CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 21. BOCIL NAKAL


__ADS_3

Keempat orang itu sudah berbaring diatas ranjang, kedua bocah tidur ditengah, tampak mereka saling berpelukan.  Liona yang melihatnya pun tersenyum, ini sungguh pemandangan yang indah. Elvano benar-benar menerima Felicia, bahkan tidurpun mereka berpelukan layaknya kakak adik. Di samping Felicia ada Reynard yang masih belum tidur, dia memandang wajah Liona diremang kamar tidur itu.  Perlahan mata Lionapun terpejam karena lelah diapun tertidur pulas, begitu juga dengan Reynard yang biasanya susah tidur, perlahan matanya terpejam.


Tepat pukul dua pagi, Felicia terbangun, dia duduk diranjang melirik kearah ayahnya dan juga Liona. Tangan mungilnya menggoyang bahu Elvano untuk membangunkannya.  Bocah laki-laki itu membuka matanya perlahan, sontak jari telunjuk Felicia menempel di bibirnya menyuruh Elvano diam. Keduanya saling beri kode, pelan-pelan mereka turun dari ranjang.  Setelah memastikan Reynard dan Liona tak terbangun, kedua bocah nakal itu membuka pintu perlahan dan keluar dari kamar setelah menutup pintu.


“Kakak, kita tidur di kamar kakak aja ya?” tanya Felicia menguap lebar.


“Ayo, cepat. Aku ngantuk sekali.  Kamu mengganggu tidurku.” setelah kedua bocah itu berada didalam kamar Elvano, Felicia berkata “Aku sedang mendekatkan papa dan mama Liona. Kakak mengerti?” kata Felicia berbisik, dia mengambil ponsel Reynard yang terletak di nakas.


“Ya, aku bukan anak bodoh.” ucap Elvano ketus.


“Idih, kakak jangan marah. Kalau papa dan mama Liona menikah, kita jadi saudara, iyakan? Kita tidak kesepian lagi. Ayo, tidur kakak.” tangan mungil Felicia menarik lengan Elvano.  Kedua tidur pulas.


“Kenapa kamu ambil ponsel itu? Anak kecil tidak boleh main ponsel.”


“Aku mau telepon Paman Delvin biar besok pagi datang kesini.”


Felicia membuka kunci layar ponsel ayahnya dan menekan nomor ponsel Delvin.  Setelah beberapa kali berdering akhirnya terdengar suara berat seorang pria “Kakak, kita tinggal serumah kenapa membangunkanku jam segini?”


“Ssssstt…..paman...paman ini aku.”


“Hah? Felicia, kenapa kamu berbisik-bisik? Apa kamu baik-baik saja?”


“Ya. Jangan bicara kuat-kuat paman. Aku dan papa dirumah tan----eh….mama Liona.”


Delvin menggosok wajahnya, terkejut dia melirik jam. Pukul dua pagi, ngapain kak Reynard dan Felicia dirumah Liona jam segini?


“Apa? Kenapa kalian bisa ada disana, sayang?”

__ADS_1


“Aku dan papa menginap disini, paman. Tadi papa mengantarku menemui tante cantik, trus hujan deras dan badai, kami tidak bisa pulang. Kami tidur bersama. Kami keluarga bahagia. Besok pagi paman datang kesini ya, nanti aku kirim alamatnya.”


“Papamu dimana sekarang? Apa dia sudah tidur?”


“Aku dan Kak Elvano tadi tidur sama papa dan mama Liona. Tapi kami sekarang pindah ke kamar Kak Elvano.” kata Felicia riang.


“Jadi---?”


“Papa dan mama Liona bobok bareng….hi...hi..hi...hi… sudah ya paman. Kami mau tidur, sampai jumpa besok pagi. Bye.” Felicia memutuskan sambungan telepon. Lalu mengirimkan alamat rumah Liona pada Delvin setelah bertanya pada Elvano.


‘Ya, ampun. Ini kemajuan cepat, Kak Reynard tidur bareng Liona? Dasar bocil nakal….pasti kedua bocil itu yang merencanakan ini.  Pandai sekali mereka partner in crime.  Delvin kembali membaringkan tubuhnya dan tidur sambil senyum membayangkan kakaknya tidur seranjang dengan Liona.


...*...


Reynard memiliki penyakit insomnia akut, sejak kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya, Reynard tak bisa tidur, kadang dalam sehari dia hanya bisa tidur satu atau dua jam.  Kadang tiga atau empat hari dia sama sekali tak bisa tidur. Penyakit insomnia akut yang dideritanya menyebabkan kesehatannya pun terganggu.  Tapi malam ini dia terlihat tidur nyenyak, tak ada diantara mereka tahu jika kedua bocah sudah tak ada disana, tinggallah Reynard dan Liona tidur seranjang.  Malah tubuh mereka pun kini mendekat, tidur saling berhadapan.  Aroma tubuh Liona yang menenangkan membuat Reynard tertidur pulas. Tangan Liona tanpa sadar memeluk Reynard yang dipikirnya adalah Elvano.


Pagi ini Elvano dan Felicia sudah bangun dan duduk di meja makan, Delvin datang jam enam pagi membawa sarapan, rasa penasaran membuatnya datang awal sekali, dia ingin menjadi saksi atas ucapan keponakannya tadi malam. “Feli, mana papamu?”


“Sssttt…..masih tidur.” ucapnya sembari jari telunjuknya mengarah kekamar Liona. “Jangan diganggu Paman, biarkan saja papa tidur puas, biasanya papa susah tidur, iyakan?” katanya memiringkan kepala, tingkahnya yang lucu membuat Delvin mengusap kepala gadis kecil itu.


“Eughh…..” lenguh Liona.  Dia merasa tidurnya sangat pulas tadi malam, ada kenyaman yang belum pernah dia rasakan selama ini.  Hidungnya menghirup aroma maskulin, ini bukan wangi pengharum ruangannya tapi lebih ke wangi tubuh seorang pria. Aduh! Dengan cepat dia membuka mata.


Deg!


Ya, Tuhan. Kemana anak-anak? Reynard memeluknya sangar erat, tangan Liona memeluk leher Reynard. Dia berusaha menarik tangannya tanpa membangunkan pria itu. Saat dia sedang berusaha melepaskan tangannya, pria itu terbangun “Selamat pagi, sayang.”


“Apakah ini trik murahan yang kamu gunakan Tuan Reynard? Aku sudah mengijinkanmu menginap dirumahku tapi kamu ingin menjebakku, pasti kamu sengaja memindahkan anak-anak agar bisa tidur denganku, iyakan?”

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanya Reynard melepaskan pelukannya, dia pun tak tahu kenapa mereka berdua saja disana, kemana anak-anak?


“Sudahlah! Tidak usah berpura-pura lagi.  Orang kaya seperti anda memang selalu berpikir bahwa semua wanita itu sama saja.  Dengan wajah tampan dan harta kekayaan yang anda miliki pasti berpikir saya akan tertarik?”


“Tunggu! Tunggu, kamu sudah salah paham, Liona. Aku sama sekali tidak tahu kenapa kita bisa tidur berdua. Kemana anak-anak?”


“Huh!” Liona mendengus marah dan keluar dari kamar diikuti Reynard dibelakangnya.


“Selamat pagi mama.” sapa kedua bocah serempak saat melihat Liona dan Reynard keluar dari kamar.  Sontak Delvin menganga dan matanya terbelalak. Jadi benar kata Felicia, Kak Reynard tidur berdua dengan Liona? Wah ini sungguh hal yang luar biasa.


“Selamat pagi kak.” sapa Delvin, namun dia melihat wajah Liona yang merona.


“Kenapa kalian berdua ada disini?” tanya Liona sambil melipatkan kedua tangannya didada.  Tahu jika ibunya marah, Elvano berdiri menundukkan kepala.


“Maafkan aku ma. Tadi malam aku menemani Felicia karena perutnya sakit. Aku takut membangunkan mama jadi kami  berdua tidur di kamarku.”


“Bukan! Ini salahku….huaa…..huaaa…..kalau perutku tidak sakit, pasti semua tidak begini,” kata Felicia terisak-isak sambil memegangi perutnya. Liona memperhatikan gadis itu, memastikan dia mengatakan yang sebenarnya dan bukan berbohong, dia tahu Felicia sangat pandai berakting. Reynard berdiri disamping Liona hanya memperhatikan bagaimana wanita itu memarahi kedua anak kecil didepannya.


“Kenapa perutmu?” tanya Liona.


“Tadi malam perutku sakit sekali, aku membangunkan Kak El untuk menemaniku ke kamar mandi. Tapi perutku masih sakit aku mengajak Kak El tidur dikamarnya. Jangan marah mama, pleaseee….”


“Apakah kalian berdua berbohong?”


“Tidak!” jawab mereka serempak.  Liona memperhatikan keduanya dan melihat dari mata kedua bocah itu kalau mereka tidak berbohong.


“Baiklah. Kali ini mama maafkan karena alasan kalian tepat. Tapi, jika kalian berbohong mama akan marah besar. Mama akan menghukum kalian berdua.”

__ADS_1


“Iya, ma.  Maafin kami.” keduanya memeluk Liona sambil saling melirik seakan rencana mereka berhasil.


__ADS_2