
Liona hanya mengedipkan matanya. “Apakah kau takut pada Reynard?”
Miko merasa agak malu, dia membuang muka lalu berkata, “Jangan bicara omong kosong! Kenapa aku harus takut pada pamanku sendiri?”
“Ha ha ha ha aku tidak percaya jika seorang Miko Altezza yang dikenal tidak punya rasa takut ternyata takut pada pamannya.” Liona tertawa terbahak-bahak.
“Liona! Berhenti tertawa!” Miko marah karena merasa malu. Dia merasa seperti sedang tertangkap basah saat tidak mengenakan celana. Liona langsung tertawa lepas seolah mengejek pria itu. “Akhir-akhir ini kau sering mengancamku. Jika kau berani mengancam atau bahkan membocorkan berita bahwa kita pernah menjalin hubungan asmara maka aku akan merayu Reynard dan menjadi tantemu! Lalu aku akan mempengaruhi pamanmu untuk menghukummu setiap hari! Ayo, nak. Coba panggil aku Tante Liona.”
Miko sangat kesal, dia tidak bisa mengalahkan otak Liona. Kenapa wanita ini tidak sadar betapa gentingnya situasi sekarang? Paman Reynard! Banyak orang diluar sana secara terbuka memberinya julukan “Iblis” atau “Tiran”. Sepengetahuan Miko, tidak ada seorang wanitapun yang bisa mendekati pamannya. Tidak heran jika rumor menyebar bahwa dia mungkin seorang homoseksual. Meskipun begitu, ada banyak wanita yang masih saja mencoba untuk memenangkan hati pamannya.
Wanita-wanita itu sangat berani, biasanya mereka selalu berakhir dengan patah hati. Miko pernah mendengar ada seorang wanita yang jarinya dipotong pada hari berikutnya karena mencoba menyentuh Paman Reynard. Sejak kejadian itu reputasi Reynard sebagai pria yang kejam menyebar kemana-mana. Dalam beberapa tahun terakhir, satu-satunya wanita yang berhasil selamat adalah istrinya yang melahirkan Felicia, itupun karena mereka dijodohkan dan setahunya jarang menghabiskan waktu bersama. Ibaratkan istrinya itu hanya pabrik untuk membuat anak, penerus keturunannya.
Miko sangat mengkhawatirkan nasib Liona di masa depan jika dia menjalin hubungan dengan Reynard. Satu hal yang tidak diketahui pria itu adalah, Reynard dan Liona sudah tidur bersama. “Liona! Paman Reynard benar-benar…..”
“Oh iya!” tiba-tiba Liona ingat sesuatu. “Apakah kau adalah kakak Felicia?”
Miko yang merasa tertekan menjawab, “Bukankah sudah jelas?” dengan perasaan sedikit kurang nyaman karena memiliki sepupu yang masih kecil.
“Ha ha ha ha…..ha ha ha ha…...” tawa Liona semakin kencang menggema diruang tamu itu. Dia sampai memegangi perutnya. “Tahukah kau kalau Felicia memanggilku ‘Mama’? Jika didasarkan pada tingkat senioritas, bukankah kau juga harus memanggilku ‘Bunda atau Mama atau Ibu?”
Wajah Miko sontak menggelap.
“Diam! Diam kataku!”
“Tidak mau!”
__ADS_1
Meskipun dia takut pada Reynard tapi Miko sama sekali tidak membuatnya takut, Liona malah tertawa malu-malu dan bernyanyi. “Wah aku minta maaf karena tiba-tiba aku lebih senior darimu. Dimasa depan jika kita bertemu, jangan lupa ya untuk berbicara hormat denganku karena aku ini mamanya Felicia dan lebih senior darimu. Jangan mencari masalah lagi. Aku akan menamparmu!”
Miko terperangah tak percaya pada apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin?
“Baiklah, aku sudah mendengar apa yang kau sampaikan. Elvano tidur sendirian dirumah, lebih baik aku segera pulang.”ujar Liona.
“Eh jangan pergi dulu.” Miko berusaha untuk menghentikan Liona, sudut mulut wanita itu terangkat membentuk sebuah senyum lebar.
“Miko, tolong pikirkan dua kali sebelum mengatakan sesuatu, oke?”
Saat Miko menundukkan kepala, dia melihat naskah film diatas sofa, dia pun langsung memikirkan sesuatu. “Oh aku hampir lupa. Sutradara Reiki mengatakan padaku bahwa kau akan kembali syuting besok. Mereka akan merekam adegan kita berdua. Aku belum mempelajari bagianku. Bagaimana kalau kita berlatih dialog bersama sekarang?”
Liona menguap lebar-lebar karena merasa bosan setengah mati.
Miko menarik Liona ke sofa, wanita itu duduk dengan santai lalu bertanya, “Cepat beritahu aku adegan mana yang harus dipelajari?”
Miko membuka naskah dan menunjukkan ke salah satu adegan. “Adegan yang ini! Coba baca halaman ini, sutradara Reiki mengatakan bahwa kita akan syuting adegan ini besok!”
Saat Liona melihat halaman naskah, dia langsung waspada. Dia tahu adegan bagiannya dengan sangat baik sehingga dia ingat adegan yang dimaksud oleh Miko. Adegan itu adalah….sebuah adegan ciuman!
Mereka akan mengambil gambar keesokan harinya. Dalam serial TV itusetelah pertunangan Rosalind dan Arwan, Rosalind merasa terintimidasi oleh segerombolan wanita di kota mereka yang masih belum menyerah mengejar Arwan Singgih. Rosalind marah karena cemburu, dia mengikat Arwan digudang kayu lalu mencium pria itu dengan paksa!
Wajah Liona langsung berubah pucat pasi karena merasa jijik harus melakukan adegan itu bersama Miko besok. Melihat perubahan wajah wanita itu, Miko langsung marah.
“Sialan! Apa maksud ekspresi wajahmu itu Liona? Sepertinya kau tidak menyukai adegan itu dan lebih memilih mati daripada melakukan adegan ciuman. Kau tahu ada berapa banyak wanita diluar sana yang menunggu untuk mencium bibirku tapi tak punya kesempatan?”
__ADS_1
Liona hanya terdiam.
“Ayo berlatih denganku. Jangan buang-buang waktu lagi.” ujar Miko. Tepat saat dia hendak berlatih, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Dia segera bergegas menuju pintu dan melalui video intercom dia bisa melihat siapa tamunya. Miko menggertakkan giginya dengan keras.
“Siapa yang datang?” tanya Liona.
“Kau masih berani bertanya? Beraninya kau bilang tidak punya hubungan dengan Paman Reynard dan dia tidak menyukaimu? Jika dia memang tidak peduli padamu kenapa dia mengejarmu sampai kesini?”
“Oh ya? Reynard datang kesini?” ujar Liona senang.
“Kau masih berani bertanya? Beraninya kau bilang tidak punya hubungan dengan Paman Reynard dan dia tidak menyukaimu? Jika dia memang tidak peduli padamu kenapa dia mengejarmu sampai kesini?”
‘Reynard benar-benar ada disini?’ Liona berpikir sejenak kemudian dia memperbaiki posisi duduknya kemudian berdeham pelan.
“Kau jangan berpikir macam-macam. Mungkin Reynard datang kesini untuk menemuimu.” ujar Liona tenang.
“Ya mungkin saja.” jawab Miko dengan nada datar. Tapi jauh didalam lubuk hatinya, dia mengeluh. ‘Paman tidak akan pernah mengunjungiku tanpa alasan yang baik.’
Meskipun perasaannya tidak tenang, dia tidak berani menunda lebih lama lagi. Miko menekan sebuah tombol dan gerbang vila terbuka secara otomatis.
Kemudian dia membuka pintu rumah secara spontan dan berdiri menunggu dipintu dengan perasaan gelisah. Tampak dari kejauhan, Reynard berjalan kearahnya mengenakan pakaian kasual berwarna abu-abu. Reynard memasang wajah serius, aura penuh kekuasaannya masih tetap sama dan dibelakangnya ada Delvin yang berjalan membawa sebuah paket besar ditangannya. Berbeda dengan Reynard, justru Delvin mengenakan kemeja mewah bermotif bunga peony.
Melihat kedatangan kedua pria itu, Liona menghela napas lega. Liona menoleh kearah Miko dan berkata dengan suara rendah, “Lihatlah, mereka datang kesini untuk menemuimu. Jelas sekali kalau mereka peduli padamu.”
Miko balas menatap Liona dengan tajam. Saat mereka sibuk berbicara, Reynard dan Delvin telah memasuki rumah dan berjalan keruang tamu. “Halo semua. Kenapa kalian datang kesini?” kata Miko tiba-tiba. Dia pun tak tahu harus mengatakan apa.
__ADS_1