
“Bahan kain dan designya sangat luar biasa.” ujar Liona dengan bangga. “Pantas saja harganya sangat mahal, mantel ini terlihat sangat sempurna. Tadinya aku berencana ingin membelikanmu sebuah setelan berwarna merah anggur, aku sangat yakin setelan itu sangat bagus jika kau pakai. Tapi setelan itu edisi terbatas dan hanya ada satu di kota dan sudah duluan dibeli. Sayang sekali.”
“Apakah benar?”
“Ya. Mungkin kau mengenal sepupuku Saskia. Beberapa tahun lalu dia menikah dengan Arjuna Sutoyo dan Saskia membeli pakaian itu sebagai hadiah untuk suaminya. Mungkin kau akan melihat Arjuna mengenakan pakaian itu perusahaan.”
Arjuna Sutoyo bekerja sebagai penanggung jawab proyek serial TV untuk Wilfred Media dan dia juga memegang jabatan sebagai Manager cabang.
Saat mereka berjalan pulang, Reynard dan Delvin berjalan dibelakang Liona dan anak-anak. Raut wajah Reynard tanpa ekspresi lalu dia melirik adiknya yang berjalan disampingnya. “Delvin….”
“Ya. Ada apa kak?”
“Sepertinya Wilfred Media sedang kelebihan staf. Coba kau carikan pekerjaan lain untuk Arjuna.” ucap Reynard dengan tegas lalu menyusul Liona dan anak-anak.
Delvin tercengang tak percaya dengan apa yang dia dengar. ‘Apakah dia bersungguh-sungguh? Hanya karena Saskia membeli setelan yang ingin Liona beli, dia membuat Arjuna membayar kesalahan istrinya? Ya ampun! Mulai sekarang aku harus memastikan tidak menyinggun perasaan Liona, bisa mampus aku.’ pikir Delvin sambil mendesah.
Cuaca yang panas membuat mereka berkeringat saat tiba di LeGarden Residence. Liona dan Reynard berpisah dipertigaan jalan. Sebelum Liona pergi, Felicia menghentikannya. “Tunggu dulu!”
“Ada apa sayang?” tanya Liona.
“Aku ingin foto dengan mama dan Kak El.”
“Baiklah,” ucap Liona tersenyum. Meskipun mereka sudah kenal cukup lama tapi Liona belum pernah berfoto bersama Felicia. Felicia mengeluarkan ponsel Reynard dan menyalakan kamera. Gadis kecil itu menyerahkan ponsel pada Delvin tanpa ragu-ragu kemudian berlari ke dekat yang lain. Liona duduk di jalan berbatu warna biru dengan kaki bersilang dan membelakangi matahari.
Elvano dan felicia memilih duduk dikedua sisinya. “Nah, paman Delvin cepat ambil fotonya! Ingat ya, ambil foto yang cantik!” ujar felicia memberi perintah.
“Baiklah, sayang.” Delvin memanipulasi telepon ditangannya sambil melirik kearah Reynard dengan diam-diam. Dia mencurahkan seluruh hati dan jiwanya untuk mengambil foto terbaik.
‘Ya ampun Liona, Elvano dan Felicia tampak serasi dan luar biasa dengan pakaian yang sama. Sungguh pemandangan keluarga harmonis!’ pikir Delvin dalam hati. Dia dengan bersemangat mengambil beberapa foto tambahan untuk grup fotogenik. “Sudah selesai!”
Felicia berlari mendekati delvin dan saat melihat foto-foto yang telah diambil, dia sangat senang, “Wow! Fotonya keren! Bagus sekali paman!”
__ADS_1
“Sudah pasti! Aku ahli dalam fotografi.”
“Maksudku kami terlihat sangat cantik.” ucap Felicia.
Delvin tercengang dan mengeryitkan kening mendengar ucapan keponakannya. Dia tidak tahu kalau keponakannya itu sangat narsis tapi delvin tahu kalau Felicia hanya bercanda.
Liona pun mendekat untuk melihat foto. “Wow…..foto-foto ini benar-benar cantik!”
Delvin merasa bangga dan mengangkat dagunya atas pujian itu. Liona mengusap dagunya dan bercanda, “Tentu saja fotonya cantik jika seseorang cantik alami seperti kami maka kamera akan menangkap kecantikannya. Tidak peduli kau yang memotretnya ha ha ha ha…...”
Delvin terdiam kehilangan kata-kata, dia memandang Liona dan Felicia dengan tatapan aneh. Kemudian perasaan aneh memasuki pikirannya, mereka berdua ini terlihat seperti ibu dan anak yang sempurna!
“Delvin jangan lupa mengirimkan fotonya ke nomorku!”
“Baiklah.”
“Aku dan Elvano pulang dulu dan mandi. Sepertinya bakal hujan.”
Sedikit terkejut tapi Liona hanya menjawab dengan anggukan.
Setelah selesai mandi, Felicia menguap. “Kau mengantuk?” tanya Reynard khawatir.
Felicia mengangguk lesu. Dia mengulurkan kedua tangannya dan Reynard memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Papa! Bisakah papa menemaniku tidur siang?” Felicia melingkarkan tangannya dileher Reynard.
“Oke sayang.” Dia memasuki kamar Felicia dan meletakkan putrinya ditempat tidur dengan lembut. Kemudian dia menutup tirai, “Tidurlah.”
“Papa disini bersamaku. Jangan kemana-mana.” ujar Felicia manja. Reynard tidak punya pilihan lalu membaringkan tubuhnya disamping putrinya.
“Papa semangat ya. Aku mendukung papa.” Felicia menarik-narik pakaian Reynard meskipun matanya mengantuk.
__ADS_1
“Apa maksudmu, sayang?”
“Papa harus secepatnya menikahi mama Liona. Aku ingin mama Liona jadi mamaku dan selalu ada disisiku.”
“Tidurlah.” ucap Reynard mengelus kepala putrinya. Tak butuh lama, Felicia tertidur pulas karena lelah. Reynard mengeluarkan ponselnya dan melihat-lihat foto yang diambil Delvin. Mata pria itu terpaku pada foto-foto seolah sedang menatap harta karun. Tatapan lembut Reynard menatap foto itu lama.
Semakin dia mengamati foto-foto itu, semakin hatinya merasa senang. Reynard pun menyadari jika mata Felicia persis seperti mata Liona. Sungguh kebetulan yang menyenangkan! Reynard tersenyum gembira lalu mengirimkan semua foto itu pada Liona. Terakhir dia memasang foto mereka bertiga sedang duduk dijalan berbatu biru sebagai screen savernya. Setelah itu dia memposting foto mereka di momen whatsappnya.
Foto tiga orang sedang berdiri membelakangi kamera, Liona berdiri ditengan sambil memengangi tangan anak-anak. Di foto itu Liona terlihat sedang membelakangi cahaya dan rambut ekor kudanya terbang. Meskipun foto itu hanya menampilkan bagian belakang Liona, tapi orang lain dapat melihat bahwa dia bahagia.
Reynard memposting foto itu dengan dua kata, “My Love \= Cintaku.”
Tak lama setelah foto diposting, beberapa komentar muncul dibawah postingan foto itu.
Delvin ,”Wow hasil jepretanku sangat bagus!”
Arjuna, “Sejak kapan kau punya anak laki-laki?”
Hiro hanya meninggalkan serangkaian emoji frustasi dibawahnya.
Rangga berkomentar “Ya Tuhanku! Bro kau sangat luar biasa. Kapan kau akan memperkenalkan istrimu pada kami?”
Reynard merasa sangat senang membaca komentar dari orang-orang terdekatnya. Setelah di merefresh halaman itu, muncul dua komentar lagi. Salah satunya adalah komentar ayahnya.
“Benarkah? Apa kau bersungguh-sungguh?”
Komentar satu lagi dari ibunya yang sepertinya marah. Davina hanya meninggalkan tiga emoji marah lalu menambahkan komentar lain. “Reynard tolong luangkan waktumu datang kerumah secepatnya. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
Reynard mengeryitkan kening dan membalas komentar ayahnya terlebih dahulu. “Ya.”
Lalu dia membalas komentar ibunya, “Baik.”
__ADS_1
Dia me-refresh lagi tapi tidak melihat komentar dari Liona, dia merasa sedikit sedih. Dengan ekspresi masam dia meletakkan ponselnya di atas nakas disamping tempat tidur. Liona yang mengemas pakaian yang dia pilih dan memasukkan kedalam tas yang ada disamping tempat tidur. Melihat pakaian itu Reynard jadi teringat Liona saat dia mengatakan kalau belum pernah membelikan pakaian pria dewasa sebelumnya. Tatapan mata Reynard perlahan jadi lembut.