CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 66. VENA BERULAH LAGI


__ADS_3

Waktu tak terasa berjalan cepat, tepat tengah hari pas istirahat siang tampak seorang pelayan dari rumah Reynard datang ke lokasi syuting membawakan makan siang bergizi untuk calon nyonya mudanya. “Apa yang kau bawa?” tanya Vena menghadang pelayan itu saat dia melihat seorang pelayan datang ke lokasi syuting dan mengenali pelayan itu adalah pelayan keluarga Wilfred.


“Maaf  Nona, saya buru-buru. Permisi.”


Tak senang karena diacuhkan, Vena kembali menghadang pelayan itu. “Apa yang kau bawa? Apa kau tidak tahu aturan dilokasi syuting tidak membolehkan orang asing masuk. Jangan-jangan kau membawa bom.” tuduhnya.


“Saya diminta Tuan Besar mengantarkan makan siang untuk Nyonya.” jawab pelayan itu. Mendengar ucapan pelayan itu membuat Vena marah ‘Nyonya? Huh…..’


“Apa kau bilang barusan? Nyonya? Tidak salah tuh?”


“Tolong jangan mempersulit saya, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Besar. Saya datang untuk melayani Nyonya Besar.” jawab pelayan itu mengacuhkan Vena dan pergi.


“Kurang ajar! Apa yang dilakukan Liona hingga dia bisa jadi Nyonya! Jika aku tidak bisa masuk ke keluarga Wilfred maka Liona juga takkan bisa masuk.”


Vena meraih ponselnya dan menghubungi kekasihnya. Seth yang masih dalam suasana hati yang buruk menatap nanar ponselnya yang berdering. Dengan malas dia menjawab “Ya, ada apa?”


“Babe, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja." tanya Vena dengan suara manja.


“Aku sedang kurang enak badan, hanya kecapean saja. Ada apa menelponku? Apakah kau sudah makan siang?”


“Aku sedang marah. Liona membuatku marah!”


“Apalagi yang dilakukannya padamu? Cepat katakan?”


“Kau tahu tidak, tadi pelayan keluargamu datang mengantarkan makan siang untuknya. Pelayan itu bahkan memanggil Liona dengan sebutan ‘Nyonya’…...sungguh keterlaluan.”


“Apa? Apa pelayan itu masih ada disana? Cepat cari pelayan itu dan berikan pinselmu padanya, aku mau bicara.”


“Tidak usah. Tadi pelayan itu bilang kalau dia diperintahkan oleh pamanmu untuk mengantar makanan sehat pada Liona. Entah apa yang sudah dilakukan wanita ****** itu hingga pamanmu begitu mencintainya.”

__ADS_1


“Vena…..aku tidak peduli. Cari pelayan itu sekarang biar aku peringatkan dia untuk hormat padamu.”


“Babe...kalau kau lakukan itu nanti pelayan itu pasti melapor pada Tuan Reynard. Dia pasti memarahimu, aku tidak mau memperburuk hubunganmu dengan pamanmu.”


“Oh Vena, kau sangat perhatian sekali. Jangan susah hati, aku akan beri pelajaran pada Liona.”


“Berhati-hatilah, aku tidak mau kau terkena masalah nantinya.” kata Vena pura-pura.


Ditempat lain masih dilokasi syuting, pelayan pun menemui Liona dan memberikan makan siang yang dibawanya. “Nyonya, ini makan siangnya. Maaf kalau saya agak terlambat tadi ada yang cegat saya pas mau kesini.”


“Siapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Liona mengeryitkan dahi. Ini pertama kalinya pelayan itu datang mengantar makan siang untuknya tapi kenapa ada yang mencegat? Siapa?


“Itu nyonya…...kalau tidak salah sih dia itu kekasihnya Tuan Seth.”


“Vena, maksudmu?”


“Dia bilang apa tadi?” tanya Liona penasaran bagaimana bisa Vena mengenali pelayan itu. “Memangnya kamu kenal sama dia?


“Dulu saya kerja di rumah utama Tuan Besar. Saya pernah lihat dia disana pas acara keluarga besar Tuan Besar. Kebetulan waktu itu saya yang mengantarnya ke kamar tamu untuk tukar baju.” kata pelayan itu menjelaskan.


“Oh begitu. Lain kali kalau bertemu dengannya lebih baik menghindar ya. Tidak usah diladeni.”


“Baik, nyonya.”


“Ya sudah kita makan dulu. Makanannya terlalu banyak, tidak mungkin saya makan sendiri. Ayo, duduk sini dan makan bareng saya.”


“Ta---tapi nyonya, itu makan siang untuk nyonya.”


“Iya saya tahu. Udah duduk sini, kita makan sama-sama.” ajak Liona menarik tangan pelayan itu agar duduk bersamanya di taman belakang.  Keduanya duduk di rest area yang dikelilingi pepohonan dan ada kolam ikannya.  Liona selalu bersikap baik pada semua pelayan dirumahnya dan juga dirumah Reynard.

__ADS_1


Selesai makan siang, Liona mengajak pelayan itu berkeliling sebentar. Bagi Liona ini adalah pengalaman baru untuk pelayan itu bisa melihat lokasi syutingnya. Setelah jam istirahat selesai pelayan itu kembali kerumah. Dari kejauhan Vena menatap Liona dengan penuh kebencian, apalagi dia melihat bagaimana sikap Liona pada pelayannya. Siang ini pengambilan gambar banyak adegan antara Liona dan Vena, dimana ada adegan keduanya bertengkar saat berada di perkebunan.


Liona mengenakan pakaian berupa gaun panjang dengan motif bunga, rambutnya diikat asal menampilkan gaya seorang wanita cantik alami yang kecantikannya menyatu dengan alam. Sementara Vena mengenakan kostum mewah layaknya sosialita, penampilan keduanya sangat kontras.  Saat pengambilan gambar ada adegan dimana Liona dan Vena akan bertengkar diatas jembatan disebuah sungai kecil.


“Pengambilan gambar hari ini segera dimulai.” ujar sang sutradara “Kamera action!”


Dalam adegan awal terlihat Liona yang berjalan disekitar perkebunan bunga, menghirup aroma bunga yang semerbak. Terlihat dari kejauhan Vena datang mendekat bersama seorang pelayan setianya dan saat melihat Liona yang terlihat bahagia membuatnya sangat marah. Tangannya siap menampar wajah Liona namun suara seorang pria berteriak memanggil Liona. Melihat si pria yang memanggil Liona ternyata adalah suami Vena membuat Vena sang istri pertama pun mengamuk lalu menjambak rambut Liona.


“Arghhh…...”teriak Liona kesakitan, Vena dengan sengaja menjambak Liona kuat hingga wanita itu merasakan sakit seakan rambutnya tercabut dari kepala.


“Cut!” wajah sang sutradara tampak tak senang melihat adegan itu meskipun akting Vena dan Liona nampak alami tapi si sutradara menyadari ada yang tak beres. Wajah Liona pucat, tangannya memegangi kepalanya yang sakit.


“Vena! Apakah kau gila, ha?” teriak sutradara.


“Maaf! Aku terlalu mendalami peranku, tak sengaja tanganku menarik rambut Liona terlalu kuat.” kata Vena membela diri.


“Kau hanya perlu berakting! Tidak perlu benar-benar menarik rambutnya sekuat itu. Apa kau paham?”


“Ya...ya. Tapi aktingku sudah bagus, apakah sutradara tidak melihat ekspresi wajah kami berdua terlihat alami dan bukan dibuat-buat?”


“Siapa yang sutradara disini, aku atau kau? Kalau kau tidak bisa bersikap profesional dalam bekerja, silahkan keluar!” amarah sang sutradara makin memuncak melihat sikap Vena yang angkuh dan selalu merasa diatas angin hanya karena Seth selalu mendukungnya.


“Liona, apa kau baik-baik saja? Kau boleh ambil jeda sebentar, setelah rasa sakitnya hilang baru akan dilanjutkan pengambilan gambarmu.”


“Tidak perlu. Aku baik-baik saja dan kita bisa lanjutkan syutingnya sekarang toh dokter sudah memeriksaku. Aku hanya ingin pengambilan gambarku untuk hari ini bisa selesai tepat waktu.” ujar Liona.


“Baiklah, jika kau merasa lebih baik sekarang.” sang sutradara pun memerintahkan para kru untuk melanjutkan pengambilan gambar. Liona yang sudah terlanjur kesal pada Vena hanya menatap tajam adik tirinya itu.


 

__ADS_1


__ADS_2