
Reynard memandang wajah Liona yang memerah, dia bergerak naik dan menatap wajah wanita yang dicintainya itu “Aku tidak akan melakukannya, sayang.”
“Hee…..?” Liona balas menatap Reynard dengan tatapan sayu. Dia tidak menyangka jika pria itu tidak mau melakukannya ‘Dia ini normal atau tidak ya?’ pikiran Liona justru dipenuhi tanda tanya. Untuk ukuran seorang pria yang menduda sekian tahun, apakah wajar jika dia masih bisa menahannya jika wanita cantik didepannya begitu sangat menggoda?
“Aku mencintaimu, Liona! Aku akan melakukannya jika kau pun menginginkannya.”
Liona menarik wajah Reynard dan menciumnya, memainkan lidah didalam mulut pria itu seakan memberinya kepastian kalau dia juga menginginkannya.
“Rey…...aku mencintaimu. Akan kulepas untukmu Rey!” Begitu kalimat itu meluncur dari bibir Liona, Reynard merasa bahagia, toh mereka berdua juga sudah dalam keadaan sama-sama polos. Ciuman Reynard semakin ganas dan liar dipenuhi birahi yang sudah lama tertahan, leher dan dada Liona sudah penuh dengan tanda kepemilikan. Saat merasakan jika bagian bawah Liona sudah sangat basah, perlahan dia mendorong masuk, kening Liona berkerut menahan sakit “Ahh…...sakit,” lirihnya.
“Sssttt…...sebentar sakitnya sayang. Tahan ya,” bisik Reynard di telinganya. Setelah berusaha beberapa saat dan mendesak perlahan, dengan satu hentakan miliknya menyesap masuk memenuhi gua hangat itu.
“Haaa……...” bulir kristal jatuh disudut mata Liona saat satu hentakan menembus selaput tipis miliknya yang robek.Tangan Reynard menghapus bulir airmata disudut mata Liona lalu menciumnya. Dia masih tidak bergerak dan menunggu Liona merasa nyaman.
Perlahan Reynard mengulum gundukan kembar Liona dan pinggulnya mulai bergerak perlahan. ******* dan lenguhan memenuhi kamar itu, gerakan pelan berubah menjadi lebih cepat dan penuh gairah. Sepasang kekasih yang memadu kasih untuk pertama kalinya itu pun mengulangi pergulatan mereka untuk kesekian kalinya hingga menjelang subuh. Reynard begitu liar dan tak lelah sedikitpun memuaskan Liona dengan berbagai gaya hingga gadis itu kelelahan dan tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga.
“Ah…..Liona sayang.” lirih Reynard yang baru saja menuntaskan hasratnya saat melirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat tigapuluh pagi. Tubuhnya luruh disamping Liona dan menarik selimut menutupi tubuh keduanya. Tangannya memeluk Liona “Maafkan aku sayang, aku menggempurmu tanpa henti…….arrggg kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku?”
Keesokan paginya, kamar utama masih tertutup rapat. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan tidak ada tanda-tanda dua manusia yang sedang lelap dikamar utama akan bangun.
“Diketuk saja pintunya Kak!” kata Felicia yang sudah berdiri didepan pintu bersama Elvano.
“Sepertinya papa Rey dan mamaku masih tidur, biarkan saja Feli. Papamu kan susah tidur biarkan saja dia istirahat.” kata Elvano.
“Ihhh…..aku mau lihat. Papa! Mama! Bangun…..” teriak Felicia.
“Ckk…..si gendut ini menyusahkan saja.” tangan Elvano menarik tangan Felicia menjauh “Kenapa kau berisik sekali? Biarkan saja mereka tidur jangan diganggu,” kesal Elvano.
“Nona muda dan Tuan muda lagi apa disini? Ayo turun sarapan,” kata pengasuh Felicia bernama Nancy.
“Aku mau membangunkan papa dan mama Liona, biar sarapan sama kita,”
__ADS_1
“Sebaiknya nona muda sarapan duluan, mungkin Tuan masih tidur nyenyak jangan di ganggu ya,” bujuk Nancy “Apa Nona Muda tidak kasihan pada Tuan Reynard yang susah tidur?”
“Hem…..benar juga katamu. Ayo kita sarapan,” tangannya kini menarik lengan Elvano yang mendengus sambil menggelengkan kepalanya.
Kedua bocah itu duduk dan menikmati sarapannya “Feli! Jangan terlalu banyak makan nanti kau tambah gendut, apa kau tidak sesak kalau badanmu tambah besar?”
“Kak El kenapa selalu mengejekku? Kan aku sudah berulang kali bilang, aku tidak gendut hanya sedikit chubby,”
“Huh! Apa bedanya? Chubby karena gendut. Jangan makan banyak, nanti kau tidak sanggup lari kalau kita dikejar orang jahat,”
“Ha…..benar juga. Baiklah…..demi Kak El maka aku tidak akan makan banyak.”
“Bagus! Karena aku kakakmu, kau harus menuruti kata-kataku. Aku sudah bersedia membagi mama denganmu jadi jangan lupa janjimu,”
“Iya…..iya…..kak El bawel! Apa mama Liona pergi syuting hari ini? Kenapa lama sekali bangunnya?”
“Hari ini libur, tidak ada syuting.” timpal Elvano yang sesekali melirik kearah tangga ingin melihat apakah mamanya turun untuk sarapan namun tak tampak siapapun.
“Iya cerewet. Habiskan makanmu,” kata Elvano.
“Okay!”
“Selamat pagi anak-anak,” kata Delvin yang muncul dirumah itu.
“Ah….paman Delvin! Kapan paman kembali? Ada oleh-oleh untukku?”
“Selamat pagi paman,” sapa Elvano.
“Paman sudah sampai tadi malam tapi capek sekali jadi paman langsung tidur. Paman bawa banyak oleh-oleh untuk kalian.” mata Delvin mengedar sekeliling rumah tak melihat keberadaan kakaknya.
“Terimakasih paman!” serempak kedua bocah itu berucap.
__ADS_1
“Dimana papamu?” tanya Delvin penasaran.
“Hmm…..papa dan mama Liona masih tidur. Kata bibi Nancy jangan diganggu.”
“Liona?”
“Iya paman. Aku dan mama menginap disini tadi malam,” balas Elvano.
“Liona dan Kak Rey tidur bersama di kamar utama?”
“Iya Paman Delvin tampan…….kenapa? Paman cemburu ya?” goda Felicia. “Makanya paman jangan banyak pacar, cukup satu saja lalu menikah jadi bisa tidur sama-sama.”
Wah….wah…...hebat juga Kak Reynard jam segini belum bangun, ngapain mereka semalaman? Luar biasa memang kau kak! Delvin senyum-senyum membayangkan apa yang terjadi. “Felicia! Elvano! Ini oleh-oleh untuk kalian. Paman pergi dulu ya.”
“Terimakasih paman.”
...****...
“Euuhhhh…...” lenguhan Liona, menggerakkan tubuhnya yang pegal, matanya masih terpejam.
“Cup…..selamat pagi sayang,” sebuah kecupan mendarat di bibir Liona.
“Hmmm…….” matanya masih terasa berat dan tubuhnya lemas akibat pertarungan sepanjang malam, Liona kehilangan seluruh tenaganya. Reynard mengelus pipi mulus wanita yang dicintainya dan tersenyum. Mengingat liarnya pergumulannya dengan Liona semalam, dia puas dan bangga menjadi pria pertama bagi Liona. Jam didinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Reynard menyibakkan selimut yang menutupi tubuh keduanya.
Matanya menelusuri tubuh mulus didepannya yang banyak tanda merah. Perlahan dia turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat dan aromatherapy. Reynard kembali masuk ke kamar dan menggendong tubuh Liona. “Rey…...”
“Iya sayang. Kita berendam dulu ya biar segar. Apa masih sakit?”
“Sakit dan perih,” tubuhnya dibaringkan Reynard di bak mandi, perlahan mata Liona terbuka merasakan air hangat dan wangi aromatherapy. Tubuh Liona berada di pangkuan Reynard, tangannya mengusap lengan Liona. Bibir keduanya kembali bertaut “Sayang…..maafkan aku soal tadi malam.”
“It’s ok. Rey…..aku gosok punggungmu ya,”
__ADS_1
Keduanya bergantian menggosok punggung, selesai berendam dan mandi bersama. Reynard dan Liona berganti pakaian lalu turun ke lantai bawah. Terlihat dua bocah dan Delvin yang sudah kembali lagi kerumah itu sedang duduk main games. Liona berjalan perlahan karena rasa perih dibagian bawah tubuhnya masih terasa. Tangan Reynard menggenggam tangannya, dia melihat Liona sedikit kesulitan berjalan karena rasa perih yang dirasakannya.