
“Hanya itu permintaan saya. Saya mohon agar dipertimbangkan.” kata Liona memohon. Kini dia punya kesempatan memiliki hidup yang jauh lebih baik dan dia tak ingin meninggalkan Hiro begitu saja setelah bertahun-tahun pria itu selalu membantunya.
“Silahkan tunggu sebentar, saya akan tanyakan terlebuh dahulu pada atasan saya.”
“Baiklah. Saya mengerti ini bukan wewenang anda untuk memutuskan.”
Sementara diruang CEO ada Bastian, Delvin dan Reynard yang terlihat tak suka dengan permintaan Liona.
“Ada hubungan apa dia dengan Hiro? Mengapa Liona sangat perhatian pada pria itu?” tanya Delvin sambil melirik kearah kakaknya.
“Diam kamu!” kata Reynard yang terpancing omongan Delvin. “Setujui semua permintaannya.” ucap Reynard pada Mona yang segera kembali ke ruangan dimana Liona berada.
“Baiklah, kak. Aku hanya menerka-nerka saja sebab sekarang ini banyak orang yang tak berani untuk jujur dan mengatakan kebenaran. Mungkin Liona juga begitu, dia tak berani untuk mengungkapkan hubungan sebenarnya dengan Hiro.”
Reynard tak mau mendengar penjelasan adiknya, yang dia mau saat ini adalah Liona segera menandatangani kontrak dan terikat dengan perusahaannya. Dengan begitu Liona takkan bisa menjalin hubungan asmara dengan pria lain tanpa persetujuannya.
“Kak. Apakah kakak baik-baik saja? Wajahmu pucat dan matamu merah.”
“Tidak perlu! Aku baik-baik saja jika kamu menutup mulutmu dan berhenti bicara.” ujar Reynard yang sudah kesal.
“Rey! Apakah kamu benar-benar menyukai wanita itu? Inikah alasanmu merekrutnya di perusahaan ini?” tanya Bastian.
Reynard hanya memandang kearah Bastian sebentar lalu mengalihkan lagi pandangannya tanpa merespon pertanyaan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Bastian. Pernahkah kamu melihat kakakku menghabiskan banyak waktu dan energi hanya memikirkan seorang wanita sebelumnya? Jadi kamu tak perlu menanyakan itu.”
Wajah Bastian langsung berubah kemudian dia pun berkata lagi “Reynard! Hiro Abirama adalah teman dan sahabat kita sejak lama. Kita tumbuh bersama-sama. Apakah kalian pernah melihat dia dekat dengan seorang wanita dan penuh perhatian pada wanita seperti yang dia lakukan pada Liona? Demi seorang Liona Gantari, Hiro datang dan meminta bantuan kita untuk bisa ikut audisi dan mendapatkan peran, menyewakan rumah untuk perempuan itu. Bukan itu saja, dia menyediakan semua yang dibutuhkan perempuan itu. Apakah kamu tega merebut wanita yang dicintai Hiro?”
“Hubungan mereka hanya sebatas teman. Tidak seperti yang kalian pikirkan.” jawab Reynard.
“Kamu salah Reynard! Aku dengar sendiri dari Hiro. Dia yang mengatakan padaku bahwa dia mencintai wanita itu.”
Sontak wajah Reynard menjadi dingin dan tatapan matanya tajam. “Jangan mengada-ada Bastian. Kita semua tahu siapa wanita yang dicintai oleh Hiro.” kata Reynard dengan suara datar. Wajah Bastian langsung merona merah. Sementara diruang lain,Liona membaca kembali isi kontrak dan menghela napas panjang. Kini dia menyesali permintaannya tadi yang dia rasa tidak pantas dan sudah kelewat batas. Jika gara-gara permintaan konyol tadi dia akan kehilangan kontrak bagus itu, dia takkan memaafkan dirinya sendiri. Pasti CEO perusahaan itu mengganggap dirinya seorang pendatang baru yang tidak tahu berterima kasih sudah dikasih kontrak yang bagus dan menguntungkan malah meminta lebih.
Pintu ruangan itu terbuka dan Mona masuk sambil tersenyum “Nona Liona maaf sudah membuatmu menunggu lama.”
Liona yang hendak bangkit dari duduknya dan pergi segera di cegah oleh Mona. “Atasanku setuju dengan permintaan anda.” kata Mona yang membuat Liona sangat terkejut. ‘Apa? Tunggu dulu...kenapa mereka langsung menyetujui permintaanku? Apakah CEO itu benar-benar setuju?
Liona terperangah masih tak percaya.
“Baiklah. Aku akan tanda tangani sekarang juga.”kata Liona bersemangat langsung menandatangani kontrak dan menuliskan namanya. Mona langsung menghela napas lega setelah kontrak di tanda tangani. Dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya ini, pasti Tuan Reynard puas hati sekarang pikirnya. Mona membubuhkan stempel perusahaan dan mulai detik itu juga kontrak berlaku. Mona memberikan satu salinan kontrak pada Liona.
“Nona Liona, bos kami sangat menghargai anda dan ingin berterimakasih langsung pada anda jika tak keberatan silahkan ikuti saya keruangan CEO.” kata Mona masih tersenyum manis.
“Baiklah. Saya punya waktu luang dan juga ingin berterimakasih padanya atas kebaikannya sudah memberikan kontrak yang bagus untukku.” kata Liona basa basi padahal dia harus segera pulang, kenapa malah bilang punya waktu luang. Yang Liona tahu jika CEO dari Wilfred Media adalah Bastian, kenapa pria itu tak mengatakan sepatah katapun tadi saat didalam mobil? Aneh.
“Bisakah anda menunjukkan jalan untuk saya?” tanya Liona pada Mona.
__ADS_1
“Tentu saja, Nona Liona. Silahkan ikuti saya.” sekretaris itu membawa Liona sampai ke lift dengan membawa folder ditangannya diapun berkata “Ruang CEO ada dilantai tiga puluh. Maaf saya tidak bisa mengantar anda kesana karena ada pekerjaan penting yang harus saya kerjakan.”
Liona hanya terpaku dan kehabisan kata-kata. Meskipun dia merasa canggung untuk pergi ke ruangan CEO, ini pertama kalinya dia datang ke gedung itu dan kini dia harus pergi keruanga CEO sendiri.
“Apakah anda baik-baik saja nona? Anda membutuhkan sesuatu?”
“Tidak ada. Terimakasih banyak Mona.”
Mona memindai kartu karyawan miliknya lalu menekan tombol 30 lalu Liona masuk kedalam lift tanpa ragu dan lift membawanya menuju ke lantai tiga puluh. Saat lift berdenting dan pintu terbuka, Liona melihat tempat itu sangat luas dan terang benderang tapi tak ada seorangpun disana. Para karyawan sudah pulang, suasana begitu hening membuat suara sepatu Liona memecah keheningan. Suhu ruangan dilantai tiga puluh itu sangat dingin dan Liona mulai merasa takut mendapati dirinya hanya sendirian disana.
Dia langsung membuang jauh-jauh pikiran buruknya dan melangkah menuju kantor CEO. “Tuan Bastian ini saya Liona Gantarai.”
“Silahkan masuk.”
Jantung Liona berhenti berdetak saat mendengar suara yang tidak asing ditelinganya itu. Itu bukan suara milik Bastian tapi suara itu adalah milik Reynard. Mendadak tubuhnya bergetar, Liona mendorong pintu hingga terbuka dan menatap kearah meja kerja CEO yang kosong. Namun sebuah tangan langsung meraih tangannya masuk. “Aaahhh! Lepaskan!” teriak Liona terkejut.
“Hahahaha….Liona Gantari kenapa kamu terkejut? Lihat wajahmu pucat pasi seperti baru melihat hantu.” ledek Delvin tertawa terbahak-bahak.
“Delvin Wilfred?” Liona memegang dadanya saking terkejutnya melihat Delvin ada disana. “Ngapain kamu disini?”
“Bukan hanya aku tapi kakakku juga disini sedang menunggumu. Itu dia duduk disana.” kata Delvin menunjuk kearah sofa. Reynard duduk di sofa dengan santai sambil melepmarkan senyum pada Liona.
Matanya menatap Liona dengan tajam membuat wanita itu merasa risih. Reynard dan putrinya menghabiskan satu malam dirumahnya dan hanya dalam waktu satu malam saja sudah banyak hal yang terjadi, peristiwa memalukan saat dia tidur bersama Reynard. Liona berpikir dia takkan bertemu lagi dengan Reynard dan putrinya setelah hari itu karena mereka tak pernah datang lagi kerumahnya. Kini wajahnya merona merah mengutuk dirinya sendiri. Sudah jelas-jelas nama perusahaan ini Wilfred Media, pasti akan bertemu lagi dengan Reynard. Kini dia sudah terikat kontrak dan itu berarti dia akan semakin sering bertemu dengan Reynard dan putrinya.
__ADS_1
“Dimana Tuan Bastian?”
“jam kerjanya sudah lewat jadi dia sudah pulang dari tadi.” jawab Reynard dengan suara serak sambil terus menatap wajah cantik Liona. Hari ini penampilan wanita itu terlihat sangat cantik dengan memakai celana jeans warna biru donker dan kemeja putih dengan rambut diikat keatas memperlihatkan leher mulus jenjangnya. Kulitnya sangat halus seputih porselin, dia tampak segar dan terlihat seperti gadis belia. Penampilan Liona itu membuat tubuh Reynard memanas, wajah pria itu langsung merengut. Dua kancing atas kemeja terbuka memperlihatkan bagian dada yang putih mulus ‘Apakah dia berpakaian seperti itu tadi di lokasi syuting? Pikir Reynard yang memikirkan berapa banyak orang yang melihat kulit mulus wanita yang disukainya itu.