu membuatnya merasa tak nyaman. Liona merasa tertekan, takut penggemar Miko akan menyerangnya jika mereka tahu bahwa dulu mereka pernah berpacaran.
Setelah Sutradara Reiki pergi untuk menyiapkan adegan, Miko mengambil naskah dan menatap Liona dengan tatapan tidak senang.
"Apa yang kamu lakukan sekarang? Kenapa menatapku seperti itu?" Liona memicingkan matanya.
"Seandainya Reiki bisa melihatmu sekarang!" ujar Miko kesal.
"Apakah kamu benar-benar ingin aku memperlakukanmu sebagai aktor senior dengan penuh hormat?" tanya Liona memicingkan matanya pada Miko.
"Tidak, lebih baik kamu memperlakukanku layaknya sampah seperti biasanya." omel Miko.
'Kamu pasti sedang bercanda. Jika Liona memperlakukanku dengan hormat suatu hari nanti, aku mungkin pingsan.' bisik hati Miko.
"Liona?"
"Apa ada yang salah?"
"Kenapa kamu marah-marah saja seharian ini? Aku tidak pernah menyinggungmu. Baiklah, biarkan aku menebak. Apakah paman Reinhard melakukan sesuatu yang membuatmu merasa kesal?" tanya Miko yang sontak membuat Liona membeku.
"Sial! Apakah ini memang ada hubungannya dengan paman Reinhard?" ucap Miko yang membuat ekspresi wajah Liona langsung berubah. Miko tidak menyangka jika tebakannya benar. Karena merasa khawatir, Miko segera meraih pergelangan tangan Liona.
"Apa yang sedang kamu lakukan Miko? Lepaskan tanganku! Jika orang lain melihat perbuatanmu, mereka kan menyebarkan rumor tentang kita berdua. Aku yakin para penggemarmu akan menghancurkanku."
'Apa? Dasara wanita bodoh! Ini bukan waktu yang tepat untuk mengkhawatirkan rumor yang tidak mendasar?' Miko terlihat sedang termenung memikirkan sesuatu.
Kemudian dia membungkuk dan bertanya, "Liona, apakah kamu jatuh cinta pada paman Reinhard?"
__ADS_1
Entah kenapa, Liona hanya mengalihkan pandangannya sebagai tanggapan. Dia tidak mengakui atau menyangkal pertanyaan Miko. Namun bagi Miko, sikap Liona itu sudah cukup menjadi jawaban dari pertanyaannya. Tanggapan Liona membuat pria itu merasakan emosi yang tidak jelas didalam dirinya.
"Apa ada yang salah denganmu? Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat?" Liona bertanya dengan nada khawatir menatap wajah Miko.
Wajah Miko berubah menjadi gelap. Dia tiba-tiba meraih tangan Liona dan berkata dengan sungguh-sungguh. "Liona, kalian tidak cocok satu sama lain."
Liona melihat naskahnya dan berkata. "Aku tahu Reinhard berasal dari keluarga kaya raya dan sangat berkuasa. Sedangkan aku bukan siapa-siapa."
"Liona, bukan itu maksudku. Paman Reinhard memang orang yang luar biasa, tapi begitu juga dengan dirimu. Kamu adalah wanita yang jujur, positif dan murah hati. Selain itu kamu membenci pria jahat dan dapat membedakan dengan jelas apa yang kamu sukai atau benci. Kamu juga sudah memiliki seorang putra yang menggemaskan. Kamu pantas untuk mendapatkan yang terbaik." Miko berkata dengan sangat antusias.
'Ya Tuhanku! Apakah pria ini serius? Kenapa dia bicara seperti itu?' Liona menatap Miko dengan mata terbelalak. Dia tidak pernah menyangka bahwa posisi dirinya didalam hati pria itu sangat tinggi. Liona mengedipkan mata dan merangkul bahu Miko seolah-olah mereka adalah teman baik.
"Baiklah, setelah mendengar apa yang kamu katakan barusan, mulai sekarang kita adalah teman baik," kata Liona sambil tersenyum manis. Mendengar perkataan Liona, mendadak tubuh Miko langsung menegang.
"Apa kamu bilang?" seru Miko. Dia kemudian melepaskan tangan Liona dan menambahkan, "Apakah kamu sedang bercanda? Teman katamu? Teman apa? Kamu adalah seorang wanita."
"Baiklah. Apa yang mau kamu tanyakan padaku?" ucap Liona.
"Apa pendapatmu tentang paman Reinhard?" tanya Miko dengan ekspresi serius.
"Ya, dia adalah pria yang sangat baik, perhatian dan tulus. Aku bisa mengatakan bahwa dia adalah seorang pria sejati. Dia tidak banyak bicara dan memiliki aura yang kuat. Tapi selain itu, dia tidak memiliki kekurangan lainnya." Liona menjelaskan dengan detail. Setiap kali Liona mengatakan kebaikan Reinhard, wajah Miko langsung berubah menjadi lebih gelap.
"Hah!~" Miko tersenyum mengejek.
Melihat tingkahnya, Liona mengangkat alisnya dan bertanya, "Mengapa kamu bersikap kekanakan? Ayo jelaskan padaku!"
"Paman Reinhard itu tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Pria penuh perhatian katamu? Baik hati? Seorang pria sejati? Aku tidak percaya kamu menggunakan kata-kata itu untuk menggambarkan paman Reinhard."
__ADS_1
Liona mengerutkan kening karena merasa bingung. Dia tidak paham maksud perkataan Miko.
"Jika paman Reihard bersikap seperti itu kepadamu, maka aku dapat mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa paman memiliki motif tersembunyi padamu. Aku peringatkan ya, semua sikap paman itu hanyalah sebuah pertunjukan belaka!"
Kerutan diwajah Liona semakin dalam setelah mendengar peringatan dari Miko. "Apa maksudmu? Jelaskan secara mendetail!"
"Kenapa kamu tidak mencari di internet dan lihat sendiri apa pendapat dunia tentang pamanku? Mereka semua mengatakan bahwa paman Reinhard adalah seorang pria yang acuh dan dingin kepada siapapun kecuali Felicia. Selama bertahun-tahun dia tidak pernah baik kepada siapapun. Bahkan kepada istrinya dulu saja dia bersikap dingin. Bukankah aneh jika seorang pria dingin seperti paman tiba-tiba bersikap baik padamu?"
Kali iniLiona kehilangan kata-kata. "Semua orang tahu bahwa kakekku memiliki dua orang putra, Reinhard dan Delvin. Hanya sedikit yang tahu keberadaan ayahku, kakaknya Reinhard dan Delvin. Apakah kamu tahu apa alasannya?"
Liona terganga lebar. Dia baru ingat bahwa Reinhard dan Delvin memang memiliki seorang kakak laki-laki. Lagipula, Reinhard tidak pernah menyebutkan nama kakaknya itu. Reinhard jarang sekali membicarakan urusan pribadinya sehingga tidak heran jika pria itu tidak pernah bercerita tentang saudara tirinya.
Namun jika Delvin juga tidak pernah menyebutkan nama kakak tirinya, maka pasti ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Sebelumnya Liona mengira paman Felicia hanyalah Delvin saja, ternyata masih ada paman lainnya. Keluarga Wilfred memiliki tiga orang putra. Reinhard menempati peringkat kedua dan Delvin adalah anak ketiga.
Tetapi Liona tidak pernah mendengar mereka menyebutkan nama kakak laki-laki mereka. Orang asing pasti akan mengira bahwa Abraham Wilfred hanya memiliki dua anak laki-laki saja.
"Miko......"
"Keluarga Wilfred telah mengusir orang tuaku! Tidak hanya itu saja, kakek juga mengumumkan kepada publik bahwa dia tidak mengakui ayahku." ucap Miko dengan suara lirih.
Liona membelalakkan matanya karena terkejut. Dia tidak pernah mengetahui soal ini sebelumnya karena memang tidak ada siapapun yang mengatakan padanya.
"Saat itu kakek lah yang memimpin perusahaan dan keluarga. Dia mengumumkan kepada publik bahwa tidak ada yang mengizinkan untuk mengasosiasikan nama ayahku dengan keluarga Wilfred! Jika tidak maka mereka akan masuk kedalam daftar hitam keluarga Wilfred. Oleh karena itu, tidak ada satu media pun yang berani memuat berita tentang orang tuaku bahkan hingga sekarang." lanjut Miko dengan wajah dingin.
"Tapi apa hubungan semua ini dengan Reinhard? Kamu tadi mengatakan bahwa kakekmu yang berkuasa pada saat itu. Dia yang mengusir orang tuamu." jelas Liona.
"Ya, memang benar begitu. Tapi aku masih belum selesai. Meskipun kakek mengtakan hal-hal yang kejam tapi kakek tidak pernah mempersulit orang tuaku. Bahkan setelah mengusir mereka, kakek memberi orangtuaku hak untuk mengelola hotel yang awalnya dimiliki oleh keluarga Wilfred! Meskipun begitu hanya beberapa tetua saja yang tahu tentang keberadaan orang tuaku."
__ADS_1